24 September 2010...
Kabar tentang kematian temanku yang begitu mendadak kudapat membuatku tersentak. Betapa tidak? Kami baru saja bersama-sama melewati malam minggu di arena bowling di Jaya Ancol Bowling hingga larut malam, yang dilanjutkan dengan makan malam bersama di restoran langganan kami di Pecenongan.
Pagi itu seperti biasanya, aku bersiap-siap hendak berangkat kerja. Baru saja aku selesai mandi dan berpakaian, ketika kuaktifkan kembali ponselku yang kumatikan dari semalam untuk diisi baterainya melalui charge.
Beruntun masuk beberapa pesan secara bersamaan yang membuatku harus menunggu sebentar sampai semuanya selesai masuk, barulah kubaca satu persatu pesan yang masuk itu.
"Wan, jangan lupa bawa laporan buat nanti siang ya. Bisa-bisa kita kena kopi pahit lagi nih pagi-pagi."
"Hermawan Sayang, jangan lupa sarapan ya. Kalau sudah sampai di kantor, kasih kabar aku ya. Nanti siang aku mau makan bareng lagi."
"Wan, susah banget sih hubungi lu. Gue hubungi lu dari tadi pagi, gak masuk-masuk. Gue mau kasih tau lu kalo Lisa udah gak ada. Hubung gue balik ye."
"Hah? Lisa meninggal? Yang bener aja?" Aku berkata tak percaya.
Sontak tanganku dengan lincahnya menekan beberapa tombol di ponselku dan menunggu hubungan tersambung.
"Bang, maksud sms lu apaan sih?" Tanyaku tanpa basa-basi lagi saat temanku mengangkat sambungan.
"Hape lu kenapa lagi, Wan? Gue hubungi lu dari pagi, susah banget."
"Low batt. Gue charge semalaman."
"Lu beli hape abal-abal sih. Orang mah beli di konter gitu, lu beli di abang-abang."
"Maklum lah, hape murahan, cuma tiga ratus ribuan. Emang kayak lu yang pake Blackberry."
Terdengar temanku tertawa dari seberang.
"Yang bagus kan udah gue kasih ke Jenny. Gue pake yang jelek aja."
"Sama jelek dengan yang punya." Sahut temanku dari saluran seberang. "Udah baca kan sms gue?"
"Justru gue telepon lu mau nanya. Lisa kenapa?"
"Lisa meninggal."
"Hah? Jangan bercanda lu!"
"Sumpah disamber busway deh gue kalo boong. Lagian buat apa juga gue boongin lu kaya gini? Gak ada untungnya buat gue..."
"Kok bisa? Kenapa?"
"Gagal jantung!"
"Ya Tuhan! Kapan?"
"Tengah malam tadi, kurang dua menit jam 12 malam."
"Sekarang Lisa dimana?"
"Di Rumah Duka Gatot Subroto. Lu mau jenguk?"
"Mau, tapi tunggu gue pulang kantor dulu."
"Oke, kalo gitu nanti kita ketemu di Gatsu aja, jam 6 bisa?"
"Bisa. Gue akan kesana."
"Oke. Sampai nanti malam, Wan." Sambungan diputuskan temanku dari seberang.
"Gila. Gak nyangka. Padahal masih muda dan baru aja putus." Gumamku sambil melanjutkan persiapan untuk pergi kerja.
Sepanjang perjalananku, dari berjalan menuju halte busway, di dalam busway hingga tiba di kantor, pikiranku terus teringat kepada Lisa, temanku yang kukenal bertahun-tahun lalu itu.
Aku, Bambang dan Lisa adalah teman satu sekolah semasa SMA. Setelah lulus, aku dan Bambang melanjutkan kuliah di Universitas Bunda Mulia, sedangkan Lisa mengambil Jurusan Akuntansi di Universitas Tarumanegara.
Aku dan Bambang sempat bersaing memperebutkan Lisa, namun ternyata Lisa justru tertarik dan berjalan dengan kakak kelas di kampusnya. Hubungan keduanya berjalan hingga nyaris enam tahun, namun belum ada tanda bahwa Lisa akan dilamar. Hingga akhirnya sebulan yang lalu, Lisa mengajakku curhat dan menceritakan bahwa dia sudah putus dengan cowoknya. Lisa mengetahui pacarnya selingkuh dengan wanita lain. Sakit hati dan isak tangis menghiasi curhat Lisa malam itu melalui telepon kepadaku.
Sayangnya aku telah menemui seorang gadis yang menjadi tumpuan hatiku. Jenny, gadis yang kutemui di busway dan ternyata bekerja di kantor seberang tempatku bekerja. Sedangkan Bambang telah memutuskan untuk tetap jomblo hingga detik ini.
Setelah menyapa beberapa teman kantorku, aku tak sabar untuk segera duduk di depan komputer di mejaku. Kunyalakan komputerku dan menunggu sesaat sampai semuanya siap digunakan. Lalu aku mengakses ke internet dan masuk ke situs jaringan sosial Facebook.
"Lisa. Lisa Gustina. Mana?" Gumamku sambil terus mencari nama Lisa dari daftar teman di akun Facebook-ku yang berjumlah enam ratusan itu. "Nah, ini dia."
Mataku mulai membaca baris demi baris kalimat yang tertulis di dinding akun Lina. Semua komentar dan posting yang isinya adalah belasungkawa dari teman-teman terdekatnya. Sementara starus di akun Lina sendiri kosong, tak berisi apapun.
"Lisa meninggal Kamis malam, 23:58 karena gagal jantung. Sempat dirawat selama 4 hari di RS Gatot Subroto, namun semalam, Lisa pergi mendadak meninggalkan kita. Dokter tak bisa berbuat apa-apa lagi." Aku membaca postingan di dinding akun Lisa.
"Kami sekeluarga sangat kehilangan Lisa. Bagi yang ingin datang menjenguknya, Lisa disemayamkan di Rumah Duka Gatot Subroto Ruang H. Terima kasih atas ucapan dari teman-teman Lisa semuanya." Rupanya postingan dari keluarganya.
Hari itu berlalu dengan perasaan galau di hatiku. Seorang temanku yang telah kukenal lama, kini telah tiada. Aku bekerja tanpa semangat dan berharap hari bisa cepat sore, sehingga aku bisa segera pergi melayat dan memberi penghormatan untuk terakhir kalinya.
Saat makan siang bersama Jenny, aku menceritakan kabar kepergian Lisa kepadanya. Tak urung, Jenny pun terperanjat mendengarnya. Karena Jenny sendiri masih ikut hang-out bersama akhir pekan kemarin.
"Wan, maaf ya, aku gak bisa ikut nanti sore. Kerjaanku banyak. Masih ada laporan keuangan yang harus kuselesaikan untuk meeting Senin nanti. Jadi aku harus lembur." Kata Jenny saat makan siang. "Tadinya aku mau datang Sabtu besok, tapi kupikir lebih baik aku selesaikan hari ini dan besok aku bisa beristirahat."
"Ya, gak apa-apa kok." Sahutku. "Kalau pulang bersama, bisa gak?"
"Itu mungkin bisa." Jenny tersenyum. "Nanti jemput aku ya kalau sudah pulang dari rumah duka."
"Ya, pasti." Jawabku. "Kita janjian di Halte Harmoni lagi ya."
Sisa hari kulewati dengan perasaan tidak tenang. Aku pun meluangkan waktu untuk mengucapkan belasungkawa di akun Facebook Lisa, walaupun sorenya aku masih akan melayatnya untuk yang terakhir kalinya.
"Lisa. Gue gak nyangka lu akan secepat ini pergi. Kaget gue waktu tau ini semua. Padahal lu masih sempat curhat tentang cowo lu dan hang-out bareng Sabtu kemarin. Gue gak nyangka kalo itu akan jadi momen terakhir kita. Gue akan kehilangan semuanya dari lu. Jutek lu. Senyum lu. Tangisan lu. Semuanya. Selamat jalan, Lisa. Semoga lu tenang di alam sana. Semoga amal ibadah lu selama ini diterima di sisi-NYA. RIP."
Setelah komentarku di posting di dinding akun Lisa, bersama dengan ratusan postingan belasungkawa lainnya, masih ada yang harus kulakukan. Melayatnya sore ini.
"Sakit. Terlalu sakit. Hati ini bakal sakit banget kalo gue inget-inget ini semua. Memang lu udah pergi, tapi gue gak mau nambah sakit hati lagi dengan lihat Facebook lu. Ucapan-ucapan di dinding lu itu, gak bisa gue baca. Sakit banget. Gue mau lu bisa pergi dengan tenang, Lis. Sorry ya kalo gue harus lakuin ini." Aku berkata kepada diriku sendiri.
Dari akun Facebook Lisa, aku mencari ikon 'Remove from Friends' dan menekannya. Menunggu sesaat, kemudian muncul sebuah kotak bergambar foto profil terakhir Lisa dengan tulisan konfirmasi Are you sure you want to remove Lisa Gustina as your friend?
Tanpa ragu aku menekan pilihan Remove from Friends. Beberapa detik kemudian, akun Facebook Lisa tak bisa lagi kulihat postingan di dindingnya.
---------------------------------------
Sorenya aku dengan Bambang melayat Lisa untuk yang terakhir kalinya. Wajah cantiknya yang pucat terlihat tenang tertidur di dalam keranda yang sesaat lagi akan ditutup. Hari Minggu pagi, jenazah Lisa akan didoakan dalam Sakramen sebelum diberangkatkan ke pemakaman Joglo.
Aku masih sempat mengantar Lisa ke tempat peristirahatannya yang terakhir hari Minggu itu. Bersama dengan Bambang dan ditemani pacarku, Jenny, aku mengantar jenazah Lisa ke pemakaman Joglo. Disana aku sempat bertemu dengan beberapa teman semasa sekolahku dan juga mantan pacar Lisa yang datang kesana sendiri.
Walaupun kesal dengan pacarnya, namun demi menghormati Lisa dan keluarganya, aku berdiam diri dan tidak membalas perbuatannya telah mencampakkan Lisa begitu saja, hingga temanku itu menangis dalam curhatnya denganku.
Setelah upacara pemakaman selesai, Lisa pun telah beristirahat dengan tenang di dalam tanah.
"Selamat jalan, Lisa." Ucapku terakhir kali sebelum aku meninggalkan area pemakaman itu. Kembali ke kost yang kukontrak sedari aku masih kuliah dan mengistirahatkan diriku dari segala kepenatan yang menyengat di badan.
Malam menjelang. Aku pun sudah berbaring sambil ditemani musik MP3 dari DVD player, kupejamkan mataku. Kantuk mulai menyerang dan akupun tertidur tak lama kemudian.
"Hermawannn...." Tiba-tiba terdengar suara lembut yang memanggil namaku.
Aku menengok. "Suara siapa itu?"
"Her...ma....waannnnn...." Terdengar desau suara itu kembali memanggil.
"Siapa itu?" Aku mencari-cari dengan memutar badanku, namun tak kulihat ada siapapun disana.
"Herrrr.... maaaa..... waaannnnn...."
"Siapa sih?" Aku mulai kesal mendengar panggilan tak berwujud itu. Mendadak sebersit angin dingin bertiup di belakang keningku. Rasa dingin mencekam, aku menggigil, dan...
Bulu kudukku meremang!
"Heerrrr..... maaaa.... waaannnnnn....."
Aku memeluk badanku yang mendadak merinding. Keberanianku untuk menengok dan kesal, jadi hilang.
"Heerrr..... maaaa.... waaannnn..... Ini....akkuuuuuu..... Lisssaaaaaaa....." Suara itu terdengar kembali.
"Li... Lis... Lisa?" Gumamku merinding. "Dimana? Kamu... Kamu... sudah... sudah mati..."
"Keee.... naaa... paaa.... kaaaa.... muuuu.... haaaa.... pussss.... aaa...kuuuu....?" Suara yang mengaku bernama Lisa itu bergaung pelan, menambah ketakutan yang semakin mencekam pada diriku.
Mataku terbelalak. "A... Apa... Apa mak.. maksudmu..."
"Keeee.... naaaa.... paaaa..... haaaa..... ppuussss..... aaaa.....kuuuuu......?"
Dalam ketakutanku, aku mendadak teringat beberapa hari yang lalu, setelah memberi ucapan belasungkawa di akun Facebook Lisa, aku langsung menghapusnya sebagai daftar temanku.
"Keee..... naaaa.... paaaa.....?"
"A...a.... Aku...." Tak bisa kulanjutkan kata-kataku. Ketakutan membuat lidahku kelu dan kaku untuk berkata-kata.
"KENAPAAA?!!" Mendadak seraut wajah pucat dan seram muncul tepat di depan wajahku. Melotot dengan relung mata hitam dan rambut acak-acakan.
"Aaaahhhhhh!!!" Kaget bukan kepalang aku melihat wajah yang adalah wajah pucat Lisa yang kulihat di dalam peti mati itu, berada tepat beberapa inchi di depan wajahku.
Aku terbangun dan duduk di ujung tempat tidurku. Keringat dingin membasahi seluruh badanku. Nafasku terengah-engah. Tanganku gemetar. Jantungku berdetak kencang.
"Mimpi.... Aku mimpi..." Kataku menenangkan diriku. Perlahan kesadaranku kembali. Alunan musik MP3 masih berputar. Aku pun berdiri dan mematikannya.
Kusambar gelas di atas meja dan kuambil air dari dispenser di sampingnya. Air yang membasahi tenggorokanku terasa dingin, menyejukkan. Perasaanku tenang kembali.
Walaupun masih berdetak jantungku, aku mencoba tidur kembali. Kupejamkan mataku lagi. Tak berapa lama kemudian, mimpi yang sama kembali terulang.
Malam itu, aku terbangun sampai beberapa kali. Sampai akhirnya aku menyalakan ponselku yang belum penuh aku charge. Kucoba menghubungi Jenny. Tak ada jawaban. Kucoba menghubungi Bambang. Juga tak ada jawaban.
"Jam 2." Gumamku sambil membanting ponselku ke atas tempat tidur. "Aku gak bisa tidur lagi. Mimpi itu akan kembali menghantui."
Akhirnya aku melewati malam itu tanpa tidur sedikitpun. Setiap kali aku mencoba memejamkan mata, bayangan Lisa dan mimpi yang sama kembali muncul. Hingga akhirnya jam 5 pagi, aku pun beranjak keluar dari kamarku menuju kamar mandi dengan langkah lunglai.
Hari itu, hari Senin. 27 September 2010.
Aku pergi ke kantor lebih awal disana, dengan harapan aku bisa beristirahat dengan tidur sejenak di mejaku. Sekitar jam 7 pagi, aku pun sudah tiba di kantor. Hanya office boy saja yang ada disana dan menyapaku.
"Bapak keliatan lemas hari ini. Kurang tidur ya, Pak?" Tanya office boy saat melihatku.
"Ya, semalam gak bisa tidur." Jawabku. Namun selebihnya aku tidak bercerita tentang mimpi buruk yang kualami. Mimpi yang membuatku tidak bisa tidur.
Untungnya, aku tidak diganggu selama aku memejamkan mataku sekitar setengah jam lebih sebelum akhirnya teman-teman kantor datang semua dan aktivitas kantor kembali berjalan.
Aku menyempatkan diri membuka akun Facebook-ku. Ada 6 notifikasi disana dan kubuka untuk melihatnya lebih jauh.
Lisa Gustina posted on your wall.
"Hah?!" Aku terbelalak. Penasaran, aku membuka profilku dan membaca apa yang tertulis di dinding akun Facebook-ku.
"Jangan hapus aku..."
"Tidak. Tidak mungkin." Kataku tak percaya. Aku klik nama Lisa Gustina dan mendapatkan bukti aku tidak bisa melihat profilnya sama sekali.
"Dikunci!" Aku memukul meja. Teman-teman kerjaku melihatku, sebagian dari mereka menggeleng-geleng.
Saat itu, ponselku berbunyi. Telepon dari Bambang. Aku menyambar dan menjawabnya.
"Wan, lu buka Facebook deh." Itu kata-kata pertama Bambang saat sambungan ponsel terhubung.
"Kenapa? Gue lagi buka nih." Jawabku.
"Lu masuk akun gue deh. Ada yang aneh."
"Oke, bentar." Dengan tangan kiri memegang ponsel dan tangan kanan memegang mouse, aku masuk ke akun Facebook Bambang. Mataku membaca postingan di dinding akunnya.
"Lisa Gustina. Jangan hapus aku..." Aku membaca postingan di dinding akun Facebook Bambang. "Jadi lu dapet juga?"
"Dapet juga apanya?" Bambang bertanya balik. "Justru gue mau tanya apa artinya. Masa Lisa yang udah mati masih bisa nulis begini? Eh, bentar, tadi lu bilang apa? Gue juga dapet?"
"Ho oh..." Jawabku ternganga.
"Berarti lu juga dapat yang sama ya?" Sambung Bambang lagi. "Bentar gue buka Facebook lu dulu. Gak ada, bersih. Mana ada nama Lisa nulis di wall lu."
"Ada. Sumpah mati gue."
"Tulisannya apa?"
"Jangan hapus aku." Bacaku. "Sama dengan yang ada di lu."
"Jadi lu bener hapus Lisa sebagai teman?"
"Iya." Jawabku. "Lu juga?"
"Gak lah. Gimanapun juga, dia tetep temen kita, walau dia udah gak ada sekalipun."
"Lho, lho... Kok begini?"
"Kenapa, Wan?"
Aku membuka notifikasi baru yang mengatakan Lisa memuat sesuatu di dinding lagi. Saat kubuka...
"Jangan hapus aku! Jangan hapus aku! Jangan hapus aku!!"
"Gila! Gue gak percaya!" Ujarku hampir berteriak. "Jangan-jangan ini kerjaan keluarga Lisa!"
"Wan, keluarga Lisa gak mungkin tulis begituan. Kalo pun mungkin, dia gak tau lu hapus Lisa sebagai teman kan? Temannya aja banyak, ribuan gitu, mana mungkin diperiksa satu-satu."
"Bener juga ya." Jantungku mulai berdetak lagi. "Jadi ini siapa? Gak mungkin kan perbuatan Lisa? Lisa kan udah gak ada..."
Aku menceritakan mimpiku kepada Bambang, yang menanggapi dengan serius ya.
"Begitu ya? Coba aja lu add dia lagi." Sahutnya sambil tertawa. "Siapa tau kan diterima."
"Lu gila?" Tanyaku. Tapi rasa penasaran membuatku ingin melakukan saran Bambang juga. Kutekan ikon add as friend di akun Lisa.
"Bang... Bangggg...."
"Kenapa? Suara lu kok jadi gemetar begitu?"
"Lu... Lu liat akun Lisa deh..."
"Kenapa?"
"Liat... Cepetan liat..."
"Ya, ini gue udah liat. Gak ada apa-apa..."
"Foto profilnya apa?"
"Foto profil ya? Gambar Lisa yang ada di Ancol bowling itu kan?"
"Bukan... Bukan, Wan... Hiiiii...." Aku mengelus tengkukku yang mendadak meremang. "Kok gue jadi merinding gini sih?"
"Bukan apanya? Gak ngerti gue?"
"Fotonya... Foto wajah Lisa yang ada di peti mayat... Pucat..." Kataku bergetar.
"Jangan bercanda lu...."
"Serius, Bang. Barusan gambarnya berubah..."
"Hah? Berubah?" Nada suara Bambang terdengar seperti tak percaya. "Kok di gue gak sih?"
"Gak tau juga deh... Jadi serem gue..."
"Gini aja. Gue sih gak percaya, tapi gak ada salahnya dicoba. Lu coba posting di dindingnya, minta maaf kalo lu udah hapus dia."
"Gak bisa posting, Bang. Dikunci..."
"Wah, susah. Ya udah. Mending lu add aja deh. Berharap almarhumah bisa mengampuni kesalahan lu hapus dia..."
"Iya.... Iya, Bang... Gue add sekarang... Udah dulu ya, nanti gue hubungi lu lagi." Sambil memutuskan hubungan telepon dengan Bambang, dengan berusaha menghindari pandangan mata ke arah foto pucat Lisa, dan walaupun terkesan absurd, aku menekan tombol add as friend.
Tepat pada saat aku selesai menekan ikon tambah teman, satu notifikasi masuk. Aku membacanya.
"Kenapa? Kenapa tambah lagi yang sudah kamu campakkan?"
Terbelalak aku melihat itu semua! Pada saat bersamaan, setelah ikon add as friend kutekan, mendadak muncul tetesan merah di layar. Tetesan yang semakin lama semakin banyak. Merah, amis dan kental. Darah!!
Darah yang menetes membasahi celanaku!
Saat aku melihat ke layar monitor lagi, tampilan di depan layar mendadak berubah. Layar lebar monitor itu telah dipenuhi oleh wajah pucat Lisa yang memandangku sambil melotot. Persis seperti yang kulihat dalam mimpi.
"Jaaa.....ngannnnn.... haaa..... pussss..... aaaa....kuuuu....." Tampak bibirnya bergerak dan suaranya yang serak dan dingin terdengar.
"TIIDDAAAAKKKKKK!!!!!!" Aku berteriak, melompat dari kursiku dan pandanganku seketika menjadi gelap.
TAMAT
Kaz terinsiprasi menulis cerita pertamanya saat berusia 10 tahun setelah menonton film animasi Jepang. Bimbingan orangtuanya membuat Kaz di masa 3 tahun SMA menuliskan 47 puisi karyanya sendiri. Salah satu puisi Kaz masih sempat dibeli dan diterbitkan di surat kabar Pelita Brunei, 17 Juni 1998.
Kaz cukup banyak menulis cerpen, cerbung hingga ke cerita misteri, serial superhero dan serial detektif dan diposting di blog pribadinya
Salah satu cerpen yang pernah ditulis Kaz F. Li adalah Gadis Akasia. Kaz juga telah berhasil menerbitkan novel debutnya yang berjudul Jane & Jonas.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Sabtu, 23 Oktober 2010
Cerpen: Cinta Manusia Biasa
Cerpen: Cinta Manusia Biasa
Namaku Sujono. Aku seorang pria yang memiliki keadaan fisik yang bisa dikatakan tidak sempurna seperti kebanyakan orang lainnya. Luka sewaktu aku masih kecil yang terjadi pada bibirku, membuat bibirku terlihat seperti sumbing. Walau dokter sudah mengatakan sendiri sebenarnya ini bukan bibir sumbing, hanya luka biasa. Memang ada bekas jahitan di bibirku yang membuatnya terlihat miring dan agak tebal. Dokter mengatakan bibir sumbing itu adalah bibir yang terbelah hingga mengenai gusi, hidung atau langit-langit rongga mulut dan menyebabkan orang tersebut bersuara tidak seperti orang biasanya. Sedangkan aku hanya terlihat miring bibir saja, tapi suaraku normal seperti orang lainnya. Itu sekilas tentang aku.
Kejadian ini dimulai ketika aku masih duduk di bangku SMA. Tepatnya di tahun 2005 di Jakarta. Aku berkenalan dengan seorang adik kelasku yang sampai hari ini menjadi kekasihku. Sudah hampir 6 tahun kami menjalani hubungan ini. Hampir selama 6 tahun pula, kami selalu bertemu hampir setiap hari. Nama adik kelasku Intan.
Mungkin bisa dikatakan kota tempat aku tinggal sekarang ini adalah kota yang penuh kenangan aku bersama dengannya. Di kota ini, tidak seperti aku yang mempunyai keluarga dengan orang tua dan saudara kandung, Intan hanya tinggal bersama saudaranya saja. Hal ini dikerenakan orang tuanya tinggal di Kalimantan.
Maret tahun depan adalah tepat 6 tahun hubungan kami berjalan. Selama kami menjalani hubungan ini, ada orang-orang dari teman atau keluarga Intan yg tidak boleh tahu kalau aku ini kekasihnya. Intan selalu menyembunyikan hubungan ini dari keluarga dan teman-temannya. Dia selalu mengaku masih single di depan mereka semua. Aku selalu berpikir kenapa. Sedangkan hubungan ini sendiri sudah berjalan lama.
"Intan, kenapa kamu melakukan hal ini lagi?" Tanyaku pada kekasihku itu di suatu senja ketika kami menghabiskan malam minggu bersama di sebuah mall elit di Jakarta. "Hubungan kita sudah berjalan lama, hampir enam tahun. Kenapa aku sekalipun tidak diijinkan mengenal keluargamu?"
"Maafkan aku. Aku belum bisa..." Jawab Intan.
"Belum bisa apa?" Tanyaku lagi. Kutatap wajah cantiknya. "Aku bosan dengan keadaan ini. Seperti main petak umpet."
"Sampai kapan kita harus seperti ini?"Ujarku lagi. "Tiap kali kamu minta diantar, selalu minta diturunkan jauh dari tujuan. Untuk apa aku mengantarmu kalau memang kamu masih juga berjalan jauh seperti itu?"
"Cukup, Jon." Intan mengangkat wajahnya. "Jangan ungkit lagi kata-kata itu setiap kali kita bertemu."
"Apakah tidak bisa kita mesra seperti dulu lagi? Mengapa belakangan ini kamu selalu menuntut hal yang tidak mungkin kulakukan itu?"
"Tidak mungkin katamu?" Aku memalingkan wajah, tak percaya dengan omongannya. "Aku mengenalkanmu kepada keluargaku. Tapi kamu, aku tidak tahu siapa keluargamu disini. Teman-temanmu pun tak ada yang kukenal satupun."
"Kamu anggap aku ini apa?" Tambahku dengan nada kesal. "Sampah?"
"Kamu bukan sampah!" Intan menjawab tak kalah gesitnya. "Kamu sayangku."
"Tapi kenapa masih begini?" Aku meremas rambutku yang baru kupotong pendek tiga hari yang lalu. "Andai terjadi apa-apa padamu, kepada siapa aku harus bertanya? Tahu keluarga dan temanmu satupun tidak."
Intan memalingkan wajahnya ke pasangan yang berdiri di samping kami. Aku mengikuti pandangan matanya berpaling ke arah yang sama. Tampak sang pria sedang memeluk kekasihnya dan bercanda mesra sambil tertawa-tawa.
"Intan," Ujarku dengan suara lebih tenang dibanding sebelumnya. "Aku ingin kita bisa seperti mereka."
"Jon, boleh aku mengatakan yang sebenarnya?" Ujar Intan tiba-tiba. "Mungkin ini yang ingin kamu ketahui selama ini."
Aku mengangguk. "Katakanlah. Jangan buat aku seperti ini."
Intan menghembuskan nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya. Mungkin dia terasa berat untuk mengatakannya.
"Aku sayang kamu. Sungguh sayang kamu." Intan memulai perkataannya. "Tapi ada satu yang membuatku menjadi tidak yakin..."
"Maksudmu?"
"Aku punya banyak teman dan hampir kebanyakan mereka semua sudah memiliki pasangan." Intan melanjutkan. "Coba kamu perhatikan pasangan di samping kita ini. Apa ada yang kurang pada mereka?"
"Yang kurang?" Ingatanku langsung tertuju pada satu hal.
"Ya, teman-temanku semuanya mempunyai cowok yang sempurna. Pasangan di sebelah juga, cowoknya sempurna." Kata Intan. "Sedangkan aku? Cowokku tidak sempurna. Ada cacat fisik."
"Jujur ya, Jon. Aku malu kalau harus mengenalkanmu kepada mereka semua. Apa yang harus aku dengar dari mereka? 'Intan, ternyata cowokmu seperti itu, cacat.' Aku tidak mau kamu diperlakukan begitu."
"Jadi aku memilih untuk menyembunyikanmu selama ini dari mereka semua. Maafkan aku."
Aku terdiam mendengar penjelasan Intan. Hatiku terasa dihantam godam dan hancur berkeping-keping. Badanku dingin dan perasaanku sedih mendengar pengakuannya.
"Sebenarnya sudah sejak lama ingin kukatakan hal ini padamu." Sambung Intan saat melihatku terdiam tak mampu berkata-kata. "Akhir tahun ini, aku akan pulang ke Kalimantan dan tidak akan kembali lagi kemari."
"Kenapa?" Aku menatapnya dengan bibir bergetar. Mataku mulai berkaca-kaca. "Kenapa kamu pergi?"
"Jon, masih ada yang lebih sempurna darimu. Aku akan kesana, ke kampung halamanku dan tidak akan balik lagi."
"Tidaaaakkkk!!" Aku menjerit lirih tak peduli orang-orang di sekitar kami melihat ke arah kami. "Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?"
"Kenapa kamu tega pergi meninggalkanku disini?" Lanjutku. "Selama ini aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu."
"Enam tahun hubungan kita kamu akhiri semudah ini? Hanya karena kekurangan fisikku ini?"
Intan tak menjawab. Juga tak ada tetes air mata yang menitik dari matanya.
"Aku tak mau kamu pergi." Seketika aku memeluk tubuhnya, seperti tak ingin melepaskannya. "Aku tak mau kamu pergiiiii...."
Intan tak membalas pelukanku, namun sebuah kalimat meluncur dari mulutnya. "Apakah kamu mencintai aku?"
Aku mengangguk dalam pelukanku.
"Bila kamu memang mencintaiku, lepaskanlah aku. Biarkan aku mencari jalan hidupku sendiri tanpa dirimu lagi."
Itulah kata-kata terakhir Intan yang masih terngiang di telingaku. Tak ada kata perpisahan. Tak ada senyum manisnya lagi. Walaupun aku yakin dia masih ada di Jakarta ini, namun aku sudah tidak bisa menghubunginya lagi. Aku tidak tahu rumahnya yang sebenarnya. Aku tidak kenal keluarga dan teman-temannya. Hanya berbekal satu nomor teleponnya yang kini sudah tidak aktif lagi.
Awal Oktober 2010...
Waktu yang tersisa hanya kurang tiga bulan untukku. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku seperti kehilangan segalanya, kehilangan semangat hidup, kehilangan orang yang selalu tertawa dan menangis bersamaku.
Jujur, aku tak mau dia pergi, aku masih mau menghabiskan waktuku bersama dengannya, tapi aku juga tak bisa menahan keinginannya untuk pulang.
Apakah semua yang sudah kulakukan akan menjadi sia-sia?
Apa aku akan kehilangan orang yang kusayang karena keadaan fisikku?
Selama ini aku bertahan hidup dalam kekuranganku karena dia. Apa jadinya aku menjalani hidup ini tanpa dia? Selama ini aku selalu berjuang, tak pernah menyerah untuk mempertahankan hubungan ini. Selama ini aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
Tapi mengapa sekarang dia ingin pergi dari hidupku dan meninggalkanku sendiri disini hanya karena keadaan fisikku?
Aku melangkah dengan gontai sepembawaan kaki ini. Di tengah jalan yang kulewati, sayup-sayup terdengar lagu yang sedang diputar di sebuah rumah yang sedang dibangun dan para kuli sedang bekerja. Lagu yang berasal dari radio yang mereka buka.
"masih ku ingat selalu
saat kau berjanji padaku
takkan pernah ada cinta yang lainnya
terasa begitu indah
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu
cinta untukmu luar biasa
aku memang manusia biasa
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu
cinta untukmu luar biasa
cinta untukmu luar biasa
cinta untukmu luar biasa"
Lagu itu semakin kudengar semakin membuat hati ini pedih dan sakit. Air mataku kembali menetes bila semua kenangan indah itu terlintas kembali. Aku memang manusia biasa yang tak sempurna.
TAMAT
Cerpen ini adalah request story dari seorang temanku yang ingin berbagi kisah hidupnya. Nama asli disamarkan demi kenyamanan privasi.
Saat mendengar kisahnya yang secara kebetulan sama dengan lirik lagu Manusia Biasa (Cinta Luar Biasa) by Yovie Nuno, entah mengapa cerita ini meluncur dengan sendirinya.
Bila ada kesamaan nama dan tempat, itu hanyalah kebetulan belaka.
Namaku Sujono. Aku seorang pria yang memiliki keadaan fisik yang bisa dikatakan tidak sempurna seperti kebanyakan orang lainnya. Luka sewaktu aku masih kecil yang terjadi pada bibirku, membuat bibirku terlihat seperti sumbing. Walau dokter sudah mengatakan sendiri sebenarnya ini bukan bibir sumbing, hanya luka biasa. Memang ada bekas jahitan di bibirku yang membuatnya terlihat miring dan agak tebal. Dokter mengatakan bibir sumbing itu adalah bibir yang terbelah hingga mengenai gusi, hidung atau langit-langit rongga mulut dan menyebabkan orang tersebut bersuara tidak seperti orang biasanya. Sedangkan aku hanya terlihat miring bibir saja, tapi suaraku normal seperti orang lainnya. Itu sekilas tentang aku.
Kejadian ini dimulai ketika aku masih duduk di bangku SMA. Tepatnya di tahun 2005 di Jakarta. Aku berkenalan dengan seorang adik kelasku yang sampai hari ini menjadi kekasihku. Sudah hampir 6 tahun kami menjalani hubungan ini. Hampir selama 6 tahun pula, kami selalu bertemu hampir setiap hari. Nama adik kelasku Intan.
Mungkin bisa dikatakan kota tempat aku tinggal sekarang ini adalah kota yang penuh kenangan aku bersama dengannya. Di kota ini, tidak seperti aku yang mempunyai keluarga dengan orang tua dan saudara kandung, Intan hanya tinggal bersama saudaranya saja. Hal ini dikerenakan orang tuanya tinggal di Kalimantan.
Maret tahun depan adalah tepat 6 tahun hubungan kami berjalan. Selama kami menjalani hubungan ini, ada orang-orang dari teman atau keluarga Intan yg tidak boleh tahu kalau aku ini kekasihnya. Intan selalu menyembunyikan hubungan ini dari keluarga dan teman-temannya. Dia selalu mengaku masih single di depan mereka semua. Aku selalu berpikir kenapa. Sedangkan hubungan ini sendiri sudah berjalan lama.
"Intan, kenapa kamu melakukan hal ini lagi?" Tanyaku pada kekasihku itu di suatu senja ketika kami menghabiskan malam minggu bersama di sebuah mall elit di Jakarta. "Hubungan kita sudah berjalan lama, hampir enam tahun. Kenapa aku sekalipun tidak diijinkan mengenal keluargamu?"
"Maafkan aku. Aku belum bisa..." Jawab Intan.
"Belum bisa apa?" Tanyaku lagi. Kutatap wajah cantiknya. "Aku bosan dengan keadaan ini. Seperti main petak umpet."
"Sampai kapan kita harus seperti ini?"Ujarku lagi. "Tiap kali kamu minta diantar, selalu minta diturunkan jauh dari tujuan. Untuk apa aku mengantarmu kalau memang kamu masih juga berjalan jauh seperti itu?"
"Cukup, Jon." Intan mengangkat wajahnya. "Jangan ungkit lagi kata-kata itu setiap kali kita bertemu."
"Apakah tidak bisa kita mesra seperti dulu lagi? Mengapa belakangan ini kamu selalu menuntut hal yang tidak mungkin kulakukan itu?"
"Tidak mungkin katamu?" Aku memalingkan wajah, tak percaya dengan omongannya. "Aku mengenalkanmu kepada keluargaku. Tapi kamu, aku tidak tahu siapa keluargamu disini. Teman-temanmu pun tak ada yang kukenal satupun."
"Kamu anggap aku ini apa?" Tambahku dengan nada kesal. "Sampah?"
"Kamu bukan sampah!" Intan menjawab tak kalah gesitnya. "Kamu sayangku."
"Tapi kenapa masih begini?" Aku meremas rambutku yang baru kupotong pendek tiga hari yang lalu. "Andai terjadi apa-apa padamu, kepada siapa aku harus bertanya? Tahu keluarga dan temanmu satupun tidak."
Intan memalingkan wajahnya ke pasangan yang berdiri di samping kami. Aku mengikuti pandangan matanya berpaling ke arah yang sama. Tampak sang pria sedang memeluk kekasihnya dan bercanda mesra sambil tertawa-tawa.
"Intan," Ujarku dengan suara lebih tenang dibanding sebelumnya. "Aku ingin kita bisa seperti mereka."
"Jon, boleh aku mengatakan yang sebenarnya?" Ujar Intan tiba-tiba. "Mungkin ini yang ingin kamu ketahui selama ini."
Aku mengangguk. "Katakanlah. Jangan buat aku seperti ini."
Intan menghembuskan nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya. Mungkin dia terasa berat untuk mengatakannya.
"Aku sayang kamu. Sungguh sayang kamu." Intan memulai perkataannya. "Tapi ada satu yang membuatku menjadi tidak yakin..."
"Maksudmu?"
"Aku punya banyak teman dan hampir kebanyakan mereka semua sudah memiliki pasangan." Intan melanjutkan. "Coba kamu perhatikan pasangan di samping kita ini. Apa ada yang kurang pada mereka?"
"Yang kurang?" Ingatanku langsung tertuju pada satu hal.
"Ya, teman-temanku semuanya mempunyai cowok yang sempurna. Pasangan di sebelah juga, cowoknya sempurna." Kata Intan. "Sedangkan aku? Cowokku tidak sempurna. Ada cacat fisik."
"Jujur ya, Jon. Aku malu kalau harus mengenalkanmu kepada mereka semua. Apa yang harus aku dengar dari mereka? 'Intan, ternyata cowokmu seperti itu, cacat.' Aku tidak mau kamu diperlakukan begitu."
"Jadi aku memilih untuk menyembunyikanmu selama ini dari mereka semua. Maafkan aku."
Aku terdiam mendengar penjelasan Intan. Hatiku terasa dihantam godam dan hancur berkeping-keping. Badanku dingin dan perasaanku sedih mendengar pengakuannya.
"Sebenarnya sudah sejak lama ingin kukatakan hal ini padamu." Sambung Intan saat melihatku terdiam tak mampu berkata-kata. "Akhir tahun ini, aku akan pulang ke Kalimantan dan tidak akan kembali lagi kemari."
"Kenapa?" Aku menatapnya dengan bibir bergetar. Mataku mulai berkaca-kaca. "Kenapa kamu pergi?"
"Jon, masih ada yang lebih sempurna darimu. Aku akan kesana, ke kampung halamanku dan tidak akan balik lagi."
"Tidaaaakkkk!!" Aku menjerit lirih tak peduli orang-orang di sekitar kami melihat ke arah kami. "Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?"
"Kenapa kamu tega pergi meninggalkanku disini?" Lanjutku. "Selama ini aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu."
"Enam tahun hubungan kita kamu akhiri semudah ini? Hanya karena kekurangan fisikku ini?"
Intan tak menjawab. Juga tak ada tetes air mata yang menitik dari matanya.
"Aku tak mau kamu pergi." Seketika aku memeluk tubuhnya, seperti tak ingin melepaskannya. "Aku tak mau kamu pergiiiii...."
Intan tak membalas pelukanku, namun sebuah kalimat meluncur dari mulutnya. "Apakah kamu mencintai aku?"
Aku mengangguk dalam pelukanku.
"Bila kamu memang mencintaiku, lepaskanlah aku. Biarkan aku mencari jalan hidupku sendiri tanpa dirimu lagi."
Itulah kata-kata terakhir Intan yang masih terngiang di telingaku. Tak ada kata perpisahan. Tak ada senyum manisnya lagi. Walaupun aku yakin dia masih ada di Jakarta ini, namun aku sudah tidak bisa menghubunginya lagi. Aku tidak tahu rumahnya yang sebenarnya. Aku tidak kenal keluarga dan teman-temannya. Hanya berbekal satu nomor teleponnya yang kini sudah tidak aktif lagi.
Awal Oktober 2010...
Waktu yang tersisa hanya kurang tiga bulan untukku. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku seperti kehilangan segalanya, kehilangan semangat hidup, kehilangan orang yang selalu tertawa dan menangis bersamaku.
Jujur, aku tak mau dia pergi, aku masih mau menghabiskan waktuku bersama dengannya, tapi aku juga tak bisa menahan keinginannya untuk pulang.
Apakah semua yang sudah kulakukan akan menjadi sia-sia?
Apa aku akan kehilangan orang yang kusayang karena keadaan fisikku?
Selama ini aku bertahan hidup dalam kekuranganku karena dia. Apa jadinya aku menjalani hidup ini tanpa dia? Selama ini aku selalu berjuang, tak pernah menyerah untuk mempertahankan hubungan ini. Selama ini aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
Tapi mengapa sekarang dia ingin pergi dari hidupku dan meninggalkanku sendiri disini hanya karena keadaan fisikku?
Aku melangkah dengan gontai sepembawaan kaki ini. Di tengah jalan yang kulewati, sayup-sayup terdengar lagu yang sedang diputar di sebuah rumah yang sedang dibangun dan para kuli sedang bekerja. Lagu yang berasal dari radio yang mereka buka.
"masih ku ingat selalu
saat kau berjanji padaku
takkan pernah ada cinta yang lainnya
terasa begitu indah
tapi semua berbeda
saat kau kenali dirinya
sadarkah dirimu diriku terluka
saat kau sebut namanya
aku memang manusia biasa
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu
cinta untukmu luar biasa
andaikan saja kau tahu
aku takkan mudah berubah
aku kan bertahan selalu bertahan
sampai waktu memanggilku
aku memang manusia biasa
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu
cinta untukmu luar biasa
kemanakah dirimu
yang dulu cinta aku
dimanakah dirimu
yang selalu merindukanku
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu
cinta untukmu luar biasa
aku memang manusia biasa
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu
cinta untukmu luar biasa
cinta untukmu luar biasa
cinta untukmu luar biasa"
Lagu itu semakin kudengar semakin membuat hati ini pedih dan sakit. Air mataku kembali menetes bila semua kenangan indah itu terlintas kembali. Aku memang manusia biasa yang tak sempurna.
TAMAT
Cerpen ini adalah request story dari seorang temanku yang ingin berbagi kisah hidupnya. Nama asli disamarkan demi kenyamanan privasi.
Saat mendengar kisahnya yang secara kebetulan sama dengan lirik lagu Manusia Biasa (Cinta Luar Biasa) by Yovie Nuno, entah mengapa cerita ini meluncur dengan sendirinya.
Bila ada kesamaan nama dan tempat, itu hanyalah kebetulan belaka.
Selasa, 17 Agustus 2010
Inilah Sebagian Yang Ada Dalam Tubuh Manusia
Inilah Sebagian Yang Ada Dalam Tubuh Manusia
Gambar-gambar sel ini di scan menggunakan scanning electron microscope (SEM), sejenis mikroskop elektron yang menggunakan gelombang elektron energi tinggi untuk men-scan suatu permukaan. Gelombang elektron dari SEM ini berinteraksi dengan atom-atom di dekat atau pada permukaan sampel yang akan diteliti, dan menghasilkan gambar 3-D beresolusi tinggi. Perbesarannya dari 25X hingga 250.000X. Detail dari benda berukuran 1 - 5 nm dapat dengan mudah dideteksi, termasuk bentuk dari sel telur, sel darah merah, atau embrio bayi manusia.
Sel-sel Darah Merah
Bentuknya seperti permen cinnamon, gambar di atas adalah jenis yang paling umum dari sel darah di tubuh manusia - sel darah merah (red blood cell-RBC). Tugasnya mengirim oksigen ke seluruh tubuh; seorang wanita mempunyai kira-kira 4 - 5 juta RBC per mikroliter (kubik milimeter) darah, sedangkan laki-laki mempunyai 5 - 6 juta RBC. Orang yang tinggal di dataran yang tinggi mempunyai lebih banyak RBC karena kadar oksigen di lingkungannya yang lebih rendah.
Helai Rambut Manusia
Perawatan rambut yang teratur dan mungkin dengan sedikit conditioner yang bagus akan mencegah rambut Anda rusak seperti ini.
Sel Otak Purkinje
Ada 100 miliar neuron (sel impuls otak) pada otak manusia, neuron Purkinje adalah yang terbanyak. Sel-sel ini adalah masternya koordinasi motorik di cerebellar cortex. Pengaruh racun seperti alkohol dan lithium, penyakit-penyakit autoimmune, mutasi genetik termasuk autisme dan penyakit-penyakit neurodegenerative dapat menyebabkan efek negatif pada sel-sel Purkinje manusia.
Sel Rambut di Telinga
Gambar ini adalah gambar sel rambut stereocilia di dalam telinga yang mendeteksi pergerakan mekanis untuk merespon vibrasi suara.
Lidah dengan Indera Perasa
Gambar di atas adalah gambar ujung indera perasa di lidah. Lidah manusia memiliki kira-kira 10.000 ujung-ujung indera perasa yang bertanggung jawab membedakan rasa asin, hambar, pahit, manis, dan asam.
Plak Gigi
Rajin-rajinlah sikat gigi, karena gambar di atas itu padalah gambar plak gigi yang kurang terawat. Hiii...
Gumpalan Darah Beku

