Asiong, Sepenggal Kisah Si Anak Rantau
"Segelas arak ini lambang persahabatan. Kehilanganmu berarti kehilangan secangkir arak. Ingatlah selalu persahabatan kita setiap saat kau meneguk arak ini. Karena persahabatan kita akan semakin hangat dengan secangkir arak. Walaupun arak ini akan dingin, namun ketika masuk ke dalam tubuh, arak ini menjadi hangat. Walaupun kita berjauhan, selama arak masih bisa menghangatkan badan, selama itulah persahabatan kita akan terjalin." ~ Kim Siong
BAGIAN 1
Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pukul 05:45 WIB.
"Tahan, tahan, jangan turun dulu. Tunggu kapal menepi." Terdengar suara teriakan lantang seorang lelaki dari atas sebuah kapal di pagi yang sebenarnya sudah sibuk dan ramai di pelabuhan itu.
Di hari yang masih pagi itu, aktivitas di pelabuhan seakan tak pernah tidur. Selalu sibuk dengan hiruk pikuk yang menandai dimulainya kesibukan dan rutinitas.
Lelaki yang berteriak tadi melempar jangkar tambang kepada seorang anak muda di atas dermaga yang segera mengikatnya di sebuah tiang berukuran besar, sambil menarik kapal agar lebih mendekat lagi.
Para penumpang sendiri sudah berdiri dan ingin turun secepatnya dari perahu. Di antara para penumpang yang sibuk dengan urusannya sendiri, tampak seorang pemuda bertubuh sekitar 170an cm tinggi dan berbadan tegap, dengan wajah khas oriental yang masih totok, berambut gondrong seleher dan beranting satu di telinga kirinya, menggigit sebatang korek api di giginya. Sebuah kalung model rantai yang cukup besar menghiasi lehernya di atas baju kaos berwarna kuning yang membalut di badannya.
"Kenapa pada tak sabaran ya orang-orang ini?" Pemuda tersebut memandangi para penumpang yang bergegas turun dengan pandangan cuek. Tas ransel yang digenggamnya disampirkannya di pundaknya.
Dari sebelah kanannya, seseorang tanpa sengaja menyenggol pundak pemuda itu. Untung saja si penabrak itu menyadarinya dan sambil membalikkan wajahnya, lelaki muda yang berjalan bergegas itu meminta maaf kepada pemuda itu.
"Maaf, Ko," Lelaki muda itu menyunggingkan senyum dengan malas-malasan. "Saya buru-buru."
Pemuda gondrong beranting satu itu menggertakkan giginya diminta maaf seperti itu. Ditatapnya lelaki muda yang menabrak lengannya itu. "Buru-buru mau kemana? Bukannya kapal baru merapat?"
Ditanya dengan suara yang tenang namun terkesan mendalam, lelaki muda itu selain merasa bersalah, juga merasakan bulu kuduknya berdiri sesaat. Dilihatnya lengan pemuda berambut gondrong itu cukup kekar karena otot bisepnya yang mengeras saat menyampirkan tas ransel ke balik punggungnya. Sebuah rantai gelang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"I...iya...sudah dijemput saudara...per...permisi..." Lelaki muda itu mengeluarkan keringat dingin saat berkata dengan suara gugup. Setiap gerakan tubuhnya diikuti dengan tatapan mata pemuda beranting satu itu.
Mungkin dengan mengumpulkan keberanian, lelaki muda itu buru-buru bergegas meninggalkan si pemuda beranting satu yang masih mengekor kepergiannya dengan tatapan matanya.
"Dijemput? Kenapa kalau dijemput itu justru buru-buru?" Si anting satu geleng-geleng kepala. Dia beranjak mengikuti yang lainnya meninggalkan perahu.
Ketika kakinya menginjak jembatan di dermaga, pemuda itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Jakarta. Aku datang lagi. Sambutan apa lagi yang akan kau berikan padaku kali ini?"
Memang itu adalah kali kedua pemuda itu menginjakkan kakinya ke Jakarta. Ketika setahun yang lalu pemuda itu tiba di Jakarta, itu ketika dia masih lugu dan banyak mendapatkan pengalaman pahit. Dimulai dari dicopet di dermaga, kebut-kebutan motor dengan geng pembalap, sampai difitnah seorang temannya hingga terjadi perkelahian massal antar geng. Hal itulah yang membuatnya dipulangkan saudaranya yang telah lama bermukim di Jakarta dan setelah keadaan tenang, barulah dia diperkenankan datang kembali ke Jakarta.
Pagi itu bulan Mei, tiga bulan sudah ketika dia pulang kembali ke Pontianak, kota kelahirannya dan kampung halamannya di bulan Februari untuk menyambut Tahun Baru Imlek. Kim Siong, nama pemuda itu, kembali menginjakkan kakinya ke Jakarta, mencari pengalaman hidup dan sesuap nasi, bergabung dengan saudara-saudaranya yang telah lebih dulu mengecap pengalaman di Jakarta.
Kim Siong, 24 tahun, pemuda yang terkenal sangat setia kawan. Di kampungnya, Pontianak, Asiong, begitu biasa dia dipanggil, memiliki banyak teman seperjuangan. Bila ada satu teman yang mendapat masalah atau kesulitan, maka teman-teman yang lainnya akan datang memberikan bantuan. Bila tak bisa berupa materi, maka nasehat ataupun dukungan pun akan diberikan.
Selama ini, Asiong termasuk salah satu dari mereka yang paling membela teman. Sikap kesetiakawannya sudah terkenal di kalangan anak muda. Banyak anak muda yang mengagumi, bahkan tak jarang bergabung dengan kelompoknya. Tak jarang banyak pula gadis-gadis yang tertarik kepada keberanian dan kesetiakawanan Asiong itu.
Suatu ketika di saat Asiong membantu seorang temannya yang terlibat masalah karena ketidakadilan pihak polisi yang ingin menilangnya, Asiong sampai berurusan dengan pihak kepolisian setempat. Setelah masalah berhasil diselesaikannya, Asiong bukan saja telah menolong temannya, tapi beberapa polisi 'bersih' bahkan mendukung perbuatannya. Dari sanalah Asiong mulai mendapat bekingan.
Lahir di sebuah keluarga dengan 5 saudara, Asiong adalah putra tertua di keluarganya. Anak ketiga dari lima bersaudara, dimana dua kakaknya adalah perempuan. Menjadi seorang kakak dari 2 adik laki-laki membuat Asiong menjadi seorang yang tangguh.
Tak jarang, dia harus mengajari kedua adiknya ilmu bela diri yang pernah didapatnya dari pengalamannya sebagai anak geng hanya supaya sang adik tidak dipermainkan oleh teman-teman sekolahnya.
Bahkan Asiong tak segan-segan menyebrang ke perbatasan wilayah hanya untuk mencari seseorang yang dianggapnya menjadi biang keladi permasalahan.
