Kamis, 08 April 2010

Untukmu Mama

Untuk kita renungkan kembali, sosok seorang mama yang penuh kasih sayang.

Mama...

Ketika kita masih berupa janin lemah di perut mama, apalah yang bisa kita lakukan? Menangis tak bisa bersuara, tertawa pun tak terdengar. Yang bisa kita lakukan hanyalah bersembunyi dalam kandungan mama yang gelap, sambil berharap perlindungan mama seutuhnya kepada kita. Mama sudah memberi kita makan ketika kita masih berupa janin. Kita semakin tumbuh besar dalam kandungannya. Dan kala kita sudah bisa menggerakkan kaki dan menendang, apakah mama akan marah? Tidak. Mama tersenyum sambil dalam hati berkata, "Sayangku, sabar ya, tak lama lagi kamu akan melihat dunia ini... Sekarang, biarkan aku merawatmu dulu sampai pada waktunya tiba dan kamu boleh melihatku, melihat papamu, dan juga indahnya dunia ini."

Ketika mama melahirkan kita, yang terpikirkan dalam benaknya adalah jabang bayi yang dikandungnya harus bisa lahir dan selamat. Mama tak begitu peduli akan nyawanya, tapi dia berjuang bertarung nyawa hanya untuk satu nyawa baru yang masih lemah. Mama melahirkan kita dengan pengorbanan yang besar, dengan menderita, sambil menangis kesakitan, dia ingin kita bisa keluar dari janinnya dan menghirup udara bebas. Mama rela mengorbankan nyawanya demi kehidupan kita. Mama tersenyum saat mendengar isak tangis kita yang menandakan kebebasan kita. Tak terasa, air matanya pun berlinang mengiringi kelahiran kita. "Anakku, selamat datang di dunia ini."

Ketika kita bayi dan masih belum sanggup berjalan, mama tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita. Mama siap dengan ASI nya kapanpun kita menangis kelaparan. Mama yang dengan telaten dan sabar mengajari kita berkata, "Mama," dan "Papa,". Mama yang dengan sabar mengajari kita berdiri sedikit demi sedikit, berjalan dan akhirnya kita terjatuh dan menangis. Mama yang menggendong kita dalam pelukannya, melindungi kita dari panas dan dingin. Bila kita sakit, mama pun takkan tinggal diam, dia akan mencari cara agar buah hatinya itu bisa tersenyum lagi.

Ketika kita sudah mulai bersekolah, mama dengan rajin mengantar dan menjemput kita. Mendengar setiap keluh kesah kita tentang teman-teman kita. Dengan hati yang sangat pengertian, mama menasehati kita, mengajari kita mana yang baik dan mana yang tidak.

Ketika kita sudah beranjak remaja, kita pun merasakan sosok kehadiran mama mulai mengganggu. Kenapa mama selalu ingin ikut campur urusan kita? Kenapa mama selalu ingin tahu apapun tentang kita? Sampai pada puncaknya, kita pun tak kuasa membentaknya dan mengata-ngatainya, bahkan mungkin dengan cacian yang entah dari mana kita pelajari dan tak pernah diajarkan oleh beliau, tapi kita menggunakannya untuk memaki beliau. Pernahkah kita menyadari kalau masa remaja adalah masa-masa rentan? Sebagai orang tua, tentulah mama tak ingin anaknya jatuh terperosok ke dalam dunia yang tidak semestinya dia masuki. Tapi apakah kita semua bisa mengerti dan menerima itu? Yang kita tahu hanyalah mama sudah sok ikut campur urusan anak muda.

Ketika kita menuju tahap mengenal lawan jenis, mama pun masih perhatian kepada kita. Tak ingin kita mendapatkan pasangan yang tidak baik untuk hidup kita. Kala mama memperingatkan kita akan pasangan kita itu, apakah yang keluar dari mulut kita? Apakah kata-kata ini? "Mama tahu apa sih? Aku kan lebih kenal dia daripada mama mengenalnya. Lagian mama sok ikut campur urusan banget sih. Memangnya yang menikah itu mama ya? Ingat ma, mama udah tua, udah waktunya berhenti mencampuri urusanku. Aku udah bisa mengurus diriku sendiri. Tak perlu bantuan mama lagi."

Pernahkah terpikirkan bila kata-kata itu kita ucapkan di depan seorang mama yang telah berkorban sekian besar kepada anaknya dan pernahkan kita bayangkan bagaimana akibat dari kata-kata kita itu? Mama menangis. Hatinya teriris. Anak kesayangannya yang dia jaga dari kecil hingga dewasa, hanya karena memberikan nasehat, malah mendapatkan balasan berupa kata-kata cacian? Pernahkah terpikirkan oleh kita kalau semua yang kita lakukan itu bukannya membuat mama bahagia, tapi malah menangis? Dan pernahkah terpikirkan oleh kita kalau kita telah membuat sebuah dosa kepada orang yang telah melahirkan kita?

Melihat semua pengorbanan itu, sadarkah kita bahwa selama ini kita sudah berdosa kepada mama? Apakah mama menuntut balas budi akan semua usahanya itu? Tidak. Sama sekali tidak. Mama ikhlas dan rela memberikan yang terbaik kepada kita. Masihkah kita sanggup menyakitinya? Masih mampukah kita tertawa saat melihat penderitaannya? Bahkan kita mencaci makinya? Melawannya? Memukulnya? Mengacuhkannya? Meninggalkannya?

Di saat mama tidur, coba lihat matanya dan bayangkan bagaimana bila suatu saat nanti mata itu takkan terbuka lagi untuk selamanya. Tangannya sudah tak dapat hapuskan airmata kita yang menangis penuh penyesalan dan tiada lagi nasihat dari mulutnya yang sering kali kita abaikan. Bayangkan bila suatu saat nanti mama kita sudah tiada. Apakah kita sudah cukup membahagiakannya? Apakah kita pernah berpikir betapa besar pengorbanan yang diberikannya kepada kita semenjak kita berada di dalam perutnya?

SADARILAH!! Bahwa di dunia ini tidak ada 1 orang pun yang mau mati demi MAMA, tetapi...
Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…

Mama bukan tempat penititipan cucunya disaat kita jalan-jalan, tetapi disaat beliau sudah tua dan tak bertenaga, yang beliau butuhkan sekarang adalah perhatian kita . Datang dan hampirilah dia, bertanyalah bagaimana kesehatannya saat ini dan dengarkanlah curhatnya. Temani dia disaat dia membutuhkan kita. Itu saja. Beliau sudah bahagia sekali, dan melupakan semua hutang kita kepadanya.

SEMOGA MAMA KITA PANJANG UMUR.

1 komentar:

Find This Blog