Lihat lagi gambar sel darah merah (RBC) di atas, yang ini adalah sel-sel yang sama yang berada di suatu gumpalan darah beku. Sel-sel yang di tengah adalah sel darah putih.
Kantung Udara Paru-Paru
Ini adalah gambar permukaan bagian dalam dari paru-paru Anda. Rongga-rongga berlubang itu adalah alveoli, disinilah terjadi pertukaran udara dengan darah.
Sel Kanker Paru-Paru

Gambar ini adalah par-paru yang dirusak oleh sel-sel kanker, kontras sekali dengan gambar paru-paru yang sehat sebelumnya.
Villi (Selaput Lendir) pada Usus Kecil

Villi pada usus kecil menambah area permukaan dari usus, yang membantu dalam proses penyerapan makanan. Perhatikan sari makanan yang menempel di celah-celahnya.
Sel Telur Manusa dengan Sel-sel Korona
Gambar ini adalah gambar sel telur di atas tempat kedudukannya. Telur ini dilapisi oleh zona pellicuda, suatu glycoprotein yang melindungi telur dan juga membantu menangkap sperma. Dua sel korona terlihat menempel pada zona pellicuda.
Sperma di Permukaan Sel Telur

Gambar-gambar di atas adalah sperma-sperma yang mencoba membuahi sel telur.
Sperma dan Embrio Manusia
Kayak perang dunia, tapi gambar ini sebenarnya adalah kondisi 5 hari setelah pembuahan pada sel telur dengan sel-sel sperma tersisa yang masih ada di sekitarnya. Gambar fluoroscent ini di abadikan dengan menggunakan mikroskop confocal. Embrio dan nukleus sel sperma diberi warna ungu sementara ekor-ekor sperma yang berwarna hijau. Area yang biru adalah celah persimpangan, yang menghubungkan sel-sel tersebut.
Sel Telur yang Dibuahi
Ini adalah gambar sel telur yang dikelilingi sperma sesaat setelah terjadi pembuahan. Pronukleus laki dan permpuan dapat dilihat di tengah sebelum mereka menyatu menjadi nukleus tunggal dengan full kromosom. Segera setelahnya sel ini akan terus membelah membentuk embrio yang kompleks.
Embrio Manusia dengan 8 Sel
Embrio ini mengalami 3 siklus pembelahan sel dan masih dikelilingi oleh zona pellicuda, selapu luar yang liat.
Embrio Manusia 16 Sel
Gambar ini disebut juga morula. Embrio yang telah mengalami 4 siklus pemebelahan sel.
Embrio-embrio Manusia
Gambar ini adalah gambar kumpulan embrio-embrio, dari yang baru saja dibuahi hingga yang sudah siap ditanam di rahim.
Embrio Manusia Berumur 6 Hari

Dan akhirnya siklus kehidupan dimulai, gambar ini adalah embrio manusia yang berumur 6 hari dan mulai tertanam di dalam endometrium, di dinding rahim.
Luar biasa, ternyata tubuh kita ini dibentuk oleh miliaran sel-sel yang bersatu padu membentuk tubuh kita dan ajaibnya semuanya menjalankan fungsinya masing-masing dengan sempurna.
Gambar-gambar sel ini di scan menggunakan scanning electron microscope (SEM), sejenis mikroskop elektron yang menggunakan gelombang elektron energi tinggi untuk men-scan suatu permukaan. Gelombang elektron dari SEM ini berinteraksi dengan atom-atom di dekat atau pada permukaan sampel yang akan diteliti, dan menghasilkan gambar 3-D beresolusi tinggi. Perbesarannya dari 25X hingga 250.000X. Detail dari benda berukuran 1 - 5 nm dapat dengan mudah dideteksi, termasuk bentuk dari sel telur, sel darah merah, atau embrio bayi manusia.
Sel-sel Darah Merah
Bentuknya seperti permen cinnamon, gambar di atas adalah jenis yang paling umum dari sel darah di tubuh manusia - sel darah merah (red blood cell-RBC). Tugasnya mengirim oksigen ke seluruh tubuh; seorang wanita mempunyai kira-kira 4 - 5 juta RBC per mikroliter (kubik milimeter) darah, sedangkan laki-laki mempunyai 5 - 6 juta RBC. Orang yang tinggal di dataran yang tinggi mempunyai lebih banyak RBC karena kadar oksigen di lingkungannya yang lebih rendah.Helai Rambut Manusia
Perawatan rambut yang teratur dan mungkin dengan sedikit conditioner yang bagus akan mencegah rambut Anda rusak seperti ini.Sel Otak Purkinje
Ada 100 miliar neuron (sel impuls otak) pada otak manusia, neuron Purkinje adalah yang terbanyak. Sel-sel ini adalah masternya koordinasi motorik di cerebellar cortex. Pengaruh racun seperti alkohol dan lithium, penyakit-penyakit autoimmune, mutasi genetik termasuk autisme dan penyakit-penyakit neurodegenerative dapat menyebabkan efek negatif pada sel-sel Purkinje manusia.Sel Rambut di Telinga
Gambar ini adalah gambar sel rambut stereocilia di dalam telinga yang mendeteksi pergerakan mekanis untuk merespon vibrasi suara.Lidah dengan Indera Perasa
Gambar di atas adalah gambar ujung indera perasa di lidah. Lidah manusia memiliki kira-kira 10.000 ujung-ujung indera perasa yang bertanggung jawab membedakan rasa asin, hambar, pahit, manis, dan asam.Plak Gigi
Rajin-rajinlah sikat gigi, karena gambar di atas itu padalah gambar plak gigi yang kurang terawat. Hiii...Gumpalan Darah Beku

Lihat lagi gambar sel darah merah (RBC) di atas, yang ini adalah sel-sel yang sama yang berada di suatu gumpalan darah beku. Sel-sel yang di tengah adalah sel darah putih.
Kantung Udara Paru-Paru
Ini adalah gambar permukaan bagian dalam dari paru-paru Anda. Rongga-rongga berlubang itu adalah alveoli, disinilah terjadi pertukaran udara dengan darah.Sel Kanker Paru-Paru

Gambar ini adalah par-paru yang dirusak oleh sel-sel kanker, kontras sekali dengan gambar paru-paru yang sehat sebelumnya.
Villi (Selaput Lendir) pada Usus Kecil

Villi pada usus kecil menambah area permukaan dari usus, yang membantu dalam proses penyerapan makanan. Perhatikan sari makanan yang menempel di celah-celahnya.
Sel Telur Manusa dengan Sel-sel Korona
Gambar ini adalah gambar sel telur di atas tempat kedudukannya. Telur ini dilapisi oleh zona pellicuda, suatu glycoprotein yang melindungi telur dan juga membantu menangkap sperma. Dua sel korona terlihat menempel pada zona pellicuda.Sperma di Permukaan Sel Telur

Gambar-gambar di atas adalah sperma-sperma yang mencoba membuahi sel telur.Sperma dan Embrio Manusia
Kayak perang dunia, tapi gambar ini sebenarnya adalah kondisi 5 hari setelah pembuahan pada sel telur dengan sel-sel sperma tersisa yang masih ada di sekitarnya. Gambar fluoroscent ini di abadikan dengan menggunakan mikroskop confocal. Embrio dan nukleus sel sperma diberi warna ungu sementara ekor-ekor sperma yang berwarna hijau. Area yang biru adalah celah persimpangan, yang menghubungkan sel-sel tersebut.Sel Telur yang Dibuahi
Ini adalah gambar sel telur yang dikelilingi sperma sesaat setelah terjadi pembuahan. Pronukleus laki dan permpuan dapat dilihat di tengah sebelum mereka menyatu menjadi nukleus tunggal dengan full kromosom. Segera setelahnya sel ini akan terus membelah membentuk embrio yang kompleks.Embrio Manusia dengan 8 Sel
Embrio ini mengalami 3 siklus pembelahan sel dan masih dikelilingi oleh zona pellicuda, selapu luar yang liat.Embrio Manusia 16 Sel
Gambar ini disebut juga morula. Embrio yang telah mengalami 4 siklus pemebelahan sel.Embrio-embrio Manusia
Gambar ini adalah gambar kumpulan embrio-embrio, dari yang baru saja dibuahi hingga yang sudah siap ditanam di rahim.Embrio Manusia Berumur 6 Hari

Dan akhirnya siklus kehidupan dimulai, gambar ini adalah embrio manusia yang berumur 6 hari dan mulai tertanam di dalam endometrium, di dinding rahim.
Luar biasa, ternyata tubuh kita ini dibentuk oleh miliaran sel-sel yang bersatu padu membentuk tubuh kita dan ajaibnya semuanya menjalankan fungsinya masing-masing dengan sempurna.
Senin, 16 Agustus 2010
Ditemukan! Planet Yang Kondisinya Mirip Sekali Dengan Bumi

Ditemukan! Planet Yang Kondisinya Mirip Sekali Dengan Bumi
Planet pertama yang bisa dihuni dalam ukuran dan kondisi yang sama dengan Bumi, telah ditemukan dalam satu sistem tata surya luar, sehingga kembali memunculkan kemungkinan adanya kehidupan di planet-planet lain, ungkap para ilmuwan.
Planet yang belum diberi nama itu besarnya satu setengah kali Bumi dan lima kali lebih pejal, ungkap tim astronom Eropa di Observatorium Selatan Eropa di Garching, Jerman.
"Kami sudah menaksir bahwa suhu rata-rata super-Bumi ini antara 0 hingga 40 derajat Celsius, karena itu air dalam keadaan cair," kata Stephane Udry dari Observatorium Jenewa.
"Model-model memberi perkiraan bahwa planet itu kemungkinan berbatu-batu seperti Bumi kita atau ditutupi samudera." katanya kepada DPA.
Planet itu terletak di sekitar bintang yang disebut Gliese 581, sekitar 20,5 tahun cahaya dari sistem tata surya Bumi dan termasuk 100 bintang terdekat dari Matahari.
Walau planet itu lebih dekat kepada bintangnya dibandingkan dengan jarak Bumi ke Matahari, kedua planet sama mempunyai kondisi serupa karena Gliese 581, yang disebut "kurcaci merah", ukurannya lebih kecil dan lebih dingin.
Satu tahun planet tersebut sama dengan 13 hari di Bumi.
"Kurcaci-kurcaci merah, cocok untuk mencari planet-panet sejenis karena mereka memancarkan cahaya lebih sedikit, dan mereka juga punya jarak yang lebih dekat ke zona yang bisa dihuni, dibanding matahari kita," kata Xavier Bonfils dari Universitas Lisabon.
Lebih dari 200 "eksoplanets" - planet di luar tata surya Matahari, ditemukan dalam 12 tahun terakhir. Kebanyakan adalah gas padat yang sangat besar mirip Jupiter.
Xavier Delfosse dari Universitas Grenoble di Prancis mengatakan planet temuan baru itu dapat dihuni dan pasti menjadi sasaran bagi misi luar angkasa mencari mahluk luar angkasa di masa depan.
"Air dalam bentuk cair sangat penting bagi kehidupan," katanya. "Bagai peta harta karun, orang akan menandai planet ini dengan tanda X."
Minggu, 15 Agustus 2010
Binatang Yang Bisa Hidup di Luar Angkasa
Binatang Yang Bisa Hidup di Luar Angkasa

Tardigrades (dikenal dengan Water Bears) merupakan bagian dari supefilum Ecdysozoa, filum Tardigrada. Ukurannya sangat kecil, hidup di air, dengan kaki berjumlah delapan.
Tardigrades pertama kali dideskripsikan oleh Eprhaim Goeze pada tahun 1773. Nama Tardigrada berarti pejalan lambat yang diberikan oleh Spallanzani (1777). Panjang tubuh tardigrades dewasa adalah 1,5 mm, paling kecil ukurannya 0,1 mm, larvanya berukuran 0,05 mm.

Tardigrades bisa ditemukan di semua bagian dunia, mulai dari puncak Himalaya hinngga di dasar samudera, dan dari kutub hingga di bagian ekuator.
Tempat yang paling disukai di tempat berganggang. Di pantai, tanah maupun di air dapat dijumpai binatang mini ini.
Hal yang paling menarik dari hewan ini adalah kemampuan untuk beradaptasi di lingkungan yang sangat ekstrim. Tardigrades dapat bertahan di lingkungan yang beku (0oc) hingga di tempat yang bertemperatur tinggi (151oc). Bahkan dapat bertahan terhadap radiasi 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan jumlah radiasi di mana makhluk hidup lain dapat bertahan. Oleh karena itu, tardigrades dikenal sebagai hewan yang polyextremeophiles.


Dengan kemampuan tersebut, tardigrades merupakan makhluk hidup yang dapat bertahan bila terjadi perang nuklir atau bencana alam lain yang ekstrim. Bahkan tardigrades dapat hidup selama 120 tahun dalam kondisi kering.

Kemampuan unik lainnya dari tardigrades adalah dapat bertahan di keadaan angkasa luar yang hampa udara. Pada satu penelitian di September 2007, tardigrades dapat hidup selama selama 10 hari di lingkungan luar angkasa. Tardigrades yang mengangkasa menggunakan pesawat luar angkasa FOTON-M3 oleh�European Space Agency, dapat bertahan hidup dapat keadaan hampa udara, terpapar sinar kosmik, dan bahkan dapat bertahan terhadap radiasi UV matahari 1000 kali lebih tinggi dibandingkan radiasi di permukaan bumi.
Sumber: http://de-rarz.blogspot.com/2009/02/fantastic-binatang-yang-bisa-hidup-di.html

Tardigrades (dikenal dengan Water Bears) merupakan bagian dari supefilum Ecdysozoa, filum Tardigrada. Ukurannya sangat kecil, hidup di air, dengan kaki berjumlah delapan.
Tardigrades pertama kali dideskripsikan oleh Eprhaim Goeze pada tahun 1773. Nama Tardigrada berarti pejalan lambat yang diberikan oleh Spallanzani (1777). Panjang tubuh tardigrades dewasa adalah 1,5 mm, paling kecil ukurannya 0,1 mm, larvanya berukuran 0,05 mm.

Tardigrades bisa ditemukan di semua bagian dunia, mulai dari puncak Himalaya hinngga di dasar samudera, dan dari kutub hingga di bagian ekuator.
Tempat yang paling disukai di tempat berganggang. Di pantai, tanah maupun di air dapat dijumpai binatang mini ini.
Hal yang paling menarik dari hewan ini adalah kemampuan untuk beradaptasi di lingkungan yang sangat ekstrim. Tardigrades dapat bertahan di lingkungan yang beku (0oc) hingga di tempat yang bertemperatur tinggi (151oc). Bahkan dapat bertahan terhadap radiasi 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan jumlah radiasi di mana makhluk hidup lain dapat bertahan. Oleh karena itu, tardigrades dikenal sebagai hewan yang polyextremeophiles.


Dengan kemampuan tersebut, tardigrades merupakan makhluk hidup yang dapat bertahan bila terjadi perang nuklir atau bencana alam lain yang ekstrim. Bahkan tardigrades dapat hidup selama 120 tahun dalam kondisi kering.

Kemampuan unik lainnya dari tardigrades adalah dapat bertahan di keadaan angkasa luar yang hampa udara. Pada satu penelitian di September 2007, tardigrades dapat hidup selama selama 10 hari di lingkungan luar angkasa. Tardigrades yang mengangkasa menggunakan pesawat luar angkasa FOTON-M3 oleh�European Space Agency, dapat bertahan hidup dapat keadaan hampa udara, terpapar sinar kosmik, dan bahkan dapat bertahan terhadap radiasi UV matahari 1000 kali lebih tinggi dibandingkan radiasi di permukaan bumi.
Sumber: http://de-rarz.blogspot.com/2009/02/fantastic-binatang-yang-bisa-hidup-di.html
10 Hewan Dengan Suara Paling Keras di Dunia
10 Hewan Dengan Suara Paling Keras di Dunia
10. ALLIGATOR

Secara teknis, buaya memang tidak memiliki pita suara, tapi satu hal yang mengejutkan adalah, hal ini tidak mencegah mereka dari membuat kegaduhan. Buaya mendesis, mendengus, batuk, dan menggeram di bawah air, membuat suara infrasonic yang menimbulkan gulungan air kecil di permukaan, membuatnya bergetar atau "berdansa." Meskipun frekuensi yang dihasilkan terlalu rendah bagi manusia untuk mendengar, namun suara tersebut dapat mencapai jarak jauh untuk menjangkau calon pasangan.
9. KAKAPO

Sejenis burung kiwi besar ini adalah hewan asli Selandia Baru dan bekerja sangat keras pada musim kawin. Kakapos jantan akan menciptakan semacam amfiteater di lingkungan mereka sendiri. Yang terakhir, Kakapo akan berdeham, mengembang kantung udara di dadanya, kemudian melepaskan suara beresonansi tinggi yang dapat didengar sampai tiga mil jauhnya! Ia meneruskan ritual setiap malam selama empat bulan hingga sekitar 10.000 panggilan.
8. WOLF

Jika Anda pergi berkemah di belantara Minnesota dan anda terganggu oleh jeritan serigala, jangan panik, meskipun hal itu mungkin terdengar mengerikan, serigala itu mungkin berada 10 mil jauhnya. Sebuah lolongan serigala dapat mengidentifikasi satu sama lain dari jarak jauh hanya dengan panggilan mereka sendiri. Ketika mereka sedang melakukan paduan suara, hal itu dimaksudkan agar para pemangsa tidak dapat menebak berapa banyak serigala yang akan mereka hadapi? Apakah 1 atau bahkan 100?
7. HOWLER MONKEY

Rahasia di balik suaranya yang melengking adalah kantung pada tenggorokan monyet, yang berisi kantong khusus pada kotak suara yang menguatkan dengan panggilan untuk menakut-nakuti orang lain dari wilayahnya dan jauh dari pohon buah-buahannya yang berharga.
6. ELEPHANT

Masuk akal bahwa binatang darat terbesar di dunia bukan hanya hewan yang beratnya satu ton, tetapi membuat satu ton suara juga. Gajah menggunakan lebih dari 25 panggilan yang berbeda. Belalainya bertindak sebagai semacam ruang beresonansi, pengeras suara meledak keluar dari paru-paru besar.
Gajah juga dapat berkomunikasi jarak jauh dengan bantuan Infrasonik - frekuensi rendah, sub-sonik gemuruh yang sebenarnya dapat dirasakan melalui kulit sensitif gajah pada kaki dan telinganya yang besar.
5. CICADA

Para jangkrik mungkin hanya 1 atau 2 inci panjangnya, tapi dengan "lagu" sekeras 120 desibel dapat dengan mudah dihasilkan bagi serangga yang paling keras di dunia. Suara ini dihasilkan sebagai akibat dari gesekan noisemakers, yang disebut timbals, yang terletak di bagian perut.
Gesekan super-cepat tersebut menciptakan suara yang mengingatkan kita pada gergaji pada kecepatan penuh. Kebisingan yang mereka buat memiliki arti untuk memanggil pejantan untuk melakukan perkawinan, dan lebih dari 250 jenis jangkrik siap memainkan lagu mereka sendiri.
4. BAT

Ketika jeritan kelelawar dilepaskan akan mempengaruhi sistem GPS internal juga. Bernada tinggi, suara bertindak sebagai sonar kelelawar untuk membantu menemukan jalannya dalam gelap, dan itu membuat peta yang cukup baik. Sonarnya begitu tepat, kelelawar dapat membedakan antara benda-benda yang terpisah hanya sejauh lebar rambut manusia, terlepas dari pencahayaan.
3. HERRING

Faktor kebisingan dihasilkan dengan metode FRTs (Saya ga tau kepanjangannya), yang merupakan cara ilmiah untuk mengatakan "ikan buang angin." Ya, ikan haring memancarkan gas dari dubur mereka untuk berbicara dengan satu sama lain serta menakut-nakuti predator, tapi pada frekuensi terlalu rendah bagi manusia yang pernah mendengar. Jika itu terdengar oleh kita, itu akan terdengar seperti jet lepas landas.
2. WHALE

Paus dapat berteriak di seberang lautan - secara harfiah. Yah, setidaknya ikan paus biru, dengan bersin yang dapat didengar di sisi lain dunia. Paus bungkuk dengan lagu-lagunya yang dapat berlangsung hingga setengah jam dapat terdengar hingga 100 mil jauhnya.
Paus bahkan menggunakan suara untuk berburu dalam kegelapan di kedalaman dasar laut, menyelam dengan navigasi seperti kelelawar dengan sinyal sonar yang dapat ditembakkan dengan kekuatan yang besar untuk melumpuhkan cumi-cumi. Efeknya seperti pistol setrum!
1. PISTOL SHRIMP

Sebuah udang yang dapat menghancurkan kaca hanya dengan hentakan capitnya pasti layak menjadi nomor 1 di daftar binatang dengan suara terkeras di dunia. Ditemukan di karang tropis di seluruh dunia, udang pistol dilengkapi dengan, yah, pistol, dalam bentuk cakar besar yang mengeluarkan tembakan air dengan kecepatan tinggi. Air yang bergerak dengan kecepatan seperti itu dapat menghasilkan gelembung udara dalam air.
10. ALLIGATOR

Secara teknis, buaya memang tidak memiliki pita suara, tapi satu hal yang mengejutkan adalah, hal ini tidak mencegah mereka dari membuat kegaduhan. Buaya mendesis, mendengus, batuk, dan menggeram di bawah air, membuat suara infrasonic yang menimbulkan gulungan air kecil di permukaan, membuatnya bergetar atau "berdansa." Meskipun frekuensi yang dihasilkan terlalu rendah bagi manusia untuk mendengar, namun suara tersebut dapat mencapai jarak jauh untuk menjangkau calon pasangan.
9. KAKAPO

Sejenis burung kiwi besar ini adalah hewan asli Selandia Baru dan bekerja sangat keras pada musim kawin. Kakapos jantan akan menciptakan semacam amfiteater di lingkungan mereka sendiri. Yang terakhir, Kakapo akan berdeham, mengembang kantung udara di dadanya, kemudian melepaskan suara beresonansi tinggi yang dapat didengar sampai tiga mil jauhnya! Ia meneruskan ritual setiap malam selama empat bulan hingga sekitar 10.000 panggilan.
8. WOLF

Jika Anda pergi berkemah di belantara Minnesota dan anda terganggu oleh jeritan serigala, jangan panik, meskipun hal itu mungkin terdengar mengerikan, serigala itu mungkin berada 10 mil jauhnya. Sebuah lolongan serigala dapat mengidentifikasi satu sama lain dari jarak jauh hanya dengan panggilan mereka sendiri. Ketika mereka sedang melakukan paduan suara, hal itu dimaksudkan agar para pemangsa tidak dapat menebak berapa banyak serigala yang akan mereka hadapi? Apakah 1 atau bahkan 100?
7. HOWLER MONKEY

Rahasia di balik suaranya yang melengking adalah kantung pada tenggorokan monyet, yang berisi kantong khusus pada kotak suara yang menguatkan dengan panggilan untuk menakut-nakuti orang lain dari wilayahnya dan jauh dari pohon buah-buahannya yang berharga.
6. ELEPHANT

Masuk akal bahwa binatang darat terbesar di dunia bukan hanya hewan yang beratnya satu ton, tetapi membuat satu ton suara juga. Gajah menggunakan lebih dari 25 panggilan yang berbeda. Belalainya bertindak sebagai semacam ruang beresonansi, pengeras suara meledak keluar dari paru-paru besar.
Gajah juga dapat berkomunikasi jarak jauh dengan bantuan Infrasonik - frekuensi rendah, sub-sonik gemuruh yang sebenarnya dapat dirasakan melalui kulit sensitif gajah pada kaki dan telinganya yang besar.
5. CICADA

Para jangkrik mungkin hanya 1 atau 2 inci panjangnya, tapi dengan "lagu" sekeras 120 desibel dapat dengan mudah dihasilkan bagi serangga yang paling keras di dunia. Suara ini dihasilkan sebagai akibat dari gesekan noisemakers, yang disebut timbals, yang terletak di bagian perut.
Gesekan super-cepat tersebut menciptakan suara yang mengingatkan kita pada gergaji pada kecepatan penuh. Kebisingan yang mereka buat memiliki arti untuk memanggil pejantan untuk melakukan perkawinan, dan lebih dari 250 jenis jangkrik siap memainkan lagu mereka sendiri.
4. BAT

Ketika jeritan kelelawar dilepaskan akan mempengaruhi sistem GPS internal juga. Bernada tinggi, suara bertindak sebagai sonar kelelawar untuk membantu menemukan jalannya dalam gelap, dan itu membuat peta yang cukup baik. Sonarnya begitu tepat, kelelawar dapat membedakan antara benda-benda yang terpisah hanya sejauh lebar rambut manusia, terlepas dari pencahayaan.
3. HERRING

Faktor kebisingan dihasilkan dengan metode FRTs (Saya ga tau kepanjangannya), yang merupakan cara ilmiah untuk mengatakan "ikan buang angin." Ya, ikan haring memancarkan gas dari dubur mereka untuk berbicara dengan satu sama lain serta menakut-nakuti predator, tapi pada frekuensi terlalu rendah bagi manusia yang pernah mendengar. Jika itu terdengar oleh kita, itu akan terdengar seperti jet lepas landas.
2. WHALE

Paus dapat berteriak di seberang lautan - secara harfiah. Yah, setidaknya ikan paus biru, dengan bersin yang dapat didengar di sisi lain dunia. Paus bungkuk dengan lagu-lagunya yang dapat berlangsung hingga setengah jam dapat terdengar hingga 100 mil jauhnya.
Paus bahkan menggunakan suara untuk berburu dalam kegelapan di kedalaman dasar laut, menyelam dengan navigasi seperti kelelawar dengan sinyal sonar yang dapat ditembakkan dengan kekuatan yang besar untuk melumpuhkan cumi-cumi. Efeknya seperti pistol setrum!
1. PISTOL SHRIMP