Dengan semua sepak terjangnya itu, Asiong bukan saja dikenal, namun juga menjadi sosok yang disegani di Pontianak, khususnya di daerah Siantan.
Ketika Asiong akan bertolak ke Jakarta, semua teman seperjuangannya merasa kehilangan sosok yang sangat mereka dukung itu. Namun, Asiong bersikap teguh untuk mengadu nasib di Jakarta. Termasuk ketika Asiong harus kembali lagi ke Jakarta untuk kedua kalinya. Semua teman-temannya merasa keberatan akan kepergiannya.
Permasalahan sepertinya tak pernah meninggalkan pemuda itu. Kemanapun dia pergi, hampir setiap saat masalah selalu mengikutinya. Semestinya di pelabuhan di hari sepagi itu tidaklah ada kejadian. Namun sepertinya nasib berkata lain.
Ketika Asiong melangkah sambil menyalakan sebatang rokok yang tersisa di kantongnya, seorang wanita muda yang menggandeng anak perempuannya tampak berjalan di depannya. Tas bawaan mereka sepertinya cukup berat karena keduanya mengeluarkan tenaga ekstra untuk membawanya. Ketika melihat hal itu, timbul niat Asiong untuk membantu membawakan tas mereka.
Baru saja Asiong mempercepat jalannya dengan maksud mendekati mereka agar bisa menawarkan bantuan, dari arah belakang dirasakannya selarik angin berhembus cukup kencang dan semua yang terjadi setelah itu sangat cepat.
"Tasku. Kemana tasku?" Terdengar teriakan wanita muda di depan Asiong. Langkahnya terhenti. Wajahnya panik menengok ke arah tas gandengnya yang hilang itu. Secepat kilat, wanita itu menyadari apa yang terjadi dan berteriak, "Copet! Tasku dicopet!!"
"Hahh!!" Asiong yang berada paling dekat dengan wanita itu terperanjat. Sebagian orang di dermaga juga terperanjat mendengar teriakan wanita itu. Segera Asiong memandang ke arah tas yang dicopet itu. Angin yang menerpanya dari belakang itu ternyata adalah angin yang ditimbulkan oleh si pencopet yang berlari kencang mendahuluinya dan merebut tas gandeng wanita muda itu lalu kabur.
"Toloooong! Copeeett!!" Teriak wanita muda itu lagi, panik kehilangan tas gandengnya yang baru saja dicopet.
BERSAMBUNG
BAGIAN 2
Asiong bertindak cepat. Melihat tak ada yang bereaksi atas teriakan wanita muda itu, Asiong menurunkan tas bawaannya yang ditenteng di pundaknya. Dia meletakkan tas itu di atas dermaga. Rokok yang baru dihisapnya dibuangnya tanpa berpikir panjang lagi. Dengan ancang-ancang, Asiong mulai berlari mengejar copet itu.
Dari berbagai arah, beberapa orang juga telah bersiap-siap mengejar si pencopet. Mengetahui dirinya dikejar, si pencopet mempercepat larinya. Langkahnya larinya diperlebar. Sementara pengejar lainnya, beberapa pemuda di dermaga, berlari sambil berteriak copet agar orang di sekitar bisa tergerak hatinya membantu.
Asiong mengerahkan tenaganya, dia berlari lebih cepat dari kebanyakan orang di dermaga itu. Si pencopet terus berlari namun Asiong sendiri tak kalah cepatnya. Dilihatnya si pencopet telah naik ke atas jalanan.
'Gawat! Sudah naik jalanan susah dikejar! Licin juga dia!' Asiong berkata dalam harinya. Dipercepat larinya mengejarnya.
Asiong terus berlari dan mengejar. Tak dipedulikannya keadaan disana yang mulai memanas dan pengejar-pengejar lainnya yang tertinggal di belakang. Dalam waktu kurang dari semenit, jarak Asiong dengan si pencopet berjarak sekitar 60 meter. Tanpa pikir panjang lagi, Asiong mengambil inisiatif melompat!
Si pencopet tersentak ketika merasakan pundaknya terpegang dan tak lama kemudian dirinya terjatuh terguling. Seseorang tampak berada di atasnya, menindihnya.
Belum sempat menyadari apa yang sedang terjadi, si pencopet merasakan badannya seperti dibalikkan oleh orang yang menindihnya itu. Kini punggungnya telah rata dengan jalan. Mendadak, secepat kilat...
BUKKK!!!
Sebuah pukulan keras menghantam wajahnya. Karena tak sempat bereaksi, pukulan telak itu membuat kepalanya pusing. Di saat mulai pusing itu, kembali...
BUUAAKKKKHHH!!!
Kali ini pukulan tersebut mampir tepat di hidungnya. Pukulan keras itu membuat kepalanya terhantam jalanan di bawahnya. Dirasakannya sesuatu seperti mengalir keluar dari hidungnya yang terpukul itu, sementara kepalanya semakin pusing.
Belum sadar apa yang sedang terjadi itu, si pencopet merasakan kerah bajunya seperti ditarik. Kepalanya yang pusing itu ikut tertarik dan membuatnya mengerang. Untung saja tak ada lagi pukulan yang bersarang di wajahnya saat itu. Dua pukulan telak, namun cukup untuk membuatnya pusing dan terkapar.
"Dasar pencopet!" Terdengar makian sosok laki-laki yang duduk di atas perutnya itu. "Pagi-pagi bisanya bikin keributan!" Dilihatnya sosok itu mengangkat tangan kanannya yang masih mengepal dan hendak diarahkan ke wajahnya kembali.
"Ampun...ampun... Jangan pukul lagi... Ampun..." Pencopet itu mengangkat kedua tangannya melindungi wajahnya. Dirasakannya ketakutan mulai menerpanya. Saat dia menyadari sosok yang menduduki badannya itu bertubuh tegap dan tangannya yang terangkat itu sangat berotot, saat itu juga ketakutan semakin melandanya.
Seketika banyak orang yang berkumpul dan mengerumuni mereka berdua. Semuanya ramai berkomentar.
"Hajar lagi aja! Ngapain dikasih ampun!"
"Topo lagi, Topo lagi!"
"Kena lu kali ini, Po. Sukurin!!"
Bermacam-macam komentar mengisi kerumunan tempat itu. Sementara kedua wanita yang menjadi korban pencopetan tergopoh-gopoh bergabung dengan mereka disana.
"Copetnya sudah ketangkap, Bu!" Terdengar teriakan lagi.
Kerumunan itu sesaat tersibak dan kedua perempuan itu muncul sambil berlari-lari. Mereka memberi jalan kepada keduanya untuk bergabung disana. Di belakang mereka tampak dua orang berpakaian seperti seragam keamanan mengikuti.