Sebuah udang yang dapat menghancurkan kaca hanya dengan hentakan capitnya pasti layak menjadi nomor 1 di daftar binatang dengan suara terkeras di dunia. Ditemukan di karang tropis di seluruh dunia, udang pistol dilengkapi dengan, yah, pistol, dalam bentuk cakar besar yang mengeluarkan tembakan air dengan kecepatan tinggi. Air yang bergerak dengan kecepatan seperti itu dapat menghasilkan gelembung udara dalam air.
Sabtu, 14 Agustus 2010
Secara Tak Sadar, Mungkin Kita Telah Menelan Makhluk-Makhluk Menyeramkan Ini
Secara Tak Sadar, Mungkin Kita Telah Menelan Makhluk-Makhluk Menyeramkan Ini
Karena ukurannya yang teramat kecil dan susah untuk dilihat dengan kasat mata, kutu-kutu ini seringkali secara tidak sadar terhirup oleh kita melalui udara dan debu yang banyak bertebaran disekitar kita, bahkan beberapa mungkin telah tertelan bersama makanan dan minuman yang ada.
Semula kita mungkin tidak seberapa kaget atau merasa ngeri kala mendengar bakteri dalam debu yang teramat kecil itu terhirup. Namun yang lebih mengerikan lagi adalah ketika kita lihat bagaimana bentuk mereka sesungguhnya. Pikiran Anda langsung akan teringat gambaran sebagaimana mahluk luar angkasa dan monster-monster ngeri yang menakutkan.
Inilah hasil karya pemenang lomba fotografi sains Steve Gschmeissner yang berusia 61 tahun yang sudah berhasil mengabadikan beberapa kutu debu dan kutu makanan yang sangat kecil ukurannya, dan sangat susah terdeteksi juga terlihat oleh mata telanjang.
Dikutip oleh ruanghati.com dari Daily Mail menyebutkan Steve Gschmeissner mengabadikan mahluk-mahluk mengerikan tersebut dengan kamera yang dilengkapi dengan Microscope zoom yang mampu memperbesar ukuran hingga beratus ratus kali.
Masih menurut Steve Gschmeissner, kutu debu ini biasa tinggal di sofa kursi, gorden kita, sprei dan pakaian serta jaket yang digantung juga boneka-boneka anak kita, mengerikan sekali bukan.
Ternyata sehari-hari kita ditemani oleh mahluk-mahluk horor bak monster ini. Beberapa kutu yang berhasil diabadikan Steve Gschmeissner yaitu kutu makanan, yang biasa tinggal di sereal atau makanan yang tidak dikemas dengan baik.
Steve Gschmeissner juga berhasil memotret larva lalat hijau alias belatung nampak dari kedekatan dan sangat jelas, wah sungguh mengerikan, persis seperti mahluk alien yang seram dan menakutkan.
Karena ukurannya yang teramat kecil dan susah untuk dilihat dengan kasat mata, kutu-kutu ini seringkali secara tidak sadar terhirup oleh kita melalui udara dan debu yang banyak bertebaran disekitar kita, bahkan beberapa mungkin telah tertelan bersama makanan dan minuman yang ada.
Semula kita mungkin tidak seberapa kaget atau merasa ngeri kala mendengar bakteri dalam debu yang teramat kecil itu terhirup. Namun yang lebih mengerikan lagi adalah ketika kita lihat bagaimana bentuk mereka sesungguhnya. Pikiran Anda langsung akan teringat gambaran sebagaimana mahluk luar angkasa dan monster-monster ngeri yang menakutkan.
Inilah hasil karya pemenang lomba fotografi sains Steve Gschmeissner yang berusia 61 tahun yang sudah berhasil mengabadikan beberapa kutu debu dan kutu makanan yang sangat kecil ukurannya, dan sangat susah terdeteksi juga terlihat oleh mata telanjang.
Dikutip oleh ruanghati.com dari Daily Mail menyebutkan Steve Gschmeissner mengabadikan mahluk-mahluk mengerikan tersebut dengan kamera yang dilengkapi dengan Microscope zoom yang mampu memperbesar ukuran hingga beratus ratus kali.
Masih menurut Steve Gschmeissner, kutu debu ini biasa tinggal di sofa kursi, gorden kita, sprei dan pakaian serta jaket yang digantung juga boneka-boneka anak kita, mengerikan sekali bukan.
Ternyata sehari-hari kita ditemani oleh mahluk-mahluk horor bak monster ini. Beberapa kutu yang berhasil diabadikan Steve Gschmeissner yaitu kutu makanan, yang biasa tinggal di sereal atau makanan yang tidak dikemas dengan baik.
Steve Gschmeissner juga berhasil memotret larva lalat hijau alias belatung nampak dari kedekatan dan sangat jelas, wah sungguh mengerikan, persis seperti mahluk alien yang seram dan menakutkan.
Kamis, 05 Agustus 2010
Cerbung Kismis: Sekolah Berhantu 1-25
Cerbung Kismis (Kamis Misteri): Sekolah Berhantu
Based on a true story (Berdasarkan sebuah kisah nyata)
Kudengar suara itu memanggil namaku. Sayup dan terdengar menghilang diterpa angin. Aku tak memperdulikannya. Kuteruskan langkahku. Suara itu terdengar kembali. Kali ini lebih jelas, lebih nyata, lebih membahana. Aku pun berhenti, bermaksud mendengar lebih jelas lagi. Namun suara itu menjauh, menghilang....
BAGIAN 1
Namaku Adam. Aku baru saja dipindahkan ke sebuah sekolah Katolik di daerah Cibubur, Bogor. Setelah kepergian papa karena sakit kanker, aku, mama dan adikku harus mengungsi ke rumah saudara di kawasan Bogor. Mama yang usianya sudah kepala empat, hanyalah seorang wanita yang bekerja sebagai seorang pegawai administrasi di sebuah kantor di Jakarta. Gaji yang diperolehnya tidaklah cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup kami bertiga. Oleh karenanya, atas usul dari paman yang adalah adik mama, kami bertiga pindah dan tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah yang tergolong cukup besar di perumahan Kota Wisata, Cibubur.
Dengan menumpang nama pamanku, yang bekerja sebagai seorang guru SMP di sekolah tempatku menuntut ilmu sekarang, aku dan adikku mendapat keringanan pembayaran uang sekolah. Praktis, biaya hidup yang harus ditanggung oleh mama menjadi berkurang dan lebih ringan.
Di usiaku yang baru menginjak 15 tahun, aku sudah diberi takdir memiliki indra keenam: mampu melihat dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk halus. Bagi sebagian orang, kelebihanku itu adalah anugrah. Namun bagiku tidak lain hanyalah sebuah kutukan.
Bagaimana tidak. Di usiaku yang masih sangat belia, aku diharuskan melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa melihatnya. Terlebih aku selalu dibayangi ketakutan akan wajah-wajah dan bentuk makhluk-makhluk halus tersebut yang jelas-jelas adalah berantakan, bahkan sangat berantakan.
Ada yang berjalan dengan hanya badan tanpa kepala, ada yang wajahnya hancur bekas tertabrak dengan kedua biji mata mendelik keluar dengan urat-urat dan darah yang masih mengalir dan mengering, ada juga kepala yang dengan mendadak muncul dari meja yang sedang kupakai untuk menulis. Semuanya hanya bisa kusimpulkan satu: wajah mereka pucat tak berdarah, dan rambut mereka - bila memang masih ada - selalu berantakan tak beraturan.
Tak terhitung entah sudah berapa banyak penampakan yang kulihat selama aku mendapatkan kelebihan ini. Kelebihan yang datang secara tidak sengaja sejak kematian kakek yang sangat menyayangiku. Orang tuaku bilang, kakek menurunkan kelebihannya kepadaku. Selang 3 bulan setelah kakek meninggal, papaku pun diajaknya.
Aku sebenarnya sudah bosan dan ingin hidup normal seperti manusia lainnya. Namun, aku tak bisa. Walau aku sudah memohon setiap malam kepada Tuhan agar kutukan ini ditarik dan dihilangkan dariku, namun bukannya menghilang, malah semakin nyata kurasakan. Karena semakin menjadi, aku menjadi mulai terbiasa dengan apa yang kulihat. Entah sudah berapa kejadian kualami seiring dengan kemampuanku yang bisa melihat hal-hal gaib ini. Seperti yang kurasakan di sekolah baru ini.
Pagi ini adalah hari pertama aku dan adikku masuk ke sekolah baru. Aku kelas 3 SMP dan adikku, Andine, 13 tahun, kelas 1 SMP. Kami berdua ikut dengan mobil paman ke sekolah. Kami turun begitu paman mematikan mesin mobil Vitara-nya dan menutup pintunya.
"Akan saya antar kalian sampai ke kelas masing-masing." Begitu pamanku berkata ketika kami melintasi lorong yang menghubungkan gerbang dengan bagian depan sekolah.
Waktu di jam dinding tiang sekolah yang menjulang tinggi ke angkasa saat itu adalah pukul 6:20 pagi.
Berjalan kami menaiki tangga menuju lantai dua yang adalah untuk tingkat SMP. Ketika aku sedang berjalan bersama dengan paman dan adikku, sebuah bayangan berkelebat di depanku. Aku tak berniat melihatnya, namun bayangan itu tidak mau pergi, malah berputar-putar di depan wajahku. Hanya sekelebatan bayangan, namun tak jelas dilihat mata.
Aku mulai kesal ketika bayangan itu mengikutiku, bahkan ketika kami sampai di sebuah hall besar. 'Mengganggu sekali, apa ini?' Begitu bathinku.
"Heh, kau bisa melihatku kan? Aku sudah tahu kalau kau bisa melihatku." Terdengar sebuah suara yang hanya bisa didengar olehku. Suara seorang laki-laki kecil. Kulihat paman sedang berbicara kepada adikku, berarti mereka tidak mengetahui kalau diriku sedang berbicara, atau tepatnya diajak berbicara oleh sebuah bayangan yang melayang di depan wajahku.
"Kamu siapa?" Tanyaku kepada bayangan itu. Tentunya dalam hati. Berbicara dengan makhluk halus tidak pernah dilakukan dengan mulut, tidak seperti manusia yang masih hidup. Namun cukup dengan bathin dan dalam hati, mereka sudah dapat berkomunikasi dengan kita.
"Aku? Hehehe..." Bayangan itu tertawa. Bayangan di depan wajahku mendadak sirna, berganti dengan sebuah kepulan asap kecil dan dari sela-sela asap keluarlah sebuah kepala kecil dengan sehelai rambut di ujung kepalanya, namun selebihnya tak berambut alias botak.
Aku tak dapat menahan tertawaku melihat kemunculan wajahnya. Bukan rambut itu saja yang membuat wajahnya menjadi lucu, tapi lebih dikarenakan wajahnya yang memang lonjong dan sudah lucu.
"Adam, kamu tertawa apa, Nak?" Tahu-tahu pamanku yang berjalan di sampingku menoleh menatapku dengan bingung. "Kenapa tiba-tiba kamu tertawa sendiri?"
Andine juga menghentikan langkahnya dan melihatku. Adikku ini belum mengetahui kelebihanku. Hanya papaku yang mengetahuinya.
"Oh, tidak, tidak apa-apa kok, Om," Jawabku. Kutunjuk saja sembarang anak yang sedang berlari di sekitar sana. "Lucu lihat dia diledek teman-temannya."
"Kak Adam mengingau lagi, Om." Kata Andine. Dia sudah berada di depan kelasnya dan melangkah masuk ke dalam bergabung bersama teman-temannya.
"Itu kelasmu, Adam." Pamanku berkata sambil menunjuk pintu yang sedang terbuka di seberang kanan kelas tempat kami sedang berdiri. "Saya langsung ke ruang guru."
"Terima kasih, Om." Sahutku sambil bersiap melangkah.
"Sudah lihat kan?" Terdengar suara tadi lagi. Sampai saat itu bayangan itu masih mengikutiku. "Jadi namamu Adam ya."
"Kamu siapa? Kenapa mengikutiku terus?" Tanyaku mulai kesal.
"Kamu boleh panggil aku Bolu." Kata anak itu.
Aku kembali tertawa, kali ini mendengar perkataannya. "Bolu?"
"Ya, botak lucu." Kepulan asap kembali terjadi di depan mataku. Mau tak mau aku berhenti dan melihat lebih lanjut. Ternyata anak itu menampakkan sosoknya dalam bentuk badan keseluruhan.
Tubuhnya kecil kurus dengan kulit sawo matang, seperti anak berumur 3 tahun. Dengan kaos putih dekil dan celana pendek, sosok bernama Bolu melayang-layang di depanku.
"Kenapa kamu mengikutiku?" Tanyaku setelah mengetahui sosoknya yang sebenarnya.
"Aku?" Bolu menunjuk hidungnya sendiri. "Nanti kamu juga akan tahu kenapa aku mengikutimu."
"Kenapa musti nanti? Kenapa tidak sekarang saja?" Tanyaku lagi. Aku mulai penasaran dengan jawabannya yang bagiku bagaikan sebuah teka-teki.
"Karena belum waktunya." Jawab Bolu dengan ringannya.
Saat itu sekelebatan bayangan putih melintas dengan cepat di antara kerumunan murid-murid. Kelebatannya membuat mataku menoleh melihatnya, namun saat aku ingin melihat lebih jelas, bayangan itu menghilang ke dalam sebuah tembok yang menjadi dinding sebuah kelas. Sekilas bayangan tersisa yang sempat kulihat tadi seperti berpakaian serba putih.
"Apa itu tadi?" Gumamku tak jelas.
"Kamu juga melihatnya ya?" Tanya Bolu yang sekarang telah berada di sampingku, melayang di atas pundakku.
"Dia... dia menghilang di balik tembok." Kataku. Penasaran, aku berlari ke kelas yang dibalik tembok tadi bayangan serba putih tadi menghilang. Saat kuperiksa lebih lanjut, tak ada bekas atau tanda-tanda kemunculan bayangan itu disana.
Kulihat ke sekeliling ruangan kelas, berharap bisa mendapat jawaban kemana bayangan itu menghilang. Namun yang kulihat hanya teman-teman berseragam sama seperti yang sedang kupakai.
"Kemana dia?" Gumamku. "Menghilang..."
"Ya, begitulah dia." Jawab Bolu dengan tenang.
"Dia?" Aku menoleh menatap Bolu. "Kamu kenal dia?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 2
Bolu tertawa. "Ya, pastilah. Secara aku telah berada disini cukup lama."
TENG!!
Terdengar bel berdentang saat itu, pertanda jam pelajaran pertama pun dimulai. Aku segera keluar dari kelas dimana aku berada dan berlari menuju kelasku. Hampir semua bangku telah terisi, hanya tersisa tiga bangku bagian depan yang masih kosong. Mau tak mau aku pun duduk di bangku tengah dari tiga bangku kosong tersebut.
Bolu duduk bangku kosong di samping kiriku. Wajahnya menyengir menampakkan giginya yang ternyata masih putih itu.
Aku menoleh. "Ngapain disini?"
"Aku kan juga ingin belajar. Memangnya manusia saja yang boleh belajar." Jawab Bolu sekenanya.
"Enak ya bisa belajar gratis," Kataku lagi.
"Iya lah. Makanya jadi hantu aja ya. Bisa dapat fasilitas gratis tis tis..." Jawab Bolu lagi sambil menyengir.
"Enak amat kalau ngomong." Aku membentak ketus. Dibentak begitu, Bolu semakin lebar cengirannya.
"Adam, coba kau lihat nanti deh." Bolu masih meneruskan perkataannya. "Gurumu yang akan masuk nanti adalah guru wanita. Namanya Dina. Tapi..."
"Tapi apa?" Tanyaku. Kenapa Si Bolu bisanya membuat orang penasaran saja.
"Tapi nanti akan kau lihat sendiri." Ujarnya. "Jangan kaget ya."
"Jangan kaget?" Kataku. "Apa maksudnya?"
Seakan menjawab pertanyaanku itu, pintu kelas membuka. Suasana yang tadinya masih ribut, mendadak menjadi hening. Seorang wanita bertubuh ramping tinggi, dengan rambut bergelombang sepunggung melangkah masuk. Di tangannya dikempit sejumlah buku.
"Cantik juga." Bathinku. Kulihat guruku itu melangkah memasuki ruangan kelas kami.
Aku duduk di barisan depan agak di sebelah kiri kelas, sehingga membutuhkan waktu untuk bisa melihat jelas guru yang melangkah masuk itu. Namun ada satu hal yang membuatku tertarik dan tak bisa memalingkan kepala. Bukan kecantikannya, bukan pula ramping badannya.
Pada saat dia melangkah, aku melihat seperti ada keanehan. Langkahnya, tidak seperti langkah manusia pada umumnya. Namun, lebih seperti sedang diseret kedua kakinya.
Aku harus menunggu sampai guruku tiba di meja guru di depanku, meletakkan buku-buku yang dikempitnya, baru aku menyadari keanehan yang kubilang tadi.
Aku mengedipkan mata, tak percaya pada penglihatanku sendiri. Saat itu kulihat, di belakang guruku, sesosok tubuh wanita, menempel tepat di badannya. Badan menempel badan, tangan menempel tangan. Sedangkan kepalanya tertunduk sehingga wajahnya tak terlihat jelas walaupun aku mencoba untuk melihatnya.
Sekilas bila dilihat dengan mata telanjang, kedua kaki guruku seperti menginjak tanah, namun kenyataannya tidak. Dengan mata bathinku, kakinya terlihat tidak menginjak tanah. Melainkan sedang ditumpang di atas sepasang kaki pucat.
Kaki milik sosok wanita yang menempel di belakang badannya itu...
BERSAMBUNG
BAGIAN 3
"Itu... Itu..." Aku terbelalak melihat posisi badan itu. Dari yang pernah kutahu dan berdasarkan pengalaman yang pernah kudapat, posisi badan yang ditumpangi makhluk halus seperti itu adalah posisi badan kemasukan atau kesurupan.
Ibu guru memandang kami semua. Tatapannya, entah hanya karena perasaanku karena aku bisa melihat lebih dari orang normal atau mungkin memang begitu kenyataannya, tajam memandang kami semua. Tak ada satupun dari kami yang berani berbicara ditatap seperti itu.
"Tatapan matanya aneh," Kataku dalam hati. "Itu bukan tatapan manusia."
"Tentu saja bukan." Sahut Bolu cengar cengir di sampingku.
Seperti merasa diperhatikan, sosok wanita berambut panjang yang menumpang di belakang guruku itu, mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Perlahan, kepalanya berputar dan wajahnya menatap kami berdua.
Walaupun aku sudah sering melihat wajah-wajah hantu, namun tak urung aku terlompat juga dari dudukku saat wajah itu menatapku. Nyaris saja aku berteriak saking kagetnya. Wajah wanita itu putih, pucat, tak berdarah. Kedua matanya merah menyala, rambut panjangnya terurai berantakan di antara baju putihnya yang juga terurai panjang menyeka tanah.
Darah segar masih menetes dari sela-sela bibirnya. Anehnya, tak ada tetesan sedikitpun yang jatuh ke atas lantai kelas saat itu.
"Kamu kenapa?" Terdengar suara guruku memanggilku saat aku melompat kaget itu. Seluruh mata di dalam kelas berpindah menatapku. Aku tahu teman-temanku tak bisa mendengarnya, namun bagiku suara guruku terasa dingin dan mendirikan bulu roma.
"Maaf, Bu." Kataku. Mataku masih menatap sosok di belakangnya. Sosok yang memelototiku dengan mata merahnya.
"Kamu bisa melihatku?! Apa yang kamu lihat?!!" Hantu wanita itu berdesis pelan, namun cukup untuk bisa kudengar.
Saat itu guruku telah berbicara dengan suara dinginnya, menjelaskan peraturan kelas dan segala yang berhubungan dengan pelajaran selama setahun ke depan. Karena berada di barisan terdepan, aku tak perlu memandang guruku setiap kali dia berjalan mengelilingi kelas sambil menjelaskan.
"Kenapa kamu menumpangnya?" Tanyaku kepada hantu wanita itu.
"Diam!! Bukan urusanmu!!" Bentaknya. Terhenyak aku sesaat mendengarnya.
Segumpal asap halus terbang di atas kepala guruku. Kehadirannya membuat hantu wanita itu seperti terusik. Dia menatapnya dengan matanya yang melotot merah. Ketika kulirik bangku di sampingku, benar saja. Bolu telah tak berada disana lagi saat itu.
"Namanya Marini." Aku mendengar suara Bolu. "Mati penasaran di sekolah ini."
"Aaaarrrgggghhhhhhhhh......" Kulihat hantu itu membuka mulutnya dan berteriak. Suara teriakan yang hanya bisa didengar olehku dan Bolu. "Diam kau, botak sial!"
"Hehehe... Aku Bolu, Botak Lucu, bukan Bosi, Botak Sial!" Bolu kembali terbang berputar-putar di atas kepala guruku, mengganggu keberadaan hantu wanita itu.
"Kenapa kau mengganggunya?" Tanyaku lagi.
"Manusia berisik!!" Tahu-tahu hantu wanita yang bernama Marini itu menjulurkan tangannya yang berkuku panjang ke arah wajahku!!
Aku menghindar dengan menggerakkan kepalaku ke belakang. Namun, gerakanku yang tak biasa itu menarik perhatian semua yang berada di kelas, terutama guruku, Bu Dina.
"Aneh!" Kataku. "Padahal dia masih menempel di badan ibu, dan jarakku dengan ibut tidak dekat, tapi kenapa dia bisa mencakarku?"
"Kamu! Maju kesini!" Terdengar suara Bu Dina berkata.
"I..Iya, Bu." Kataku sambil berdiri dari dudukku dan mendekati Bu Dina yang berdiri di balik mejanya itu.
"Siapa namamu?" Tanyanya. Kulihat Marini memelototiku dengan tatapan marahnya.
"Adam, Bu." Jawabku. Mataku tak memperhatikan Bu Dina, tapi Marini. Takut dia bergerak mendadak lagi.
"Kamu anak baru itu?" Tanya Bu Dina lagi.
Aku mengangguk. Sebuah bisikan terdengar di telingaku saat itu.
"Bu Dina sedang mens, badannya kotor. Tadi di toilet darahnya menetes. Pembalutnya dibuang begitu saja di tong sampah dan Marini yang menghuni disana tidak senang."
Bolu berkata seakan melapor padaku. Marini hanya bisa memelototi perbuatannya saat itu.
"Begitu." Kataku dalam hati.
"Kenapa kamu bertingkah aneh barusan?" Terdengar suara Bu Dina mengalihkan pembicaraanku. "Sudah dua kali sejak saya masuk kesini."
"Maaf, Bu." Kataku. Tak mungkin aku menjelaskan alasannya. "Saya..."
"Sudah!! Duduk sana! Sekali lagi saya lihat kamu bertingkah aneh, saya bawa kamu ke ruang kepada guru. Mengerti?"
Aku mengangguk. "Mengerti, Bu." Lalu aku kembali ke tempat dudukku dan Bu Dina kembali melanjutkan penjelasannya.
"Bolu." Kataku dalam hati ketika aku duduk lagi di bangkuku. "Aku lihat Marini tidak berani membalas apa yang kamu katakan. Dia takut padamu?"
Bukannya menjawab, Bolu malah terkekeh terlebih dulu. "Mana berani Marini kepadaku? Aku tahu kelemahannya."
"Pantas saja!" Kataku lagi. Setidaknya aku sudah mendapatkan satu kekuatan untuk melawan Marini. "Apa itu?"
"Air kencing." Bolu terkekeh lagi.
"Air kencing?" Aku mengernyitkan kening. "Di toilet semua juga ada air kencing kan?"
"Itu toilet wanita." Bolu tertawa. "Marini takut dengan kencing laki-laki. Ilmunya akan hilang selama beberapa hari bila tersiram."
"Oh begitu." Aku tersenyum menatap Marini. "Aku sudah tahu kelemahanmu. Jadi jangan macam-macam ya. Aku juga laki-laki."
Raut wajah pucat Marini yang tadinya terkesan galak dan menyeramkan, kini berubah menjadi mengiba.
"Apa maumu?" Tanyanya dengan suara pelan. Kedua matanya tak lagi melotot.
BERSAMBUNG
BAGIAN 4
"Aku mau tahu kenapa kamu menumpang badan Bu Dina?" Tanyaku kepada Marini.
Marini tak menjawab, hanya tatapan mata dingin yang menusuk ditujukan kepadaku.
"Kenapa?" Tanyaku lagi. Masih tak ada jawaban. Makhluk halus seperti itu biasanya tak pernah akur dengan manusia, selalu ingin menentang karena merasa mereka lebih hebat dari manusia.
"Kalau dia tak mau menjawab, siap-siap saja kencingmu tuh..." Bolu menyeletuk dengan mendadak.
Marini menggeram. Pandangannya marah menatap Bolu. "Badannya kotor. Aku menginginkan darahnya." Sahutnya pada akhirnya. "Tempat tinggalku kotor dengan darahnya."
"Menginginkan darahnya?" Tanyaku.
"Dia harus membayarnya!" Desis Marini dingin. "Akan kuminum saat dia berdarah lagi. Jadi tempatku tidak tercemar!"
Sebuah jawaban yang membuat bulu kuduk berdiri bagi yang mendengarnya. Aku tak tahu bila manusia biasa mendengarnya, yang pasti aku sendiri sempat bergidik karenanya. Tak ada kata-kata yang bisa kukeluarkan. Suaraku seperti tercekat di tenggorokan.
"Saya juga ingin mengenalkan seorang teman baru kalian." Kata Bu Dina menatapku. "Berdiri dan perkenalkan dirimu kepada teman-temanmu disini."
Aku berdiri dari dudukku. Kubalikkan badanku agar bisa melihat semua teman-temanku dan memberikan perkenalan singkat kepada mereka.
Saat aku memperkenalkan diriku, kulihat Marini menatapku dengan penuh kebencian. Mata merahnya seperti bara api yang siap menghanguskan badanku.
Bunyi bel pelajaran membuatku tercekat. Suaranya yang keras membuatku seperti tersadar dari lamunan. Ibarat terbangun dari mimpi ditatap seperti itu oleh Marini. Ternyata sudah 40 menit berlalu.
Bu Dina telah menyuruhku duduk dan kembali dia masih berceloteh panjang lebar.
"Tinggal 40 menit lagi," Terdengar suara Bolu mengiang di telingaku, namun wujudnya tak telihat.
"Apa artinya?" Tanyaku.
"Akan terjadi sesuatu pada gurumu bila kau tak menghentikan Marini." Entah mengapa suara Bolu semakin lama semakin menghilang. Saat aku melirik ke arah Marini, hantu wanita itu menyeringai seperti menantangku.
"Keluarkan buku kalian dan buka halaman pertama!" Aku mendengar Bu Dina berkata. Menurutinya, aku pun membuka buku yang telah kuletakkan sebelumnya di mejaku.
"Bolu, dimana kamu?" Tanyaku, berharap Bolu ada disana saat itu. Entah kenapa aku mendadak diserang perasaan takut. Jantungku mendadak berdegup kencang.
"Aku pergi dulu, ada urusan." Terdengar sebuah suara yang pelan, seperti berada di tempat yang jauh.
"Ini... Ini bagaimana?" Tanyaku kebingungan sambil mengambil pena dan menulis di atas bukuku. Ibu Dina masih terus memberi penjelasan. "Apa yang harus kulakukan?"
"Itu urusanmu, bukan urusanku." Sahut Bolu lagi.
"Ahhh..." Aku mengeluh, tapi tak dapat berbuat banyak. Tak mungkin aku memberitahu Bu Dina yang sebenarnya. Aku yakin beliau takkan percaya padaku. Bahkan bisa jadi aku yang dicap gila olehnya. Dan bila hal ini sampai menyebar ke satu sekolah, tamatlah riwayatku. Mungkin juga Paman dan adikku akan kena imbasnya.
"Tidak. Aku tidak boleh mengatakan semua ini!" Kataku pada diriku sendiri. Kucoba memfokuskan diri pada pekerjaan yang diberikan guruku.
"Tapi aku tak mungkin diam membiarkan ini terjadi." Hatiku kembali bergolak. Kembali aku berkonsentrasi pada pekerjaanku.
Tak bisa lama. Konflik bathin kembali terjadi.
"Kau mau apa yang kau tahu dan bisa kau cegah, malah justru terjadi karena kau tak berbuat apa-apa?"
"Lakukan saja dan kau akan dianggap tidak waras!"
"Cegahlah selagi masih ada waktu. Sebelum semuanya terlambat."
"Untuk apa kau lakukan itu? Ingin menampang dengan kelebihanmu? Bukan kau yang dipuji, tapi kau justru yang dikucilkan."
Aku mulai terusik, pikiranku mulai kemana-mana. Tanganku terhenti menulis. Konsentrasiku mulai buyar.
"Adam, ingat. Kau sudah tahu dan bisa mencegahnya. Mengapa diam saja? Lakukan sesuatu!"
"Sekali kau melakukan, selamanya kau akan menanggungnya!!"
"AAAAKKHHHH!!!!!" Aku tak tahan lagi. Sambil menjerit, aku menjambak rambutku sendiri.
Tapi aku salah, aku baru menyadari aku telah salah melakukannya. Setelah jeritanku itu, semua teman-teman dan juga Bu Dina menatapku, semua pandangan tertuju padaku.
"Gawat!!" Kataku. Kulihat ke sekeliling dengan pandangan pucat.
Benar saja. Bu Dina yang sedari tadi duduk di belakang mejanya, kini telah berdiri dan mendekatiku. Di belakangnya, Marini tersenyum menyeringai.
"Adam! Masih ingat apa kata Ibu tadi?" Bu Dina berkata kepadaku.
"Tapi, Bu..." Aku mencoba protes, tak mau aku dibawa ke ruang guru hanya karena aku melakukan itu. Aku kan tidak salah besar.
"Hihihi... Percuma saja! Kau takkan bisa menang! Pikirannya sudah kurasuki!" Terdengar suara bathin Marini. "Hihihihihi..."
"Sekarang juga kamu ke kantor guru!!" Kata Bu Dina dengan suara dingin.
Apa yang bisa kulakukan? Menolaknya? Bisa lebih parah lagi kalau aku melakukan itu. Pilihanku hanya satu, menurut saja.
"Ba..Baik, Bu." Jawabku. Susah untuk mengajak berbicara orang yang pikirannya sudah dirasuki oleh setan seperti itu. Kesalahan sedikit saja seperti yang kulakukan, yang sebenarnya bisa ditoleransi, malah justru dibesarkan dan tak ada toleransi.
Aku keluar dari kelas diikuti pandangan teman-temanku. Di belakangku Bu Dina mengikutiku. Sayup-sayup terdengar suara tertawa cekikikan di belakang kami. Suara tertawa Marini.
BERSAMBUNG
BAGIAN 5
Ketika tiba di ruang guru, aku dihadapkan kepada guru piket hari itu, Pak Sanjaya. Aku terpaksa berbohong padanya kalau kepalaku saat itu agak pusing. Olehnya aku diminta berbaring di kursi di ruang guru sesaat.
Bu Dina telah kembali ke ruang guru. Hatiku tetap tak tenang. Aku takut perkataan Bolu tentang Bu Dina akan menjadi kenyataan. Mataku terus melirik ke jam dinding di ruang guru.
Delapan menit berlalu.
Lima belas menit.
Dua puluh lima menit.
"Aku tak boleh diam saja. Aku harus melakukan sesuatu." Bathinku. Aku bangun dari tidurku.
"Pak," Ujarku memanggil Pak Jaya yang sedang menulis itu. Dipanggil seperti itu, Pak Jaya menghentikan menulisnya dan menatapku.
"Sudah baikan?" Tanyanya kepadaku.
Aku mengangguk. "Ya, Pak."
"Kalau begitu, kamu kembali ke kelas. Sayang kan, ini hari pertamamu. Jangan dilewatkan begitu saja."
"Iya, Pak. Terima kasih." Aku membalikkan badan dan keluar ruang guru menuju ruangan kelasku sendiri.
"Sisa sepuluh menit bel istirahat." Kataku. Aku mengetuk pintu kelas.
Bu Dina membukakan pintu untukku masuk. Setelah diinterogasinya sesaat, aku diperbolehkannya duduk lagi.
"Heh?!!" Aku mengucek mataku. Tak percaya aku pada penglihatanku saat itu.
Saat itu Bu Dina sedang menerangkan jawaban dari latihan yang kami buat tadi. Aku tertegun sesaat, hatiku gembira bercampur senang. Tak ada lagi sosok Marini yang menumpang di punggung Bu Dina.
"Syukurlah!" Ujarku menghela nafas dalam. Waktu yang tersisa kupergunakan untuk mendengarkan penjelasan Bu Dina.
TENGGG!!!
Bel pelajaran berbunyi. Dua jam pertama selesai. Sebelum melanjutkan ke jam pelajaran berikut, kami semua mendapat waktu 15 menit beristirahat.
"Halo," Terdengar sebuah suara memanggilku saat aku sedang membereskan bukuku ke dalam tasku. Aku mengangkat wajahku melihat siapa yang memanggilku itu. Ternyata dua orang teman baru.
"Halo." Aku menjawab sapaan mereka. "Maaf ya." Aku menutup tasku.
"Namaku Adam." Aku mengajak mereka bersalaman.
"Kami sudah tahu." Kata salah satu dari mereka. "Aku Sandy."
"Aku Edo." Sahut seorang lagi. "Kamu pindahan dari mana?"
Tak pernah kusadari, aku mendapat teman baru di hari pertama di sekolah baruku itu. Sandy dan Edo ternyata cukup baik. Hanya sebentar saja aku sudah akrab dengan mereka berdua.
"Kita makan yuk. Lapar nih." Kata Edo. Sandy mengangguk.
"Yuk, Adam, kita makan."
Aku mengikuti kedua teman baruku itu. Dari ruangan kelasku, kami harus melintasi koridor yang terdapat barisan kelas di kiri kanannya. Sejauh mataku memandang, ternyata tak hanya kami saja yang berada disana.
Kami, anak-anak sekolah yang disana, namun juga makhluk halus yang mendadak muncul dan lewat begitu saja. Beragam bentuknya dan semuanya adalah penghuni kelas masing-masing, mulai dari anak kecil, wanita tua, sampai seorang kakek berbadan bungkuk.
"Sekolah ini banyak sekali penghuninya." Bathinku. "Andai saja aku tak bisa melihat semua ini."
"Ke WC dulu yuk." Kata Sandy tiba-tiba. "Udah gak tahan nih..."
Akhirnya kami bertiga ke toilet terlebih dulu. Kebetulan letaknya tak jauh dari kami berada saat itu. Dan toilet wanita berada di ruang sebelah toilet pria.
"Jadi disini tempatnya Marini." Kataku sambil mencoba melongok ke dalam toilet wanita, berharap bisa melihat Marini disana.
"Heh, itu buat cewek, Dam. Kita disini." Kata Edo menarik lenganku.
"Eh, iya." Aku mengikuti lenganku yang ditarik Edo. Gagal deh aku melihat keberadaan Marini.
"Pasti tidak apa-apa." Ujarku dalam hati. "Ini sudah waktunya."
"Jangan-jangan Bolu salah informasi." Kataku lagi. Kami bertiga sudah melangkah keluar dari toilet. Tapi tak ada sesuatu yang aneh yang terjadi di toilet perempuan.
"Disini toiletnya cuma satu ini ya?" Tanyaku.
"Kalau buat kita, di setiap lantai ada." Kata Sandy.
"Kalau guru juga pakai toilet yang sama?" Tanyaku lagi.
"Di sebelah ruang guru ada toilet sendiri." Kata Edo. "Cuma masih rusak."
"Rusak?"
"Ya, jadi guru-guru pada datang kemari." Sambung Sandy.
"Oh begitu." Kataku. Wangi makanan sudah tercium saat kami menjejakkan kaki di kantin.
"Repot juga kalau setiap lantai ada toilet." Bathinku. "Mana kutahu Marini ada di toilet lantai berapa. Masa musti kuperiksa satu persatu?"
Kebetulan aku belum sempat makan pagi hari itu karena buru-buru. Jadi aku memanfaatkan kesempatan itu untuk makan mengisi perut.
"Setidaknya aku bisa makan, Bu Dina sudah tenang." Kataku membatin. Sandy dan Edo juga memesan makan.
Kami bertiga makan dengan lahap, agak terburu-buru karena waktu istirahat yang tersisi hanya tinggal 3 menit. Hal itu membuatku tak menaruh perhatian pada makhluk halus yang mungkin muncul di area kantin sekolah kami.
"Yuk! Masuk!!" Kata Sandy sambil berdiri dan meneguk minumnya dari botol air mineralnya.
Aku menelan air yang kuminum barusan dan dengan langkah terburu-buru aku mengikuti keduanya.
"Ke toilet dulu ya," Ujarku kepada mereka.
Kami berhenti di toilet yang pertama kami masuki sebelum ke kantin. Karena terburu-buru, aku tak lagi memperhatikan toilet sebelah.
Bel berbunyi tepat ketika kami bertiga keluar dari toilet dan siap melangkah.
"AAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!"
Tahu-tahu terdengar teriakan kencang, seakan ingin beradu kencang dengan bunyi bel masuk.
Sebagian orang panik, termasuk aku. Suara teriakan itu berasal dari toilet sebelah, toilet wanita!
"AAAAHHHHHHHHHH!!!" Terdengar suara jeritan lainnya dan seketika suasana toilet wanita menjadi gaduh.
Seorang temanku, mungkin dari kelas lain yang tak kukenal, berlari keluar dengan wajah pucat pasi. Panik.
"Tasya, ada apa?" Tanya Sandy kepada salah satu teman yang berlari keluar. Beberapa teman lainnya berlarian keluar dari dalam toilet sambil terpekik.
"Bu Dina." Kata Tasya dengan panik.
"Bu Dina kenapa?" Tanya Edo.
"Bu Dina pingsan." Jawaban Tasya membuatku kaget.
"Pendarahan." Sambung seorang lagi yang baru keluar dari toilet. "Bu Dina pendarahan."
Semakin kaget aku mendengarnya. Pingsan dan pendarahan? Berarti Marini benar-benar melakukan apa yang dikatakannya?
BERSAMBUNG
BAGIAN 6
Suasana sekolah mendadak menjadi heboh. Jam pelajaran berikutnya yang semestinya berjalan dengan tenang, malah menjadi tertunda dikarenakan banyak siswa yang memaksa untuk melihat kejadian tersebut dari dekat. Pihak guru pun mau tak mau melarang dan memulangkan kami ke kelas kami masing-masing. Petugas klinik dan P3K sekolah yang didatangkan dari ruangannya segera bergegas ke dalam kamar mandi.
Namun pada saat suatu sedang heboh, aku menyempatkan diri lari masuk ke toilet wanita dan melihat keadaan disana. Terlihat olehku Bu Dina terbujur lemas di kamar mandi, kesadarannya hilang, dengan punggung bersandar di dinding dan kedua kaki yang terbujur lurus. Darah menggenang dari dalam rok yang dikenakannya, masih segar.
Melihat lebih jauh, aku tersentak saat melihat sesosok wanita berpakaian serba putih dengan wajah tertutup oleh rambut panjangnya, sedang berjongkok di samping Bu Dina yang sudah tak sadar itu. Sepertinya dia Marini. Tak ada yang bisa melihatnya disana, jadi dengan leluasa dia menggerakkan tangannya seperti menyendok darah yang mengalir dan terkadang membungkuk menjilati darah menggenang itu. Sepertinya dia tak memperdulikan manusia-manusia yang berada di sekitarnya.
"Apa yang kamu lakukan pada Bu Dina?" Aku bertanya kepadanya.
Marini menengokkan kepalanya. Terlihat wajahnya yang pucat seram dengan darah yang masih menetes di sekitar mulutnya. Terdengar dia menggeram dan matanya yang merah memelototiku.
Aku tak sempat mendapat jawaban darinya. Petugas klinik telah datang. Bu Dina dinawa keluar oleh dua orang lelaki, sementara seorang guru wanita lain masuk ke dalam kamar mandi dan meminta semua - khususnya murid - yang berada di dalam toilet tersebut agar masuk ke dalam kelas kembali.
Terlihat guruku itu bergidik dan memegang tengkuknya dengan tangannya. "Kenapa tiba-tiba aku merasa merinding ya?" Terdengarnya bergumam pelan tepat ketika aku berjalan di depannya.
Aku menengok sesaat. Kulihat Marini yang masih berjongkok di tempat tadi, menyeringai memperlihatkan giginya yang merah karena darah. Tak lama kemudian terdengar suara tertawa mengikik yang memekakkan telingaku. Suara tertawanya yang memenuhi ruangan kamar mandi itu. Suara yang hanya terdengar olehku.
"Ihhh..." Terdengar guruku kembali bergumam dan buru-buru melangkah keluar toilet.
Ketika kamar mandi itu telah kosong, suara tertawa Marini masih memenuhi tempat tersebut. Entah kapan suara tersebut berhenti. Yang kutahu pasti, dua petugas pembersih sekolah masuk ke dalam toilet tersebut dan membersihkan genangan darah di lantai tak lama setelah kami semua pergi dari sana.
BERSAMBUNG
BAGIAN 7
Aku berjalan kembali ke ruangan kelasku bersama dengan teman-teman lainnya. Tak ada yang dapat kulakukan untuk menolong Bu Dina. Takkan ada yang bisa mempercayaiku. Aku tak bisa berbuat banyak karena tak ada yang mempercayaiku. Terlebih aku adalah anak baru di sekolah ini.
"Sudah kuduga pasti kamu akan gagal." Terdengar sebuah suara yang mendadak muncul. Suara yang sudah kukenal sebelumnya.
"Bolu." Ujarku. "Aku tak bisa apa-apa. Tak ada yang percaya padaku. Aku bingung harus bagaimana."
Dengan sebuah kepulan asap, muncullah sesosok anak berbadan kecil hitam dan berkepala botak di hadapanku. Wajahnya menyeringai seperti biasanya.
"Untuk apa aku bisa melihat semua ini kalau pada kenyataannya aku tak bisa berbuat apa-apa?" Kataku sedih. Aku duduk di bangku dan sesaat kemudian pelajaran dilanjutkan kembali.
"Tentu bisa!" Jawab Bolu. "Kamu kan sudah tau kelemahan Marini kan?"
"Untuk apa? Percuma saja. Aku tak bisa apa-apa." Kataku lagi.
"Aku tau caranya, tapi..." Bolu duduk di kursi di sampingku.
"Tapi apa?"
"Pulang sekolah nanti kamu ke perpustakaan. Pinjam buku tahunan disana. Pelajari data Marini." Kata Bolu. Tidak seperti biasanya, nada suaranya kali ini terdengar serius.
"Lalu?"
"Kamu akan tau jawabannya setelah kamu membacanya." Lanjut Bolu lagi.
"Begitu ya?" Gumamku. "Apa dengan begitu aku bisa menolong Bu Dina?"
"Gurumu sekarang dibawa ke rumah sakit. Pendarahannya cukup parah. Bila tidak ditolong secepatnya..." Bolu terdiam lagi.
"Kenapa?" Tanyaku penasaran. "Jangan setengah-setengah kalau berbicara!"
"Gurumu akan lewat." Sambung Bolu.
"Hah?!" Mataku terbelalak mendengar penjelasannya. "Sa... Sadis sekali!"
Tiba-tiba sesosok tubuh hitam muncul di depanku. Kemunculannya yang sangat tiba-tiba, membuatku nyaris terlompat dari dudukku. Beruntung aku bisa menahan diri, sehingga guruku tak mengetahui apa yang sedang terjadi pada diriku.
"Numpang tanya." Sosok itu mendekatiku dan menatapku. Seperti badannya, wajahnya sangat hitam. Hanya matanya yang merah dan bola matanya yang merah tampak bergerak-gerak.
"Kamu bisa melihatku ya?" Tanya sosok berbadan hitam itu kepadaku.
"Kenapa?" Aku bertanya balik.
"Bisa tolong pasangkan tanganku?" Tiba-tiba sosok berbadan hitam itu berbalik arah dan mengangkat lengan kanannya yang sedari tadi tak diperlihatkan. Lengannya buntung sebatas siku dan darah menetes-netes di sikunya.
Dengan tiba-tiba lagi di tangan kirinya yang tadinya kosong, kini mendadak telah tergenggam sebuah lengan dari siku ke bawah, yang juga berdarah dan hancur, dengan daging dan urat yang menjela-jela, sementara jari-jarinya tampak bergerak-gerak. Lengan buntung yang dipegangnya diserahkan kepadaku.
Aku terperanjat bukan kepalang melihat penampakan yang sangat mendadak itu. Aku berusaha keras untuk tidak menjerit melihat itu semua. Aku tak mau ketinggalan pelajaran lagi, terlebih aku tak mau dicap tidak waras.
"Pasangkan tanganku!" Ujar sosok itu dengan suara dingin. Tangannya menyerahkan potongan lengan buntung itu kepadaku. Jari-jarinya bergerak-gerak. Darah segar menetes ke atas mejaku.
"Pergi!" Teriakku dalam hati. "Aku mau belajar. Jangan ganggu aku!"
"Pasangkan tanganku!!" Kembali sosok bertubuh hitam itu berkata dengan hitam. Nadanya kini lebih menekan. Matanya memelototiku.
Aku menengok mencari Bolu. Entah kenapa aku jadi ingin meminta tolong kepadanya. Tapi sekali lagi, di saat-saat genting seperti itu, anak botak itu menghilang entah kemana.
"Cepat pasangkan tanganku!!" Suara sosok itu terdengar sangat dingin. Mendadak bulu kudukku menjadi merinding. Hal yang tak pernah lagi kurasakan sejak aku sudah terbiasa dengan penglihatanku.
BERSAMBUNG
BAGIAN 8
"Cepat pasangkan tanganku!!" Suara sosok itu terdengar bagaikan sedingin es. Datar namun tak ada getaran sama sekali. Nadanya sangat terasa menekan sekali.
"Aku tidak mau. Jangan ganggu aku!" Teriakku dalam hati. "Aku mau belajar. Pergi!"
"Eeerrgggghhhhhhh!!" Sosok bertubuh hitam itu menggeram kesal, sepertinya marah. Matanya menjadi merah seperti bara api. Rambutnya yang tadinya gondrong tak beraturan, kini telah berdiri seperti duri landak. Gigi taringnya mendadak keluar dari dalam mulutnya.
"Awas kau!!" Teriaknya penuh amarah. Bulu kudukku semakin merinding mendengar kata-katanya.
"Jangan..." Pintaku padanya. Keringat dingin telah mengucur membasahi wajah dan leherku saat itu.
Mendadak sosok bertubuh hitam itu melemparkan potongan lengan buntung yang dipegangnya, tepat ke arah wajahku. Lengan buntung itu seperti terbang dengan kelima jari yang bergerak-gerak tepat di depan mataku, gerakannya seperti ingin mencakar. Darah menetes tiada henti ketika lengan tersebut terbang.
Menghindar! Aku harus menghindar! Menghindari lengan terbang itu! Tapi lengan itu terbang dengan cepat, bahkan sangat cepat! Tertuju ke arahku!
Sangat cepatnya lengan terbang itu melesat, kini di depan mataku yang terbelalak tak berkedip menatap kejadian itu, jari telunjuk dan tengahnya menusuk tepat seperti ingin mencongkel kedua biji mataku!
Aku harus menghindar! Tidak, tidak bisa! Jaraknya sudah sangat dekat! Terlalu dekat! Aku...
"TIDAAKKK!!!! JANGAANNNN!!!! AAAAAAAHHHHHHH!!!!!" Aku berteriak sekencangnya saat lengan terbang itu menyerangku! Kucoba untuk tidak menutup mata untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada diriku. Apapun yang terjadi, baik atau buruk, aku sudah siap!
Aku sudah siap dengan apapun yang akan terjadi padaku saat itu. Namun, lengan terbang itu hanya melintas masuk dan menghilang tak bersisa bagaikan diserap ke dalam wajahku.
Ketika aku memandang ke depan, sosok bertubuh hitam itu juga telah menghilang, tak ada lagi disana. Kosong, seperti tak pernah terjadi apapun.
"Adam," Terdengar suara yang menyadarkanku saat itu. Aku tersentak bangun.
"Kamu baik-baik saja?" Sebuah tepukan ringan di pundak membuatku menengok. Saat itu aku masih berada di dalam kelas, semua temanku memandangku dengan berbagai wajah yang bingung, heran, dan ingin tertawa.
"Kamu baik-baik saja, Adam?"
Tepukan ringan yang berasal dari guruku membuatku tersadar dari semua yang baru saja kualami. Masih dapat kurasakan keringat dingin di tengkuk dan keningku yang mengucur. Baru kusadari kalau saat itu aku sedang terengah-engah.
"Kamu kenapa?" Guruku menatapku dan bertanya dengan lembut kepadaku. Namanya Pak Budi.
"Ma... Maaf, Pak. Tadi..." Aku terdiam. Aku tak boleh melanjutkan dan membiarkan orang lain mengetahui kalau aku bisa melihat makhluk halus.
"Tidak apa-apa, Pak." Lanjutku. Jantungku masih berdegup kencang saat itu. Kupandangi teman-temanku satu persatu. Semuanya memandangku tak berkedip.
"Coba, kamu ikut saya sebentar." Kata Pak Budi yang langsung berjalan ke arah pintu.
Aku pun berdiri dan mengikuti langkah Pak Budi yang telah berjalan keluar kelas. Beliau menungguku di depan ruang kelas, di balik pintu. Aku berdiri tepat di depannya.
"Saya hanya ingin bertanya. Jawab yang jujur ya." Pak Budi berkata setelah melirik ke arah kanan dan kiri sekilas. "Kamu bisa melihat alam gaib ya?"
Terbelalak aku mendengar pertanyaan Pak Budi. 'Kenapa Beliau bisa tahu? Tahu darimana?' Hatiku bertanya bingung.
BERSAMBUNG
BAGIAN 9
"Tolong jawab yang jujur." Kata Pak Budi sambil memegang kedua pundakku. Posisi badannya saat itu agak membungkuk dan wajah menatap lurus kepadaku.
"Bapak, Bapak tahu darimana?" Tanyaku heran.
Pak Budi tersenyum. "Saya bisa mengetahui dari sikap dan tingkah lakumu."
"Maksud Bapak?"
"Nanti saja saya jelaskan. Sekarang kamu masuk lagi ke dalam dan bersikap biasa saja, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi." Pak Budi berkata. "Istirahat nanti, ketemu saya di ruang guru. Mengerti?"
"Iya, Pak, saya mengerti." Jawabku sambil berbalik dan membuka pintu kelas. Semua mata teman-temanku memandangku ketika aku berjalan masuk ke dalam kelas dan duduk kembali di bangkuku yang berada di barisan paling depan.
Tak lama kemudian, Pak Budi menyusulku masuk. Pelajaran dilanjutkan kembali seperti tak ada kejadian apa-apa.
Saat aku baru duduk tak lama, kurasakan sebuah tepukan di punggungku. Menengok ke belakang, kulihat seorang gadis tersenyum memandangku.
"Ada apa tadi?" Tanyanya pelan.
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa."
"Suara jeritanmu aneh. Seperti suara ketakutan melihat hantu." Katanya.
DEG!! Suara ketakutan akan hantu? Benarkah demikian?
"Kamu pasti salah dengar." Jawabku mengalihkan pembicaraan. Pandanganku kembali menatap papan tulis di depan yang sedang ditulis oleh Pak Budi.
"Payah." Terdengar temanku kembali berkata. Setelah itu tak ada lagi perkataan yang keluar dari mulutnya.
Aku tak memperhatikannya lagi. Sudah cukup kejadian yang kualami hari ini. Saat kulihat jam dinding di kelas, hari itu baru sekitar jam 9 pagi, namun sudah banyak kejadian yang kualami. Sebuah hari yang sepertinya masih akan banyak yang terjadi di sekolah baruku ini.
Selama beberapa saat lamanya aku tak mendapatkan gangguan. Semuanya berjalan seperti normal. Paling tidak aku bisa berkonsentrasi pada beberapa mata pelajaran yang berlangsung hingga bel berdentang saat istirahat.
Sementara Bolu entah berada dimana, sama sekali tak menampakkan dirinya, termasuk saat istirahat berlangsung.
Sandy dan Edo sempat mendekatiku mengajakku ke kantin lagi waktu istirahat. Namun aku meminta waktu untuk pergi ke ruang guru menemui Pak Budi, seperti yang dimintanya kepadaku.
Saat aku masuk ke ruang guru, aku disambut hawa sejuk yang berasal dari AC. Tampak sebagian besar guru sedang berisitirahat di bangku masing-masing. Kebanyakan dari mereka sepertinya sedang berbicara tentang insiden yang menimpa Bu Dina pagi itu, dan ada juga beberapa guru yang sedang serius dengan ponselnya.
Pamanku menengok dan tersenyum ketika aku masuk ke dalam ruang guru. Selembar koran berukuran besar sedang berada dalam genggamannya.
"Ada apa, Adam?" Tanya Paman saat aku masuk kesana.
"Tidak ada apa-apa, Om." Jawabku. "Aku mencari Pak Budi."
Pamanku memandang ke meja Pak Budi sepintas lalu dan kemudian ke sekeliling ruang guru. "Pak Budi sedang tak ada disini. Ada perlu apa dengannya?"
"Tadi dia memanggilku, Om." Kataku. "Dia minta aku ketemu dia saat istirahat."
"Oh begitu." Pamanku mengangguk. "Kamu ada berbuat salah mungkin?"
"Tidak, Om." Jawabku lagi. Saat itu pintu ruang guru membuka dan seorang guru muda masuk ke dalam. Pak Budi.
"Oh, kamu sudah disini." Sela Pak Budi ketika melihatku. "Ikut saya, kita bicara di lab saja ya."
"Iya, Pak." Kataku mengikuti Pak Budi yang sudah terlebih dulu keluar dari ruang guru. Hatiku penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu dengan pembicaraan yang dimaksud Pak Budi. Ada apa gerangan?
BERSAMBUNG
BAGIAN 10
Ruangan laboratorium bahasa terletak agak di ujung koridor. Pada saat istirahat, walau berada di ujung koridor, namun masih terdengar suara hiruk pikuk sekitarnya.
Ketika kami masuk ke ruang laboratorium bahasa, ujung mataku menangkap sekelebatan bayangan yang bergerak cepat dari tengah ruangan ke arah pojok, di balik salah sebuah bangku dan peralatan laboratorium. Sepertinya dia bersembunyi disana, namun sesekali dia mengintip dengan menaikkan kepalanya.
'Hantu pemalu,' Begitu aku menamainya. Seorang anak lelaki, mungkin kalau masih hidup dia kelas 6 SD.
"Duduk!" Pak Budi memerintahkanku duduk di salah satu bangku disana dan lalu beliau duduk berhadapan denganku.
Pak Budi berdehem sejenak sebelum melanjutkan. "Begini, Adam. Namamu Adam kan?"
Aku mengangguk. "Iya, Pak."
"Menyambung perkataan saya tadi," Matanya mempelajari wajahku dengan seksama. "Apa benar kamu bisa melihat alam gaib?"
Saat itu Hantu Pemalu bergerak keluar. Namun sempat menimbulkan suara sedikit, membuat Pak Budi menengokkan kepalanya sedikit ke belakang. Melihat itu, Hantu Pemalu kembali bersembunyi di pokok ruangan.
Aku masih terdiam, tak menjawab pertanyaan Pak Budi.
"Kamu tak bisa membohongi saya." Kata Pak Budi saat aku masih terdiam. "Pergerakan bola matamu yang tak wajar itulah tandanya kalau kamu bisa melihat alam gaib."
'Aduh, ketahuan deh.' Kataku dalam hati. 'Sepertinya Pak Budi bukan orang sembarangan.'
"Sedari tadi di kelas saya tahu kalau kamu tidak memperhatikan pelajaran saya." Sambung Pak Budi lagi. "Semula ingin saya tegur. Tapi saat saya melihat pergerakan bola matamu, saya pun mengetahui jawabannya."
Kembali mata Pak Budi menatap tajam wajahku. "Benar kan yang saya katakan itu?"
Aku tak lagi bisa menghindar. Rahasiaku sudah ketahuan. Aku pun akhirnya mengangguk mengiyakan.
"I..Iya, Pak..." Aku mengiyakan.
"Sudah saya duga!" Kedua mata Pak Budi menyalang lebar. "Apa saja yang sudah kamu lihat?"
Akupun menceritakan, mulai dari Bolu, lalu Marini, beberapa penampakan lainnya yang kulihat dari waktu aku masuk hingga aku diserang makhluk berbadan hitam itu dan ditutup dengan Hantu Pemalu.
"Berarti cukup banyak yang kamu tahu tentang sekolah ini." Kata Pak Budi lagi.
Otakku berputar mencoba mencari pertanyaan yang sekiranya bisa kupakai untuk mencari informasi tentang Marini ataupun Hantu Lengan Buntung di kelas itu. Namun sebelum sempat aku bertanya, Pak Budi telah berbicara terlebih dahulu.
"Kalau tidak salah, kamu anak yang baru masuk itu ya?" Tanya Pak Budi.
Aku kembali mengangguk. "Iya, Pak."
"Hmmm. Dengar ya!" Mendadak aku melihat raut wajah Pak Budi yang tadinya santai, kini menjadi serius.
"Saya minta kamu tidak banyak mencampuri urusan di sekolah ini, khususnya yang berhubungan dunia gaib." Pak Budi memelototiku.
Mendadak tenggorokanku terasa kaku dan lidahku terasa kelu. Aku mencoba menelan ludah.
Entah kenapa kalimat yang diucapkan Pak Budi itu bagiku seperti sebuah ancaman.
"Ke... Kenapa, Pak?" Akhirnya aku berhasil juga bersuara setelah berhasil menelan ludah.
"Tahun lalu juga ada seorang anak sepertimu, bisa melihat gaib," Pak Budi terdiam sesaat. "Tapi dia tak bertahan lama."
"Maksud Bapak dia keluar dari sekolah ini?" Tanyaku bingung.
"Bukan! Karena ikut campur urusan gaib, anak itu..."
Pak Budi meletakkan jari telunjuknya di lehernya dan menggerakkannya membentuk sebuah garis lurus horizontal.
"Kekkkk!! MATI!!!" Sambungnya sambil memelototiku.
Terhenyak aku mendengar perkataan dan melihat sikap Pak Budi.
"Berani ikut campur, nyawamu yang menjadi taruhannya!" Lanjut Pak Budi lagi. Tatapan matanya tajam seperti ingin menelanku. "Dan kamu akan menjadi yang berikutnya!!!"
Semakin terhenyak aku mendengar perkataan Pak Budi. Kedua mataku terbelalak lebar menatapnya.
BERSAMBUNG
BAGIAN 11
Aku kembali ke kelasku dengan hati penuh tanda tanya. Perkataan Pak Budi yang memperingatkanku agar tidak mencampuri urusan gaib di sekolah ini lebih jauh lagi, justru membuatku semakin penasaran. Dalam hatiku aku berharap agar pelajaran hari ini cepat selesai dan aku bisa mencari data di perpustakaan seperti yang disaranakan Bolu.
"Bolu, kemana dia?" Tanyaku sambil memandang ke sekeliling kelas. Tak ada tanda-tanda kehadirannya sedikitpun. Suasana di dalam kelas juga berlangsung aman tanpa ada gangguan apapun. Hanya aku dan teman-temanku yang belajar dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran yang lainnya.
Hari pertama sekolah ternyata tidak semua jam pelajaran dimasuki. Pada jam pelajaran kelima, kami sudah dipulangkan. Aku sudah tak sabar untuk segera pergi ke perpustakaan dan mencari informasi disana.
Sandy dan Edo mendekatiku saat kelas sudah mulai ditinggalkan murid-murid.
"Dam, mau langsung pulang ya?" Tanya Edo sambil berdiri di sampingku.
"Tidak. Aku ingin mampir ke perpustakaan dulu." Sahutku menatap Edo. "Letaknya di sebelah mana ya?"
"Ada di lantai bawah." Sandy menjawab. "Tapi hari pertama begini, mungkin belum buka perpustakaannya."
""Iya, Dam, benar. Kita kan baru masuk hari ini, belum tetap pelajarannya." Edo menimpali.
"Sayang banget." Aku kecewa. 'Jadi aku tak bisa mendapatkan informasi tentang Marini hari ini. Bisa-bisa kalau telat, nyawa Bu Dina tidak bisa selamat.'
''Lagian, ngapain juga hari gini ke perpustakaan?" Sandy menepuk bahuku. "Belum ada tugas sama sekali."
"Aku hanya ingin mengenal sekolah ini." Jawabku memberi alasan.
"Ya sudah, jadi gimana nih?" Tanya Edo. Matanya melirik ke arah Sandy.
"Kalian pulang dulu deh, aku tunggu adikku..." Ujarku. "Kami pulang bersama."
"Oh, adikmu? Cewe atau cowo?" Tanya Sandy.
"Kelas berapa?" Edo menambahkan.
"Cewe. Kelas 1. Lagi orientasi kan ya?" Kataku.
"Ya, kelas 1 masih orientasi sekolah. Pulangnya bisa sore tuh." Sandy berucap. Botol minum yang dipegangnya dibuka tutupnya dan diteguk sebagian isinya.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu. Kalian duluan saja." Ujarku. Kami bertiga berjalan bersama ke arah pintu kelas.
"Kalau begitu kami tinggal dulu ya." Kata kedua temanku.
"Ya, sampai besok ya." Aku melambaikan tangan ke arah mereka sebelum mereka pergi sambil berlari kecil. Saat itu suasana sekolah cukup ramai, karena jam pulang sekolah, jadi hampir semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Di saat semuanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang pulang, ada pula yang masih ingin tinggal di sekolah - seperti diriku, aku berjalan santai dengan maksud ingin berkeliling melihat lebih jauh tentang sekolah baruku itu.
Masih terngiang di telingaku kata-kata Pak Budi beberapa saat yang lalu. "Tahun lalu juga ada seorang anak sepertimu, bisa melihat gaib. Tapi dia tak bertahan lama."
Aku mencoba mengacuhkan bayangan-bayangan yang muncul di depanku, yang melintas atau yang menampakkan anggota badannya. Aku mencoba tampil seperti manusia normal yang tidak bisa melihat hal-hal gaib. Kadang kurasakan hal seperti itu jenuh dan membosankan.
Entah kenapa bayangan Pak Budi muncul kembali di depan mataku. Dengan jari telunjuknya yang diletakkan di lehernya dan digerakkannya membentuk sebuah garis lurus horizontal, sambil melotot dan berkata, "Kekkkk!! MATI!!!
'Mati?' Kataku pada diriku sendiri. 'Tapi dia itu siapa ya?'
'Lagipula, kata Pak Budi dia seumuranku. Tapi sudah bisa melihat gaib sepertiku?'
'Aku jadi semakin penasaran. Sekolah ini banyak menyimpan misteri.'
"Misteri... Dan kamu yang akan menyingkap misteri sekolah ini." Tahu-tahu terdengar sebuah suara menjawab gumaman hatiku itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 12
"Bolu!" Aku terperanjat tapi juga sekaligus senang saat mengenali pemilik suara yang munculnya tiba-tiba itu. "Darimana saja kamu?"
"Aku baru habis keliling..." Sebuah senyuman tersungging di mulutnya. "Seru lho."
"Keliling?" Aku mengernyitkan dahi. "Maksudnya? Keliling dimana?"
"Ya, dimana aja. Termasuk di rumah sakit tempat gurumu dirawat."
""Bu Dina." Mataku terbelalak saat mengingatnya. "Bagaimana keadaannya?"
Bulu menggaruk kepala gundulnya dengan jari-jarinya, menimbulkan suara KRAUK yang kencang. Selembar rambutnya bergerak-gerak saat kepalanya digaruk begitu. Bibirnya dimonyongkan.
"Tak bisa lama." Katanya tiba-tiba. "Marini masih belum puas..."
"Aduh, sadis!" Aku merinding. Masih teringat pandangan mata merah Marini dan darah yang meleleh di sekitar mulutnya. "Dia kuntilanak haus darah."
"Aku harus bagaimana?" Tanyaku kebingungan.
"Perpustakaan." Jawab Bolu.
"Tutup." Ujarku pendek.
"Begitu ya?" Bolu membalikkan badannya dan melayang di depanku. "Coba ikut aku!"
Penasaran dengan apa maksudnya, aku pun mengikuti kemana Bolu terbang. Ternyata dia mengajakku turun ke lantai satu, melewati sebuah koridor.
Seorang nenek berbadan bungkuk sedang berjalan perlahan-lahan di koridor tersebut. Wajahnya menoleh ketika kami melewatinya.
"Hehehe..." Terdengar suara terkekehnya. "Hei, botak culun."
Suara seorang nenek yang serak menghentikan Bolu yang sedang melayang. Anak berkepala gundul itu menoleh.
"Aduuuh... Eyang... sudah berapa kali kubilang jangan panggil aku dengan sebutan begitu... Aku Botak Lucu, bukan Botak Culun...." Dengan tampang kesal, Bolu mengumpat mengomeli sang nenek.
"Hehehe..." Terdengar sang nenek terkekeh kembali. "Bagiku itu sama saja, tapi aku lebih suka nama Botak Culun daripada Botak Lucu."
"Karena kau lebih banyak culun daripada lucunya." Sambung sang nenek yang diakhiri suara terkekeh.
Wajah Bolu yang lonjong itu terlihat semakin kesal. Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka berdua.
Setelah suara terkekehnya hilang, sang nenek dengan tiba-tiba menoleh ke arahku. Wajahnya yang penuh keriput namun pucat menatapku seakan ingin mengenalku lebih lanjut.
"Siapa namamu, Cucu?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya.
"Ah, Eyang. Sama dia dipanggil cucu, sama aku dipanggil culun..." Bolu berkomentar saat mendengar perkataan nenek itu.
"Cerewet! Yang penting masih ada cu-nya." Sang nenek mengomel pelan. "Atau kau mau kupanggil cuka atau cucian? Terserah!"
"Ogaaaah!!" Bolu mencibir. "Culun saja sudah cukup, jangan buat reputasiku lebih buruk lagi."
"Reputasi katamu?" Sang nenek kembali terkekeh. "Marini saja tak bisa kau atasi, mau bilang reputasi?"
Mata Bolu membesar. "Itu kecelakaan, Eyang. Anak ini terlambat bertindak karena dia tidak bisa keluar dari kelasnya."
"Begitu..." Sang nenek kembali berpaling menatapku.
'Ada apa ini?' Tanyaku dalam hati. 'Apa yang sedang mereka berdua bicarakan?'
BERSAMBUNG
BAGIAN 13
"Siapa namamu?" Tanya nenek itu lagi.
"Adam, Nek..."
"Panggil Eyang ya, jangan Nenek..." Kata sang nenek sambil terkekeh. "Sesepuh tempat ini."
"Iya, Eyang..." Sahutku.
"Kamu bisa melihat kan? Semuanya?"
"Maksud Eyang, semuanya?"
"Semua, yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang belum terjadi."
"Tidak bisa, Eyang. Hanya bisa melihat makhluk gaib saja." Jawabku lagi. Entah mengapa aku tidak takut berbicara dengan sang nenek. Suaranya yang serak terdengar menyejukkan.
"Sudah melihat apa saja disini?"
Aku menceritakan makhluk gaib yang kulihat selama di sekolah. Juga termasuk si lengan buntung.
"Hmmm... Cukup banyak yang kau tahu juga ya..." Sang nenek manggut-manggut.
"Belum semua, Eyang." Terdengar Bolu menjawab. "Dia baru melihat sebagian. Makanya kuajak dia ke perpustakaan agar bisa melihat lebih jauh lagi."
"Hmmm... Tapi kau harus menjaga rahasia ini jika sudah melihat semuanya." Sang nenek mewanti-wanti.
"Rahasia apa, Eyang?" Tanyaku bingung.
"Rahasia misteri sekolah ini, yang gaib dan penuh misteri." Jawab sang nenek.
Aku menelan ludah mendengarnya, sepertinya sekolah ini banyak sekali rahasia yang belum terungkap.
"Juga kau harus siap bila nantinya harus bertindak." Sambungnya lagi.
"Bertindak, Eyang?" Aku menggaruk kepala, semakin kebingungan.
"Hehehe..." Terdengar sang nenek terkekeh lagi. "Betul, betul... Hehehe..."
Bolu juga tertawa bersama sang nenek. Bulu kudukku mendadak merinding mendengar suara tertawa mereka berdua. Misterius sekali sikap mereka berdua.
"Nah, Cucu..." Sang nenek menunjuk ke sebuah pintu berjarak sekitar 5 meter di depan mata. Di atas pintu tertulis "PERPUSTAKAAN".
"Kau lihat pintu itu?" Tanyanya kepadaku. Aku mengangguk.
"Sekilas terlihat itu adalah pintu perpustakaan. Namun sebenarnya itu adalah Pintu Jawaban, pintu ke dunia gaib."
"Hah?!" Aku terbelalak tak percaya mendengar penjelasan sang nenek.
"Ada yang ingin kau tanyakan tentang keanehan di sekolah ini?" Tanya sang nenek lagi.
"Ada, Eyang." Ujarku. "Aku ingin tahu latar belakang Marini kenapa sampai menjadi kuntilanak. Aku ingin tahu keadaan Bu Dina. Juga siapa si lengan buntung itu. Juga aku ingin tahu siapa anak yang katanya meninggal setahun lalu karena bisa melihat gaib. Dan juga aku ingin tahu kenapa Pak Budi melarangku mengetahui urusan gaib di sini."
"Hehehe... Banyak sekali." Terdengar sang nenek terkekeh. "Pilih satu! Pintu Jawaban hanya bisa memberikan jawaban atas satu pertanyaan saja."
Aku memandang Bolu yang melayang-layang di samping sang nenek. Anak itu mengangkat bahunya.
'Aku musti tanya yang mana? Semuanya penting bagiku.' Gumamku dalam hati.
"Sudah tentukan pilihanmu?" Tanya sang nenek lagi.
Aku terdiam. Bingung menentukan satu dari semua pertanyaan yang ingin kutanyakan. "Baiklah. Aku sudah memilih satu."
"Bagus!" Sang nenek terkekeh lagi. "Sekarang kau berdiri tepat di depan pintu itu!"
Aku menuruti perintah sang nenek, berjalan ke arah pintu dan berdiri tepat di depannya.
"Letakkan tanganmu tepat di pintu. Panggil namanya. Ucapkan pertanyaanmu dan hentakkan kakimu tiga kali ke lantai!"
Aku menuruti kata-kata sang nenek. Dengan bergetar tanganku kusentuh merapat pintu yang terbuat dari kayu itu.
"Pintu Jawaban. Aku Adam, ingin bertanya, bagaimana keadaan Bu Dina?" Setelah aku berkata begitu, kaki kananku menghentak lantai tiga kali.
Seketika semuanya berubah total. Koridor itu yang tadinya ada cahaya lampu, kini menjadi gelap dan lampunya berkedip-kedip. Angin kencang berhembus, padahal aku berada di koridor yang tidak berangin. Saking kencang dan dinginnya, aku sampai merinding dibuatnya. Aku mencoba menengok. Bolu dan sang nenek sudah tak berada disana lagi.
"Jangan pergi!" Aku membalikkan badan ke arah mereka tadi berdiri. Tapi mereka tak lagi berada disana.
Yang lebih aneh lagi, ketika aku memandang ke sekeliling, aku tidak lagi berada di koridor tempat aku berdiri tadi. Tapi aku telah berdiri di sebuah tempat asing. Benar-benar asing. Dan hanya aku sendiri yang berada disana.
BERSAMBUNG
BAGIAN 14
Aku mencoba memandang ke sekeliling. Aku menyadari saat itu diriku sedang berdiri di sebuah tempat menyerupai sebuah daerah hutan. Aku menyebut demikian karena di kiri kananku berjejeran penuh dengan pepohonan. Di depanku tampak berkabut dan udara disana dingin menusuk tulang. Sementara di atas kepalaku juga tampak gelap bagaikan tak berlangit.
"Tempat apa ini?" Ujarku sambil melipat tanganku di dada, mencoba mengusir dingin. Uap panas tampak keluar dari mulutku saat aku berbicara. Bisa dibayangkan betapa dinginnya tempat aku berada itu.
Aku memutar badan, melihat ke belakang tempatku berdiri. Ternyata sama berkabutnya. Saat itu aku baru menyadari sesuatu.
"Dimana aku? Mengapa tak ada siapapun disini?" Kataku lagi. Uap panas berhembus dari mulutku. Aku mendekapkan tangan semakin kencang, daerah ini sangat dingin. Mestinya daerah hutan tidaklah dingin.
"Halo, tempat apa ini? Apa disini ada orang?" Aku mencoba berteriak sambil memandang ke sekeliling. Hening. Sunyi. Tak ada suara apapun. Gemerisik daun tertiup angin pun tak terdengar sama sekali.
Aku memberanikan diri berjalan. Kepalaku menengok ke kiri dan kanan setiap kali aku melangkah. Kabut yang menghalang di depan tersibak setiap kali aku berjalan.
"Halo, apa ada orang disini?" Suaraku tampak bergema di tempat itu. Tetap tak ada jawaban. Tetap hehing. Tetap sunyi. Di tempat itu seperti tak ada kehidupan sama sekali.
Jalan yang kulewati berupa jalan setapak seperti di daerah hutan umumnya. Aku tetap berjalan, ingin mengetahui lebih lanjut tempat ini dan apa jawaban yang terkandung di dalamnya seperti yang dikatakan Eyang tadi.
"Eyang," Mendadak aku teringat kepada nenek tua tadi. "Astaga. Bagaimana kalau aku tak bisa keluar lagi dari tempat ini?"
Wajahku mendadak menjadi pucat. Aku merasa seperti dijebak. Seperti terperangkap. Aku memutar badanku. "Tidak! Aku tidak bisa keluar dari sini."
"Bahaya!! Kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya?" Aku semakin panik. "Bagaimana ini? Masakah aku harus terperangkap disini selamanya?"
Aku memutuskan untuk berlari ke tempatku tadi berasal. Siapa tahu disana aku bisa mendapatkan petunjuk untuk bisa kembali ke duniaku semula. Di sekolah baruku.
Namun baru saja aku menjejakkan kakiku di tempatku tadi berdiri, mendadak aku menyadari, suasana di depan mataku tidaklah seperti yang tadi kulihat. Tempat itu telah berubah.
Tidak. Bukan berubah. Tapi kabut di depanku tersibak dan aku bisa melihat apa yang ada disana. Sebuah kolam.
Sebuah kolam seperti terbentang luas di depanku. Tunggu. Itu bukan kolam. Itu danau. Kolam tidak seperti itu. Kolam tidak ada tumbuhan di sekelilingnya. Ya, aku yakin itu danau. Danau berair biru yang tenang.
Aku mencoba mendekat. Pikiranku untuk mencari petunjuk agar bisa kembali ke duniaku tersisihkan oleh kehadiran danau tersebut. Aku melangkah pelan mendekati danau di depan mataku.
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!" Sebuah suara jeritan nyaring membuatku terlompat kaget saat aku sudah berada beberapa meter di depan danau. Pemandangan di depan mataku kembali berubah. Danau yang tadinya tenang dan tak ada siapapun disana, kini berubah. Setidaknya ada dua orang yang berada di tempat itu. Dua-duanya wanita.
Wanita yang satu berpakaian serba putih hingga ke mata kaki dan wanita yang satunya...
"Astaga!" Mataku terbelalak saat menyadari siapa wanita yang satunya itu. "Bu Dina..."
BERSAMBUNG
BAGIAN 15
"AAAHHHH......" Suara jeritan itu kembali terdengar. Aku bertanya apa suara itu berasal dari wanita di depan mataku itu. "JANGAANNNN...... AAAAKKKKHHHHHHH......"
Kulihat Bu Dina dan wanita berpakaian serba putih itu berada di pinggir danau. Bu Dina sedang dalam posisi tertelungkup dan wanita putih itu berlutut. Saat aku melihat lebih jelas lagi, kejadian di depan mataku itu ibarat film yang sedang berputar.
Wanita bergaun putih itu menjambak rambut Bu Dina dan dengannya dia memasukkan kepala Bu Dina ke dalam danau, menenggelamkan wajah dan kepalanya ke air danau. Beberapa detik kemudian, diangkatnya kepala Bu Dina.
"AAAKKKHHHH.... HHH... HHH....JHHANGHHAANNNNHHH..." Terdengar jeritan itu lagi. Ternyata itu jeritan Bu Dina. Wajahnya menengadah dan mengerang kesakitan. Nafasnya seperti sedang megap-megap mencari udara. Tangannya bergerak-gerak mencari sesuatu yang bisa diraih, namun disana, di sekelilingnya, tak ada apapun yang bisa menjadi pegangannya.
PYOUNGGG!!!
"OUUKKHHHH!!!" Kepala Bu Dina kembali dibenamkan ke dalam danau. Bunyi air akibat dimasukkan benda dari atas terdengar deras. Sementara wanita berpakaian serba putih itu tampak menyeringai.
SPLAAASSSHHHH!!!
"Ouuukhhh....aahhhh....uhuuukkkk....uhhhuuukkkk....." Kembali kulihat Bu Dina kesulitan dengat tindakan wanita itu terhadapnya. Tampak guruku itu terbatuk-batuk dengan wajah pucat megap-megap. Wajahnya dibanding tadi yang semakin pucat saja.
"Wanita itu, siapa dia?" Hatiku bergumam. "Sepertinya aku pernah melihatnya..."
Aku mengira wanita itu akan kembali membenamkan wajah Bu Dina ke dalam kolam, namun perkiraanku salah. Dengan tangan masih menjambak rambut Bu Dina, dia menyeret guruku itu. Sedangkan guruku tak bisa berbuat banyak kecuali mengikuti badannya yang terseret oleh wanita itu. Tangannya memegang rambutnya yang dijambak itu, sementara badannya terseret tanpa bisa berjalan.
"Aku tahu. Itu Marini." Ujarku. "Dia, dia mau membunuh Bu Dina."
"Tidaaaakkk.... Jangaaannn!!" Terdengar rintihan pelan Bu Dina. Wajahnya memelas dan tampak kesakitan. "Ampun. Ampun. Aku minta maaf."
"Gggrrrr!!" Wanita yang tak lain adalah Marini menggeram. Matanya tampak marah. Ucapan Bu Dina tidak digubrisnya. Tangannya masih tetap menyeret guruku itu.
"Tunggu!! Berhenti!" Aku berseru. Tanganku terjulur bermaksud menghentikan perbuatannya. Namun baik Bu Dina ataupun Marini tidak ada yang menengok ke arahku.
Karena tak ada yang memperhatikanku, aku pun berlari ke arah danau. 'Aku harus menolong Bu Dina. Harus. Dia tidak boleh mati. Aku tak mau dia mati.'
Pada saat itu mendadak sebuah suara terngiang di telingaku, "Kau harus siap bila nantinya harus bertindak."
'Itu suara Eyang.' Langkahku terhenti. Aku memandang ke sekeliling, mengira Eyang ada di tempat dimana aku berada saat itu. Namun sejauh mata memandang tak ada sedikitpun tampak sosok Eyang disana.
"Ampuuuunnn.... Lepaskan aku...." Suara jeritan Bu Dina masih terdengar. Suara itu menyadarkanku akan tujuanku berlari ke arah danau. Terlihat di depan mataku, Bu Dina sudah berdiri dijambak rambutnya oleh Marini.
"Buuuuuu... Bu Dinaaa.... Buuuuu...." Aku berlari sambil berteriak memanggil guruku itu. Rasa dingin yang menusuk tulang itu tak kupedulikan lagi. "Bu Dinaaaa..."
"AAAAKKKKKHHHHHHH!!!!" Jeritan Bu Dina kembali terdengar. Aku mempercepat langkahku. Di depan mataku kulihat guruku itu - yang telah berdiri saat itu - sedang sesak nafas mencari udara. Apa Bu Dina kedinginan hingga sesak nafas seperti itu?
Aku melirik ingin mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Tampak Marini berdiri membelakangiku. Aku berlari ke samping mereka berdua, berharap bisa melihat lebih jelas. Tampak kedua tangan Marini terpentang lurus ke depan.
Saat itu aku mendapatkan jawaban mengapa Bu Dina menjerit dan sesak nafas. Ternyata guruku sesak nafas bukan karena kedinginan, namun karena kedua tangan Marini sedang mencekik lehernya!!
"Buuuuuuu..." Aku kembali berteriak melihat ketegangan itu.
Bu Dina tampak meronta-ronta dan tangannya memegang tangan Marini yang mencekik lehernya itu. Lidahnya terjulur dan matanya terbelalak.
BERSAMBUNG
BAGIAN 16
"Bu Dinnnaaaaa... Lawan, Bu. Jangan biarkan dia mencekik Ibu!" Teriakku saat aku tiba di tepi danau itu.
Bu Dina tidak bereaksi, padahal suaraku sudah cukup kencang dan jarakku dengan mereka tidak lagi jauh. Seharusnya mereka bisa mendengar suaraku, apalagi waktu itu aku bukan lagi berkata, melainkan sudah berteriak.
"Buuu... Ibu bisa mendengarku kan? Buuuu.... Bu Dinaaa!!" Aku semakin panik saat menyadari guruku itu tidak bisa mendengarku sama sekali.
'Tidak, tidak mungkin!' Aku berkata pada diriku sendiri. 'Tidak mungkin Bu Dina tidak mendengarku.'
"Bu, ini aku, Adam. Lihat aku, Bu." Aku berkata panik, berharap guruku bisa melihatku dan menjawabku dengan lirikan matanya. Namun keberadaanku disana sepertinya tidak diketahuinya sama sekali.
Panik. Aku memandang ke sekeliling, berharap bisa mendapatkan sesuatu untuk menolong Bu Dina. Kulihat di dekat sepatuku ada beberapa batu sebesar kepalan tangan. Aku membungkuk dan mengambil salah satu di antaranya.
"Hihhh!!" Dengan sekuat tenaga aku melemparkan batu itu ke arah Marini. Jarak yang lumayan dekat itu mestinya tidak membuat lemparanku meleset.
WUUUSSSHHH!!!
Lemparanku jatuh jauh di belakang Marini. Aku tak menyerah. Kupungut lagi batu di tanah, kali ini dua batu sekaligus. Aku melempar lagi.
WUUSSHHHH!!
Batu yang kulempar itu meleset lagi. Aku melempar batu yang ketiga.
"Kali ini harus kena!" Kataku sambil mengerahkan tenaga.
Kulihat batu yang kulempar itu melesat ke arah badan Marini. 'Ayo, kena! Kena!!'
Batu itu melesat masuk dan tersisa beberapa centimeter lagi di badan Marini!
"Kena!!" Teriakku senang.
Namun batu yang sedang terbang itu lewat begitu saja melalui badan Marini, seakan badannya tak ada disana sama sekali.
"Hah!!" Mataku terbelalak. "Ti.. Tidak mungkin!"
Aku nyaris kehabisan akal saat itu. "Buuuu... Bu Dinaaa!! Ibu bisa melihatku kan? Buuuu!!"
"Oooouuukkkhhhhh......." Lidah Bu Dina semakin panjang terjulur dan matanya semakin mendelik. Tubuhnya yang tadinya meronta-ronta itu, kini seperti sudah berhenti meronta, berdiri lemas dengan leher dicekik Marini.
"Bagaimana ini?" Aku semakin panik. "Masakah aku harus melihat Bu Dina mati di depan mataku sendiri?"
Saat aku semakin panik, mendadak terdengar sebuah suara yang entah dari mana berasal. "Percuma saja. Berteriak sampai suara serak sekalipun, dia takkan bisa mendengarmu."
"Eyang?" Gumamku sambil memandang ke sekeliling saat menyadari pemilik suara serak itu. "Dimana Eyang?"
"Dengarkan, Cucuku!" Terdengar suara itu lagi. "Kau disana hanya diijinkan melihat, tidak boleh berbuat apa-apa."
"Ke.. Kenapa?"Tanyaku. "Jadi Bu Dina akan..." Kuhentikan perkataanku.
"Itu sudah takdirnya." Kata sang nenek lagi.
"Tidak. Aku takkan membiarkannya terjadi. Bukankan Eyang pernah bilang bila aku harus siap bila nantinya harus bertindak?"
"Lantas, untuk apa aku disini bila kenyataannya aku tak bisa apa-apa menolong guruku?"
"Untuk mencari jawaban, Cucuku." Jawab Sang Nenek. "Itu kan yang kau inginkan?"
"Tidak. Aku tidak mau. Aku harus menolong Bu Dina." Sahutku.
"Jangan mengubah takdir yang sudah ada!" Kata Sang Nenek lagi.