"Tasku!" Wanita itu berjongkok dan mengambil tas yang teronggok di jalan akibat si pencopet kaget disergap oleh Asiong. Diperiksanya isi tasnya itu.
Sementara Asiong merasa keadaan sudah aman, dia pun berdiri. Namun, tangannya menarik si pencopet agar ikut berdiri juga. Dengan lunglai si pencopet mau tak mau ikut berdiri ditariknya seperti itu.
Kedua petugas mendekat. Asiong menyerahkan si pencopet kepada mereka.
"Bapak ikut dengan kami ke kantor." Ujar salah seorang dari mereka kepada Asiong.
Sementara bersamaan dengan itu, kerumunan mulai menyingkir, Asiong dan kedua wanita itu berjalan ke kantor keamanan pelabuhan. Si pencopet dibawa oleh kedua pengaman pelabuhan itu.
Selang lima belas menit kemudian...
"Terima kasih atas pertolongannya, Ko." Wanita muda itu berkata kepada Asiong ketika pemuda itu berdiri sambil menepuk celananya yang kotor terkena debu saat bergumul dengan si pencopet itu. Si pencopet sendiri sudah diamankan ke kantor polisi terdekat.
Asiong mengangkat wajahnya yang tertunduk itu. "Tidak perlu, Bu. Itu bukan masalah besar untukku."
"Maaf, ini tasnya." Kata wanita yang lebih muda itu menyerahkan tas ransel Asiong. Rupanya saat Asiong meletakkan tasnya begitu saja dan mengejar si pencopet, keduanya segera mengambil untuk mengamankannya. Dan tas itu dibawa serta ke kantor keamanan pelabuhan oleh kedua wanita itu.
"Terima kasih." Asiong tersenyum melihat gadis itu. Dengan potongan rambut sepundak lebih, hitam dan halus. Sebuah senyum menghias di bibirnya saat gadis itu menyerahkan tas itu kepada Asiong. "Cantik juga."
"Ini, Nak, sedikit balas budi kami." Kata wanita muda di sebelahnya membuat pandangan Asiong berpindah. Di tangan wanita itu tergenggam dua lembar uang lima puluh ribuan.
"Apa-apaan ini?" Asiong membentak. "Aku menolong dengan ikhlas, tidak mengharap begituan." Disampirkannya tas ranselnya di pundaknya.
"Simpan saja uang itu! Hati-hati! Jangan sampai dicopet lagi!" Kata Asiong kepada wanita itu. "Permisi!" Dibalikkannya badannya dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tunggu!" Terdengar wanita muda itu memanggil. Asiong menghentikan langkahnya dan membalikkan setengah badannya.
"Ya?" Dengan ujung matanya, Asiong melirik wanita itu.
"Siapa namamu?" Tanya wanita itu lagi.
"Asiong. Panggil aku Asiong!" Jawab Asiong sambil tersenyum. Dibalikkannya kembali badannya dan diteruskannya langkahnya.
"Te... Terima kasih, Ko Asiong..." Terdengar kedua wanita itu berkata bersamaan di belakangnya.
Asiong mengangkat tangan kirinya dan melambai, pertanda tak ada menjadi masalah baginya. Kakinya terus melangkah meninggalkan dermaga itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 3
Asiong tinggal bersama dengan tiga dari empat saudara kandungnya di Jakarta. Kedua kakak perempuannya dan juga seorang adiknya. Kedua kakak perempuannya belum menikah, dan satu di antara mereka telah memiliki calon. Sementara adik lelakinya bekerja sebagai salesman di sebuah perusahaan distributor aksesoris kendaraan bermotor.
Bersatu padu keempat bersaudara itu mengontrak sebuah rumah sederhana bertingkat dua yang mereka tempati bersama. Sementara di Pontianak masih menetap kedua orang tuanya dan adik bungsunya, yang telah duduk di bangku kelas 3 SMA. Bersama dengan kedua kakak perempuannya, Asiong bekerja di konveksi milik bersama itu.
Di malam minggu ketika pekerjaan tidak banyak, Asiong terkadang keluar bersama dengan saudara-saudara sepupunya yang berasal dari papanya. Menonton film di bioskop, makan malam bersama, bowling ataupun aktivitas hang-out lainnya di malam minggu, serta jalan-jalan ke mall, berenang ataupun fitness di hari minggunya.
Asiong termasuk pemuda yang menyukai olahraga fisik seperti berenang, fitness dan sepakbola. Khususnya fitness, Asiong membuatkan dirinya sebuah barbel dari semen yang bisa dipakainya untuk membentuk badannya menjadi lebih kekar.
Sebulan kemudian...
Pertengahan bulan Juni, menjelang hari ulang tahun Jakarta, selalu terdapat satu festival tahunan yang diselenggarakan selama kurang lebih sebulan. Biasanya di antara bulan Juni dan berakhir di pertengahan Juli. Selain untuk menyambut liburan sekolah, festival tahunan itu juga menjadi ajang promosi bagi perusahaan-perusahaan dan sekaligus menjadi tempat mengisi waktu liburan bagi para gadis yang ingin mencari kerja sebagai Sales Promotion Girl. Festival tahunan itu dikenal dengan nama Pekan Raya Jakarta atau PRJ.
"Siong, kerja terus nih, kapan istirahatnya?" Seorang sepupunya yang kebetulan bermain di rumah kontrakan Asiong menepuk pundak pemuda itu. Asiong sedang melipat baju buatan konveksi mereka untuk dimasukkan ke dalam kantong.
"Tanggung nih, Bun. Nanti sore mau dikirim dan yang packing gak ada." Jawab Asiong.
"Yah, gak bisa keluar dong nanti malam..." Sepupunya yang bernama A Bun alias Buntara membuka sebungkus rokok dan menawarkannya kepada Asiong. Umurnya tak berbeda jauh dengan Asiong, setahun lebih tua, namun wajahnya masih baby face karena penampilannya yang senantiasa ceria. Dengan tinggi badan hampir setara dengan Asiong, hanya saja badannya agak sedikit kurang berisi dibanding saudaranya. Rambutnya dibiarkannya terbelah tengah dengan sendirinya.
"Memangnya ada rencana mau kemana?" Tanya Asiong menerima sodoran rokok Abun dan menjepitnya di antara kedua bibirnya.
"Jakarta Fair," Jawab Abun sambil menyalakan rokoknya.
"Jakarta Fair?" Kedua tangan Asiong kembali sibuk melakukan packing setelah menyalakan rokoknya.
"Itu lho, PRJ..." Sahut Abun.
"Oohhh, itu..." Asiong menatap Abun. "Memangnya ada apa disana?"
"Wah, Asiong, Asiong..." Abun menepuk pundak sepupunya itu. "Belum pernah tau ya?"
"Kalau sudah tahu, untuk apa aku tanya lagi?" Asiong membuang debu rokoknya.