"Aku tak peduli." Kilahku. "Untuk apa aku diberikan kemampuan melihat bila kenyataannya aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang yang jelas-jelas bisa kutolong?"
"Percuma saja. Mereka takkan bisa mendengarmu, melihatmu bahkan merasakan kehadiranmu sekalipun. Kau disana hanya bisa menonton dan menjadi saksi saja!"
Aku terhenyak mendengar perkataan Sang Nenek. 'Pantas saja Bu Dina tidak bereaksi saat kupanggil begitu keras tadi.'
Kupalingkan wajahku melihat ke arah Bu Dina dan Marini. Saat itu tubuh guruku terlihat semakin lemah dan tak bertenaga, sementara suara tertawa terkikik Marini yang menggetarkan terdengar memenuhi tempat aku berada. Kedua tangan guruku sudah tidak lagi memegang lengan Marini, tapi sudah terkulai lemas ke samping.
"Jadi aku harus bagaimana sekarang?" Ujarku putus asa. Jantungku berdegup semakin kencang, kepanikan semakin melandaku, tapi aku tak tahu harus berbuat apa untuk menolong guruku itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 17
Aku menatap kejadian yang berlangsung di depannya dengan pandangan kecewa.
"Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Bu Dina." Ujarku. "Bagaimana ini?"
Aku memandang ke sekeliling dengan panik. Kurasakan kucuran keringat di keningnya. "Pasti ada sesuatu. Pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan. Pasti..."
"Ayo, Adam. Berpikir, berpikir." Aku memejamkan mataku, mencoba konsentrasi. Pikiranku melayang, melayang, melayang...
"Opa, aku takut..." Aku berkata kepada kakekku yang sedang berdiri di sampingku. Kami berdua berdiri di pinggir danau, dengan pancingan di tangan kami masing-masing. Kakekku tertawa terkekeh memperlihatkan giginya yang sudah ompong itu. "Suara... Aku mendengar suara..."
"Jangan takut. Tidak ada apa-apa." Jawab kakekku. Kedua biji hitam matanya tampak bergerak-gerak seakan sedang mengikuti sesuatu yang bergerak di depannya. Kepalanya berpaling mengikuti pandangan matanya.
"Opa melihat apa?" Aku bingung dan menengok ke depan. Ke arah pandangan kakekku. Kosong tak ada apa-apa. Tiba-tiba aku merasakan bulu kudukku merinding.
"Opa...." Aku menyentuh tengkukku. Seketika suara itu terdengar kembali. Suara tertawa cekikikan seorang wanita di tempat itu, namun wujud dan rupanya tak terlihat sakma sekali.
"Kun...kuntilanak..."
"Jangan takut, Adam. Ada Opa disini." Terdengar kakekku menyahut. Mulutnya tampak berkomat-kamit seperti sedang mengucapkan sesuatu. Sementara suara cekikikan itu semakin terdengar jelas.
Itu sudah menjadi kebiasaan kakekku bila melihat makhluk halus. Kakekku mempunyai kelebihan melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus.
Sesaat kemudian, suara tertawa cekikikan itu terhenti. Bulu kudukku juga sudah tidak meremang lagi.
"Sudah, pergilah." Terdengar kakekku berkata. Tak tahu apa yang diucapkannya, namun kata-katanya itu membuat suasana disana menjadi lebih tenang. Tak ada lagi suara tertawa cekikikan dan perasaanku juga lebih membaik.
Beliau memandangku dan tersenyum. "Sudah, tak perlu khawatir. Mari kita lanjutkan memancing."
"Tapi, Opa..." Aku masih penasaran dengan kejadian yang baru saja kulihat itu. "Benar tadi itu kuntilanak?"
"Betul..." Beliau menggangguk.
"Ke... Kenapa ada disini? Apa dia menggangu?"
"Dia tidak mengganggu." Jawab kakekku. "Dia berada disini karena ini daerah kekuasaannya."
"Daerah kekuasaannya?"
"Ya, daerah miliknya." Kata kakek menjelaskan. "Hantu itu suka tempat yang lembab, dingin, basah, kotor dan tak berpenghuni."
"Kenapa begitu?"
"Hantu tidak tahan panas, karena api itu panas. Suka tempat kotor karena disanalah mereka merasa betah. Terlebih kalau tempat itu tak berpenghuni, karena tak ada hawa manusia. Hawa manusia itu panas, mereka tidak menyukainya. Sudah mengerti?"
Aku mengangguk. "Lalu kalau dia mengganggu, bagaimana melawannya?"
Kakekku tertawa. "Kita tak bisa melawannya begitu saja. Butuh usaha dan perjuangan. Terlebih kalau mereka telah menjadi penghuni tetap di tempat itu."
"Jadi kita tidak bisa apa-apa?"
"Tergantung jenis hantunya," Jawab kakek sambil mengusap kepalaku, membelai rambutku. "Kalau kuntilanak, biasanya bisa ditangkal dengan benda tajam seperti jarum, paku atau gunting. Biasanya diletakkan di bawah bantal untuk mencegah kedatangan mereka."
Suara kakek semakin pelan, pelan dan kemudian menghilang. Aku tersadar dari lamunanku.
"Jarum, paku atau gunting? Bagaimana mau mencarinya di tempat seperti ini?" Gumamku kebingungan.
Pada saat aku sedang kebingungan itu, suara kakekku yang sudah hilang itu, terdengar kembali.
"Adam, hantu itu tidak beda dengan manusia, mereka berwujud, hanya tak memiliki raga. Wujud mereka adalah halus karena tak memiliki badan, sedang manusia kasar karena memiliki badan."
"Kakek..."
"Lihat di tempatmu sekarang berada!" Terdengar suara kakekku kembali, yang kemudian lenyap sirna.
Mataku memandang ke sekeliling. Pandanganku terarah ke tanah tempatku berpijak. Di sekitar kakiku masih terdapat batu-batu kecil yang tadi kupakai untuk melempar Marini.
"Hei...." Mendadak aku tersadar, seperti terbangun dari mimpi. Kata-kata kakekku membuatku tersadar. Aku berjongkok dan menyentuh salah satu batu kecil yang berserakan itu.
"Heiiii... Bisa!!" Mataku terbelalak saat menyadarinya. "Bisa!! Aku bisa menolong Bu Dina!!"
BERSAMBUNG
BAGIAN 18
"Ya, aku bisa menolong Bu Dina!" Hatiku berteriak senang. "Batu ini bisa terambil olehku. Padahal aku sedang berada di alam lain."
Kuarahkan pandanganku ke arah Bu Dina yang kedua tangannya sudah terkulai lemas ke samping itu.
"Kalau aku bisa mengambil batu ini dengan tanganku, itu berarti..."
Aku berlari ke arah danau di depanku. Kujulurkan tanganku menyentuh air danau itu.
"Ahhh.... Dingin banget..." Teriakku. "Aku bisa merasakannya. Aku bisa mengambil air ini."
Kucekungkan tanganku menyendok air danau itu dan sebagian air yang dingin itu menetes turun dari telapakku yang basah.
"Bisaaaa!!" Aku berteriak senang. "Terima kasih, kakek."
Pada saat itu aku teringat sebuah pesan yang melintas mendadak di pikiranku.
"Marini takut dengan kencing laki-laki. Ilmunya akan hilang selama beberapa hari bila tersiram."
Itu Bolu. Kata-kata Bolu yang pernah kudengar sewaktu di kelas dan bertemu Marini pertama kali.
Aku melihat ke arah Bu Dina. Berada dalam keadaan lemas akibat lehernya dicekik oleh Marini, kulihat tetesan air yang masih menitik di rambut guruku itu.
"Jadi begitu..." Ujarku. "Aku bisa memegang semua benda disini, kecuali hanya Bu Dina dan Marini. Pantas saja mereka tidak bisa melihatku."
"Baiklah." Aku pun berdiri dan mataku mencari-cari sesuatu yang sekiranya bisa kupakai untuk menampung air. Di balik sebuah semak terlihat seperti ujung sebuah kepala botol.
Aku berlari ke semak di samping danau dan kuraih kepala botol itu. Sebuah botol kaca. Tampak kotor pada saat kuangkat.
Bergerak cepat, aku beranjak ke danau dan membersihkan botol tersebut. Kemudian aku berdiri lagi dan membuang air seniku ke dalamnya. Terisi setengah botol.
Aku berjongkok lagi dan mengisi setengah botol sisanya dengan air danau. Campuran panas air seni dan air dingin danau menyatu.
"Semoga cara ini bisa membantu Bu Dina." Aku berdiri dan mendekati keduanya yang masih bergumul. Bu Dina masih belum menyerah kepada Dina yang berusaha mencekiknya sambil menggeram.
Dengan botol di tangan, aku mengguyur Bu Dina terlebih dulu di badannya. Guruku itu menjerit sesaat tatkala air tersebut membasahi badannya.
"Sekarang ke Marini." Ujarku. Kugerakkan tanganku menyiramkan air di botol ke badan kuntilanak itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 19
Seperti gerakan lamban, air di botol itu seakan terbang ke badan Marini. Jantungku berdetak menunggu saat-saat menegangkan yang akan terjadi di depan mataku. Semakin dekat, semakin dekat.
SPLASSHHH!!!
Air itu mengenai badan dan sebagian wajah Marini. Aku menunggu dengan tegang. Tapi sepertinya tak ada yang terjadi.
Wajah menyeramkan Marini menengok ke arahku berdiri. Matanya melotot merah. Gigi taringnya keluar.
'Kenapa? Kenapa tak ada yang terjadi?' Tanyaku dengan jantung yang kian kencang berdetak. 'Apa dia bisa melihatku?'
Disaat rasa percaya diriku mulai menipis, disaat aku mulai merasa ketakutan...
Marini menengok kembali ke depan. Tangannya berhenti mencekik Bu Dina. Tiba-tiba terdengar suaranya meraung kencang!!
"AAAAKKKKHHHHHHHHHHHH!!" Kedua tangannya melepaskan cekikannya di leher Bu Dina dan kemudian memegang kepala dan rambutnya yang tersiram itu.
"AAAAKKKKKHHHHHHHHHHHHH!!!" Suara erangannya seperti suara kesakitan. Tubuhnya tampak berputar, suara erangannya masih terdengar.
Sementara Bu Dina yang telah terlepas lehernya dari cekikan Marini berusaha mengambil udara dari nafasnya yang sesak. Begitu dia menyadari sosok di depannya sedang mengerang kesakitan, dia hanya bisa melihat denga mata terbelalak tak percaya.
"Berhasil! Aku berhasil!!" Pekikku kesenangan. Dan mendadak...
"Aaahhh.... Apa ini?? Aku... Aku kenapa??" Aku berteriak, terkesiap, mencoba memandang ke sekelilingku.
Saat itu aku merasakan tubuhku seperti melayang, tak ada yang bisa kugapai, tak ada yang bisa kuraih. Aku terbang dan melayang. Kutendang-tendangkan kakiku. Hanya udara. Tak menyentuh apa-apa. Sementara sekelilingku tampak gelap, sangat gelap.
Tiba-tiba...
BRUKK!!!
"Aduhh!!" Aku menjerit kesakitan saat merasakan aku jatuh. Lutut dan telapak tanganku sakit terhantam tanah yang keras.
"Tanah?" Kataku pada diriku sendiri.
Aku mendongak, mencoba melihat tempat aku berdiri. Aku berada di sebuah ruangan, putih bersih.
"Bau ini?" Hidungku membaui sesuatu. "Seperti bau obat?"
Aku berdiri sambil menepuk lututku yang sakit itu. Lalu aku memutar badanku mencoba melihat lebih jelas.
"Ini... Ini..." Mataku terbelalak saat melihat sebuah ranjang yang terdapat di depanku. Di atasnya seorang wanita berbaring tak sadarkan dirinya. Sebuah mesin yang entah apa namanya, berbunyi terus menerus di atas kepalanya dengan garis hijau membentuk grafik garis yang tak kuketahui artinya.
"TIT....TIT....TIT...." Begitu bunyi mesin itu.
Wanita yang terbaring di depanku membuatku terperanjat.
"Bu Dina..." Aku memekik. "Berarti aku... aku..."
Kuputar mataku memandang ke sekeliling. Ruangan berukuran cukup besar dengan mesin-mesin medis dan bau obat yang memenuhi ruangan.
"Aku berada di rumah sakit..." Ujarku terperanjat.
BERSAMBUNG
BAGIAN 20
Kecuali Bu Dina yang terbaring, disana terdapat dua orang berpakaian suster dan seorang lelaki yang mungkin adalah dokter. Mereka tampak sibuk dengan menangani Bu Dina dan kehadiranku seperti tidak digubris. Padahal jarakku saat itu berdiri cukup dekat dengan mereka.
"Apa mereka tak bisa melihatku ya?" Tanyaku pada diriku sendiri.
"Suster, siap-siap." Terdengar dokter yang mulutnya terbalut berkata. Dua suster di sampingnya mengangguk.
"Siap-siap apa?" Aku menatap mereka.
"Garisnya semakin melemah..." Kata dokter.
Kulihat matanya dan kedua suster menatap tak berkedip pada mesin di atas kepala Bu Dina.
"Apa yang mereka tunggu?" Tanyaku. Secara tak sengaja tanganku menyentuh salah seorang suster itu.
SIINGGGGGG!!!
Tanganku seperti masuk ke dalam tubuhnya! Hilang tak terlihat!
"Aku... Aku tak bisa menyentuhnya." Kutarik tanganku dengan pandangan tak percaya.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara keras yang muncul dari mesin di atas kepala Bu Dina. Mesin tadi yang berbunyi "TIT" stabil kini telah berubah menjadi bunti "TIT" panjang.
"Lewat sudah!" Terdengar dokter berkata sambil menggoyangkan kedua tangannya. Sementara kedua suster bersiap-siap menarik semua selang di tubuh guruku itu.
"Dibereskan ya." Kata dokter lagi sambil meninggalkan tempat itu. Kedua suster mengangguk.
Garis grafik yang tadinya membentuk gelombang kini telah menjadi sebuah garis lurus. Aku tak tahu apa arti itu semua. Yang kutahu hanya mereka sibuk membereskan peralatan yang dipasangkan ke tubuh Bu Dina.
"Hei. Bu Dina... Kenapa... Kenapa ditarik?" Aku panik saat melihat selang di hidung guruku ditarik.
"TIT...TIT...TIT..."
Salah satu suster mengangkat kepalanya. Matanya tampak terbelalak. "Itu..."
"TIT...TIT...TIT..."
"Suara itu...?" Suster kedua pun mengangkat kepalanya dengan mata terbelalak. Secara bersamaan keduanya menengok ke arah mesin yang berada di atas ranjang Bu Dina.
Akupun ikut menengok. Kulihat garis grafik sudah tidak lurus lagi, tapi sudah kembali bergelombang.
"Aneh...." Terdengar suster berkata. "Bukannya dia sudah lewat?"
Suster yang satunya menggeleng. Wajahnya seperti pucat tak percaya.
"Panggil dokter..."
Salah satu suster segera berlari mengejar dokter yang belum jauh meninggalkan ruangan itu.
"Dokter, pasien hidup lagi." Terdengar suster itu berkata.
"Hah!" Dokter membalik dan berlari kecil. Saat tiba di ranjang Bu Dina terbaring, yang pertama dilihatnya adalah mesin grafik, kemudian dia menempelkan jarinya ke leher guruku itu.
"Mustahil. Tadi dia bukannya sudah lewat?" Kata dokter itu dengan mata terbelalak.
"Kami juga pikir begitu."
"Aneh. Ini benar-benar aneh." Dokter menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa percaya."
Aku baru saja mencoba mengerti apa yang sedang terjadi disana ketika tubuhku kembali terlempar melayang, melayang seperti halnya yang kualami tadi dan tahu-tahu...
BRUKKK!!!
"Adduhhhh..." Aku jatuh terguling-guling sesaat sebelum akhirnya aku berhenti.
Sambil memegang kepalaku, aku mencoba bangun dari posisiku yang sedang tertelungkup. Aku berlutut dan membuka mata.
Mendadak di depan mataku terlihat sebuah tangan halus yang seperti terjulur, persis di depan wajahku. Aku mengangkat wajah melihat siapa pemilik tangan halus itu.
"Kamu..." Aku terkejut saat mengenali orang itu.
"Kamu pasti baru kembali dari Pintu Jawaban kan?" Tanya orang itu kepadaku.
BERSAMBUNG
BAGIAN 21
Aku berniat menolak uluran tangan yang membantuku bangun itu. "Aku bisa bangun sendiri." Kataku sambil mencoba berdiri. Lalu kutepuk celana seragamku yang kotor karena terguling-guling itu. Tas sekolahku yang kutinggalkan di lantai lorong kuambil dan kusampirkan di pundak.
Tak mengindahkan orang tersebut, aku melihat ke sekeliling. Ternyata aku berada di lorong yang membawaku ke perpustakaan tadi. Pintu perpustakaan berada tak jauh dari belakangku.
"Kenapa kamu bisa berada disini?" Aku menatap orang itu dan bertanya.
"Justru aku yang mau bertanya begitu. Kenapa kamu bisa tau Pintu Jawaban itu?" Ujarnya.
Aku meneruskan langkahku. Eyang dan Bolu tidak ada lagi disana. Lorong itu juga telah sepi. Hanya ada kami berdua saja disana.
"Oh ya, kita belum kenalan." Katanya sambil menjulurkan tangan. "Kamu Adam, murid baru itu kan?"
Aku mengangguk. Kubalas salaman tangannya itu. "Ya, aku murid baru disini."
"Kenalkan, aku Peggy." Sambil tersenyum, dia menerima salaman tanganku. "Salam kenal ya."
"Dari mana kamu bisa tahu tentang Pintu Jawaban?" Tanyaku sambil berjalan.
Peggy tertawa. "Sejak di kelas waktu kamu berteriak itu, aku sudah curiga kalau kamu bisa melihat hantu."
Peggy, gadis yang duduk di bangku di belakangku saat di kelas, gadis yang menepuk punggungku saat aku berteriak karena hantu lengan buntung.
"Terus?"
"Yah, aku mengikutimu." Peggy tertawa lagi. "Maaf ya. Tapi aku melihat kamu sering berbicara sendiri dan saat kamu menyentuh pintu perpustakaan, aku mendapatkan jawabannya."
"Jawaban apa?" Tanyaku lagi.
"Kamu bisa melihat hantu. Benar kan?"
Aku terdiam dan membathin. 'Kok dia bisa tahu ya? Tapi kalau dia sampai tahu rahasiaku, bahaya tidak ya?'
Peggy tertawa lagi. "Kamu jangan khawatir. Aku takkan ceritakan tentang rahasiamu itu kepada siapapun. Hanya kita berdua yang tahu rahasia ini."
"Heh, kamu bisa membaca pikiran ya?" Tanyaku ragu-ragu.
"Bagaimana ya?" Peggy menatap kosong ke depan. "Yah, anggap saja begitu."
"Kamu juga bisa melihat hantu?" Tanyaku lagi.
Peggy menggeleng. "Aku tidak sehebat kamu. Tapi kalau membaca pikiran, aku bisa."
"Oh, pantas kamu bisa tahu apa yang sedang kupikirkan." Kataku.
"Aku tertarik dengan dunia gaib." Sambung Peggy lagi. "Aku bisa melihatnya, tapi tidak dengan mata sepertimu."
"Maksudnya?"
"Aku melihat dengan kekuatan bathinku." Kata Peggy. "Tuh, kamu lihat disana. Di pohon itu."
Peggy menunjuk ke sebuah pohon yang berada di taman di samping koridor.
"Ada seorang anak perempuan kecil yang sedang duduk membaca sesuatu disana. Di bawah pohon itu. Benar?" Tanya Peggy kepadaku.
Aku melihat ke pohon yang ditunjuk Peggy. Di bawah pohon itu ada semacam hiasan berbentuk lingkaran terbuat dari semen dan porselen. Di bawah pohon itu duduk seorang anak kecil, wajahnya tertutup rambut, sedang duduk tak bergeming, sebuah buku berada di pegangannya. Wajahnya tertuju pada buku itu.
Aku menggangguk. "Iya, benar." Kataku. 'Hebat! Dia bisa melihat tanpa menggunakan matanya.'
"Dan itu..." Peggy menunjuk lagi. "Di taman, seorang anak laki-laki sekitar 8 tahun berlari-lari mengikuti anak-anak yang bermain. Benar?"
Masih di taman yang sama, aku melihat seorang anak berbadan kecil berusia sekitar 7-8 tahun berlari-lari riang di antara anak-anak lain yang bermain. Hanya saja dia tidak terlihat karena anak itu sudah tiada.
"Ya, kamu benar lagi. Hebat!"
"Makanya waktu di kelas, aku tahu apa yang sedang terjadi padamu." Kata Peggy. "Tapi kamu tidak mau mengaku."
"Maaf deh. Aku tidak bisa sembarang cerita rahasiaku." Jawabku sambil mengusap-usap kepalaku.
"Bagaimana Bu Dina?" Tanya Peggy tiba-tiba. "Kamu berhasil menolongnya?"
'Hah?! Darimana dia bisa tahu sejauh itu kalau aku yang menolong Bu Dina diam-diam?' Bathinku.
Peggy lagi-lagi tertawa. "Kenapa kamu masih ragu? Hatimu bingung kan darimana aku bisa tahu sejauh itu kalau kamu yang menolong Bu Dina diam-diam?"
Semua pikiranku terbaca! Astaga! Kalau begini tak ada yang bisa kusembunyikan darinya.
"Maaf, tapi memang kamu tak bisa menyembunyikan apapun dariku." Kata Peggy lagi. "Aku bisa membaca semua pikiranmu bagaikan aku membaca buku."
"Apa aku bisa mempercayaimu?" Pertanyaan itu meluncur dengan spontan dari mulutku.
"Kamu tak perlu bilang, aku sudah tau isi hatimu." Kata Peggy. "Justru aku ingin mencari orang yang bisa melihat gaib sepertimu..."
"Untuk apa?" Tanyaku bingung.
"Sekolah ini." Jawabnya.
"Sekolah ini?"
"Ya, kamu belum tau ini sekolah apa?"
Aku menggeleng.
"Dari semua yang kamu alami di hari ini, kamu belum bisa menyimpulkannya?" Kata Peggy. "Mulai dari kuntilanak yang menyerang Bu Dina, lalu si lengan buntung, belum lagi anak kecil botak yang menemuimu itu."
'Dia tahu tentang Bolu?' Bathinku.
"Kau memanggilnya Bolu kan?" Tanya Peggy. "Lalu nenek tua penghuni lorong ini. Si hantu pemalu. Dua anak di taman itu. Belum lagi yang kamu lihat di kantin dan kelas lainnya."
Aku terdiam sejenak. "Sekolah ini berhantu?"Tebakku
Peggy tertawa. "Ya. Kamu betul. Kalau kamu mau tau tanah dimana sekolah ini berdiri dulunya adalah sebuah tempat pembantaian masal..."
"Hah?!!" Aku terbelalak mendengarnya.
BERSAMBUNG
BAGIAN 22
"Kapan-kapan aku cerita lagi deh." Kata Peggy. "Sudah waktunya kamu pulang."
"Masa sih?" Ujarku. "Pamanku kan masih menunggu Andine."
"Mereka sedang dalam perjalanan kemari." Kata Peggy lagi. "Sudah ya, aku pergi dulu."
"Hey, tunggu." Aku berteriak bermaksud mencegahnya.
Setelah berkata begitu, Peggy berlari dan menghilang dari pandanganku sebelum aku sempat mencegahnya. Tak lama setelah itu, terlihat pamanku dan adikku berjalan ke arah lorong tempatku berdiri.
"Kamu disini ya?" Kata pamanku itu. "Kami mencari kemana-mana."
"Ya, Om. Tadinya aku ingin ke perpustakaan, tapi ternyata belum buka." Aku berdalih.
"Memang belum buka, Adam." Kata pamanku itu. "Ayo, kita pulang."
Andine tersenyum sambil mengunyah snack yang dipegang bungkusannya di tangannya.
"Kakak mau?" Ditawarkannya snack itu kepadaku dan kuambil sebagian.
"Gimana hari ini, Din?" Tanyaku.
"Seru, Kak. Teman-temanku lucu semua." Andine menjawab dengan tertawa. Sepertinya hatinya sedang senang saat itu.
Kami bertiga meninggalkan gedung sekolah menuju tempat parkir mobil. Sesaat aku masih memandang gedung sekolahku yang sudah memberiku pengalaman menakjubkan di hari pertamaku sekolah.
"Ayo, Adam. Naik. Kenapa bengong?" Terdengar pamanku memanggil.
"Oh, iya, Om." Ujarku sambil membuka pintu mobil bagian belakang. Adikku duduk di depan, di samping pamanku.
Kuletakkan tas sekolahku di jok samping yang kosong itu. Pikiranku menerawang ke arah pembicaraanku dengan Peggy tadi.
'Baru kali ini aku ketemu orang seperti dia. Bisa membaca pikiran orang dan melihat gaib dengan kekuatan bathin.' Kataku pada diriku sendiri. 'Luar biasa! Umurnya masih seumuran denganku tapi kemampuannya hebat sekali.'
"Itu karena dia adalah keturunan dari paranormal." Terdengar sebuah suara di sampingku. Aku menengok.
'Bolu.' Panggilku pada sosok yang hadir mendadak itu. 'Kamu bukannya tinggal di sekolah? Kok bisa ikut aku?'
'Aku mau liat tempat tinggalmu. Bosan di sekolah terus. Emang gak boleh?' Dengan gaya khasnya, makhluk botak itu berceloteh.
'Boleh, boleh.' Kataku membathin.
'Selamat ya. Akhirnya kamu berhasil menyelamatkan Bu Dina.' Kata Bolu lagi.
'Yah, untunglah. Aku tadi sudah panik tak tahu harus bagaimana.' Kataku.
'Tak percuma Eyang minta aku menemanimu. Ternyata ini jawabannya.' Sambungnya.
'Maksudnya apa?' Tanyaku bingung.
'Intinya kamu dan Peggy harus bekerjasama mengungkap keanehan sekolah itu.' Lanjut Bolu penuh teka-teki.
'Kamu kenal Peggy?'
BLETAKK!!
"Aduhhh!!" Aku mengerang ketika sebuah ketukan mampir di kepalaku.
"Adam, kamu kenapa?" Pamanku yang mendengar teriakanku menengok ke belakang sesaat di sela-sela setirannya. Begitu pula dengan Andine yang menengok dan tertawa.
"Tidak apa-apa, Om. Cuma kepalaku tadi terbentur kaca mobil." Kataku sambil berbohong. Kupelototi Bolu yang duduk di sampingku itu, di atas tas ku dan tampak sedang cekikikan puas.
'Ketawa. Sakit nih!' Kuusap-usap kepalaku yang diketuk Bolu itu.
'Pertanyaan bodoh!' Kata Bolu sambil meneruskan ketawa cekikikannya. 'Jelas-jelas aku udah tinggal lama di sekolah itu dan Peggy juga sudah kelas 3 sekarang, mana mungkin aku tidak mengenalnya?'
'Iya juga ya? Tapi udah benjol nih.' Protesku dengan mata memelototi Bolu yang masih hanyut dalam tertawanya itu.
Perjalanan pulang ke rumah pamanku tak berlangsung lama karena jarak antara sekolah dengan rumah pamanku tidak seberapa jauh. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 3 sore lewat.
Bolu mengikutiku masih ke dalam rumah dan berkeliling sesuka hatinya. Menghilang begitu saja ketika aku membuka pintu mobil. Lama juga si botak itu menghilang. Dan baru muncul kembali ketika aku sedang mandi.
"Aahhhh!!!" Aku berteriak saat melihat kehadiran Bolu yang mendadak itu. "Apa-apaan nih?"
Spontan kedua tanganku yang tadinya sedang memegang gayung menceduk air, kupakai untuk menutupi daerah kelaminku. Dengan membalikkan badan menghadap tembok, aku setengah menengok dan berkata.
"Bolu! Jangan muncul mendadak gitu bisa gak sih?" Kataku ketus. "Aku kan lagi mandi."
"Aku tau kok kamu lagi mandi." Bolu melipat kedua tangannya. "Yang bilang kamu lagi makan siapa?"
"Tapi kan kurang ajar. Aku lagi bugil nih. Sana keluar!"
"Hahahaha... Malas ahhh..." Dengan seenaknya Bolu malah duduk di pinggir bak mandi dan satu kakinya dilipat ditumpangkan ke kaki lainnya.
"Keluar dong. Gimana aku mau mandi kalau kamu disana?" Protesku lagi. Badanku masih menghadap tembok dan belum berbalik.
"Gak usah gitu deh. Gak usah disembunyikan juga aku udah liat sampai puas..." Celetuk Bolu seenaknya. Lalu dia tertawa.
"Heh!" Aku semakin panik saat mengetahui hal itu. Apa yang dikatakannya benar juga. Makhluk gaib seperti itu bisa dengan leluasa melihat kita tanpa kita sadari sama sekali.
"Udah balik aja, terusin mandinya, sama cowok aja malu-malu luh..." Celetuk Bolu lagi sambil terus tertawa. "Mau berdiri sampai kapan kayak begitu?"
"Aaaahhh...." Aku hanya bisa menjerit kesal tanpa dapat berbuat banyak menghadapi keusilan Bolu..
BERSAMBUNG
BAGIAN 23
Keesokan harinya, sekolah berlangsung seperti biasa. Saat aku baru masuk ke dalam kelas, sebuah kabar baik berhembus dari ruang guru yang mengatakan Bu Dina sudah sadar dari koma. Aku menghela nafas lega saat mendengarnya.
"Syukurlah." Kataku. "Tapi Marini gimana ya keadaannya?"
"Marini menghilang sementara akibat guyuran air kencingmu itu." Terdengar sebuah jawaban. Siapa lagi kalau bukan Bolu yang dengan kebiasannya muncul mendadak itu.
Setelah puas mengerjaiku dengan keusilannya kemarin sore hingga malam, Bolu menghilang menjelang aku tidur. Dan baru pagi ini muncul kembali di sekolah.
"Kenapa? Kok menghilang?" Tanyaku.
"Ilmunya hilang. Tapi hanya sementara. Hanya beberapa hari saja."
"Ohh... Baguslah... Berarti bisa tenang sedikit..." Ujarku sambil menaruh tasku.
"Jangan dulu bilang begitu!" Kata Bolu. "Eyang pesan, sebelum Marini muncul kembali, kamu harus melakukan satu misi."
"Misi?" Aku mengernyitkan kening. "Misi apa?"
"Marini itu kuntilanak haus darah. Mumpung dia lagi lumpuh karena ilmunya hilang, kamu harus bertindak cepat."
"Apa yang harus kulakukan?" Tanyaku. "Dan kenapa pula harus aku?"
"Karena kamu berhasil melewati ujian pertama kemarin."
"Ujian pertama? Kemarin?" Aku jadi semakin bingung.
"Ya." Bolu memonyongkan bibirnya. "Kamu berhasil mengubah takdir gurumu. Sebenarnya dia sudah ditakdirkan mati. Mati penasaran, korban yang kesekian. Namun karena campur tanganmu, jadi takdir itu berubah. Gurumu selamat, terhindar dari kematian."
"Jadi kesimpulannya, kamu insan terpilih untuk menjalankan misi ini."
Aku mendengarkan semua itu dengan terbengong-bengong.
"Nanti pas jam istirahat pertama, kita ketemu lagi. Di lorong kemarin itu. Usahakan Peggy ikut. Karena dia juga diminta datang oleh Eyang."
"Peggy? Bagaimana aku kasih tahu dia misi ini, sedangkan aku saja masih bingung harus berbuat apa?"
"Aku disini kok, Adam." Terdengar sebuah suara yang mendekat dari pintu ruang kelas. Itu Peggy.
"Oh, lagi ada Bolu ya?" Sambungnya dengan mata seperti menatap kosong.
'Gila. Kekuatan yang luar biasa. Padahal umurnya baru 15 tahun!' Bathinku.
Peggy meletakkan tasnya di bangkunya yang terletak di belakangku. Terlihat dia mengangguk sesaat. "Aku mengerti."
"Mengerti apa?" Tanyaku bengong.
"Bolu barusan bilang padaku kita harus bergerak cepat sebelum Marini pulih lagi." Kata Peggy.
"Apa yang musti kita lakukan?"
"Kita lumpuhkan Marini dulu, setelah itu baru yang lainnya." Lanjutnya.
Aku menatap Bolu. "Yang lainnya maksudnya?"
"Ingat gak Peggy kemarin bilang apa tentang sekolah ini?" Bolu bertanya balik.
Aku mencoba mengingat-ingat. "Tempat pembantaian?"
"Ya," Sahut Peggy.
"Itu yang selanjutnya." Imbuh Bolu lagi.
"Dengan kata lain, kalian berdua diminta Eyang melakukan tugas untuk menenangkan sekolah ini dari arwah-arwah penasaran yang dibunuh massal sebelum sekolah ini dibangun..." Kata Bolu.
"Dan salah satu dari mereka yang mati penasaran adalah..." Peggy melanjutkan tapi terhenti sesaat.
"Marini?" Tanyaku.
Bolu dan Peggy mengangguk bersamaan.
"Astaga!" Aku terhenyak dan menatap keduanya dengan pandangan tak percaya.
BERSAMBUNG
BAGIAN 24
"Tapi, kenapa aku? Maksudku kenapa kami?" Aku menunjuk Peggy.
"Kalau hanya sendiri, takkan sanggup." Jawab Bolu. "Dalam satu tim. Ada otak, tentu ada otot. Peggy hebat dalam membaca pikiran dan melihat alam gaib secara bathin, tapi untuk bertindak, dia tidak memiliki kelebihan itu. Sedangkan kamu, kelebihanmu dalam menolong gurumu sudah membuktikan semuanya. Yang kamu butuhkan hanyalah panduan. Jadi gabungan kalian berdua akan menjadi kekuatan yang hebat."
Aku ingin menjawab penjelasan Bolu, namun bel pelajaran keburu menghentikan niatku itu. Akhirnya aku pun duduk di bangku dan menunggu guru masuk ke kelas untuk memulai pelajaran hari itu.
"Sampai ketemu lagi nanti waktu istirahat..." Setelah berkata begitu, Bolu pun menghilang dari pandanganku. Selarik asap kecil mengepul mengikuti raibnya makhluk berkepala botak itu.
Sepanjang pelajaran berlangsung - walaupun belum bisa dikatakan belajar serius karena baru hari kedua bersekolah setelah libur panjang - pikiranku tak bisa berkonsentrasi. Perkataan Bolu dan Peggy terus menghantui kepalaku.
Untunglah bel istirahat yang kutunggu berbunyi setelah aku mulai gelisah. Entah apa yang akan disampaikan Eyang di lorong itu hingga memintaku dan Peggy bertemu dirinya dan Bolu disana.
Aku menatap Peggy yang sudah berdiri itu. Matanya melirik sesaat.
"Gimana? Udah siap?" Tanyanya.
Aku mengangguk. Hatiku masih diliputi keraguan dan tanda tanya besar ketika aku melangkah keluar kelas bersama Peggy.
"Ada apa kita diminta ke lorong itu?" Aku bertanya bingung. "Bukannya jam segini sedang ramai-ramainya?"
"Ada yang mau disampaikan padamu disana." Ujar Peggy. Kami berdua berjalan menuruni tangga.
"Siapa?"
"Kau akan tau nantinya."
Dengan hati penuh tanda tanya, aku pun mengikuti 'undangan' untuk ke lorong itu. Ketika kami tiba disana, benar saja, lorong itu sangat ramai oleh anak-anak lain yang berlalu-lalang melewati tempat itu.
"Ramai begini, mana mungkin bisa?" Gumamku.
"Bisa." Peggy tersenyum. "Tunggu sebentar lagi."
Aku dan Peggy berdiri tepat dimana kami berdua berdiri sehari sebelumnya. Banyak yang melewati tempat kami berdiri itu. Namun tak cukup banyak yang memperhatikan kami.
Benar saja! Tak lama kemudian segumpal asap muncul di depan mataku dan sebentuk bulat dan botak mulai tampak, lalu wajahnya, badannya dan terakhir kakinya. Bolu!
"Datang juga!" Kata anak itu tertawa terkekeh. "Yuk, kita duduk di bawah pohon itu!"
Bolu menunjuk ke pohon tempat perempuan kecil itu duduk kemarin. Namun sekarang nak itu tidak ada disana.
Aku dan Peggy mengikuti perintah Bolu berjalan ke pohon itu.
"Duduk!" Kata Bolu lagi. "Kencangkan ikat pinggang! Pesawat akan berangkat! Siap ya?"
"Kita mau kemana?" Tanyaku masih bingung. Peggy duduk di samping kiriku saat itu. Tidak sepertiku, temanku itu bisa duduk tenang dan menunggu kejadian selanjutnya. Sepertinya dia sudah mengetahui apa yang akan terjadi nanti.
Bolu masih tertawa terkekeh. "Kita akan menonton film. Siap-siap ya. Banyak kengerian yang akan kau saksikan nanti!"
"Ingat! Apapun yang akan kau lihat nanti, kau hanya bisa melihatnya seperti film! Tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Tidak seperti gurumu! Kau mau teriak sekalipun, suaramu takkan terdengar oleh mereka!"
Diangkatnya tangannya, dikeluarkannya jari telunjuknya dan jari tengahnya. Mulutnya berkomat-kamit seperti membaca mantra. Tahu-tahu...
"Puihh!!" Bolu meludahi kedua jarinya itu. Dengannya dia mengusap keningku tepat di tengah kedua mataku.
"Sekarang, tutup matamu!" Kata Bolu lagi.
Aku menutup mataku.
"Perjalanan dimulai! Jangan membuka mata sebelum kusuruh!" Terdengar suara Bolu mengiang di dekat telingaku.
BERSAMBUNG
BAGIAN 25
Saat aku menutup mataku, aku merasa seperti dibawa terbang. Sekelilingku gelap gulita. Bahkan tangan di depan mataku tak bisa kulihat.
"Aku dimana?" Gumamku.
"Tenang, Adam. Ada aku disini." Terdengar suara seorang perempuan di sampingku. Peggy! Setidaknya suaranya membuatku merasa lebih tenang sedikit.
Mendadak pandanganku menjadi terang, semuanya mulai terlihat. Namun yang terlihat itu seperti film yang dimainkan di layar bioskop, besar dan jelas namun tak bisa dipegang.
Di sekelilingku, tampak suatu tempat yang sangat asing bagiku. Aku berada di sebuah tempat yang menyerupai sebuah lapangan besar, namun tidak persis seperti lapangan. Sebuah jalan, namun tidak persis seperti jalan. Sekelilingku tampak tertutup tembok tinggi. Tempat itu menyerupai sebuah benteng.
"Berhenti!!!" Mendadak sebuah teriakan membuat perhatianku teralih. Di depan mataku tampak seorang lelaki berbadan kurus sedang berlari dengan wajah ketakutan.
"Aku tidak mencuri! Itu fitnah!" Terdengar lelaki berbadan kurus itu berteriak. Kulit badannya hitam.
Saat aku melihat ke belakangnya, tampak tiga orang bertampang galak dengan pakaian kuning seperti serdadu Jepang mengejarnya. Ketikanya berlari mengejar lelaki berbadan hitam itu.
"DORR!!" Tahu-tahu terdengar suara tembakan yang entah dari mana asalnya. Saat kusadari, lelaki berbadan kurus dan berkulit hitam itu roboh ke tanah dengan baju bersimbah darah.
Melihat lelaki itu terjatuh, salah satu serdadu Jepang itu membalikkan badannya yang tertelungkup itu, bukan dengan tangan, tapi kaki.
"Pencuri!" Terdengar suara serdadu Jepang itu berkata. Baru kusadari saat itu kalau logat mereka masih kental dengan logat Jepang.
"Ampun! Aku... Aku tidak mencuri!" Lelaki berbadan kurus itu mengangkat tangannya melindungi wajahnya yang ditodong senapan mesin tepat di depan matanya. Rupanya suara tembakan itu berasal dari senapan yang dipegang oleh serdadu itu.
"Alasan!!" Serdadu yang berdiri di sebelah kanan mencabut pedang yang dibawanya. Lengannya bergerak.
CRAASSS!!!
"AAAAAHHHHHHH!!!!" Lelaki kurus itu meraung saat lengan kanannya mendadak terpotong sebatas siku setelah ditebas pedang serdadu Jepang. Darah segar muncrat seketika dan lengan sebatas siku itu jatuh ke tanah!
"AAAAAAAHHHHHH!!!" Lelaki kurus meraung dengan lengan kiri memegang lengan kanannya yang telah buntung dan masih menyemburkan darah segar itu. Tubuhnya terguling-guling menahan sakit. Wajahnya tampak panik dan bingung.
Setelah beberapa saat berguling-guling di tanah, tangan kirinya yang memegang lengan kanannya itu juga telah basah oleh darah yang masih menyembur seperti air mancur itu.
"Tanganku.... Aahhhhh.... Ta... Tanganku..." Matanya terbelalak melihat tangannya yang terpotong itu. Dengan lengan kirinya, diambilnya lengan kanan bagian bawah itu. Seperti putus asa, lelaki itu mencoba memasangkan lengan bawahnya ke lengan atasnya. Darah yang menyembur bagai air mancur itu telah membasahi lengan buntung yang hendak dipasangnya itu. Namun lengan buntung itu terjatuh lagi.
"Tanganku... Aku... tidak mencuri... Kenapa tanganku dipotong...?" Matanya menatap tak percaya ke arah serdadu yang menyarungkan pedangnya kembali itu.
Diambilnya kembali lengannya yang telah putus itu. Mulutnya terus menerus mengerang menahan sakit yang dirasakannya itu. Kesakitan itu membuatnya tidak menyadari kalau kening kirinya telah ditempel oleh mulut senapan!
DORR!!
Sebuah tembakan dari laras senapan itu menyemburkan darah segar yang lagi-lagi menyembur muncrat, kali ini dari kepalanya. Seketika lelaki itupun terkulai lemas untuk selama-lamanya. Kedua matanya mendelik tak mau menutup! Tangan kirinya memegang lengan kanannya yang putus dipotong itu!
Aku berdesis melihat kengerian itu. Tak kuat memandangnya, aku memalingkan wajahku. Tapi di sampingku, sebuah kejadian lain telah menunggu.
Terlihat olehku beberapa lelaki yang berpakaian seragam kuning yang sama seperti tiga lelaki yang kulihat sebelumnya itu, tampak sedang tertawa-tawa. Mereka semua berdiri membentuk lingkaran dan semuanya memandang ke bawah.
"Tidaaakkk!! Jangannnnn!!" Terdengar teriakan seorang gadis. Terlihat sepasang kaki sedang meronta-ronta. Sepasang kaki yang dipegang oleh dua orang tentara Jepang yang sedang berjongkok.
Saat aku menyadari lebih jauh, kedua tangan wanita itu juga sedang dipegang oleh dia lelaki yang sedang berjongkok. Sementara seorang lelaki masih berdiri tertawa-tawa dan mulai menindihnya.
"Tidaaaakkkkkk!!!" Terdengar jeritan wanita itu lagi. Dia meronta-ronta. Namun tenaganya kalah dengan tenaga empat lelaki yang memegang tangan dan kakinya itu.
Secara bergiliran kelima serdadu itu melampiaskan nafsu binatangnya. Dan setelah beberapa saat, kelima tentara itu tampak puas, sementara wanita yang telah mereka gilir itu terkulai lemas dan menangis.
"Bunuh aku... bunuh..." Terdengar wanita itu mendesis. "Binatang! Bunuuuhhhh akuuuu!!"
"Hahahaha... Kau kira semudah itu kau ingin mati?" Terdengar seorang dari lima serdadu Jepang itu berkata. Logat Jepangnya terdengar sangat kental. "Bawa dia masuk!!"
Dengan menjambak rambut wanita yang terkulai itu, salah seorang dari mereka menyeret wanita itu mengikuti teman-temannya yang telah berjalan terlebih dulu.
"Kejam!" Kataku melihat kejadian itu.
Wanita yang diseret itu berusaha untuk bangun, walaupun dengan tertatih-tatih dan mencoba berdiri dengan posisi terlentang dan rambut dijambak.
"Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!" Teriak wanita itu.
Serdadu yang menyeretnya berhenti berjalan. Dia menatap teman-temannya seperti meminta jawaban.
"Biarkan dia jalan!" Kata temannya.
Akhirnya jambakan di rambut wanita itu terlepas. Namun kedua tangannya diborgol untuk menghindari hal tak diinginkan.
Berjalan tak beberapa lama kemudian, wanita itu mendadak bergerak dengan tiba-tiba membuat semua serdadu yang telah menggilirnya itu terkejut dan membalikkan badan.
Walaupun dengan tangan terborgol, wanita itu berhasil merebut pisau yang tergantung di ban pinggang salah seorang serdadu Jepang itu. Dengannya, wanita itu menusukkan pisau tersebut ke jantungnya.
SLEEBB!!
"Ahhh!!" Wanita itu mengeluh pelan. Darah muncrat dari badannya yang tertusuk pisau itu. Badannya mulai lemas dan terjatuh dari berdirinya.
Kelima serdadu Jepang itu kaget, tak menyangka wanita itu akan berbuat seperti itu. Namun sebelum sempat mereka bereaksi, wanita itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan badan bersimbah darah, tubuh terkulai lemas dan kedua matanya terbelalak!
BERSAMBUNG
Based on a true story (Berdasarkan sebuah kisah nyata)
Kudengar suara itu memanggil namaku. Sayup dan terdengar menghilang diterpa angin. Aku tak memperdulikannya. Kuteruskan langkahku. Suara itu terdengar kembali. Kali ini lebih jelas, lebih nyata, lebih membahana. Aku pun berhenti, bermaksud mendengar lebih jelas lagi. Namun suara itu menjauh, menghilang....
BAGIAN 1
Namaku Adam. Aku baru saja dipindahkan ke sebuah sekolah Katolik di daerah Cibubur, Bogor. Setelah kepergian papa karena sakit kanker, aku, mama dan adikku harus mengungsi ke rumah saudara di kawasan Bogor. Mama yang usianya sudah kepala empat, hanyalah seorang wanita yang bekerja sebagai seorang pegawai administrasi di sebuah kantor di Jakarta. Gaji yang diperolehnya tidaklah cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup kami bertiga. Oleh karenanya, atas usul dari paman yang adalah adik mama, kami bertiga pindah dan tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah yang tergolong cukup besar di perumahan Kota Wisata, Cibubur.
Dengan menumpang nama pamanku, yang bekerja sebagai seorang guru SMP di sekolah tempatku menuntut ilmu sekarang, aku dan adikku mendapat keringanan pembayaran uang sekolah. Praktis, biaya hidup yang harus ditanggung oleh mama menjadi berkurang dan lebih ringan.
Di usiaku yang baru menginjak 15 tahun, aku sudah diberi takdir memiliki indra keenam: mampu melihat dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk halus. Bagi sebagian orang, kelebihanku itu adalah anugrah. Namun bagiku tidak lain hanyalah sebuah kutukan.
Bagaimana tidak. Di usiaku yang masih sangat belia, aku diharuskan melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa melihatnya. Terlebih aku selalu dibayangi ketakutan akan wajah-wajah dan bentuk makhluk-makhluk halus tersebut yang jelas-jelas adalah berantakan, bahkan sangat berantakan.
Ada yang berjalan dengan hanya badan tanpa kepala, ada yang wajahnya hancur bekas tertabrak dengan kedua biji mata mendelik keluar dengan urat-urat dan darah yang masih mengalir dan mengering, ada juga kepala yang dengan mendadak muncul dari meja yang sedang kupakai untuk menulis. Semuanya hanya bisa kusimpulkan satu: wajah mereka pucat tak berdarah, dan rambut mereka - bila memang masih ada - selalu berantakan tak beraturan.
Tak terhitung entah sudah berapa banyak penampakan yang kulihat selama aku mendapatkan kelebihan ini. Kelebihan yang datang secara tidak sengaja sejak kematian kakek yang sangat menyayangiku. Orang tuaku bilang, kakek menurunkan kelebihannya kepadaku. Selang 3 bulan setelah kakek meninggal, papaku pun diajaknya.
Aku sebenarnya sudah bosan dan ingin hidup normal seperti manusia lainnya. Namun, aku tak bisa. Walau aku sudah memohon setiap malam kepada Tuhan agar kutukan ini ditarik dan dihilangkan dariku, namun bukannya menghilang, malah semakin nyata kurasakan. Karena semakin menjadi, aku menjadi mulai terbiasa dengan apa yang kulihat. Entah sudah berapa kejadian kualami seiring dengan kemampuanku yang bisa melihat hal-hal gaib ini. Seperti yang kurasakan di sekolah baru ini.
Pagi ini adalah hari pertama aku dan adikku masuk ke sekolah baru. Aku kelas 3 SMP dan adikku, Andine, 13 tahun, kelas 1 SMP. Kami berdua ikut dengan mobil paman ke sekolah. Kami turun begitu paman mematikan mesin mobil Vitara-nya dan menutup pintunya.
"Akan saya antar kalian sampai ke kelas masing-masing." Begitu pamanku berkata ketika kami melintasi lorong yang menghubungkan gerbang dengan bagian depan sekolah.
Waktu di jam dinding tiang sekolah yang menjulang tinggi ke angkasa saat itu adalah pukul 6:20 pagi.
Berjalan kami menaiki tangga menuju lantai dua yang adalah untuk tingkat SMP. Ketika aku sedang berjalan bersama dengan paman dan adikku, sebuah bayangan berkelebat di depanku. Aku tak berniat melihatnya, namun bayangan itu tidak mau pergi, malah berputar-putar di depan wajahku. Hanya sekelebatan bayangan, namun tak jelas dilihat mata.
Aku mulai kesal ketika bayangan itu mengikutiku, bahkan ketika kami sampai di sebuah hall besar. 'Mengganggu sekali, apa ini?' Begitu bathinku.
"Heh, kau bisa melihatku kan? Aku sudah tahu kalau kau bisa melihatku." Terdengar sebuah suara yang hanya bisa didengar olehku. Suara seorang laki-laki kecil. Kulihat paman sedang berbicara kepada adikku, berarti mereka tidak mengetahui kalau diriku sedang berbicara, atau tepatnya diajak berbicara oleh sebuah bayangan yang melayang di depan wajahku.
"Kamu siapa?" Tanyaku kepada bayangan itu. Tentunya dalam hati. Berbicara dengan makhluk halus tidak pernah dilakukan dengan mulut, tidak seperti manusia yang masih hidup. Namun cukup dengan bathin dan dalam hati, mereka sudah dapat berkomunikasi dengan kita.
"Aku? Hehehe..." Bayangan itu tertawa. Bayangan di depan wajahku mendadak sirna, berganti dengan sebuah kepulan asap kecil dan dari sela-sela asap keluarlah sebuah kepala kecil dengan sehelai rambut di ujung kepalanya, namun selebihnya tak berambut alias botak.
Aku tak dapat menahan tertawaku melihat kemunculan wajahnya. Bukan rambut itu saja yang membuat wajahnya menjadi lucu, tapi lebih dikarenakan wajahnya yang memang lonjong dan sudah lucu.
"Adam, kamu tertawa apa, Nak?" Tahu-tahu pamanku yang berjalan di sampingku menoleh menatapku dengan bingung. "Kenapa tiba-tiba kamu tertawa sendiri?"
Andine juga menghentikan langkahnya dan melihatku. Adikku ini belum mengetahui kelebihanku. Hanya papaku yang mengetahuinya.
"Oh, tidak, tidak apa-apa kok, Om," Jawabku. Kutunjuk saja sembarang anak yang sedang berlari di sekitar sana. "Lucu lihat dia diledek teman-temannya."
"Kak Adam mengingau lagi, Om." Kata Andine. Dia sudah berada di depan kelasnya dan melangkah masuk ke dalam bergabung bersama teman-temannya.
"Itu kelasmu, Adam." Pamanku berkata sambil menunjuk pintu yang sedang terbuka di seberang kanan kelas tempat kami sedang berdiri. "Saya langsung ke ruang guru."
"Terima kasih, Om." Sahutku sambil bersiap melangkah.
"Sudah lihat kan?" Terdengar suara tadi lagi. Sampai saat itu bayangan itu masih mengikutiku. "Jadi namamu Adam ya."
"Kamu siapa? Kenapa mengikutiku terus?" Tanyaku mulai kesal.
"Kamu boleh panggil aku Bolu." Kata anak itu.
Aku kembali tertawa, kali ini mendengar perkataannya. "Bolu?"
"Ya, botak lucu." Kepulan asap kembali terjadi di depan mataku. Mau tak mau aku berhenti dan melihat lebih lanjut. Ternyata anak itu menampakkan sosoknya dalam bentuk badan keseluruhan.
Tubuhnya kecil kurus dengan kulit sawo matang, seperti anak berumur 3 tahun. Dengan kaos putih dekil dan celana pendek, sosok bernama Bolu melayang-layang di depanku.
"Kenapa kamu mengikutiku?" Tanyaku setelah mengetahui sosoknya yang sebenarnya.
"Aku?" Bolu menunjuk hidungnya sendiri. "Nanti kamu juga akan tahu kenapa aku mengikutimu."
"Kenapa musti nanti? Kenapa tidak sekarang saja?" Tanyaku lagi. Aku mulai penasaran dengan jawabannya yang bagiku bagaikan sebuah teka-teki.
"Karena belum waktunya." Jawab Bolu dengan ringannya.
Saat itu sekelebatan bayangan putih melintas dengan cepat di antara kerumunan murid-murid. Kelebatannya membuat mataku menoleh melihatnya, namun saat aku ingin melihat lebih jelas, bayangan itu menghilang ke dalam sebuah tembok yang menjadi dinding sebuah kelas. Sekilas bayangan tersisa yang sempat kulihat tadi seperti berpakaian serba putih.
"Apa itu tadi?" Gumamku tak jelas.
"Kamu juga melihatnya ya?" Tanya Bolu yang sekarang telah berada di sampingku, melayang di atas pundakku.
"Dia... dia menghilang di balik tembok." Kataku. Penasaran, aku berlari ke kelas yang dibalik tembok tadi bayangan serba putih tadi menghilang. Saat kuperiksa lebih lanjut, tak ada bekas atau tanda-tanda kemunculan bayangan itu disana.
Kulihat ke sekeliling ruangan kelas, berharap bisa mendapat jawaban kemana bayangan itu menghilang. Namun yang kulihat hanya teman-teman berseragam sama seperti yang sedang kupakai.
"Kemana dia?" Gumamku. "Menghilang..."
"Ya, begitulah dia." Jawab Bolu dengan tenang.
"Dia?" Aku menoleh menatap Bolu. "Kamu kenal dia?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 2
Bolu tertawa. "Ya, pastilah. Secara aku telah berada disini cukup lama."
TENG!!
Terdengar bel berdentang saat itu, pertanda jam pelajaran pertama pun dimulai. Aku segera keluar dari kelas dimana aku berada dan berlari menuju kelasku. Hampir semua bangku telah terisi, hanya tersisa tiga bangku bagian depan yang masih kosong. Mau tak mau aku pun duduk di bangku tengah dari tiga bangku kosong tersebut.
Bolu duduk bangku kosong di samping kiriku. Wajahnya menyengir menampakkan giginya yang ternyata masih putih itu.
Aku menoleh. "Ngapain disini?"
"Aku kan juga ingin belajar. Memangnya manusia saja yang boleh belajar." Jawab Bolu sekenanya.
"Enak ya bisa belajar gratis," Kataku lagi.
"Iya lah. Makanya jadi hantu aja ya. Bisa dapat fasilitas gratis tis tis..." Jawab Bolu lagi sambil menyengir.
"Enak amat kalau ngomong." Aku membentak ketus. Dibentak begitu, Bolu semakin lebar cengirannya.
"Adam, coba kau lihat nanti deh." Bolu masih meneruskan perkataannya. "Gurumu yang akan masuk nanti adalah guru wanita. Namanya Dina. Tapi..."
"Tapi apa?" Tanyaku. Kenapa Si Bolu bisanya membuat orang penasaran saja.
"Tapi nanti akan kau lihat sendiri." Ujarnya. "Jangan kaget ya."
"Jangan kaget?" Kataku. "Apa maksudnya?"
Seakan menjawab pertanyaanku itu, pintu kelas membuka. Suasana yang tadinya masih ribut, mendadak menjadi hening. Seorang wanita bertubuh ramping tinggi, dengan rambut bergelombang sepunggung melangkah masuk. Di tangannya dikempit sejumlah buku.
"Cantik juga." Bathinku. Kulihat guruku itu melangkah memasuki ruangan kelas kami.
Aku duduk di barisan depan agak di sebelah kiri kelas, sehingga membutuhkan waktu untuk bisa melihat jelas guru yang melangkah masuk itu. Namun ada satu hal yang membuatku tertarik dan tak bisa memalingkan kepala. Bukan kecantikannya, bukan pula ramping badannya.
Pada saat dia melangkah, aku melihat seperti ada keanehan. Langkahnya, tidak seperti langkah manusia pada umumnya. Namun, lebih seperti sedang diseret kedua kakinya.
Aku harus menunggu sampai guruku tiba di meja guru di depanku, meletakkan buku-buku yang dikempitnya, baru aku menyadari keanehan yang kubilang tadi.
Aku mengedipkan mata, tak percaya pada penglihatanku sendiri. Saat itu kulihat, di belakang guruku, sesosok tubuh wanita, menempel tepat di badannya. Badan menempel badan, tangan menempel tangan. Sedangkan kepalanya tertunduk sehingga wajahnya tak terlihat jelas walaupun aku mencoba untuk melihatnya.
Sekilas bila dilihat dengan mata telanjang, kedua kaki guruku seperti menginjak tanah, namun kenyataannya tidak. Dengan mata bathinku, kakinya terlihat tidak menginjak tanah. Melainkan sedang ditumpang di atas sepasang kaki pucat.
Kaki milik sosok wanita yang menempel di belakang badannya itu...
BERSAMBUNG
BAGIAN 3
"Itu... Itu..." Aku terbelalak melihat posisi badan itu. Dari yang pernah kutahu dan berdasarkan pengalaman yang pernah kudapat, posisi badan yang ditumpangi makhluk halus seperti itu adalah posisi badan kemasukan atau kesurupan.
Ibu guru memandang kami semua. Tatapannya, entah hanya karena perasaanku karena aku bisa melihat lebih dari orang normal atau mungkin memang begitu kenyataannya, tajam memandang kami semua. Tak ada satupun dari kami yang berani berbicara ditatap seperti itu.
"Tatapan matanya aneh," Kataku dalam hati. "Itu bukan tatapan manusia."
"Tentu saja bukan." Sahut Bolu cengar cengir di sampingku.
Seperti merasa diperhatikan, sosok wanita berambut panjang yang menumpang di belakang guruku itu, mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Perlahan, kepalanya berputar dan wajahnya menatap kami berdua.
Walaupun aku sudah sering melihat wajah-wajah hantu, namun tak urung aku terlompat juga dari dudukku saat wajah itu menatapku. Nyaris saja aku berteriak saking kagetnya. Wajah wanita itu putih, pucat, tak berdarah. Kedua matanya merah menyala, rambut panjangnya terurai berantakan di antara baju putihnya yang juga terurai panjang menyeka tanah.
Darah segar masih menetes dari sela-sela bibirnya. Anehnya, tak ada tetesan sedikitpun yang jatuh ke atas lantai kelas saat itu.
"Kamu kenapa?" Terdengar suara guruku memanggilku saat aku melompat kaget itu. Seluruh mata di dalam kelas berpindah menatapku. Aku tahu teman-temanku tak bisa mendengarnya, namun bagiku suara guruku terasa dingin dan mendirikan bulu roma.
"Maaf, Bu." Kataku. Mataku masih menatap sosok di belakangnya. Sosok yang memelototiku dengan mata merahnya.
"Kamu bisa melihatku?! Apa yang kamu lihat?!!" Hantu wanita itu berdesis pelan, namun cukup untuk bisa kudengar.
Saat itu guruku telah berbicara dengan suara dinginnya, menjelaskan peraturan kelas dan segala yang berhubungan dengan pelajaran selama setahun ke depan. Karena berada di barisan terdepan, aku tak perlu memandang guruku setiap kali dia berjalan mengelilingi kelas sambil menjelaskan.
"Kenapa kamu menumpangnya?" Tanyaku kepada hantu wanita itu.
"Diam!! Bukan urusanmu!!" Bentaknya. Terhenyak aku sesaat mendengarnya.
Segumpal asap halus terbang di atas kepala guruku. Kehadirannya membuat hantu wanita itu seperti terusik. Dia menatapnya dengan matanya yang melotot merah. Ketika kulirik bangku di sampingku, benar saja. Bolu telah tak berada disana lagi saat itu.
"Namanya Marini." Aku mendengar suara Bolu. "Mati penasaran di sekolah ini."
"Aaaarrrgggghhhhhhhhh......" Kulihat hantu itu membuka mulutnya dan berteriak. Suara teriakan yang hanya bisa didengar olehku dan Bolu. "Diam kau, botak sial!"
"Hehehe... Aku Bolu, Botak Lucu, bukan Bosi, Botak Sial!" Bolu kembali terbang berputar-putar di atas kepala guruku, mengganggu keberadaan hantu wanita itu.
"Kenapa kau mengganggunya?" Tanyaku lagi.
"Manusia berisik!!" Tahu-tahu hantu wanita yang bernama Marini itu menjulurkan tangannya yang berkuku panjang ke arah wajahku!!
Aku menghindar dengan menggerakkan kepalaku ke belakang. Namun, gerakanku yang tak biasa itu menarik perhatian semua yang berada di kelas, terutama guruku, Bu Dina.
"Aneh!" Kataku. "Padahal dia masih menempel di badan ibu, dan jarakku dengan ibut tidak dekat, tapi kenapa dia bisa mencakarku?"
"Kamu! Maju kesini!" Terdengar suara Bu Dina berkata.
"I..Iya, Bu." Kataku sambil berdiri dari dudukku dan mendekati Bu Dina yang berdiri di balik mejanya itu.
"Siapa namamu?" Tanyanya. Kulihat Marini memelototiku dengan tatapan marahnya.
"Adam, Bu." Jawabku. Mataku tak memperhatikan Bu Dina, tapi Marini. Takut dia bergerak mendadak lagi.
"Kamu anak baru itu?" Tanya Bu Dina lagi.
Aku mengangguk. Sebuah bisikan terdengar di telingaku saat itu.
"Bu Dina sedang mens, badannya kotor. Tadi di toilet darahnya menetes. Pembalutnya dibuang begitu saja di tong sampah dan Marini yang menghuni disana tidak senang."
Bolu berkata seakan melapor padaku. Marini hanya bisa memelototi perbuatannya saat itu.
"Begitu." Kataku dalam hati.
"Kenapa kamu bertingkah aneh barusan?" Terdengar suara Bu Dina mengalihkan pembicaraanku. "Sudah dua kali sejak saya masuk kesini."
"Maaf, Bu." Kataku. Tak mungkin aku menjelaskan alasannya. "Saya..."
"Sudah!! Duduk sana! Sekali lagi saya lihat kamu bertingkah aneh, saya bawa kamu ke ruang kepada guru. Mengerti?"
Aku mengangguk. "Mengerti, Bu." Lalu aku kembali ke tempat dudukku dan Bu Dina kembali melanjutkan penjelasannya.
"Bolu." Kataku dalam hati ketika aku duduk lagi di bangkuku. "Aku lihat Marini tidak berani membalas apa yang kamu katakan. Dia takut padamu?"
Bukannya menjawab, Bolu malah terkekeh terlebih dulu. "Mana berani Marini kepadaku? Aku tahu kelemahannya."
"Pantas saja!" Kataku lagi. Setidaknya aku sudah mendapatkan satu kekuatan untuk melawan Marini. "Apa itu?"
"Air kencing." Bolu terkekeh lagi.
"Air kencing?" Aku mengernyitkan kening. "Di toilet semua juga ada air kencing kan?"
"Itu toilet wanita." Bolu tertawa. "Marini takut dengan kencing laki-laki. Ilmunya akan hilang selama beberapa hari bila tersiram."
"Oh begitu." Aku tersenyum menatap Marini. "Aku sudah tahu kelemahanmu. Jadi jangan macam-macam ya. Aku juga laki-laki."
Raut wajah pucat Marini yang tadinya terkesan galak dan menyeramkan, kini berubah menjadi mengiba.
"Apa maumu?" Tanyanya dengan suara pelan. Kedua matanya tak lagi melotot.
BERSAMBUNG
BAGIAN 4
"Aku mau tahu kenapa kamu menumpang badan Bu Dina?" Tanyaku kepada Marini.
Marini tak menjawab, hanya tatapan mata dingin yang menusuk ditujukan kepadaku.
"Kenapa?" Tanyaku lagi. Masih tak ada jawaban. Makhluk halus seperti itu biasanya tak pernah akur dengan manusia, selalu ingin menentang karena merasa mereka lebih hebat dari manusia.
"Kalau dia tak mau menjawab, siap-siap saja kencingmu tuh..." Bolu menyeletuk dengan mendadak.
Marini menggeram. Pandangannya marah menatap Bolu. "Badannya kotor. Aku menginginkan darahnya." Sahutnya pada akhirnya. "Tempat tinggalku kotor dengan darahnya."
"Menginginkan darahnya?" Tanyaku.
"Dia harus membayarnya!" Desis Marini dingin. "Akan kuminum saat dia berdarah lagi. Jadi tempatku tidak tercemar!"
Sebuah jawaban yang membuat bulu kuduk berdiri bagi yang mendengarnya. Aku tak tahu bila manusia biasa mendengarnya, yang pasti aku sendiri sempat bergidik karenanya. Tak ada kata-kata yang bisa kukeluarkan. Suaraku seperti tercekat di tenggorokan.
"Saya juga ingin mengenalkan seorang teman baru kalian." Kata Bu Dina menatapku. "Berdiri dan perkenalkan dirimu kepada teman-temanmu disini."
Aku berdiri dari dudukku. Kubalikkan badanku agar bisa melihat semua teman-temanku dan memberikan perkenalan singkat kepada mereka.
Saat aku memperkenalkan diriku, kulihat Marini menatapku dengan penuh kebencian. Mata merahnya seperti bara api yang siap menghanguskan badanku.
Bunyi bel pelajaran membuatku tercekat. Suaranya yang keras membuatku seperti tersadar dari lamunan. Ibarat terbangun dari mimpi ditatap seperti itu oleh Marini. Ternyata sudah 40 menit berlalu.
Bu Dina telah menyuruhku duduk dan kembali dia masih berceloteh panjang lebar.
"Tinggal 40 menit lagi," Terdengar suara Bolu mengiang di telingaku, namun wujudnya tak telihat.
"Apa artinya?" Tanyaku.
"Akan terjadi sesuatu pada gurumu bila kau tak menghentikan Marini." Entah mengapa suara Bolu semakin lama semakin menghilang. Saat aku melirik ke arah Marini, hantu wanita itu menyeringai seperti menantangku.
"Keluarkan buku kalian dan buka halaman pertama!" Aku mendengar Bu Dina berkata. Menurutinya, aku pun membuka buku yang telah kuletakkan sebelumnya di mejaku.
"Bolu, dimana kamu?" Tanyaku, berharap Bolu ada disana saat itu. Entah kenapa aku mendadak diserang perasaan takut. Jantungku mendadak berdegup kencang.
"Aku pergi dulu, ada urusan." Terdengar sebuah suara yang pelan, seperti berada di tempat yang jauh.
"Ini... Ini bagaimana?" Tanyaku kebingungan sambil mengambil pena dan menulis di atas bukuku. Ibu Dina masih terus memberi penjelasan. "Apa yang harus kulakukan?"
"Itu urusanmu, bukan urusanku." Sahut Bolu lagi.
"Ahhh..." Aku mengeluh, tapi tak dapat berbuat banyak. Tak mungkin aku memberitahu Bu Dina yang sebenarnya. Aku yakin beliau takkan percaya padaku. Bahkan bisa jadi aku yang dicap gila olehnya. Dan bila hal ini sampai menyebar ke satu sekolah, tamatlah riwayatku. Mungkin juga Paman dan adikku akan kena imbasnya.
"Tidak. Aku tidak boleh mengatakan semua ini!" Kataku pada diriku sendiri. Kucoba memfokuskan diri pada pekerjaan yang diberikan guruku.
"Tapi aku tak mungkin diam membiarkan ini terjadi." Hatiku kembali bergolak. Kembali aku berkonsentrasi pada pekerjaanku.
Tak bisa lama. Konflik bathin kembali terjadi.
"Kau mau apa yang kau tahu dan bisa kau cegah, malah justru terjadi karena kau tak berbuat apa-apa?"
"Lakukan saja dan kau akan dianggap tidak waras!"
"Cegahlah selagi masih ada waktu. Sebelum semuanya terlambat."
"Untuk apa kau lakukan itu? Ingin menampang dengan kelebihanmu? Bukan kau yang dipuji, tapi kau justru yang dikucilkan."
Aku mulai terusik, pikiranku mulai kemana-mana. Tanganku terhenti menulis. Konsentrasiku mulai buyar.
"Adam, ingat. Kau sudah tahu dan bisa mencegahnya. Mengapa diam saja? Lakukan sesuatu!"
"Sekali kau melakukan, selamanya kau akan menanggungnya!!"
"AAAAKKHHHH!!!!!" Aku tak tahan lagi. Sambil menjerit, aku menjambak rambutku sendiri.
Tapi aku salah, aku baru menyadari aku telah salah melakukannya. Setelah jeritanku itu, semua teman-teman dan juga Bu Dina menatapku, semua pandangan tertuju padaku.
"Gawat!!" Kataku. Kulihat ke sekeliling dengan pandangan pucat.
Benar saja. Bu Dina yang sedari tadi duduk di belakang mejanya, kini telah berdiri dan mendekatiku. Di belakangnya, Marini tersenyum menyeringai.
"Adam! Masih ingat apa kata Ibu tadi?" Bu Dina berkata kepadaku.
"Tapi, Bu..." Aku mencoba protes, tak mau aku dibawa ke ruang guru hanya karena aku melakukan itu. Aku kan tidak salah besar.
"Hihihi... Percuma saja! Kau takkan bisa menang! Pikirannya sudah kurasuki!" Terdengar suara bathin Marini. "Hihihihihi..."
"Sekarang juga kamu ke kantor guru!!" Kata Bu Dina dengan suara dingin.
Apa yang bisa kulakukan? Menolaknya? Bisa lebih parah lagi kalau aku melakukan itu. Pilihanku hanya satu, menurut saja.
"Ba..Baik, Bu." Jawabku. Susah untuk mengajak berbicara orang yang pikirannya sudah dirasuki oleh setan seperti itu. Kesalahan sedikit saja seperti yang kulakukan, yang sebenarnya bisa ditoleransi, malah justru dibesarkan dan tak ada toleransi.
Aku keluar dari kelas diikuti pandangan teman-temanku. Di belakangku Bu Dina mengikutiku. Sayup-sayup terdengar suara tertawa cekikikan di belakang kami. Suara tertawa Marini.
BERSAMBUNG
BAGIAN 5
Ketika tiba di ruang guru, aku dihadapkan kepada guru piket hari itu, Pak Sanjaya. Aku terpaksa berbohong padanya kalau kepalaku saat itu agak pusing. Olehnya aku diminta berbaring di kursi di ruang guru sesaat.
Bu Dina telah kembali ke ruang guru. Hatiku tetap tak tenang. Aku takut perkataan Bolu tentang Bu Dina akan menjadi kenyataan. Mataku terus melirik ke jam dinding di ruang guru.
Delapan menit berlalu.
Lima belas menit.
Dua puluh lima menit.
"Aku tak boleh diam saja. Aku harus melakukan sesuatu." Bathinku. Aku bangun dari tidurku.
"Pak," Ujarku memanggil Pak Jaya yang sedang menulis itu. Dipanggil seperti itu, Pak Jaya menghentikan menulisnya dan menatapku.
"Sudah baikan?" Tanyanya kepadaku.
Aku mengangguk. "Ya, Pak."
"Kalau begitu, kamu kembali ke kelas. Sayang kan, ini hari pertamamu. Jangan dilewatkan begitu saja."
"Iya, Pak. Terima kasih." Aku membalikkan badan dan keluar ruang guru menuju ruangan kelasku sendiri.
"Sisa sepuluh menit bel istirahat." Kataku. Aku mengetuk pintu kelas.
Bu Dina membukakan pintu untukku masuk. Setelah diinterogasinya sesaat, aku diperbolehkannya duduk lagi.
"Heh?!!" Aku mengucek mataku. Tak percaya aku pada penglihatanku saat itu.
Saat itu Bu Dina sedang menerangkan jawaban dari latihan yang kami buat tadi. Aku tertegun sesaat, hatiku gembira bercampur senang. Tak ada lagi sosok Marini yang menumpang di punggung Bu Dina.
"Syukurlah!" Ujarku menghela nafas dalam. Waktu yang tersisa kupergunakan untuk mendengarkan penjelasan Bu Dina.
TENGGG!!!
Bel pelajaran berbunyi. Dua jam pertama selesai. Sebelum melanjutkan ke jam pelajaran berikut, kami semua mendapat waktu 15 menit beristirahat.
"Halo," Terdengar sebuah suara memanggilku saat aku sedang membereskan bukuku ke dalam tasku. Aku mengangkat wajahku melihat siapa yang memanggilku itu. Ternyata dua orang teman baru.
"Halo." Aku menjawab sapaan mereka. "Maaf ya." Aku menutup tasku.
"Namaku Adam." Aku mengajak mereka bersalaman.
"Kami sudah tahu." Kata salah satu dari mereka. "Aku Sandy."
"Aku Edo." Sahut seorang lagi. "Kamu pindahan dari mana?"
Tak pernah kusadari, aku mendapat teman baru di hari pertama di sekolah baruku itu. Sandy dan Edo ternyata cukup baik. Hanya sebentar saja aku sudah akrab dengan mereka berdua.
"Kita makan yuk. Lapar nih." Kata Edo. Sandy mengangguk.
"Yuk, Adam, kita makan."
Aku mengikuti kedua teman baruku itu. Dari ruangan kelasku, kami harus melintasi koridor yang terdapat barisan kelas di kiri kanannya. Sejauh mataku memandang, ternyata tak hanya kami saja yang berada disana.
Kami, anak-anak sekolah yang disana, namun juga makhluk halus yang mendadak muncul dan lewat begitu saja. Beragam bentuknya dan semuanya adalah penghuni kelas masing-masing, mulai dari anak kecil, wanita tua, sampai seorang kakek berbadan bungkuk.
"Sekolah ini banyak sekali penghuninya." Bathinku. "Andai saja aku tak bisa melihat semua ini."
"Ke WC dulu yuk." Kata Sandy tiba-tiba. "Udah gak tahan nih..."
Akhirnya kami bertiga ke toilet terlebih dulu. Kebetulan letaknya tak jauh dari kami berada saat itu. Dan toilet wanita berada di ruang sebelah toilet pria.
"Jadi disini tempatnya Marini." Kataku sambil mencoba melongok ke dalam toilet wanita, berharap bisa melihat Marini disana.
"Heh, itu buat cewek, Dam. Kita disini." Kata Edo menarik lenganku.
"Eh, iya." Aku mengikuti lenganku yang ditarik Edo. Gagal deh aku melihat keberadaan Marini.
"Pasti tidak apa-apa." Ujarku dalam hati. "Ini sudah waktunya."
"Jangan-jangan Bolu salah informasi." Kataku lagi. Kami bertiga sudah melangkah keluar dari toilet. Tapi tak ada sesuatu yang aneh yang terjadi di toilet perempuan.
"Disini toiletnya cuma satu ini ya?" Tanyaku.
"Kalau buat kita, di setiap lantai ada." Kata Sandy.
"Kalau guru juga pakai toilet yang sama?" Tanyaku lagi.
"Di sebelah ruang guru ada toilet sendiri." Kata Edo. "Cuma masih rusak."
"Rusak?"
"Ya, jadi guru-guru pada datang kemari." Sambung Sandy.
"Oh begitu." Kataku. Wangi makanan sudah tercium saat kami menjejakkan kaki di kantin.
"Repot juga kalau setiap lantai ada toilet." Bathinku. "Mana kutahu Marini ada di toilet lantai berapa. Masa musti kuperiksa satu persatu?"
Kebetulan aku belum sempat makan pagi hari itu karena buru-buru. Jadi aku memanfaatkan kesempatan itu untuk makan mengisi perut.
"Setidaknya aku bisa makan, Bu Dina sudah tenang." Kataku membatin. Sandy dan Edo juga memesan makan.
Kami bertiga makan dengan lahap, agak terburu-buru karena waktu istirahat yang tersisi hanya tinggal 3 menit. Hal itu membuatku tak menaruh perhatian pada makhluk halus yang mungkin muncul di area kantin sekolah kami.
"Yuk! Masuk!!" Kata Sandy sambil berdiri dan meneguk minumnya dari botol air mineralnya.
Aku menelan air yang kuminum barusan dan dengan langkah terburu-buru aku mengikuti keduanya.
"Ke toilet dulu ya," Ujarku kepada mereka.
Kami berhenti di toilet yang pertama kami masuki sebelum ke kantin. Karena terburu-buru, aku tak lagi memperhatikan toilet sebelah.
Bel berbunyi tepat ketika kami bertiga keluar dari toilet dan siap melangkah.
"AAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!"
Tahu-tahu terdengar teriakan kencang, seakan ingin beradu kencang dengan bunyi bel masuk.
Sebagian orang panik, termasuk aku. Suara teriakan itu berasal dari toilet sebelah, toilet wanita!
"AAAAHHHHHHHHHH!!!" Terdengar suara jeritan lainnya dan seketika suasana toilet wanita menjadi gaduh.
Seorang temanku, mungkin dari kelas lain yang tak kukenal, berlari keluar dengan wajah pucat pasi. Panik.
"Tasya, ada apa?" Tanya Sandy kepada salah satu teman yang berlari keluar. Beberapa teman lainnya berlarian keluar dari dalam toilet sambil terpekik.
"Bu Dina." Kata Tasya dengan panik.
"Bu Dina kenapa?" Tanya Edo.
"Bu Dina pingsan." Jawaban Tasya membuatku kaget.
"Pendarahan." Sambung seorang lagi yang baru keluar dari toilet. "Bu Dina pendarahan."
Semakin kaget aku mendengarnya. Pingsan dan pendarahan? Berarti Marini benar-benar melakukan apa yang dikatakannya?
BERSAMBUNG
BAGIAN 6
Suasana sekolah mendadak menjadi heboh. Jam pelajaran berikutnya yang semestinya berjalan dengan tenang, malah menjadi tertunda dikarenakan banyak siswa yang memaksa untuk melihat kejadian tersebut dari dekat. Pihak guru pun mau tak mau melarang dan memulangkan kami ke kelas kami masing-masing. Petugas klinik dan P3K sekolah yang didatangkan dari ruangannya segera bergegas ke dalam kamar mandi.
Namun pada saat suatu sedang heboh, aku menyempatkan diri lari masuk ke toilet wanita dan melihat keadaan disana. Terlihat olehku Bu Dina terbujur lemas di kamar mandi, kesadarannya hilang, dengan punggung bersandar di dinding dan kedua kaki yang terbujur lurus. Darah menggenang dari dalam rok yang dikenakannya, masih segar.
Melihat lebih jauh, aku tersentak saat melihat sesosok wanita berpakaian serba putih dengan wajah tertutup oleh rambut panjangnya, sedang berjongkok di samping Bu Dina yang sudah tak sadar itu. Sepertinya dia Marini. Tak ada yang bisa melihatnya disana, jadi dengan leluasa dia menggerakkan tangannya seperti menyendok darah yang mengalir dan terkadang membungkuk menjilati darah menggenang itu. Sepertinya dia tak memperdulikan manusia-manusia yang berada di sekitarnya.
"Apa yang kamu lakukan pada Bu Dina?" Aku bertanya kepadanya.
Marini menengokkan kepalanya. Terlihat wajahnya yang pucat seram dengan darah yang masih menetes di sekitar mulutnya. Terdengar dia menggeram dan matanya yang merah memelototiku.
Aku tak sempat mendapat jawaban darinya. Petugas klinik telah datang. Bu Dina dinawa keluar oleh dua orang lelaki, sementara seorang guru wanita lain masuk ke dalam kamar mandi dan meminta semua - khususnya murid - yang berada di dalam toilet tersebut agar masuk ke dalam kelas kembali.
Terlihat guruku itu bergidik dan memegang tengkuknya dengan tangannya. "Kenapa tiba-tiba aku merasa merinding ya?" Terdengarnya bergumam pelan tepat ketika aku berjalan di depannya.
Aku menengok sesaat. Kulihat Marini yang masih berjongkok di tempat tadi, menyeringai memperlihatkan giginya yang merah karena darah. Tak lama kemudian terdengar suara tertawa mengikik yang memekakkan telingaku. Suara tertawanya yang memenuhi ruangan kamar mandi itu. Suara yang hanya terdengar olehku.
"Ihhh..." Terdengar guruku kembali bergumam dan buru-buru melangkah keluar toilet.
Ketika kamar mandi itu telah kosong, suara tertawa Marini masih memenuhi tempat tersebut. Entah kapan suara tersebut berhenti. Yang kutahu pasti, dua petugas pembersih sekolah masuk ke dalam toilet tersebut dan membersihkan genangan darah di lantai tak lama setelah kami semua pergi dari sana.
BERSAMBUNG
BAGIAN 7
Aku berjalan kembali ke ruangan kelasku bersama dengan teman-teman lainnya. Tak ada yang dapat kulakukan untuk menolong Bu Dina. Takkan ada yang bisa mempercayaiku. Aku tak bisa berbuat banyak karena tak ada yang mempercayaiku. Terlebih aku adalah anak baru di sekolah ini.
"Sudah kuduga pasti kamu akan gagal." Terdengar sebuah suara yang mendadak muncul. Suara yang sudah kukenal sebelumnya.
"Bolu." Ujarku. "Aku tak bisa apa-apa. Tak ada yang percaya padaku. Aku bingung harus bagaimana."
Dengan sebuah kepulan asap, muncullah sesosok anak berbadan kecil hitam dan berkepala botak di hadapanku. Wajahnya menyeringai seperti biasanya.
"Untuk apa aku bisa melihat semua ini kalau pada kenyataannya aku tak bisa berbuat apa-apa?" Kataku sedih. Aku duduk di bangku dan sesaat kemudian pelajaran dilanjutkan kembali.
"Tentu bisa!" Jawab Bolu. "Kamu kan sudah tau kelemahan Marini kan?"
"Untuk apa? Percuma saja. Aku tak bisa apa-apa." Kataku lagi.
"Aku tau caranya, tapi..." Bolu duduk di kursi di sampingku.
"Tapi apa?"
"Pulang sekolah nanti kamu ke perpustakaan. Pinjam buku tahunan disana. Pelajari data Marini." Kata Bolu. Tidak seperti biasanya, nada suaranya kali ini terdengar serius.
"Lalu?"
"Kamu akan tau jawabannya setelah kamu membacanya." Lanjut Bolu lagi.
"Begitu ya?" Gumamku. "Apa dengan begitu aku bisa menolong Bu Dina?"
"Gurumu sekarang dibawa ke rumah sakit. Pendarahannya cukup parah. Bila tidak ditolong secepatnya..." Bolu terdiam lagi.
"Kenapa?" Tanyaku penasaran. "Jangan setengah-setengah kalau berbicara!"
"Gurumu akan lewat." Sambung Bolu.
"Hah?!" Mataku terbelalak mendengar penjelasannya. "Sa... Sadis sekali!"
Tiba-tiba sesosok tubuh hitam muncul di depanku. Kemunculannya yang sangat tiba-tiba, membuatku nyaris terlompat dari dudukku. Beruntung aku bisa menahan diri, sehingga guruku tak mengetahui apa yang sedang terjadi pada diriku.
"Numpang tanya." Sosok itu mendekatiku dan menatapku. Seperti badannya, wajahnya sangat hitam. Hanya matanya yang merah dan bola matanya yang merah tampak bergerak-gerak.
"Kamu bisa melihatku ya?" Tanya sosok berbadan hitam itu kepadaku.
"Kenapa?" Aku bertanya balik.
"Bisa tolong pasangkan tanganku?" Tiba-tiba sosok berbadan hitam itu berbalik arah dan mengangkat lengan kanannya yang sedari tadi tak diperlihatkan. Lengannya buntung sebatas siku dan darah menetes-netes di sikunya.
Dengan tiba-tiba lagi di tangan kirinya yang tadinya kosong, kini mendadak telah tergenggam sebuah lengan dari siku ke bawah, yang juga berdarah dan hancur, dengan daging dan urat yang menjela-jela, sementara jari-jarinya tampak bergerak-gerak. Lengan buntung yang dipegangnya diserahkan kepadaku.
Aku terperanjat bukan kepalang melihat penampakan yang sangat mendadak itu. Aku berusaha keras untuk tidak menjerit melihat itu semua. Aku tak mau ketinggalan pelajaran lagi, terlebih aku tak mau dicap tidak waras.