"Tahu kan yang namanya pameran?" Tanya Abun. Asiong mengangguk.
"Nah, seperti itu." Ujar Abun lagi.
"Yah, tidak seru dong." Kata Asiong.
"Eh, Cik Mei Hwa mana? Koko gak keliatan?" Mei Hwa itu kakak sulung Asiong. Umurnya 29 tahun dan telah bertunangan.
"Katanya sih tadi pergi ke Tanah Abang cari kain." Jawab Asiong.
"Terus Cik Chun Hwa?" Chun Hwa, adik perempuan Mei Hwa, kakak kedua Asiong. Chun Hwa berarti bunga musim semi. Umurnya 27 tahun.
"Berdua tuh perginya." Kata Asiong.
"Pantes sepi. Jadi cuma ada pegawai aja nih?" Abun mengambil baju yang telah jadi dan membantu Asiong packing.
Asiong mengangguk. "Terus yang pergi kesana siapa saja?"
"Kitalah satu geng." Kata Abun. Yang dimaksud Abun dengan satu geng itu adalah kelompok saudara sepupu dari papa-papa mereka, dengan Abun dan Asiong, kelompok mereka membentuk 7-8 orang.
"Tapi mau ngapain ke pameran? Bosan ah kalau cuma pameran saja." Kata Asiong lagi.
"Wah, jangan salah, Siong. Disana gak cuma ada pameran aja." Ujar Abun.
"Terus?"
"Satu hal yang pasti, gue tahu lu suka yang satu ini..." Abun tertawa. "Ceweknya cantik-cantik."
Asiong terhenti sejenak dan menatap Abun. "Ah, yang benar?"
"Iya lah. Gak cuma cantik, tapi juga seksi." Abun melanjutkan bujukannya.
"Tapi kalau bukan Chinese untuk apa?" Kata Asiong.
"Justru mereka itu Chinese." Abun tersenyum. "SPG cantik, seksi, Chinese lagi. Masa lu gak mau?"
"Ah, yang benar?"
"Ah, yang benar mulu..." Abun memonyongkan bibirnya. "Gue udah sering kesana, makanya gue tau. Cantik, seksi, rambut panjang, pokoknya selera lu banget dah..."
"Wah!! Tapi mereka jualan apa?"
"Macam-macam! Ada yang rokok," Abun memamerkan rokoknya yang sudah pendek terbakar itu. "Ada SPG mobil, motor, makanan, minuman, macam-macam deh. Dengan dandanan yang aduhai dan pakaian yang wow!! Dijamin lu pasti suka!!"
"Wah, sepertinya menarik tuh." Asiong mematikan rokok yang dihisapnya di bawah meja tempaynya packing.
"Bukan sepertinya lagi. Tapi kenyataannya." Abun tertawa. "Siapa tau kan lu bisa dapat ketemu cewek idaman disana."
"Hmmm..." Asiong memegang dagunya dan menatap Abun.
"Secara banyak lho yang dapet pacar disana." Sambung Abun mengompori Asiong lagi. "Gimana, tertarik?"
"Tapi kalau tidak membeli barang, tidak apa-apa kan?"
"Itu sih suka-suka lu mau beli atau gak." Jawab Abun. "Lu mau kesana cuma untuk kenalan juga boleh."
"Wah, kalau begitu, aku mau deh." Asiong tersenyum. "Jam berapa?"
"Jam enam sore dari sini."
"Kok, pagi amat?" Tanya Asiong.
"Itu sih udah gak pagi. Sabtu PRJ buka jam sebelasan, jadi kalau jam enam sore sih udah buka lama."
"Hmmm... Boleh. Yang pergi siapa saja?" Tanya Asiong lagi.
"Nih, gue kasih tau ya." Abun menyalakan sebatang rokok lagi sebelum melanjutkan perkataannya. Asiong mengangguk-angguk saat Abun memberi penjelasan itu.
"Gimana, ikut dong?" Tanya Abun lagi.
"Mau. Aku pasti ikut!" Kata Asiong dengan bersemangat.
BERSAMBUNG
BAGIAN 4
Sambil bersiul-siul kecil, Asiong, yang baru saja selesai mandi itu, berpindah dari kamar mandi menuju kamarnya. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul enam sore. Selang beberapa menit kemudian, Asiong pun keluar dari kamarnya dengan penampilan beda.
Kaos putih dengan jaket kulit hitam yang dipadu dengan celana jeans hitam menjadi pilihan busananya saat itu. Rambut panjangnya disisir sambil lalu. Tak lupa aksesoris kebanggaannya: rantai gelang di lengan kanan, anting di telinga kirinya dan kalung rantai yang menggantung di lehernya.
"Mau kemana, Siong?" Tanya seorang gadis yang berpapasan dengannya saat pemuda itu keluar dari kamarnya.
"Mau ke PRJ, Ce." Jawab Asiong singkat.
"Sendiri?" Tanya gadis itu lagi. Wajahnya cantik, dengan kulit putih dan rambut sebahu. Psostur badannya tidak setinggi Asiong, namun ramping. Dialah Chun Hwa, kakak kedua Asiong.
"Sama Abun dan yang lainnya." Kata Asiong.
Chun Hwa mengangguk. "Pergilah, biar rumah aku yang jaga."
"Lho, Mei Ce kemana?" Asiong selalu memanggil kakak sulungnya, Mei Hwa, dengan panggilan Mei Ce.
Chun Hwa tertawa lepas. "Ini hari apa? Lupa ya?"
"Oh, dengan cowoknya ya?" Asiong menaikkan alis matanya.
"Begitulah." Jawab Chun Hwa tersenyum.
"Terus, ce kapan?" Asiong tertawa. "Jangan mau kalah dengan Mei Ce dong."
Chun Hwa menggoyangkan ponsel yang sedang digenggamnya itu. "Nih, disini."
"Pacaran lewat telepon? Mana enak, Ce?" Tanya Asiong sambil mengambil air di dapur dan meminumnya.
Chun Hwa terkikik mendengar celotehan adiknya. "Hihihi. Baru kenal gak lama, masih PDKT. Masa udah disuruh datang sih?"
"Ya tak apa-apalah." Kata Asiong mendekati Chun Hwa. Dibanding Mei Hwa, Asiong lebih suka menggoda kakaknya yang satu ini. "Ce kan sudah 27, bukannya muda lagi."
"Cepetan lah, wa udah tak sabar nih mau lihat koko ipar." Asiong tertawa.
Dari ruang tamu terdengar suara memanggil nama Asiong.
"Tuh, Abun datang." Chun Hwa tersenyum. "Sana pergi."
"Hahaha..." Asiong tertawa. "Wa tahu sekarang..."
"Tahu apa?" Chun Hwa menatap adiknya dengan bingung.