"Pasangkan tanganku!" Ujar sosok itu dengan suara dingin. Tangannya menyerahkan potongan lengan buntung itu kepadaku. Jari-jarinya bergerak-gerak. Darah segar menetes ke atas mejaku.
"Pergi!" Teriakku dalam hati. "Aku mau belajar. Jangan ganggu aku!"
"Pasangkan tanganku!!" Kembali sosok bertubuh hitam itu berkata dengan hitam. Nadanya kini lebih menekan. Matanya memelototiku.
Aku menengok mencari Bolu. Entah kenapa aku jadi ingin meminta tolong kepadanya. Tapi sekali lagi, di saat-saat genting seperti itu, anak botak itu menghilang entah kemana.
"Cepat pasangkan tanganku!!" Suara sosok itu terdengar sangat dingin. Mendadak bulu kudukku menjadi merinding. Hal yang tak pernah lagi kurasakan sejak aku sudah terbiasa dengan penglihatanku.
BERSAMBUNG
BAGIAN 8
"Cepat pasangkan tanganku!!" Suara sosok itu terdengar bagaikan sedingin es. Datar namun tak ada getaran sama sekali. Nadanya sangat terasa menekan sekali.
"Aku tidak mau. Jangan ganggu aku!" Teriakku dalam hati. "Aku mau belajar. Pergi!"
"Eeerrgggghhhhhhh!!" Sosok bertubuh hitam itu menggeram kesal, sepertinya marah. Matanya menjadi merah seperti bara api. Rambutnya yang tadinya gondrong tak beraturan, kini telah berdiri seperti duri landak. Gigi taringnya mendadak keluar dari dalam mulutnya.
"Awas kau!!" Teriaknya penuh amarah. Bulu kudukku semakin merinding mendengar kata-katanya.
"Jangan..." Pintaku padanya. Keringat dingin telah mengucur membasahi wajah dan leherku saat itu.
Mendadak sosok bertubuh hitam itu melemparkan potongan lengan buntung yang dipegangnya, tepat ke arah wajahku. Lengan buntung itu seperti terbang dengan kelima jari yang bergerak-gerak tepat di depan mataku, gerakannya seperti ingin mencakar. Darah menetes tiada henti ketika lengan tersebut terbang.
Menghindar! Aku harus menghindar! Menghindari lengan terbang itu! Tapi lengan itu terbang dengan cepat, bahkan sangat cepat! Tertuju ke arahku!
Sangat cepatnya lengan terbang itu melesat, kini di depan mataku yang terbelalak tak berkedip menatap kejadian itu, jari telunjuk dan tengahnya menusuk tepat seperti ingin mencongkel kedua biji mataku!
Aku harus menghindar! Tidak, tidak bisa! Jaraknya sudah sangat dekat! Terlalu dekat! Aku...
"TIDAAKKK!!!! JANGAANNNN!!!! AAAAAAAHHHHHHH!!!!!" Aku berteriak sekencangnya saat lengan terbang itu menyerangku! Kucoba untuk tidak menutup mata untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada diriku. Apapun yang terjadi, baik atau buruk, aku sudah siap!
Aku sudah siap dengan apapun yang akan terjadi padaku saat itu. Namun, lengan terbang itu hanya melintas masuk dan menghilang tak bersisa bagaikan diserap ke dalam wajahku.
Ketika aku memandang ke depan, sosok bertubuh hitam itu juga telah menghilang, tak ada lagi disana. Kosong, seperti tak pernah terjadi apapun.
"Adam," Terdengar suara yang menyadarkanku saat itu. Aku tersentak bangun.
"Kamu baik-baik saja?" Sebuah tepukan ringan di pundak membuatku menengok. Saat itu aku masih berada di dalam kelas, semua temanku memandangku dengan berbagai wajah yang bingung, heran, dan ingin tertawa.
"Kamu baik-baik saja, Adam?"
Tepukan ringan yang berasal dari guruku membuatku tersadar dari semua yang baru saja kualami. Masih dapat kurasakan keringat dingin di tengkuk dan keningku yang mengucur. Baru kusadari kalau saat itu aku sedang terengah-engah.
"Kamu kenapa?" Guruku menatapku dan bertanya dengan lembut kepadaku. Namanya Pak Budi.
"Ma... Maaf, Pak. Tadi..." Aku terdiam. Aku tak boleh melanjutkan dan membiarkan orang lain mengetahui kalau aku bisa melihat makhluk halus.
"Tidak apa-apa, Pak." Lanjutku. Jantungku masih berdegup kencang saat itu. Kupandangi teman-temanku satu persatu. Semuanya memandangku tak berkedip.
"Coba, kamu ikut saya sebentar." Kata Pak Budi yang langsung berjalan ke arah pintu.
Aku pun berdiri dan mengikuti langkah Pak Budi yang telah berjalan keluar kelas. Beliau menungguku di depan ruang kelas, di balik pintu. Aku berdiri tepat di depannya.
"Saya hanya ingin bertanya. Jawab yang jujur ya." Pak Budi berkata setelah melirik ke arah kanan dan kiri sekilas. "Kamu bisa melihat alam gaib ya?"
Terbelalak aku mendengar pertanyaan Pak Budi. 'Kenapa Beliau bisa tahu? Tahu darimana?' Hatiku bertanya bingung.
BERSAMBUNG
BAGIAN 9
"Tolong jawab yang jujur." Kata Pak Budi sambil memegang kedua pundakku. Posisi badannya saat itu agak membungkuk dan wajah menatap lurus kepadaku.
"Bapak, Bapak tahu darimana?" Tanyaku heran.
Pak Budi tersenyum. "Saya bisa mengetahui dari sikap dan tingkah lakumu."
"Maksud Bapak?"
"Nanti saja saya jelaskan. Sekarang kamu masuk lagi ke dalam dan bersikap biasa saja, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi." Pak Budi berkata. "Istirahat nanti, ketemu saya di ruang guru. Mengerti?"
"Iya, Pak, saya mengerti." Jawabku sambil berbalik dan membuka pintu kelas. Semua mata teman-temanku memandangku ketika aku berjalan masuk ke dalam kelas dan duduk kembali di bangkuku yang berada di barisan paling depan.
Tak lama kemudian, Pak Budi menyusulku masuk. Pelajaran dilanjutkan kembali seperti tak ada kejadian apa-apa.
Saat aku baru duduk tak lama, kurasakan sebuah tepukan di punggungku. Menengok ke belakang, kulihat seorang gadis tersenyum memandangku.
"Ada apa tadi?" Tanyanya pelan.
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa."
"Suara jeritanmu aneh. Seperti suara ketakutan melihat hantu." Katanya.
DEG!! Suara ketakutan akan hantu? Benarkah demikian?
"Kamu pasti salah dengar." Jawabku mengalihkan pembicaraan. Pandanganku kembali menatap papan tulis di depan yang sedang ditulis oleh Pak Budi.
"Payah." Terdengar temanku kembali berkata. Setelah itu tak ada lagi perkataan yang keluar dari mulutnya.
Aku tak memperhatikannya lagi. Sudah cukup kejadian yang kualami hari ini. Saat kulihat jam dinding di kelas, hari itu baru sekitar jam 9 pagi, namun sudah banyak kejadian yang kualami. Sebuah hari yang sepertinya masih akan banyak yang terjadi di sekolah baruku ini.
Selama beberapa saat lamanya aku tak mendapatkan gangguan. Semuanya berjalan seperti normal. Paling tidak aku bisa berkonsentrasi pada beberapa mata pelajaran yang berlangsung hingga bel berdentang saat istirahat.
Sementara Bolu entah berada dimana, sama sekali tak menampakkan dirinya, termasuk saat istirahat berlangsung.
Sandy dan Edo sempat mendekatiku mengajakku ke kantin lagi waktu istirahat. Namun aku meminta waktu untuk pergi ke ruang guru menemui Pak Budi, seperti yang dimintanya kepadaku.
Saat aku masuk ke ruang guru, aku disambut hawa sejuk yang berasal dari AC. Tampak sebagian besar guru sedang berisitirahat di bangku masing-masing. Kebanyakan dari mereka sepertinya sedang berbicara tentang insiden yang menimpa Bu Dina pagi itu, dan ada juga beberapa guru yang sedang serius dengan ponselnya.
Pamanku menengok dan tersenyum ketika aku masuk ke dalam ruang guru. Selembar koran berukuran besar sedang berada dalam genggamannya.
"Ada apa, Adam?" Tanya Paman saat aku masuk kesana.
"Tidak ada apa-apa, Om." Jawabku. "Aku mencari Pak Budi."
Pamanku memandang ke meja Pak Budi sepintas lalu dan kemudian ke sekeliling ruang guru. "Pak Budi sedang tak ada disini. Ada perlu apa dengannya?"
"Tadi dia memanggilku, Om." Kataku. "Dia minta aku ketemu dia saat istirahat."
"Oh begitu." Pamanku mengangguk. "Kamu ada berbuat salah mungkin?"
"Tidak, Om." Jawabku lagi. Saat itu pintu ruang guru membuka dan seorang guru muda masuk ke dalam. Pak Budi.
"Oh, kamu sudah disini." Sela Pak Budi ketika melihatku. "Ikut saya, kita bicara di lab saja ya."
"Iya, Pak." Kataku mengikuti Pak Budi yang sudah terlebih dulu keluar dari ruang guru. Hatiku penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu dengan pembicaraan yang dimaksud Pak Budi. Ada apa gerangan?
BERSAMBUNG
BAGIAN 10
Ruangan laboratorium bahasa terletak agak di ujung koridor. Pada saat istirahat, walau berada di ujung koridor, namun masih terdengar suara hiruk pikuk sekitarnya.
Ketika kami masuk ke ruang laboratorium bahasa, ujung mataku menangkap sekelebatan bayangan yang bergerak cepat dari tengah ruangan ke arah pojok, di balik salah sebuah bangku dan peralatan laboratorium. Sepertinya dia bersembunyi disana, namun sesekali dia mengintip dengan menaikkan kepalanya.
'Hantu pemalu,' Begitu aku menamainya. Seorang anak lelaki, mungkin kalau masih hidup dia kelas 6 SD.
"Duduk!" Pak Budi memerintahkanku duduk di salah satu bangku disana dan lalu beliau duduk berhadapan denganku.
Pak Budi berdehem sejenak sebelum melanjutkan. "Begini, Adam. Namamu Adam kan?"
Aku mengangguk. "Iya, Pak."
"Menyambung perkataan saya tadi," Matanya mempelajari wajahku dengan seksama. "Apa benar kamu bisa melihat alam gaib?"
Saat itu Hantu Pemalu bergerak keluar. Namun sempat menimbulkan suara sedikit, membuat Pak Budi menengokkan kepalanya sedikit ke belakang. Melihat itu, Hantu Pemalu kembali bersembunyi di pokok ruangan.
Aku masih terdiam, tak menjawab pertanyaan Pak Budi.
"Kamu tak bisa membohongi saya." Kata Pak Budi saat aku masih terdiam. "Pergerakan bola matamu yang tak wajar itulah tandanya kalau kamu bisa melihat alam gaib."
'Aduh, ketahuan deh.' Kataku dalam hati. 'Sepertinya Pak Budi bukan orang sembarangan.'
"Sedari tadi di kelas saya tahu kalau kamu tidak memperhatikan pelajaran saya." Sambung Pak Budi lagi. "Semula ingin saya tegur. Tapi saat saya melihat pergerakan bola matamu, saya pun mengetahui jawabannya."
Kembali mata Pak Budi menatap tajam wajahku. "Benar kan yang saya katakan itu?"
Aku tak lagi bisa menghindar. Rahasiaku sudah ketahuan. Aku pun akhirnya mengangguk mengiyakan.
"I..Iya, Pak..." Aku mengiyakan.
"Sudah saya duga!" Kedua mata Pak Budi menyalang lebar. "Apa saja yang sudah kamu lihat?"
Akupun menceritakan, mulai dari Bolu, lalu Marini, beberapa penampakan lainnya yang kulihat dari waktu aku masuk hingga aku diserang makhluk berbadan hitam itu dan ditutup dengan Hantu Pemalu.
"Berarti cukup banyak yang kamu tahu tentang sekolah ini." Kata Pak Budi lagi.
Otakku berputar mencoba mencari pertanyaan yang sekiranya bisa kupakai untuk mencari informasi tentang Marini ataupun Hantu Lengan Buntung di kelas itu. Namun sebelum sempat aku bertanya, Pak Budi telah berbicara terlebih dahulu.
"Kalau tidak salah, kamu anak yang baru masuk itu ya?" Tanya Pak Budi.
Aku kembali mengangguk. "Iya, Pak."
"Hmmm. Dengar ya!" Mendadak aku melihat raut wajah Pak Budi yang tadinya santai, kini menjadi serius.
"Saya minta kamu tidak banyak mencampuri urusan di sekolah ini, khususnya yang berhubungan dunia gaib." Pak Budi memelototiku.
Mendadak tenggorokanku terasa kaku dan lidahku terasa kelu. Aku mencoba menelan ludah.
Entah kenapa kalimat yang diucapkan Pak Budi itu bagiku seperti sebuah ancaman.
"Ke... Kenapa, Pak?" Akhirnya aku berhasil juga bersuara setelah berhasil menelan ludah.
"Tahun lalu juga ada seorang anak sepertimu, bisa melihat gaib," Pak Budi terdiam sesaat. "Tapi dia tak bertahan lama."
"Maksud Bapak dia keluar dari sekolah ini?" Tanyaku bingung.
"Bukan! Karena ikut campur urusan gaib, anak itu..."
Pak Budi meletakkan jari telunjuknya di lehernya dan menggerakkannya membentuk sebuah garis lurus horizontal.
"Kekkkk!! MATI!!!" Sambungnya sambil memelototiku.
Terhenyak aku mendengar perkataan dan melihat sikap Pak Budi.
"Berani ikut campur, nyawamu yang menjadi taruhannya!" Lanjut Pak Budi lagi. Tatapan matanya tajam seperti ingin menelanku. "Dan kamu akan menjadi yang berikutnya!!!"
Semakin terhenyak aku mendengar perkataan Pak Budi. Kedua mataku terbelalak lebar menatapnya.
BERSAMBUNG
BAGIAN 11
Aku kembali ke kelasku dengan hati penuh tanda tanya. Perkataan Pak Budi yang memperingatkanku agar tidak mencampuri urusan gaib di sekolah ini lebih jauh lagi, justru membuatku semakin penasaran. Dalam hatiku aku berharap agar pelajaran hari ini cepat selesai dan aku bisa mencari data di perpustakaan seperti yang disaranakan Bolu.
"Bolu, kemana dia?" Tanyaku sambil memandang ke sekeliling kelas. Tak ada tanda-tanda kehadirannya sedikitpun. Suasana di dalam kelas juga berlangsung aman tanpa ada gangguan apapun. Hanya aku dan teman-temanku yang belajar dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran yang lainnya.
Hari pertama sekolah ternyata tidak semua jam pelajaran dimasuki. Pada jam pelajaran kelima, kami sudah dipulangkan. Aku sudah tak sabar untuk segera pergi ke perpustakaan dan mencari informasi disana.
Sandy dan Edo mendekatiku saat kelas sudah mulai ditinggalkan murid-murid.
"Dam, mau langsung pulang ya?" Tanya Edo sambil berdiri di sampingku.
"Tidak. Aku ingin mampir ke perpustakaan dulu." Sahutku menatap Edo. "Letaknya di sebelah mana ya?"
"Ada di lantai bawah." Sandy menjawab. "Tapi hari pertama begini, mungkin belum buka perpustakaannya."
""Iya, Dam, benar. Kita kan baru masuk hari ini, belum tetap pelajarannya." Edo menimpali.
"Sayang banget." Aku kecewa. 'Jadi aku tak bisa mendapatkan informasi tentang Marini hari ini. Bisa-bisa kalau telat, nyawa Bu Dina tidak bisa selamat.'
''Lagian, ngapain juga hari gini ke perpustakaan?" Sandy menepuk bahuku. "Belum ada tugas sama sekali."
"Aku hanya ingin mengenal sekolah ini." Jawabku memberi alasan.
"Ya sudah, jadi gimana nih?" Tanya Edo. Matanya melirik ke arah Sandy.
"Kalian pulang dulu deh, aku tunggu adikku..." Ujarku. "Kami pulang bersama."
"Oh, adikmu? Cewe atau cowo?" Tanya Sandy.
"Kelas berapa?" Edo menambahkan.
"Cewe. Kelas 1. Lagi orientasi kan ya?" Kataku.
"Ya, kelas 1 masih orientasi sekolah. Pulangnya bisa sore tuh." Sandy berucap. Botol minum yang dipegangnya dibuka tutupnya dan diteguk sebagian isinya.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu. Kalian duluan saja." Ujarku. Kami bertiga berjalan bersama ke arah pintu kelas.
"Kalau begitu kami tinggal dulu ya." Kata kedua temanku.
"Ya, sampai besok ya." Aku melambaikan tangan ke arah mereka sebelum mereka pergi sambil berlari kecil. Saat itu suasana sekolah cukup ramai, karena jam pulang sekolah, jadi hampir semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Di saat semuanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang pulang, ada pula yang masih ingin tinggal di sekolah - seperti diriku, aku berjalan santai dengan maksud ingin berkeliling melihat lebih jauh tentang sekolah baruku itu.
Masih terngiang di telingaku kata-kata Pak Budi beberapa saat yang lalu. "Tahun lalu juga ada seorang anak sepertimu, bisa melihat gaib. Tapi dia tak bertahan lama."
Aku mencoba mengacuhkan bayangan-bayangan yang muncul di depanku, yang melintas atau yang menampakkan anggota badannya. Aku mencoba tampil seperti manusia normal yang tidak bisa melihat hal-hal gaib. Kadang kurasakan hal seperti itu jenuh dan membosankan.
Entah kenapa bayangan Pak Budi muncul kembali di depan mataku. Dengan jari telunjuknya yang diletakkan di lehernya dan digerakkannya membentuk sebuah garis lurus horizontal, sambil melotot dan berkata, "Kekkkk!! MATI!!!
'Mati?' Kataku pada diriku sendiri. 'Tapi dia itu siapa ya?'
'Lagipula, kata Pak Budi dia seumuranku. Tapi sudah bisa melihat gaib sepertiku?'
'Aku jadi semakin penasaran. Sekolah ini banyak menyimpan misteri.'
"Misteri... Dan kamu yang akan menyingkap misteri sekolah ini." Tahu-tahu terdengar sebuah suara menjawab gumaman hatiku itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 12
"Bolu!" Aku terperanjat tapi juga sekaligus senang saat mengenali pemilik suara yang munculnya tiba-tiba itu. "Darimana saja kamu?"
"Aku baru habis keliling..." Sebuah senyuman tersungging di mulutnya. "Seru lho."
"Keliling?" Aku mengernyitkan dahi. "Maksudnya? Keliling dimana?"
"Ya, dimana aja. Termasuk di rumah sakit tempat gurumu dirawat."
""Bu Dina." Mataku terbelalak saat mengingatnya. "Bagaimana keadaannya?"
Bulu menggaruk kepala gundulnya dengan jari-jarinya, menimbulkan suara KRAUK yang kencang. Selembar rambutnya bergerak-gerak saat kepalanya digaruk begitu. Bibirnya dimonyongkan.
"Tak bisa lama." Katanya tiba-tiba. "Marini masih belum puas..."
"Aduh, sadis!" Aku merinding. Masih teringat pandangan mata merah Marini dan darah yang meleleh di sekitar mulutnya. "Dia kuntilanak haus darah."
"Aku harus bagaimana?" Tanyaku kebingungan.
"Perpustakaan." Jawab Bolu.
"Tutup." Ujarku pendek.
"Begitu ya?" Bolu membalikkan badannya dan melayang di depanku. "Coba ikut aku!"
Penasaran dengan apa maksudnya, aku pun mengikuti kemana Bolu terbang. Ternyata dia mengajakku turun ke lantai satu, melewati sebuah koridor.
Seorang nenek berbadan bungkuk sedang berjalan perlahan-lahan di koridor tersebut. Wajahnya menoleh ketika kami melewatinya.
"Hehehe..." Terdengar suara terkekehnya. "Hei, botak culun."
Suara seorang nenek yang serak menghentikan Bolu yang sedang melayang. Anak berkepala gundul itu menoleh.
"Aduuuh... Eyang... sudah berapa kali kubilang jangan panggil aku dengan sebutan begitu... Aku Botak Lucu, bukan Botak Culun...." Dengan tampang kesal, Bolu mengumpat mengomeli sang nenek.
"Hehehe..." Terdengar sang nenek terkekeh kembali. "Bagiku itu sama saja, tapi aku lebih suka nama Botak Culun daripada Botak Lucu."
"Karena kau lebih banyak culun daripada lucunya." Sambung sang nenek yang diakhiri suara terkekeh.
Wajah Bolu yang lonjong itu terlihat semakin kesal. Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka berdua.
Setelah suara terkekehnya hilang, sang nenek dengan tiba-tiba menoleh ke arahku. Wajahnya yang penuh keriput namun pucat menatapku seakan ingin mengenalku lebih lanjut.
"Siapa namamu, Cucu?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya.
"Ah, Eyang. Sama dia dipanggil cucu, sama aku dipanggil culun..." Bolu berkomentar saat mendengar perkataan nenek itu.
"Cerewet! Yang penting masih ada cu-nya." Sang nenek mengomel pelan. "Atau kau mau kupanggil cuka atau cucian? Terserah!"
"Ogaaaah!!" Bolu mencibir. "Culun saja sudah cukup, jangan buat reputasiku lebih buruk lagi."
"Reputasi katamu?" Sang nenek kembali terkekeh. "Marini saja tak bisa kau atasi, mau bilang reputasi?"
Mata Bolu membesar. "Itu kecelakaan, Eyang. Anak ini terlambat bertindak karena dia tidak bisa keluar dari kelasnya."
"Begitu..." Sang nenek kembali berpaling menatapku.
'Ada apa ini?' Tanyaku dalam hati. 'Apa yang sedang mereka berdua bicarakan?'
BERSAMBUNG
BAGIAN 13
"Siapa namamu?" Tanya nenek itu lagi.
"Adam, Nek..."
"Panggil Eyang ya, jangan Nenek..." Kata sang nenek sambil terkekeh. "Sesepuh tempat ini."
"Iya, Eyang..." Sahutku.
"Kamu bisa melihat kan? Semuanya?"
"Maksud Eyang, semuanya?"
"Semua, yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang belum terjadi."
"Tidak bisa, Eyang. Hanya bisa melihat makhluk gaib saja." Jawabku lagi. Entah mengapa aku tidak takut berbicara dengan sang nenek. Suaranya yang serak terdengar menyejukkan.
"Sudah melihat apa saja disini?"
Aku menceritakan makhluk gaib yang kulihat selama di sekolah. Juga termasuk si lengan buntung.
"Hmmm... Cukup banyak yang kau tahu juga ya..." Sang nenek manggut-manggut.
"Belum semua, Eyang." Terdengar Bolu menjawab. "Dia baru melihat sebagian. Makanya kuajak dia ke perpustakaan agar bisa melihat lebih jauh lagi."
"Hmmm... Tapi kau harus menjaga rahasia ini jika sudah melihat semuanya." Sang nenek mewanti-wanti.
"Rahasia apa, Eyang?" Tanyaku bingung.
"Rahasia misteri sekolah ini, yang gaib dan penuh misteri." Jawab sang nenek.
Aku menelan ludah mendengarnya, sepertinya sekolah ini banyak sekali rahasia yang belum terungkap.
"Juga kau harus siap bila nantinya harus bertindak." Sambungnya lagi.
"Bertindak, Eyang?" Aku menggaruk kepala, semakin kebingungan.
"Hehehe..." Terdengar sang nenek terkekeh lagi. "Betul, betul... Hehehe..."
Bolu juga tertawa bersama sang nenek. Bulu kudukku mendadak merinding mendengar suara tertawa mereka berdua. Misterius sekali sikap mereka berdua.
"Nah, Cucu..." Sang nenek menunjuk ke sebuah pintu berjarak sekitar 5 meter di depan mata. Di atas pintu tertulis "PERPUSTAKAAN".
"Kau lihat pintu itu?" Tanyanya kepadaku. Aku mengangguk.
"Sekilas terlihat itu adalah pintu perpustakaan. Namun sebenarnya itu adalah Pintu Jawaban, pintu ke dunia gaib."
"Hah?!" Aku terbelalak tak percaya mendengar penjelasan sang nenek.
"Ada yang ingin kau tanyakan tentang keanehan di sekolah ini?" Tanya sang nenek lagi.
"Ada, Eyang." Ujarku. "Aku ingin tahu latar belakang Marini kenapa sampai menjadi kuntilanak. Aku ingin tahu keadaan Bu Dina. Juga siapa si lengan buntung itu. Juga aku ingin tahu siapa anak yang katanya meninggal setahun lalu karena bisa melihat gaib. Dan juga aku ingin tahu kenapa Pak Budi melarangku mengetahui urusan gaib di sini."
"Hehehe... Banyak sekali." Terdengar sang nenek terkekeh. "Pilih satu! Pintu Jawaban hanya bisa memberikan jawaban atas satu pertanyaan saja."
Aku memandang Bolu yang melayang-layang di samping sang nenek. Anak itu mengangkat bahunya.
'Aku musti tanya yang mana? Semuanya penting bagiku.' Gumamku dalam hati.
"Sudah tentukan pilihanmu?" Tanya sang nenek lagi.
Aku terdiam. Bingung menentukan satu dari semua pertanyaan yang ingin kutanyakan. "Baiklah. Aku sudah memilih satu."
"Bagus!" Sang nenek terkekeh lagi. "Sekarang kau berdiri tepat di depan pintu itu!"
Aku menuruti perintah sang nenek, berjalan ke arah pintu dan berdiri tepat di depannya.
"Letakkan tanganmu tepat di pintu. Panggil namanya. Ucapkan pertanyaanmu dan hentakkan kakimu tiga kali ke lantai!"
Aku menuruti kata-kata sang nenek. Dengan bergetar tanganku kusentuh merapat pintu yang terbuat dari kayu itu.
"Pintu Jawaban. Aku Adam, ingin bertanya, bagaimana keadaan Bu Dina?" Setelah aku berkata begitu, kaki kananku menghentak lantai tiga kali.
Seketika semuanya berubah total. Koridor itu yang tadinya ada cahaya lampu, kini menjadi gelap dan lampunya berkedip-kedip. Angin kencang berhembus, padahal aku berada di koridor yang tidak berangin. Saking kencang dan dinginnya, aku sampai merinding dibuatnya. Aku mencoba menengok. Bolu dan sang nenek sudah tak berada disana lagi.
"Jangan pergi!" Aku membalikkan badan ke arah mereka tadi berdiri. Tapi mereka tak lagi berada disana.
Yang lebih aneh lagi, ketika aku memandang ke sekeliling, aku tidak lagi berada di koridor tempat aku berdiri tadi. Tapi aku telah berdiri di sebuah tempat asing. Benar-benar asing. Dan hanya aku sendiri yang berada disana.
BERSAMBUNG
BAGIAN 14
Aku mencoba memandang ke sekeliling. Aku menyadari saat itu diriku sedang berdiri di sebuah tempat menyerupai sebuah daerah hutan. Aku menyebut demikian karena di kiri kananku berjejeran penuh dengan pepohonan. Di depanku tampak berkabut dan udara disana dingin menusuk tulang. Sementara di atas kepalaku juga tampak gelap bagaikan tak berlangit.
"Tempat apa ini?" Ujarku sambil melipat tanganku di dada, mencoba mengusir dingin. Uap panas tampak keluar dari mulutku saat aku berbicara. Bisa dibayangkan betapa dinginnya tempat aku berada itu.
Aku memutar badan, melihat ke belakang tempatku berdiri. Ternyata sama berkabutnya. Saat itu aku baru menyadari sesuatu.
"Dimana aku? Mengapa tak ada siapapun disini?" Kataku lagi. Uap panas berhembus dari mulutku. Aku mendekapkan tangan semakin kencang, daerah ini sangat dingin. Mestinya daerah hutan tidaklah dingin.
"Halo, tempat apa ini? Apa disini ada orang?" Aku mencoba berteriak sambil memandang ke sekeliling. Hening. Sunyi. Tak ada suara apapun. Gemerisik daun tertiup angin pun tak terdengar sama sekali.
Aku memberanikan diri berjalan. Kepalaku menengok ke kiri dan kanan setiap kali aku melangkah. Kabut yang menghalang di depan tersibak setiap kali aku berjalan.
"Halo, apa ada orang disini?" Suaraku tampak bergema di tempat itu. Tetap tak ada jawaban. Tetap hehing. Tetap sunyi. Di tempat itu seperti tak ada kehidupan sama sekali.
Jalan yang kulewati berupa jalan setapak seperti di daerah hutan umumnya. Aku tetap berjalan, ingin mengetahui lebih lanjut tempat ini dan apa jawaban yang terkandung di dalamnya seperti yang dikatakan Eyang tadi.
"Eyang," Mendadak aku teringat kepada nenek tua tadi. "Astaga. Bagaimana kalau aku tak bisa keluar lagi dari tempat ini?"
Wajahku mendadak menjadi pucat. Aku merasa seperti dijebak. Seperti terperangkap. Aku memutar badanku. "Tidak! Aku tidak bisa keluar dari sini."
"Bahaya!! Kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya?" Aku semakin panik. "Bagaimana ini? Masakah aku harus terperangkap disini selamanya?"
Aku memutuskan untuk berlari ke tempatku tadi berasal. Siapa tahu disana aku bisa mendapatkan petunjuk untuk bisa kembali ke duniaku semula. Di sekolah baruku.
Namun baru saja aku menjejakkan kakiku di tempatku tadi berdiri, mendadak aku menyadari, suasana di depan mataku tidaklah seperti yang tadi kulihat. Tempat itu telah berubah.
Tidak. Bukan berubah. Tapi kabut di depanku tersibak dan aku bisa melihat apa yang ada disana. Sebuah kolam.
Sebuah kolam seperti terbentang luas di depanku. Tunggu. Itu bukan kolam. Itu danau. Kolam tidak seperti itu. Kolam tidak ada tumbuhan di sekelilingnya. Ya, aku yakin itu danau. Danau berair biru yang tenang.
Aku mencoba mendekat. Pikiranku untuk mencari petunjuk agar bisa kembali ke duniaku tersisihkan oleh kehadiran danau tersebut. Aku melangkah pelan mendekati danau di depan mataku.
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!" Sebuah suara jeritan nyaring membuatku terlompat kaget saat aku sudah berada beberapa meter di depan danau. Pemandangan di depan mataku kembali berubah. Danau yang tadinya tenang dan tak ada siapapun disana, kini berubah. Setidaknya ada dua orang yang berada di tempat itu. Dua-duanya wanita.
Wanita yang satu berpakaian serba putih hingga ke mata kaki dan wanita yang satunya...
"Astaga!" Mataku terbelalak saat menyadari siapa wanita yang satunya itu. "Bu Dina..."
BERSAMBUNG
BAGIAN 15
"AAAHHHH......" Suara jeritan itu kembali terdengar. Aku bertanya apa suara itu berasal dari wanita di depan mataku itu. "JANGAANNNN...... AAAAKKKKHHHHHHH......"
Kulihat Bu Dina dan wanita berpakaian serba putih itu berada di pinggir danau. Bu Dina sedang dalam posisi tertelungkup dan wanita putih itu berlutut. Saat aku melihat lebih jelas lagi, kejadian di depan mataku itu ibarat film yang sedang berputar.
Wanita bergaun putih itu menjambak rambut Bu Dina dan dengannya dia memasukkan kepala Bu Dina ke dalam danau, menenggelamkan wajah dan kepalanya ke air danau. Beberapa detik kemudian, diangkatnya kepala Bu Dina.
"AAAKKKHHHH.... HHH... HHH....JHHANGHHAANNNNHHH..." Terdengar jeritan itu lagi. Ternyata itu jeritan Bu Dina. Wajahnya menengadah dan mengerang kesakitan. Nafasnya seperti sedang megap-megap mencari udara. Tangannya bergerak-gerak mencari sesuatu yang bisa diraih, namun disana, di sekelilingnya, tak ada apapun yang bisa menjadi pegangannya.
PYOUNGGG!!!
"OUUKKHHHH!!!" Kepala Bu Dina kembali dibenamkan ke dalam danau. Bunyi air akibat dimasukkan benda dari atas terdengar deras. Sementara wanita berpakaian serba putih itu tampak menyeringai.
SPLAAASSSHHHH!!!
"Ouuukhhh....aahhhh....uhuuukkkk....uhhhuuukkkk....." Kembali kulihat Bu Dina kesulitan dengat tindakan wanita itu terhadapnya. Tampak guruku itu terbatuk-batuk dengan wajah pucat megap-megap. Wajahnya dibanding tadi yang semakin pucat saja.
"Wanita itu, siapa dia?" Hatiku bergumam. "Sepertinya aku pernah melihatnya..."
Aku mengira wanita itu akan kembali membenamkan wajah Bu Dina ke dalam kolam, namun perkiraanku salah. Dengan tangan masih menjambak rambut Bu Dina, dia menyeret guruku itu. Sedangkan guruku tak bisa berbuat banyak kecuali mengikuti badannya yang terseret oleh wanita itu. Tangannya memegang rambutnya yang dijambak itu, sementara badannya terseret tanpa bisa berjalan.
"Aku tahu. Itu Marini." Ujarku. "Dia, dia mau membunuh Bu Dina."
"Tidaaaakkk.... Jangaaannn!!" Terdengar rintihan pelan Bu Dina. Wajahnya memelas dan tampak kesakitan. "Ampun. Ampun. Aku minta maaf."
"Gggrrrr!!" Wanita yang tak lain adalah Marini menggeram. Matanya tampak marah. Ucapan Bu Dina tidak digubrisnya. Tangannya masih tetap menyeret guruku itu.
"Tunggu!! Berhenti!" Aku berseru. Tanganku terjulur bermaksud menghentikan perbuatannya. Namun baik Bu Dina ataupun Marini tidak ada yang menengok ke arahku.
Karena tak ada yang memperhatikanku, aku pun berlari ke arah danau. 'Aku harus menolong Bu Dina. Harus. Dia tidak boleh mati. Aku tak mau dia mati.'
Pada saat itu mendadak sebuah suara terngiang di telingaku, "Kau harus siap bila nantinya harus bertindak."
'Itu suara Eyang.' Langkahku terhenti. Aku memandang ke sekeliling, mengira Eyang ada di tempat dimana aku berada saat itu. Namun sejauh mata memandang tak ada sedikitpun tampak sosok Eyang disana.
"Ampuuuunnn.... Lepaskan aku...." Suara jeritan Bu Dina masih terdengar. Suara itu menyadarkanku akan tujuanku berlari ke arah danau. Terlihat di depan mataku, Bu Dina sudah berdiri dijambak rambutnya oleh Marini.
"Buuuuuu... Bu Dinaaa.... Buuuuu...." Aku berlari sambil berteriak memanggil guruku itu. Rasa dingin yang menusuk tulang itu tak kupedulikan lagi. "Bu Dinaaaa..."
"AAAAKKKKKHHHHHHH!!!!" Jeritan Bu Dina kembali terdengar. Aku mempercepat langkahku. Di depan mataku kulihat guruku itu - yang telah berdiri saat itu - sedang sesak nafas mencari udara. Apa Bu Dina kedinginan hingga sesak nafas seperti itu?
Aku melirik ingin mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Tampak Marini berdiri membelakangiku. Aku berlari ke samping mereka berdua, berharap bisa melihat lebih jelas. Tampak kedua tangan Marini terpentang lurus ke depan.
Saat itu aku mendapatkan jawaban mengapa Bu Dina menjerit dan sesak nafas. Ternyata guruku sesak nafas bukan karena kedinginan, namun karena kedua tangan Marini sedang mencekik lehernya!!
"Buuuuuuu..." Aku kembali berteriak melihat ketegangan itu.
Bu Dina tampak meronta-ronta dan tangannya memegang tangan Marini yang mencekik lehernya itu. Lidahnya terjulur dan matanya terbelalak.
BERSAMBUNG
BAGIAN 16
"Bu Dinnnaaaaa... Lawan, Bu. Jangan biarkan dia mencekik Ibu!" Teriakku saat aku tiba di tepi danau itu.
Bu Dina tidak bereaksi, padahal suaraku sudah cukup kencang dan jarakku dengan mereka tidak lagi jauh. Seharusnya mereka bisa mendengar suaraku, apalagi waktu itu aku bukan lagi berkata, melainkan sudah berteriak.
"Buuu... Ibu bisa mendengarku kan? Buuuu.... Bu Dinaaa!!" Aku semakin panik saat menyadari guruku itu tidak bisa mendengarku sama sekali.
'Tidak, tidak mungkin!' Aku berkata pada diriku sendiri. 'Tidak mungkin Bu Dina tidak mendengarku.'
"Bu, ini aku, Adam. Lihat aku, Bu." Aku berkata panik, berharap guruku bisa melihatku dan menjawabku dengan lirikan matanya. Namun keberadaanku disana sepertinya tidak diketahuinya sama sekali.
Panik. Aku memandang ke sekeliling, berharap bisa mendapatkan sesuatu untuk menolong Bu Dina. Kulihat di dekat sepatuku ada beberapa batu sebesar kepalan tangan. Aku membungkuk dan mengambil salah satu di antaranya.
"Hihhh!!" Dengan sekuat tenaga aku melemparkan batu itu ke arah Marini. Jarak yang lumayan dekat itu mestinya tidak membuat lemparanku meleset.
WUUUSSSHHH!!!
Lemparanku jatuh jauh di belakang Marini. Aku tak menyerah. Kupungut lagi batu di tanah, kali ini dua batu sekaligus. Aku melempar lagi.
WUUSSHHHH!!
Batu yang kulempar itu meleset lagi. Aku melempar batu yang ketiga.
"Kali ini harus kena!" Kataku sambil mengerahkan tenaga.
Kulihat batu yang kulempar itu melesat ke arah badan Marini. 'Ayo, kena! Kena!!'
Batu itu melesat masuk dan tersisa beberapa centimeter lagi di badan Marini!
"Kena!!" Teriakku senang.
Namun batu yang sedang terbang itu lewat begitu saja melalui badan Marini, seakan badannya tak ada disana sama sekali.
"Hah!!" Mataku terbelalak. "Ti.. Tidak mungkin!"
Aku nyaris kehabisan akal saat itu. "Buuuu... Bu Dinaaa!! Ibu bisa melihatku kan? Buuuu!!"
"Oooouuukkkhhhhh......." Lidah Bu Dina semakin panjang terjulur dan matanya semakin mendelik. Tubuhnya yang tadinya meronta-ronta itu, kini seperti sudah berhenti meronta, berdiri lemas dengan leher dicekik Marini.
"Bagaimana ini?" Aku semakin panik. "Masakah aku harus melihat Bu Dina mati di depan mataku sendiri?"
Saat aku semakin panik, mendadak terdengar sebuah suara yang entah dari mana berasal. "Percuma saja. Berteriak sampai suara serak sekalipun, dia takkan bisa mendengarmu."
"Eyang?" Gumamku sambil memandang ke sekeliling saat menyadari pemilik suara serak itu. "Dimana Eyang?"
"Dengarkan, Cucuku!" Terdengar suara itu lagi. "Kau disana hanya diijinkan melihat, tidak boleh berbuat apa-apa."
"Ke.. Kenapa?"Tanyaku. "Jadi Bu Dina akan..." Kuhentikan perkataanku.
"Itu sudah takdirnya." Kata sang nenek lagi.
"Tidak. Aku takkan membiarkannya terjadi. Bukankan Eyang pernah bilang bila aku harus siap bila nantinya harus bertindak?"
"Lantas, untuk apa aku disini bila kenyataannya aku tak bisa apa-apa menolong guruku?"
"Untuk mencari jawaban, Cucuku." Jawab Sang Nenek. "Itu kan yang kau inginkan?"
"Tidak. Aku tidak mau. Aku harus menolong Bu Dina." Sahutku.
"Jangan mengubah takdir yang sudah ada!" Kata Sang Nenek lagi.
"Aku tak peduli." Kilahku. "Untuk apa aku diberikan kemampuan melihat bila kenyataannya aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang yang jelas-jelas bisa kutolong?"
"Percuma saja. Mereka takkan bisa mendengarmu, melihatmu bahkan merasakan kehadiranmu sekalipun. Kau disana hanya bisa menonton dan menjadi saksi saja!"
Aku terhenyak mendengar perkataan Sang Nenek. 'Pantas saja Bu Dina tidak bereaksi saat kupanggil begitu keras tadi.'
Kupalingkan wajahku melihat ke arah Bu Dina dan Marini. Saat itu tubuh guruku terlihat semakin lemah dan tak bertenaga, sementara suara tertawa terkikik Marini yang menggetarkan terdengar memenuhi tempat aku berada. Kedua tangan guruku sudah tidak lagi memegang lengan Marini, tapi sudah terkulai lemas ke samping.
"Jadi aku harus bagaimana sekarang?" Ujarku putus asa. Jantungku berdegup semakin kencang, kepanikan semakin melandaku, tapi aku tak tahu harus berbuat apa untuk menolong guruku itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 17
Aku menatap kejadian yang berlangsung di depannya dengan pandangan kecewa.
"Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Bu Dina." Ujarku. "Bagaimana ini?"
Aku memandang ke sekeliling dengan panik. Kurasakan kucuran keringat di keningnya. "Pasti ada sesuatu. Pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan. Pasti..."
"Ayo, Adam. Berpikir, berpikir." Aku memejamkan mataku, mencoba konsentrasi. Pikiranku melayang, melayang, melayang...
"Opa, aku takut..." Aku berkata kepada kakekku yang sedang berdiri di sampingku. Kami berdua berdiri di pinggir danau, dengan pancingan di tangan kami masing-masing. Kakekku tertawa terkekeh memperlihatkan giginya yang sudah ompong itu. "Suara... Aku mendengar suara..."
"Jangan takut. Tidak ada apa-apa." Jawab kakekku. Kedua biji hitam matanya tampak bergerak-gerak seakan sedang mengikuti sesuatu yang bergerak di depannya. Kepalanya berpaling mengikuti pandangan matanya.
"Opa melihat apa?" Aku bingung dan menengok ke depan. Ke arah pandangan kakekku. Kosong tak ada apa-apa. Tiba-tiba aku merasakan bulu kudukku merinding.