"Sepeninggal wa, pasti Ce langsung deh minta koko ipar datang kesini. Jadi kan Ce tak terganggu." Asiong mengedipkan matanya ke arah Chun Hwa. "Berduaan di tempat sepi begini, seru lho. Apalagi para pegawai sudah pada pulang. Ehem ehem. Dunia serasa milik berdua deh. Hahahaha..."
"Eh, Siong, mulai deh isengnya." Chun Hwa tertawa mendengar guyonan adiknya itu. "Kalaupun dia datang, wa juga gak akan kasih tau..."
"Wa juga tak mau tahu, Ce." Jawab Asiong sambil membuka pintu. "Bila perlu wa pulang malam jadi Ce bisa berduaan lebih lama. Hahaha. Selamat malam minggu!"
Chun Hwa bergeleng-geleng kecil melihat ulah adiknya itu. Ditutup dan dikuncinya pintu rumah sepeninggal Asiong. Lalu gadis itu kembali duduk di sofa meneruskan kencan melalui teleponnya dengan someone-nya.
Sementara itu, Asiong membawa motornya sendiri, Yamaha Scorpio, dengan beberapa saudara sepupunya yang telah menunggunya di luar pintu rumahnya. Selain Abun yang membawa motornya sendiri, juga terdapat Chandra yang juga membawa motor sendiri.
Papa Asiong memilili 6 saudara, 1 kakak perempuan yang merupakan paling sulung dari enam bersaudara, 2 kakak laki-laki dan papa Asiong adalah anak keempat atau putra ketiga. Dibawahnya masih ada adik laki-laki dan seorang adik wanita yang paling bungsu. Kecuali orang tua Asiong, semuanya sudah tinggal menetap bertahun-tahun di Jakarta.
Chandra alias Achan adalah anak kedua dari paman tertua Asiong, berumur 22 tahun. Abun alias Buntara anak bungsu dari paman kedua. Juga ada pula anak angkat bibi sulungnya, seorang pemuda berusia sepantaran dengan Asiong, bernama Akong, 24 tahun. Terakhir, Apo, 21 tahun, termuda dari semuanya, sepupu dari paman keempat Asiong.
Abun berboncengan bersama dengan Akong, sementara Chandra berboncengan dengan Apo, dan Asiong sendiri memakai satu motor. Dengan tiga kendaraan beroda dua tersebut, kelima pemuda itu mengunjungi Jakarta Fair yang berjarak beberapa kilo dari rumah kontrakan Asiong.
BERSAMBUNG
BAGIAN 5
"Gila, ramai banget." Ujar Asiong yang takjub melihat situasi di pameran yang bertajuk PRJ itu. Berbeda dengan sepupu-sepupunya, kali itu adalah pertama kalinya Asiong menginjakkan kakinya ke festival tahunan tersebut. Setelah mengantri cukup lama untuk membeli tiket, kelima pemuda itu akhirnya berhasil masuk ke dalam ajang pameran tersebut.
"Ya, beginilah Jakarta Fair itu, Siong." Kata Akong. Perawakannya kurus namun wajah khas Pontianaknya terpancar jelas sekali.
"Apalagi Sabtu begini. Malam minggu pula." Sambung Apo. Di antara semuanya, Apo yang bertubuh paling pendek dengan badan yang agak gemuk.
Asiong memandang ke sekeliling dan semakin takjub dengan situasi di PRJ itu. Tampak olehnya, orang yang berlalu lalang dengan suara yang hiruk pikuk sangat bising.
"Wah, kalau begini, mau berbicara saja harus dengan teriak," Kata Asiong. Keempat saudaranya berjalan tak jauh darinya.
"Ya, betul." Teriak Abun sambil menyalakan sebatang rokok. Asiong pun mengeluarkan bungkus rokok yang disimpan di kantong celananya.
Kelima pemuda itu berjalan berkeliling tak tentu arah. Tiba-tiba terdengar bunyi kencang dari belakang mereka.
"Po, kereta!!" Asiong menarik tangan Apo. Sebuah mobil gandeng yang menyerupai kereta berjalan sambil membunyikan klakson tak henti-hentinya. Di dalamnya terdapat banyak penumpang yang dimanjakan dengan diajak berkeliling mengitari area seputar pameran untuk waktu sekitar lima belas menit sampai setengah jam.
"Gimana sih lu? Udah sering kesini, masih juga ngaco!" Abun yang diplot sebagai pimpinan geng itu menepuk pundak Apo. "Liat-liat dong. Nyasar udah susah nih. Udah tau rame begini."
"Ya, thai ko, sorry deh." Apo mengusap-usap kepalanya dengan salah tingkah. Sementara Achan dan Akong geleng-geleng kepalanya.
"Apa itu?" Kata Asiong menunjuk ke seorang lelaki yang bertelanjang dada dan sekujur badannya dicat hitam mengkilat, sementara lelaki itu berjalan dalam gerakan slow motion dan berhenti beberapa saat tanpa bergerak dan kembali berjalan lagi dengan lambat.
"Itu orang-orangan yang dibayar untuk jadi menarik produk perusahaan agar laku," Kata Chandra. Pemuda itu sehari-harinya bekerja sebagai kepala sales, jadi tak heran kalau dia cukup mengetahui tentang produk dan barang dagangan.
"Oh begitu." Asiong berhenti dan melihat orang-orangan tersebut beraksi. Kerumunan disana dibuat tertawa-tawa oleh ulah dan tingkah orang-orangan tersebut. Tak jarang ada yang menepuknya, mencubitnya bahkan meninjunya, hanya sekedar untuk memastikan orang-orangan tersebut adalah manusia yang disamarkan. Namun tak sedikitpun 'siksaan' tersebut membuat manusia bertubuh serba hitam itu bergeming ataupun menyeringai kesakitan.
Apo masih sempat meminta difoto bersama dengan orang-orangan tersebut. Beranjak dari tempat tersebut, kelima pemuda itu kembali meneruskan langkah tak tentu arahnya.
Seorang gadis cantik berpakaian SPG berjalan melewati mereka. Kelima pemuda yang memang masih single itu menatapnya tak berkedip, bahkan Apo tak tahan untuk menggodanya.
"Kita ke show room motor yuk." Kata Akong ketika SPG tersebut telah jauh meninggalkan mereka.
"Ayo!" Jawab Chandra sambil berjalan. "Siapa tahu bisa ketemu yang oke disana."
Kelima pemuda tersebut tertawa.
"Kita berlomba yuk, gimana?" Kata Abun tiba-tiba.
"Maksudmu?" Tanya Akong, yang sejatinya bukan saudara kandung mereka, namun sudah dianggap sebagai saudara kandung oleh keluarga mereka.
"Kita kan berlima nih." Abun melanjutkan. "Siapa yang diantara kita berlima ini yang duluan mendapatkan gebetan?? Tapi harus di PRJ sini lho, gak boleh di tempat lain. Gimana?"
"Wah, boleh tuh usulnya." Kata Apo. "Gue terima."
"Boleh saja!" Asiong menimpali sambil tangannya merogoh kantong celananya. "Ah, rokokku habis!"
"Mau lagi, Siong?" Abun menawarkan sebungkus rokok yang diambilnya dari celananya. "Nih, gue masih ada..."
Terlalu asyik dengan perjalanan mereka membuat kelima pemuda itu tak menyadari kalau saat itu mereka sedang melintasi tempat pameran rokok Marlboro. Seorang gadis yang sedari tadi memperhatikan mereka mendekati kelima pemuda itu, khususnya Asiong dan Abun.
"Ko, beli rokoknya dong. Marlboro. Kalau beli dua, aku kasih tiga!" Terdengar sebuah suara yang walaupun dalam suasana yang ramai, namun suara gadis itu masih terdengar manis di telinga kelima pemuda itu.
Asiong tersadar akan suara itu dan memalingkan kepalanya. Di samping kirinya, berdiri seorang gadis ramping dan berbadan cukup tinggi, dengan pakaian SPG berwarna kuning khas produk rokok, menawarkan dua bungkus Marlboro kepadanya sambil tersenyum. Seorang gadis keturunan dengan rambut panjang sepunggung yang disemir pirang. Beberapa helai poni tampak menutupi keningnya, menambah daya tarik gadis itu.
Terpana Asiong melihat siapa yang berdiri di sampingnya itu. Kedua matanya tak berkedip melihat sang gadis. Saat itu kedua mata bening sang gadis juga tepat membalas tatapannya. Kedua pasang mata mereka saling beradu pandang!
"Astaga, cantiknya!!" Asiong tak kuasa menahan kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Matanya masih tak lepas memandangi gadis SPG yang berdiri di dekatnya itu. Mendadak jantungnya berdegup kencang saat itu. Sebuah perasaan merinding mendadak menghampirinya.
'Perasaan ini...' Batin Asiong mencoba memahami perubahan mendadak itu. 'Ini...'
BERSAMBUNG
BAGIAN 6
Mendengar komentar Asiong yang mendadak itu, keempat saudaranya tertawa terkekeh, sementara si gadis SPG yang menawarkan rokok tersebut seperti tak bergeming dipuji seperti itu. Dengan profesinya sebagai SPG sepertinya sudah terbiasa dengan pujian seperti itu.
"Ko, beli ya, aku kasih murah deh." Gadis itu tersenyum manis. "Bonus satu bungkus lho kalau Koko beli dua bungkus sekaligus."
Akong yang juga merokok namun tak separah Abun dan Asiong itu tampak tertarik dengan penawaran gadis SPG itu. Akong mendekat ikut terlibat dalam pembicaraan itu.
Sementara Asiong masih merasakan degup jantungnya. 'Untung ramai, jadi detak jantung ini tak terdengar.' Batinnya. 'Tapi nih cewek cantik juga.'
"Namanya siapa ya? Kenalan dong." Akong menjulurkan tangan hendak menyalami SPG rokok itu. Tahu-tahu Asiong mendehem kencang membuat sepupu-sepupunya terkejut. Akong menarik lengannya kembali saking kagetnya oleh deheman Asiong.
"Ehhhmmmmmm!!!" Perlahan Asiong melirik ke kiri kanan tempat keempat sepupunya berada. Lalu dengan menggeretakkan giginya, pemuda itu berbicara pelan dengan gigi terkatup rapat.
"Aduh, tolong ya." Karena giginya terkatup, suara yang terdengar tak begitu kencang, namun cukup untuk didengar keempat saudaranya. Kedua tangannya diselipkannya di kantong celana jeansnya. "Dia mendekatiku dulu, menawarkan rokok padaku. Jadi kasih aku kesempatan ya..."
Terdengar keempat saudaranya menggerutu sebagai tanggapan perkataan Asiong itu.
"Sudah, sana...." Asiong mengangkat tangannya dari sakunya dan membuat gerakan seperti mengusir. "Katanya mau lihat pameran motor, terus ngapain juga masih disini?"
Keempat sepupunya masih menggerutu kesal, namun mereka pergi juga memberi kesempatan kepada Asiong dengan gadis SPG itu.
"Dasar Asiong! Cepet banget sih kalo soal cewek!" Kata Buntara sambil menyulut rokoknya.
"Lu kurang ganteng sih, makanya gak dilirik tuh cewek." Tukas Akong tertawa.
"Enak aja! Itu sih bukan gue yang kurang ganteng, tapi Asiong aja yang emang lebih ganteng." Jawab Buntara, kekonyolannya keluar.
"Sama aja kaleee..." Poniman terkekeh.
"Tapi kalo lu mah gak bakal dilirik, Po." Chandra nyeletuk dalam pembicaraan mereka.
"Emangnya gue kenapa? Apa yang kurang dari gue?" Tanya Poniman lagi.
Ketiga sepupunya tertawa lebar mendengar pertanyaan Poniman itu. "Masih gak sadar lu?" Tanya Buntara yang memang aslinya sudah konyol itu.
"Kalo dia tau pasti gak bakal tanya lagi dong." Timpal Akong.
Chandra menempelkan tangannya di pinggang Poniman membuatnya melompat karena kegelian.
"Nih, nih jawabannya..."Kata Chandra sambil tertawa. "Lebar badan lu tuh..."
"Sama pendek lu tuh..." Sambung Buntara. Disambut oleh tertawa yang lainnya.
"Kena lagi deh gue..." Poniman menunduk sambil menggaruk kepalanya. Diantara semua sepupu, Poniman memang yang paling sering menjadi sasaran kekonyolan.
Sambil tertawa renyah, keempatnya memasuki showroom motor Yamaha.
Sementara itu, di saat yang bersamaan, Asiong tengah terlibat pembicaraan serius dengan SPG Marlboro.
"Maaf ya, tadi itu sepupuku..." Dengan tingkah yang agak kaku, Asiong memulai pembicaraannya dengan SPG Marlboro itu. Dengan ibu jarinya, pemuda itu menunjuk sepupu-sepupunya yang telah berjalan di belakangnya menjauh darinya.
"Ah, gak apa-apa kok..." Gadis itu tersenyum. "Kalian ternyata kompak juga ya."
'Wow! Senyumnya manis!' Detak jantung Asiong semakin kencang melihat keindahan itu. Matanya tak lepas dari wajah cantik gadis di hadapannya itu.
"Ko..." Sapaan gadis itu membuat Asiong tersadar. Sekilas kedua mata gadis itu bergerak-gerak mempelajari wajah Asiong, mulai dari rambut gondrongnya, antingnya, hingga kalungnya.
"Eh iya, kenapa?" Asiong tersentak dari panggilan si gadis.