"Opa...." Aku menyentuh tengkukku. Seketika suara itu terdengar kembali. Suara tertawa cekikikan seorang wanita di tempat itu, namun wujud dan rupanya tak terlihat sakma sekali.
"Kun...kuntilanak..."
"Jangan takut, Adam. Ada Opa disini." Terdengar kakekku menyahut. Mulutnya tampak berkomat-kamit seperti sedang mengucapkan sesuatu. Sementara suara cekikikan itu semakin terdengar jelas.
Itu sudah menjadi kebiasaan kakekku bila melihat makhluk halus. Kakekku mempunyai kelebihan melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus.
Sesaat kemudian, suara tertawa cekikikan itu terhenti. Bulu kudukku juga sudah tidak meremang lagi.
"Sudah, pergilah." Terdengar kakekku berkata. Tak tahu apa yang diucapkannya, namun kata-katanya itu membuat suasana disana menjadi lebih tenang. Tak ada lagi suara tertawa cekikikan dan perasaanku juga lebih membaik.
Beliau memandangku dan tersenyum. "Sudah, tak perlu khawatir. Mari kita lanjutkan memancing."
"Tapi, Opa..." Aku masih penasaran dengan kejadian yang baru saja kulihat itu. "Benar tadi itu kuntilanak?"
"Betul..." Beliau menggangguk.
"Ke... Kenapa ada disini? Apa dia menggangu?"
"Dia tidak mengganggu." Jawab kakekku. "Dia berada disini karena ini daerah kekuasaannya."
"Daerah kekuasaannya?"
"Ya, daerah miliknya." Kata kakek menjelaskan. "Hantu itu suka tempat yang lembab, dingin, basah, kotor dan tak berpenghuni."
"Kenapa begitu?"
"Hantu tidak tahan panas, karena api itu panas. Suka tempat kotor karena disanalah mereka merasa betah. Terlebih kalau tempat itu tak berpenghuni, karena tak ada hawa manusia. Hawa manusia itu panas, mereka tidak menyukainya. Sudah mengerti?"
Aku mengangguk. "Lalu kalau dia mengganggu, bagaimana melawannya?"
Kakekku tertawa. "Kita tak bisa melawannya begitu saja. Butuh usaha dan perjuangan. Terlebih kalau mereka telah menjadi penghuni tetap di tempat itu."
"Jadi kita tidak bisa apa-apa?"
"Tergantung jenis hantunya," Jawab kakek sambil mengusap kepalaku, membelai rambutku. "Kalau kuntilanak, biasanya bisa ditangkal dengan benda tajam seperti jarum, paku atau gunting. Biasanya diletakkan di bawah bantal untuk mencegah kedatangan mereka."
Suara kakek semakin pelan, pelan dan kemudian menghilang. Aku tersadar dari lamunanku.
"Jarum, paku atau gunting? Bagaimana mau mencarinya di tempat seperti ini?" Gumamku kebingungan.
Pada saat aku sedang kebingungan itu, suara kakekku yang sudah hilang itu, terdengar kembali.
"Adam, hantu itu tidak beda dengan manusia, mereka berwujud, hanya tak memiliki raga. Wujud mereka adalah halus karena tak memiliki badan, sedang manusia kasar karena memiliki badan."
"Kakek..."
"Lihat di tempatmu sekarang berada!" Terdengar suara kakekku kembali, yang kemudian lenyap sirna.
Mataku memandang ke sekeliling. Pandanganku terarah ke tanah tempatku berpijak. Di sekitar kakiku masih terdapat batu-batu kecil yang tadi kupakai untuk melempar Marini.
"Hei...." Mendadak aku tersadar, seperti terbangun dari mimpi. Kata-kata kakekku membuatku tersadar. Aku berjongkok dan menyentuh salah satu batu kecil yang berserakan itu.
"Heiiii... Bisa!!" Mataku terbelalak saat menyadarinya. "Bisa!! Aku bisa menolong Bu Dina!!"
BERSAMBUNG
BAGIAN 18
"Ya, aku bisa menolong Bu Dina!" Hatiku berteriak senang. "Batu ini bisa terambil olehku. Padahal aku sedang berada di alam lain."
Kuarahkan pandanganku ke arah Bu Dina yang kedua tangannya sudah terkulai lemas ke samping itu.
"Kalau aku bisa mengambil batu ini dengan tanganku, itu berarti..."
Aku berlari ke arah danau di depanku. Kujulurkan tanganku menyentuh air danau itu.
"Ahhh.... Dingin banget..." Teriakku. "Aku bisa merasakannya. Aku bisa mengambil air ini."
Kucekungkan tanganku menyendok air danau itu dan sebagian air yang dingin itu menetes turun dari telapakku yang basah.
"Bisaaaa!!" Aku berteriak senang. "Terima kasih, kakek."
Pada saat itu aku teringat sebuah pesan yang melintas mendadak di pikiranku.
"Marini takut dengan kencing laki-laki. Ilmunya akan hilang selama beberapa hari bila tersiram."
Itu Bolu. Kata-kata Bolu yang pernah kudengar sewaktu di kelas dan bertemu Marini pertama kali.
Aku melihat ke arah Bu Dina. Berada dalam keadaan lemas akibat lehernya dicekik oleh Marini, kulihat tetesan air yang masih menitik di rambut guruku itu.
"Jadi begitu..." Ujarku. "Aku bisa memegang semua benda disini, kecuali hanya Bu Dina dan Marini. Pantas saja mereka tidak bisa melihatku."
"Baiklah." Aku pun berdiri dan mataku mencari-cari sesuatu yang sekiranya bisa kupakai untuk menampung air. Di balik sebuah semak terlihat seperti ujung sebuah kepala botol.
Aku berlari ke semak di samping danau dan kuraih kepala botol itu. Sebuah botol kaca. Tampak kotor pada saat kuangkat.
Bergerak cepat, aku beranjak ke danau dan membersihkan botol tersebut. Kemudian aku berdiri lagi dan membuang air seniku ke dalamnya. Terisi setengah botol.
Aku berjongkok lagi dan mengisi setengah botol sisanya dengan air danau. Campuran panas air seni dan air dingin danau menyatu.
"Semoga cara ini bisa membantu Bu Dina." Aku berdiri dan mendekati keduanya yang masih bergumul. Bu Dina masih belum menyerah kepada Dina yang berusaha mencekiknya sambil menggeram.
Dengan botol di tangan, aku mengguyur Bu Dina terlebih dulu di badannya. Guruku itu menjerit sesaat tatkala air tersebut membasahi badannya.
"Sekarang ke Marini." Ujarku. Kugerakkan tanganku menyiramkan air di botol ke badan kuntilanak itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 19
Seperti gerakan lamban, air di botol itu seakan terbang ke badan Marini. Jantungku berdetak menunggu saat-saat menegangkan yang akan terjadi di depan mataku. Semakin dekat, semakin dekat.
SPLASSHHH!!!
Air itu mengenai badan dan sebagian wajah Marini. Aku menunggu dengan tegang. Tapi sepertinya tak ada yang terjadi.
Wajah menyeramkan Marini menengok ke arahku berdiri. Matanya melotot merah. Gigi taringnya keluar.
'Kenapa? Kenapa tak ada yang terjadi?' Tanyaku dengan jantung yang kian kencang berdetak. 'Apa dia bisa melihatku?'
Disaat rasa percaya diriku mulai menipis, disaat aku mulai merasa ketakutan...
Marini menengok kembali ke depan. Tangannya berhenti mencekik Bu Dina. Tiba-tiba terdengar suaranya meraung kencang!!
"AAAAKKKKHHHHHHHHHHHH!!" Kedua tangannya melepaskan cekikannya di leher Bu Dina dan kemudian memegang kepala dan rambutnya yang tersiram itu.
"AAAAKKKKKHHHHHHHHHHHHH!!!" Suara erangannya seperti suara kesakitan. Tubuhnya tampak berputar, suara erangannya masih terdengar.
Sementara Bu Dina yang telah terlepas lehernya dari cekikan Marini berusaha mengambil udara dari nafasnya yang sesak. Begitu dia menyadari sosok di depannya sedang mengerang kesakitan, dia hanya bisa melihat denga mata terbelalak tak percaya.
"Berhasil! Aku berhasil!!" Pekikku kesenangan. Dan mendadak...
"Aaahhh.... Apa ini?? Aku... Aku kenapa??" Aku berteriak, terkesiap, mencoba memandang ke sekelilingku.
Saat itu aku merasakan tubuhku seperti melayang, tak ada yang bisa kugapai, tak ada yang bisa kuraih. Aku terbang dan melayang. Kutendang-tendangkan kakiku. Hanya udara. Tak menyentuh apa-apa. Sementara sekelilingku tampak gelap, sangat gelap.
Tiba-tiba...
BRUKK!!!
"Aduhh!!" Aku menjerit kesakitan saat merasakan aku jatuh. Lutut dan telapak tanganku sakit terhantam tanah yang keras.
"Tanah?" Kataku pada diriku sendiri.
Aku mendongak, mencoba melihat tempat aku berdiri. Aku berada di sebuah ruangan, putih bersih.
"Bau ini?" Hidungku membaui sesuatu. "Seperti bau obat?"
Aku berdiri sambil menepuk lututku yang sakit itu. Lalu aku memutar badanku mencoba melihat lebih jelas.
"Ini... Ini..." Mataku terbelalak saat melihat sebuah ranjang yang terdapat di depanku. Di atasnya seorang wanita berbaring tak sadarkan dirinya. Sebuah mesin yang entah apa namanya, berbunyi terus menerus di atas kepalanya dengan garis hijau membentuk grafik garis yang tak kuketahui artinya.
"TIT....TIT....TIT...." Begitu bunyi mesin itu.
Wanita yang terbaring di depanku membuatku terperanjat.
"Bu Dina..." Aku memekik. "Berarti aku... aku..."
Kuputar mataku memandang ke sekeliling. Ruangan berukuran cukup besar dengan mesin-mesin medis dan bau obat yang memenuhi ruangan.
"Aku berada di rumah sakit..." Ujarku terperanjat.
BERSAMBUNG
BAGIAN 20
Kecuali Bu Dina yang terbaring, disana terdapat dua orang berpakaian suster dan seorang lelaki yang mungkin adalah dokter. Mereka tampak sibuk dengan menangani Bu Dina dan kehadiranku seperti tidak digubris. Padahal jarakku saat itu berdiri cukup dekat dengan mereka.
"Apa mereka tak bisa melihatku ya?" Tanyaku pada diriku sendiri.
"Suster, siap-siap." Terdengar dokter yang mulutnya terbalut berkata. Dua suster di sampingnya mengangguk.
"Siap-siap apa?" Aku menatap mereka.
"Garisnya semakin melemah..." Kata dokter.
Kulihat matanya dan kedua suster menatap tak berkedip pada mesin di atas kepala Bu Dina.
"Apa yang mereka tunggu?" Tanyaku. Secara tak sengaja tanganku menyentuh salah seorang suster itu.
SIINGGGGGG!!!
Tanganku seperti masuk ke dalam tubuhnya! Hilang tak terlihat!
"Aku... Aku tak bisa menyentuhnya." Kutarik tanganku dengan pandangan tak percaya.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara keras yang muncul dari mesin di atas kepala Bu Dina. Mesin tadi yang berbunyi "TIT" stabil kini telah berubah menjadi bunti "TIT" panjang.
"Lewat sudah!" Terdengar dokter berkata sambil menggoyangkan kedua tangannya. Sementara kedua suster bersiap-siap menarik semua selang di tubuh guruku itu.
"Dibereskan ya." Kata dokter lagi sambil meninggalkan tempat itu. Kedua suster mengangguk.
Garis grafik yang tadinya membentuk gelombang kini telah menjadi sebuah garis lurus. Aku tak tahu apa arti itu semua. Yang kutahu hanya mereka sibuk membereskan peralatan yang dipasangkan ke tubuh Bu Dina.
"Hei. Bu Dina... Kenapa... Kenapa ditarik?" Aku panik saat melihat selang di hidung guruku ditarik.
"TIT...TIT...TIT..."
Salah satu suster mengangkat kepalanya. Matanya tampak terbelalak. "Itu..."
"TIT...TIT...TIT..."
"Suara itu...?" Suster kedua pun mengangkat kepalanya dengan mata terbelalak. Secara bersamaan keduanya menengok ke arah mesin yang berada di atas ranjang Bu Dina.
Akupun ikut menengok. Kulihat garis grafik sudah tidak lurus lagi, tapi sudah kembali bergelombang.
"Aneh...." Terdengar suster berkata. "Bukannya dia sudah lewat?"
Suster yang satunya menggeleng. Wajahnya seperti pucat tak percaya.
"Panggil dokter..."
Salah satu suster segera berlari mengejar dokter yang belum jauh meninggalkan ruangan itu.
"Dokter, pasien hidup lagi." Terdengar suster itu berkata.
"Hah!" Dokter membalik dan berlari kecil. Saat tiba di ranjang Bu Dina terbaring, yang pertama dilihatnya adalah mesin grafik, kemudian dia menempelkan jarinya ke leher guruku itu.
"Mustahil. Tadi dia bukannya sudah lewat?" Kata dokter itu dengan mata terbelalak.
"Kami juga pikir begitu."
"Aneh. Ini benar-benar aneh." Dokter menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa percaya."
Aku baru saja mencoba mengerti apa yang sedang terjadi disana ketika tubuhku kembali terlempar melayang, melayang seperti halnya yang kualami tadi dan tahu-tahu...
BRUKKK!!!
"Adduhhhh..." Aku jatuh terguling-guling sesaat sebelum akhirnya aku berhenti.
Sambil memegang kepalaku, aku mencoba bangun dari posisiku yang sedang tertelungkup. Aku berlutut dan membuka mata.
Mendadak di depan mataku terlihat sebuah tangan halus yang seperti terjulur, persis di depan wajahku. Aku mengangkat wajah melihat siapa pemilik tangan halus itu.
"Kamu..." Aku terkejut saat mengenali orang itu.
"Kamu pasti baru kembali dari Pintu Jawaban kan?" Tanya orang itu kepadaku.
BERSAMBUNG
BAGIAN 21
Aku berniat menolak uluran tangan yang membantuku bangun itu. "Aku bisa bangun sendiri." Kataku sambil mencoba berdiri. Lalu kutepuk celana seragamku yang kotor karena terguling-guling itu. Tas sekolahku yang kutinggalkan di lantai lorong kuambil dan kusampirkan di pundak.
Tak mengindahkan orang tersebut, aku melihat ke sekeliling. Ternyata aku berada di lorong yang membawaku ke perpustakaan tadi. Pintu perpustakaan berada tak jauh dari belakangku.
"Kenapa kamu bisa berada disini?" Aku menatap orang itu dan bertanya.
"Justru aku yang mau bertanya begitu. Kenapa kamu bisa tau Pintu Jawaban itu?" Ujarnya.
Aku meneruskan langkahku. Eyang dan Bolu tidak ada lagi disana. Lorong itu juga telah sepi. Hanya ada kami berdua saja disana.
"Oh ya, kita belum kenalan." Katanya sambil menjulurkan tangan. "Kamu Adam, murid baru itu kan?"
Aku mengangguk. Kubalas salaman tangannya itu. "Ya, aku murid baru disini."
"Kenalkan, aku Peggy." Sambil tersenyum, dia menerima salaman tanganku. "Salam kenal ya."
"Dari mana kamu bisa tahu tentang Pintu Jawaban?" Tanyaku sambil berjalan.
Peggy tertawa. "Sejak di kelas waktu kamu berteriak itu, aku sudah curiga kalau kamu bisa melihat hantu."
Peggy, gadis yang duduk di bangku di belakangku saat di kelas, gadis yang menepuk punggungku saat aku berteriak karena hantu lengan buntung.
"Terus?"
"Yah, aku mengikutimu." Peggy tertawa lagi. "Maaf ya. Tapi aku melihat kamu sering berbicara sendiri dan saat kamu menyentuh pintu perpustakaan, aku mendapatkan jawabannya."
"Jawaban apa?" Tanyaku lagi.
"Kamu bisa melihat hantu. Benar kan?"
Aku terdiam dan membathin. 'Kok dia bisa tahu ya? Tapi kalau dia sampai tahu rahasiaku, bahaya tidak ya?'
Peggy tertawa lagi. "Kamu jangan khawatir. Aku takkan ceritakan tentang rahasiamu itu kepada siapapun. Hanya kita berdua yang tahu rahasia ini."
"Heh, kamu bisa membaca pikiran ya?" Tanyaku ragu-ragu.
"Bagaimana ya?" Peggy menatap kosong ke depan. "Yah, anggap saja begitu."
"Kamu juga bisa melihat hantu?" Tanyaku lagi.
Peggy menggeleng. "Aku tidak sehebat kamu. Tapi kalau membaca pikiran, aku bisa."
"Oh, pantas kamu bisa tahu apa yang sedang kupikirkan." Kataku.
"Aku tertarik dengan dunia gaib." Sambung Peggy lagi. "Aku bisa melihatnya, tapi tidak dengan mata sepertimu."
"Maksudnya?"
"Aku melihat dengan kekuatan bathinku." Kata Peggy. "Tuh, kamu lihat disana. Di pohon itu."
Peggy menunjuk ke sebuah pohon yang berada di taman di samping koridor.
"Ada seorang anak perempuan kecil yang sedang duduk membaca sesuatu disana. Di bawah pohon itu. Benar?" Tanya Peggy kepadaku.
Aku melihat ke pohon yang ditunjuk Peggy. Di bawah pohon itu ada semacam hiasan berbentuk lingkaran terbuat dari semen dan porselen. Di bawah pohon itu duduk seorang anak kecil, wajahnya tertutup rambut, sedang duduk tak bergeming, sebuah buku berada di pegangannya. Wajahnya tertuju pada buku itu.
Aku menggangguk. "Iya, benar." Kataku. 'Hebat! Dia bisa melihat tanpa menggunakan matanya.'
"Dan itu..." Peggy menunjuk lagi. "Di taman, seorang anak laki-laki sekitar 8 tahun berlari-lari mengikuti anak-anak yang bermain. Benar?"
Masih di taman yang sama, aku melihat seorang anak berbadan kecil berusia sekitar 7-8 tahun berlari-lari riang di antara anak-anak lain yang bermain. Hanya saja dia tidak terlihat karena anak itu sudah tiada.
"Ya, kamu benar lagi. Hebat!"
"Makanya waktu di kelas, aku tahu apa yang sedang terjadi padamu." Kata Peggy. "Tapi kamu tidak mau mengaku."
"Maaf deh. Aku tidak bisa sembarang cerita rahasiaku." Jawabku sambil mengusap-usap kepalaku.
"Bagaimana Bu Dina?" Tanya Peggy tiba-tiba. "Kamu berhasil menolongnya?"
'Hah?! Darimana dia bisa tahu sejauh itu kalau aku yang menolong Bu Dina diam-diam?' Bathinku.
Peggy lagi-lagi tertawa. "Kenapa kamu masih ragu? Hatimu bingung kan darimana aku bisa tahu sejauh itu kalau kamu yang menolong Bu Dina diam-diam?"
Semua pikiranku terbaca! Astaga! Kalau begini tak ada yang bisa kusembunyikan darinya.
"Maaf, tapi memang kamu tak bisa menyembunyikan apapun dariku." Kata Peggy lagi. "Aku bisa membaca semua pikiranmu bagaikan aku membaca buku."
"Apa aku bisa mempercayaimu?" Pertanyaan itu meluncur dengan spontan dari mulutku.
"Kamu tak perlu bilang, aku sudah tau isi hatimu." Kata Peggy. "Justru aku ingin mencari orang yang bisa melihat gaib sepertimu..."
"Untuk apa?" Tanyaku bingung.
"Sekolah ini." Jawabnya.
"Sekolah ini?"
"Ya, kamu belum tau ini sekolah apa?"
Aku menggeleng.
"Dari semua yang kamu alami di hari ini, kamu belum bisa menyimpulkannya?" Kata Peggy. "Mulai dari kuntilanak yang menyerang Bu Dina, lalu si lengan buntung, belum lagi anak kecil botak yang menemuimu itu."
'Dia tahu tentang Bolu?' Bathinku.
"Kau memanggilnya Bolu kan?" Tanya Peggy. "Lalu nenek tua penghuni lorong ini. Si hantu pemalu. Dua anak di taman itu. Belum lagi yang kamu lihat di kantin dan kelas lainnya."
Aku terdiam sejenak. "Sekolah ini berhantu?"Tebakku
Peggy tertawa. "Ya. Kamu betul. Kalau kamu mau tau tanah dimana sekolah ini berdiri dulunya adalah sebuah tempat pembantaian masal..."
"Hah?!!" Aku terbelalak mendengarnya.
BERSAMBUNG
BAGIAN 22
"Kapan-kapan aku cerita lagi deh." Kata Peggy. "Sudah waktunya kamu pulang."
"Masa sih?" Ujarku. "Pamanku kan masih menunggu Andine."
"Mereka sedang dalam perjalanan kemari." Kata Peggy lagi. "Sudah ya, aku pergi dulu."
"Hey, tunggu." Aku berteriak bermaksud mencegahnya.
Setelah berkata begitu, Peggy berlari dan menghilang dari pandanganku sebelum aku sempat mencegahnya. Tak lama setelah itu, terlihat pamanku dan adikku berjalan ke arah lorong tempatku berdiri.
"Kamu disini ya?" Kata pamanku itu. "Kami mencari kemana-mana."
"Ya, Om. Tadinya aku ingin ke perpustakaan, tapi ternyata belum buka." Aku berdalih.
"Memang belum buka, Adam." Kata pamanku itu. "Ayo, kita pulang."
Andine tersenyum sambil mengunyah snack yang dipegang bungkusannya di tangannya.
"Kakak mau?" Ditawarkannya snack itu kepadaku dan kuambil sebagian.
"Gimana hari ini, Din?" Tanyaku.
"Seru, Kak. Teman-temanku lucu semua." Andine menjawab dengan tertawa. Sepertinya hatinya sedang senang saat itu.
Kami bertiga meninggalkan gedung sekolah menuju tempat parkir mobil. Sesaat aku masih memandang gedung sekolahku yang sudah memberiku pengalaman menakjubkan di hari pertamaku sekolah.
"Ayo, Adam. Naik. Kenapa bengong?" Terdengar pamanku memanggil.
"Oh, iya, Om." Ujarku sambil membuka pintu mobil bagian belakang. Adikku duduk di depan, di samping pamanku.
Kuletakkan tas sekolahku di jok samping yang kosong itu. Pikiranku menerawang ke arah pembicaraanku dengan Peggy tadi.
'Baru kali ini aku ketemu orang seperti dia. Bisa membaca pikiran orang dan melihat gaib dengan kekuatan bathin.' Kataku pada diriku sendiri. 'Luar biasa! Umurnya masih seumuran denganku tapi kemampuannya hebat sekali.'
"Itu karena dia adalah keturunan dari paranormal." Terdengar sebuah suara di sampingku. Aku menengok.
'Bolu.' Panggilku pada sosok yang hadir mendadak itu. 'Kamu bukannya tinggal di sekolah? Kok bisa ikut aku?'
'Aku mau liat tempat tinggalmu. Bosan di sekolah terus. Emang gak boleh?' Dengan gaya khasnya, makhluk botak itu berceloteh.
'Boleh, boleh.' Kataku membathin.
'Selamat ya. Akhirnya kamu berhasil menyelamatkan Bu Dina.' Kata Bolu lagi.
'Yah, untunglah. Aku tadi sudah panik tak tahu harus bagaimana.' Kataku.
'Tak percuma Eyang minta aku menemanimu. Ternyata ini jawabannya.' Sambungnya.
'Maksudnya apa?' Tanyaku bingung.
'Intinya kamu dan Peggy harus bekerjasama mengungkap keanehan sekolah itu.' Lanjut Bolu penuh teka-teki.
'Kamu kenal Peggy?'
BLETAKK!!
"Aduhhh!!" Aku mengerang ketika sebuah ketukan mampir di kepalaku.
"Adam, kamu kenapa?" Pamanku yang mendengar teriakanku menengok ke belakang sesaat di sela-sela setirannya. Begitu pula dengan Andine yang menengok dan tertawa.
"Tidak apa-apa, Om. Cuma kepalaku tadi terbentur kaca mobil." Kataku sambil berbohong. Kupelototi Bolu yang duduk di sampingku itu, di atas tas ku dan tampak sedang cekikikan puas.
'Ketawa. Sakit nih!' Kuusap-usap kepalaku yang diketuk Bolu itu.
'Pertanyaan bodoh!' Kata Bolu sambil meneruskan ketawa cekikikannya. 'Jelas-jelas aku udah tinggal lama di sekolah itu dan Peggy juga sudah kelas 3 sekarang, mana mungkin aku tidak mengenalnya?'
'Iya juga ya? Tapi udah benjol nih.' Protesku dengan mata memelototi Bolu yang masih hanyut dalam tertawanya itu.
Perjalanan pulang ke rumah pamanku tak berlangsung lama karena jarak antara sekolah dengan rumah pamanku tidak seberapa jauh. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 3 sore lewat.
Bolu mengikutiku masih ke dalam rumah dan berkeliling sesuka hatinya. Menghilang begitu saja ketika aku membuka pintu mobil. Lama juga si botak itu menghilang. Dan baru muncul kembali ketika aku sedang mandi.
"Aahhhh!!!" Aku berteriak saat melihat kehadiran Bolu yang mendadak itu. "Apa-apaan nih?"
Spontan kedua tanganku yang tadinya sedang memegang gayung menceduk air, kupakai untuk menutupi daerah kelaminku. Dengan membalikkan badan menghadap tembok, aku setengah menengok dan berkata.
"Bolu! Jangan muncul mendadak gitu bisa gak sih?" Kataku ketus. "Aku kan lagi mandi."
"Aku tau kok kamu lagi mandi." Bolu melipat kedua tangannya. "Yang bilang kamu lagi makan siapa?"
"Tapi kan kurang ajar. Aku lagi bugil nih. Sana keluar!"
"Hahahaha... Malas ahhh..." Dengan seenaknya Bolu malah duduk di pinggir bak mandi dan satu kakinya dilipat ditumpangkan ke kaki lainnya.
"Keluar dong. Gimana aku mau mandi kalau kamu disana?" Protesku lagi. Badanku masih menghadap tembok dan belum berbalik.
"Gak usah gitu deh. Gak usah disembunyikan juga aku udah liat sampai puas..." Celetuk Bolu seenaknya. Lalu dia tertawa.
"Heh!" Aku semakin panik saat mengetahui hal itu. Apa yang dikatakannya benar juga. Makhluk gaib seperti itu bisa dengan leluasa melihat kita tanpa kita sadari sama sekali.
"Udah balik aja, terusin mandinya, sama cowok aja malu-malu luh..." Celetuk Bolu lagi sambil terus tertawa. "Mau berdiri sampai kapan kayak begitu?"
"Aaaahhh...." Aku hanya bisa menjerit kesal tanpa dapat berbuat banyak menghadapi keusilan Bolu..
BERSAMBUNG
BAGIAN 23
Keesokan harinya, sekolah berlangsung seperti biasa. Saat aku baru masuk ke dalam kelas, sebuah kabar baik berhembus dari ruang guru yang mengatakan Bu Dina sudah sadar dari koma. Aku menghela nafas lega saat mendengarnya.
"Syukurlah." Kataku. "Tapi Marini gimana ya keadaannya?"
"Marini menghilang sementara akibat guyuran air kencingmu itu." Terdengar sebuah jawaban. Siapa lagi kalau bukan Bolu yang dengan kebiasannya muncul mendadak itu.
Setelah puas mengerjaiku dengan keusilannya kemarin sore hingga malam, Bolu menghilang menjelang aku tidur. Dan baru pagi ini muncul kembali di sekolah.
"Kenapa? Kok menghilang?" Tanyaku.
"Ilmunya hilang. Tapi hanya sementara. Hanya beberapa hari saja."
"Ohh... Baguslah... Berarti bisa tenang sedikit..." Ujarku sambil menaruh tasku.
"Jangan dulu bilang begitu!" Kata Bolu. "Eyang pesan, sebelum Marini muncul kembali, kamu harus melakukan satu misi."
"Misi?" Aku mengernyitkan kening. "Misi apa?"
"Marini itu kuntilanak haus darah. Mumpung dia lagi lumpuh karena ilmunya hilang, kamu harus bertindak cepat."
"Apa yang harus kulakukan?" Tanyaku. "Dan kenapa pula harus aku?"
"Karena kamu berhasil melewati ujian pertama kemarin."
"Ujian pertama? Kemarin?" Aku jadi semakin bingung.
"Ya." Bolu memonyongkan bibirnya. "Kamu berhasil mengubah takdir gurumu. Sebenarnya dia sudah ditakdirkan mati. Mati penasaran, korban yang kesekian. Namun karena campur tanganmu, jadi takdir itu berubah. Gurumu selamat, terhindar dari kematian."
"Jadi kesimpulannya, kamu insan terpilih untuk menjalankan misi ini."
Aku mendengarkan semua itu dengan terbengong-bengong.
"Nanti pas jam istirahat pertama, kita ketemu lagi. Di lorong kemarin itu. Usahakan Peggy ikut. Karena dia juga diminta datang oleh Eyang."
"Peggy? Bagaimana aku kasih tahu dia misi ini, sedangkan aku saja masih bingung harus berbuat apa?"
"Aku disini kok, Adam." Terdengar sebuah suara yang mendekat dari pintu ruang kelas. Itu Peggy.
"Oh, lagi ada Bolu ya?" Sambungnya dengan mata seperti menatap kosong.
'Gila. Kekuatan yang luar biasa. Padahal umurnya baru 15 tahun!' Bathinku.
Peggy meletakkan tasnya di bangkunya yang terletak di belakangku. Terlihat dia mengangguk sesaat. "Aku mengerti."
"Mengerti apa?" Tanyaku bengong.
"Bolu barusan bilang padaku kita harus bergerak cepat sebelum Marini pulih lagi." Kata Peggy.
"Apa yang musti kita lakukan?"
"Kita lumpuhkan Marini dulu, setelah itu baru yang lainnya." Lanjutnya.
Aku menatap Bolu. "Yang lainnya maksudnya?"
"Ingat gak Peggy kemarin bilang apa tentang sekolah ini?" Bolu bertanya balik.
Aku mencoba mengingat-ingat. "Tempat pembantaian?"
"Ya," Sahut Peggy.
"Itu yang selanjutnya." Imbuh Bolu lagi.
"Dengan kata lain, kalian berdua diminta Eyang melakukan tugas untuk menenangkan sekolah ini dari arwah-arwah penasaran yang dibunuh massal sebelum sekolah ini dibangun..." Kata Bolu.
"Dan salah satu dari mereka yang mati penasaran adalah..." Peggy melanjutkan tapi terhenti sesaat.
"Marini?" Tanyaku.
Bolu dan Peggy mengangguk bersamaan.
"Astaga!" Aku terhenyak dan menatap keduanya dengan pandangan tak percaya.
BERSAMBUNG
BAGIAN 24
"Tapi, kenapa aku? Maksudku kenapa kami?" Aku menunjuk Peggy.
"Kalau hanya sendiri, takkan sanggup." Jawab Bolu. "Dalam satu tim. Ada otak, tentu ada otot. Peggy hebat dalam membaca pikiran dan melihat alam gaib secara bathin, tapi untuk bertindak, dia tidak memiliki kelebihan itu. Sedangkan kamu, kelebihanmu dalam menolong gurumu sudah membuktikan semuanya. Yang kamu butuhkan hanyalah panduan. Jadi gabungan kalian berdua akan menjadi kekuatan yang hebat."
Aku ingin menjawab penjelasan Bolu, namun bel pelajaran keburu menghentikan niatku itu. Akhirnya aku pun duduk di bangku dan menunggu guru masuk ke kelas untuk memulai pelajaran hari itu.
"Sampai ketemu lagi nanti waktu istirahat..." Setelah berkata begitu, Bolu pun menghilang dari pandanganku. Selarik asap kecil mengepul mengikuti raibnya makhluk berkepala botak itu.
Sepanjang pelajaran berlangsung - walaupun belum bisa dikatakan belajar serius karena baru hari kedua bersekolah setelah libur panjang - pikiranku tak bisa berkonsentrasi. Perkataan Bolu dan Peggy terus menghantui kepalaku.
Untunglah bel istirahat yang kutunggu berbunyi setelah aku mulai gelisah. Entah apa yang akan disampaikan Eyang di lorong itu hingga memintaku dan Peggy bertemu dirinya dan Bolu disana.
Aku menatap Peggy yang sudah berdiri itu. Matanya melirik sesaat.
"Gimana? Udah siap?" Tanyanya.
Aku mengangguk. Hatiku masih diliputi keraguan dan tanda tanya besar ketika aku melangkah keluar kelas bersama Peggy.
"Ada apa kita diminta ke lorong itu?" Aku bertanya bingung. "Bukannya jam segini sedang ramai-ramainya?"
"Ada yang mau disampaikan padamu disana." Ujar Peggy. Kami berdua berjalan menuruni tangga.
"Siapa?"
"Kau akan tau nantinya."
Dengan hati penuh tanda tanya, aku pun mengikuti 'undangan' untuk ke lorong itu. Ketika kami tiba disana, benar saja, lorong itu sangat ramai oleh anak-anak lain yang berlalu-lalang melewati tempat itu.
"Ramai begini, mana mungkin bisa?" Gumamku.
"Bisa." Peggy tersenyum. "Tunggu sebentar lagi."
Aku dan Peggy berdiri tepat dimana kami berdua berdiri sehari sebelumnya. Banyak yang melewati tempat kami berdiri itu. Namun tak cukup banyak yang memperhatikan kami.
Benar saja! Tak lama kemudian segumpal asap muncul di depan mataku dan sebentuk bulat dan botak mulai tampak, lalu wajahnya, badannya dan terakhir kakinya. Bolu!
"Datang juga!" Kata anak itu tertawa terkekeh. "Yuk, kita duduk di bawah pohon itu!"
Bolu menunjuk ke pohon tempat perempuan kecil itu duduk kemarin. Namun sekarang nak itu tidak ada disana.
Aku dan Peggy mengikuti perintah Bolu berjalan ke pohon itu.
"Duduk!" Kata Bolu lagi. "Kencangkan ikat pinggang! Pesawat akan berangkat! Siap ya?"
"Kita mau kemana?" Tanyaku masih bingung. Peggy duduk di samping kiriku saat itu. Tidak sepertiku, temanku itu bisa duduk tenang dan menunggu kejadian selanjutnya. Sepertinya dia sudah mengetahui apa yang akan terjadi nanti.
Bolu masih tertawa terkekeh. "Kita akan menonton film. Siap-siap ya. Banyak kengerian yang akan kau saksikan nanti!"
"Ingat! Apapun yang akan kau lihat nanti, kau hanya bisa melihatnya seperti film! Tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Tidak seperti gurumu! Kau mau teriak sekalipun, suaramu takkan terdengar oleh mereka!"
Diangkatnya tangannya, dikeluarkannya jari telunjuknya dan jari tengahnya. Mulutnya berkomat-kamit seperti membaca mantra. Tahu-tahu...
"Puihh!!" Bolu meludahi kedua jarinya itu. Dengannya dia mengusap keningku tepat di tengah kedua mataku.
"Sekarang, tutup matamu!" Kata Bolu lagi.
Aku menutup mataku.
"Perjalanan dimulai! Jangan membuka mata sebelum kusuruh!" Terdengar suara Bolu mengiang di dekat telingaku.
BERSAMBUNG
BAGIAN 25
Saat aku menutup mataku, aku merasa seperti dibawa terbang. Sekelilingku gelap gulita. Bahkan tangan di depan mataku tak bisa kulihat.
"Aku dimana?" Gumamku.
"Tenang, Adam. Ada aku disini." Terdengar suara seorang perempuan di sampingku. Peggy! Setidaknya suaranya membuatku merasa lebih tenang sedikit.
Mendadak pandanganku menjadi terang, semuanya mulai terlihat. Namun yang terlihat itu seperti film yang dimainkan di layar bioskop, besar dan jelas namun tak bisa dipegang.
Di sekelilingku, tampak suatu tempat yang sangat asing bagiku. Aku berada di sebuah tempat yang menyerupai sebuah lapangan besar, namun tidak persis seperti lapangan. Sebuah jalan, namun tidak persis seperti jalan. Sekelilingku tampak tertutup tembok tinggi. Tempat itu menyerupai sebuah benteng.
"Berhenti!!!" Mendadak sebuah teriakan membuat perhatianku teralih. Di depan mataku tampak seorang lelaki berbadan kurus sedang berlari dengan wajah ketakutan.
"Aku tidak mencuri! Itu fitnah!" Terdengar lelaki berbadan kurus itu berteriak. Kulit badannya hitam.
Saat aku melihat ke belakangnya, tampak tiga orang bertampang galak dengan pakaian kuning seperti serdadu Jepang mengejarnya. Ketikanya berlari mengejar lelaki berbadan hitam itu.
"DORR!!" Tahu-tahu terdengar suara tembakan yang entah dari mana asalnya. Saat kusadari, lelaki berbadan kurus dan berkulit hitam itu roboh ke tanah dengan baju bersimbah darah.
Melihat lelaki itu terjatuh, salah satu serdadu Jepang itu membalikkan badannya yang tertelungkup itu, bukan dengan tangan, tapi kaki.
"Pencuri!" Terdengar suara serdadu Jepang itu berkata. Baru kusadari saat itu kalau logat mereka masih kental dengan logat Jepang.
"Ampun! Aku... Aku tidak mencuri!" Lelaki berbadan kurus itu mengangkat tangannya melindungi wajahnya yang ditodong senapan mesin tepat di depan matanya. Rupanya suara tembakan itu berasal dari senapan yang dipegang oleh serdadu itu.
"Alasan!!" Serdadu yang berdiri di sebelah kanan mencabut pedang yang dibawanya. Lengannya bergerak.
CRAASSS!!!
"AAAAAHHHHHHH!!!!" Lelaki kurus itu meraung saat lengan kanannya mendadak terpotong sebatas siku setelah ditebas pedang serdadu Jepang. Darah segar muncrat seketika dan lengan sebatas siku itu jatuh ke tanah!
"AAAAAAAHHHHHH!!!" Lelaki kurus meraung dengan lengan kiri memegang lengan kanannya yang telah buntung dan masih menyemburkan darah segar itu. Tubuhnya terguling-guling menahan sakit. Wajahnya tampak panik dan bingung.
Setelah beberapa saat berguling-guling di tanah, tangan kirinya yang memegang lengan kanannya itu juga telah basah oleh darah yang masih menyembur seperti air mancur itu.
"Tanganku.... Aahhhhh.... Ta... Tanganku..." Matanya terbelalak melihat tangannya yang terpotong itu. Dengan lengan kirinya, diambilnya lengan kanan bagian bawah itu. Seperti putus asa, lelaki itu mencoba memasangkan lengan bawahnya ke lengan atasnya. Darah yang menyembur bagai air mancur itu telah membasahi lengan buntung yang hendak dipasangnya itu. Namun lengan buntung itu terjatuh lagi.
"Tanganku... Aku... tidak mencuri... Kenapa tanganku dipotong...?" Matanya menatap tak percaya ke arah serdadu yang menyarungkan pedangnya kembali itu.
Diambilnya kembali lengannya yang telah putus itu. Mulutnya terus menerus mengerang menahan sakit yang dirasakannya itu. Kesakitan itu membuatnya tidak menyadari kalau kening kirinya telah ditempel oleh mulut senapan!
DORR!!
Sebuah tembakan dari laras senapan itu menyemburkan darah segar yang lagi-lagi menyembur muncrat, kali ini dari kepalanya. Seketika lelaki itupun terkulai lemas untuk selama-lamanya. Kedua matanya mendelik tak mau menutup! Tangan kirinya memegang lengan kanannya yang putus dipotong itu!
Aku berdesis melihat kengerian itu. Tak kuat memandangnya, aku memalingkan wajahku. Tapi di sampingku, sebuah kejadian lain telah menunggu.
Terlihat olehku beberapa lelaki yang berpakaian seragam kuning yang sama seperti tiga lelaki yang kulihat sebelumnya itu, tampak sedang tertawa-tawa. Mereka semua berdiri membentuk lingkaran dan semuanya memandang ke bawah.
"Tidaaakkk!! Jangannnnn!!" Terdengar teriakan seorang gadis. Terlihat sepasang kaki sedang meronta-ronta. Sepasang kaki yang dipegang oleh dua orang tentara Jepang yang sedang berjongkok.
Saat aku menyadari lebih jauh, kedua tangan wanita itu juga sedang dipegang oleh dia lelaki yang sedang berjongkok. Sementara seorang lelaki masih berdiri tertawa-tawa dan mulai menindihnya.
"Tidaaaakkkkkk!!!" Terdengar jeritan wanita itu lagi. Dia meronta-ronta. Namun tenaganya kalah dengan tenaga empat lelaki yang memegang tangan dan kakinya itu.
Secara bergiliran kelima serdadu itu melampiaskan nafsu binatangnya. Dan setelah beberapa saat, kelima tentara itu tampak puas, sementara wanita yang telah mereka gilir itu terkulai lemas dan menangis.
"Bunuh aku... bunuh..." Terdengar wanita itu mendesis. "Binatang! Bunuuuhhhh akuuuu!!"
"Hahahaha... Kau kira semudah itu kau ingin mati?" Terdengar seorang dari lima serdadu Jepang itu berkata. Logat Jepangnya terdengar sangat kental. "Bawa dia masuk!!"
Dengan menjambak rambut wanita yang terkulai itu, salah seorang dari mereka menyeret wanita itu mengikuti teman-temannya yang telah berjalan terlebih dulu.
"Kejam!" Kataku melihat kejadian itu.
Wanita yang diseret itu berusaha untuk bangun, walaupun dengan tertatih-tatih dan mencoba berdiri dengan posisi terlentang dan rambut dijambak.
"Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!" Teriak wanita itu.
Serdadu yang menyeretnya berhenti berjalan. Dia menatap teman-temannya seperti meminta jawaban.
"Biarkan dia jalan!" Kata temannya.
Akhirnya jambakan di rambut wanita itu terlepas. Namun kedua tangannya diborgol untuk menghindari hal tak diinginkan.
Berjalan tak beberapa lama kemudian, wanita itu mendadak bergerak dengan tiba-tiba membuat semua serdadu yang telah menggilirnya itu terkejut dan membalikkan badan.
Walaupun dengan tangan terborgol, wanita itu berhasil merebut pisau yang tergantung di ban pinggang salah seorang serdadu Jepang itu. Dengannya, wanita itu menusukkan pisau tersebut ke jantungnya.
SLEEBB!!
"Ahhh!!" Wanita itu mengeluh pelan. Darah muncrat dari badannya yang tertusuk pisau itu. Badannya mulai lemas dan terjatuh dari berdirinya.
Kelima serdadu Jepang itu kaget, tak menyangka wanita itu akan berbuat seperti itu. Namun sebelum sempat mereka bereaksi, wanita itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan badan bersimbah darah, tubuh terkulai lemas dan kedua matanya terbelalak!
BERSAMBUNG
Langganan:
Postingan (Atom)