"Beli dong, Ko. Bantu aku ya." Gadis itu berkata dengan suara manja.
"Maksudnya bantu?" Pemuda itu melihat beberapa teman si gadis yang berseragam sama berseliweran di sekitar tempat itu menjajakan rokok kepada pengunjung yang lewat disana. "Oh ya, namamu siapa? Boleh tau?"
"Boleh, Ko." Jawab gadis itu. "Aku Ervina."
"Hah? Erika?" Teriak Asiong ketika bunyi klakson mobil kereta mengalahkan suara mereka.
Gadis itu tersipu. "Ervina, Ko, bukan Erika. Er-Vi-Na."
"Ohhh. Ervina." Manggut-manggut Asiong mendengarnya. "Tak perlu dieja lah, aku masih bisa baca."
"Hihihi... Koko lucu..." Gadis yang bernama Ervina itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
"Lho, kok malah tertawa?" Asiong menaikkan alisnya, pertanda bingung sambil hatinya membathin. 'Kupikir tadi malah marah aku tanya begitu. Tak tahunya malah tertawa.'
"Gak apa-apa." Ervina masih tersenyum kecil. "Koko namanya siapa?"
"Aku? Asiong." Jawab pemuda itu.
Tawa Ervina yang sudah mereda kini kembali meledak mendengar ucapan Asiong itu.
"Lho, kok tertawa lagi?" Kembali Asiong menaikkan alisnya, semakin bingung rupanya pemuda itu.
"Hihihi... Nama Koko lucu. Asli Pontianak ya, Ko?" Kata Ervina ketika tawanya mulai reda kembali.
"Lho, kok bisa tahu?" Alis Asiong semakin tinggi dibuatnya.
Ervina tak dapat menahan tertawanya yang kembali meledak melihat keluguan Asiong.
"Koko, dari tadi lho kok, lho kok terus. Hihihi..." Ervina masih terkikik. "Rokok lah, Ko, bukan lho kok. Beli rokok ku, bukan lho kok mu lah..."
Jawaban Ervina yang lucu itu membuat Asiong tertawa lepas. Keduanya tertawa di antara hiruk pikuknya suasana pameran yang tak kalah ramainya dengan suasana di pasar tradisional.
BERSAMBUNG
BAGIAN 7
Di sela-sela tertawanya, Asiong menyadari satu hal. Baru sekali itu seorang gadis bisa membuatnya kebingungan dan tertawa lepas seperti itu. Di balik sikapnya yang cool dan terkesan berani itu, tak banyak gadis yang bisa mendekatinya. Terlebih Asiong adalah tipe pemilih. Selama ini gadis yang akrab dengan dirinya dan menjadi pasangannya bisa dihitung dengan jari.
"Dari mana bisa tahu aku datang dari Pontianak?" Tanya Asiong lagi. Rupanya dia belum puas bila belum mendapat jawabannya.
"Aku tebak aja, Ko." Jawab Ervina. "Pertama aku lihat wajah Koko yang totok banget itu. Waktu Koko bilang nama, aku jadi makin yakin Koko berasal dari sana."
"Ooo... Ervina sendiri berasal dari mana?" Asiong tak mau kalah dan bertanya balik.
"Aku asli sini, Ko." Sahut gadis itu. "Jadi nama Koko cuma Asiong aja ya?"
"Kim Siong, panggilannya Asiong." Kata pemuda itu disusul oleh suara dari hatinya. 'Kok aku jadi jujur begini sih? Asiong, sadar, jangan jujur di depan orang yang belum dikenal.'
"Nah itu bagus namanya." Ervina tertawa. "Ayo, Ko, beli. Masih belum tercapai target nih."
"Oh, jadi itu maksudmu dengan bantu itu?" Tanya Asiong sambil mengambil dompet di kantong belakang celananya.
Ervina mengangguk. "Iya, Ko. Kami bergantian jaga, dengan shift. Mau berapa, Ko?"
"Maksudnya shift? Dua bungkus ya."
Ervina menyerahkan tiga bungkus rokok kepada Asiong. "Nih, Ko, bonus sebungkus."
"Iya, Ko. Yang jualan banyak, jadi kami bergantian hari." Lanjut Ervina lagi. "Kalau hari ini aku jualan, besok aku libur, lusa jualan lagi. Begitu seterusnya, Ko."
"Ooo..." Asiong membuka sebungkus rokok yang baru dibelinya itu dan sisa dua bungkusnya dimasukkan ke dalam celananya. "Berapa dua bungkus?"
"Harga promosi untuk Koko, lima belas ribu saja." Jawab Ervina.
"Murah amat?" Asiong terperanjat. "Apa bisa untung?" Diberikannya selembar uang duapuluh ribu kepada Ervina.
"Udahlah, Ko. Ini cuma untuk Koko aja. Orang lain aku gak kasih segitu." Kata Ervina sambil menyerahkan kembalian selembar uang lima ribu. "Terima kasih ya, Ko."
Gadis bernama Ervina itu hendak berbalik dan menjajakan rokoknya kepada yang lainnya juga, ketika Asiong memanggilnya kembali.
"Ada apa, Ko?" Tanya gadis itu.
"Boleh aku tahu apa kamu sudah punya pasangan?" Asiong bertanya. 'Gila, mana mungkin dikasih tahu?'
"Maksud Koko, pacar?" Gadis itu tersipu.
Asiong mengangguk.
Ervina menggeleng perlahan.
"Berarti belum ada dong ya?" Tanya Asiong lagi. 'Wah, ada harapan nih aku.'
"Bukan, Ko." Jawab Ervina menatap Asiong. "Aku belum yakin."
"Belum yakin?" Alis Asiong terangkat. "Maksudmu?"
Sebuah tepukan di pundak membuat Asiong menoleh.
"Wah, cogan kita nih, sampai dimana tuh PDKT-nya?" Terdengar sebuah suara yang sangat dikenal Asiong. Suara Buntara, alias Abun. Dia jugalah yang menepuk pundaknya. Sementara ketiga sepupu lainnya tak jauh berdiri di belakangnya sambil cengar cengir.
Asiong tak memperdulikan kehadiran mereka disana. Dialihkannya pandangannya ke depan kembali, ke arah Ervina. Saat itu seorang teman Ervina, sesama SPG, berdiri di dekatnya dan tampak sedang berbicara. Tak lama kemudian Ervina menengok ke arah Asiong.
"Ko, aku dipanggil, aku tinggal dulu ya." Kata gadis itu sambil berlalu tanpa meminta jawaban Asiong terlebih dulu. Sementara gadis temannya itu melangkah mendekati mereka.
"Ko, beli dong. Lagi sepi nih. Beli dua dapat tiga lho." Gadis itu mengacungkan dua bungkus Marlboro yang dipegangnya.
"Wah, aku sudah beli tadi." Asiong mengepulkan asap rokok dari mulutnya. "Mereka saja deh."
'Rasakan tuh! Kukerjain kalian sudah buat Ervina pergi cepat begitu.' Kata Asiong dalam hati. 'Gara-gara kalian, gagal deh aku dapat info.'
Benar saja! SPG tersebut mendekati Buntara dan ketiga saudaranya sembari menawarkan produk yang dijualnya.
"Berapa harganya?" Tanya Akong.
"Tiga bungkus dua puluh ribu." Jawab SPG itu.
"Kok mahal sih?" Tanya Buntara, namun dia mengeluarkan uang untuk membayar juga.
"Gak dong, Ko. Kan udah gratis sebungkus." Jawab SPG itu lagi. "Kalau eceran bisa lebih mahal."
Diam-diam Asiong tertawa mendengar percakapan mereka. "Kena deh kalian!! Segitu tetap saja mahal. Aku cuma lima belas ribu."
Setelah transaksi selesai, Asiong berjalan di depan keempat saudaranya dengan bibir masih tertawa kecil. Di belakangnya Buntara membagikan Akong sebungkus Marlboro yang dibelinya dan dia mengambil dua bungkus.
'Makanya, kalau orang sedang usaha, jangan diganggu.' Bathin Asiong lagi sambil tertawa tanpa diketahui sepupu satu geng yang berjalan di belakangnya.
BERSAMBUNG
BAGIAN 8
Malam itu berlalu dengan cepat. Terlebih di tengah suasana ramai dan hiruk pikuk khas festival, waktu terasa berlalu bukan dengan merangkak, melainkan seperti melompat. Sampai saat pulang, Asiong tak berhasil menjumpai SPG yang bernama Ervina itu lagi. Niatnya untuk bertemu dengannya dan meminta nomor teleponnya tak terpenuhi, selain karena padatnya pengunjung, juga karena Ervina tak berada di tempatnya lagi ketika Asiong dan keempat sepupunya kembali kesana.
Sejak pertemuannya dengan Ervina, pikiran dan kepala Asiong senantiasa dipenuhi oleh wajah dan tingkah gadis keturunan itu. Perkataan gadis itu terngiang-ngiang di telinganya.
"Yang jualan banyak, jadi kami bergantian hari. Kalau hari ini aku jualan, besok aku libur, lusa jualan lagi. Begitu seterusnya."
Saat itu hari Rabu, empat hari berlalu setelah perjumpaan Asiong dengan Ervina secara tak sengaja di PRJ. Asiong melihat ke kalender yang tergantung di dinding rumah kontrakannya.
"Rabu." Digerakkannya jemari seperti menghitung. "Berarti ini hari Ervina shift jualan."
Dimatikannya rokok yang dihisapnya di sebuah asbak di meja kerjanya. Dia sedang menghitung stock kain yang baru datang pagi itu. "Apa aku kesana saja ya?"
"Tapi kalau kesana hanya untuk menemuinya," Asiong menyalakan sebatang rokok baru. "Ah, karcis masuknya saja sudah belasan ribu. Bisa dapat untuk beli rokok ya?"
"Tak usah lah, biar saja." Asiong menghembuskan asap rokok yang dihisapnya. "Mending uangnya untuk beli rokok saja."
Dengan pemikiran itu, Asiong kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya menghitung stok kain.
Namun bayangan Ervina seakan tak bisa menghilang dari ingatannya. Senyumnya manisnya, wajah cantiknya, rambut pirangnya dan suara merdunya, semuanya seperti terus bergantian mengusik pikiran pemuda itu.
Rabu malam dilalui pemuda itu dengan hati galau. Kamis esoknya, Asiong mulai tampak uring-uringan. Beberapa pegawai yang melakukan kesalahan kecil mendapat teguran darinya. Suatu hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya kepada para pegawai konveksinya.
Hari Jumat, Asiong memutuskan untuk membuang sejumlah uang untuk pergi ke PRJ dan menemui gadis SPG bernama Ervina yang membuatnya uring-uringan. Pemuda itu berharap hari segera berganti malam, sehingga pekerjaan bisa ditinggalkan dan dia bisa ke PRJ kembali menemui Ervina.
Saat malam tiba, dengan mempersiapkan dirinya, Asiong pergi ke PRJ sendiri tanpa mengajak seorang pun saudara atau temannya.
"Aku harus bisa menemui Ervina hari ini. Harus!" Kata pemuda itu ketika melangkah masuk ke arena PRJ. Hari Jumat termasuk awal dari akhir pekan, tak heran jumlah pengunjung saat itu cukup ramai. Dibanding hari Sabtu sebelumnya, malam itu tidak seramai malam minggu saat keduanya saling bertemu.
Asiong mengacuhkan SPG yang menawarkan brosur dan produk sepanjang jalannya ke stand Marlboro tempat Ervina berjualan.
"Tunggu aku ya. Malam ini aku harus bisa mendapatkan nomormu." Kata Asiong lagi. Dia sudah berada di stand Marlboro dan tampak celingukan kesana kemari.
"Ada yang bisa dibantu, Ko?" Terdengar sebuah suara wanita dari arah belakangnya. Asiong menengok. Seorang gadis berpakaian SPG Marlboro seperti Ervina sedang tersenyum menatapnya.
"Aku mencari seseorang." Kata Asiong. "Namanya Ervina."
"Oh, Ervina ya." SPG itu menyahut.
Asiong mengangguk bersemangat. "Ya, Ervina. Hari ini jadwal dia jaga kan?"
"Betul, Bapak." SPG itu tersenyum. "Tapi hari ini Ervina gak masuk."
"Hah? Tidak masuk?" Asiong mengulangi jawaban SPG. Dia tak bisa mempercayainya.
"Ya, Ervina hari ini tidak masuk." Kata SPG itu mempertegas perkataannya.
"Kalau boleh tahu, kenapa ya dia tidak masuk?"
"Wah, saya gak tau deh kalau itu, Pak." Kata SPG itu.
"Ooo." Hati Asiong terasa jatuh saat itu juga. Pengorbanannya malam itu terasa percuma. Dengan berat hati, pemuda itu membalikkan badannya dan meninggalkan tempat itu.
"Rokoknya, Pak. Kami sedang ada promosi." Terdengar SPG itu memanggilnya.
"Lain kali saja. Aku sedang tidak merokok!" Ujar Asiong datar sambil melangkah pergi.
BERSAMBUNG
BAGIAN 9
"Jadi ceritanya lu gagal nih bertemu dengan Ervina?" Tanya Buntara alias Abun yang Sabtu itu kembali bermain di konveksi Asiong. Hampir setiap Sabtu, Abun menyempatkan dirinya bermain di konveksi Asiong dikarenakan dia libur kerja.
Asiong menganguk. Namun pemuda itu tak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. Saat itu sedang tidak banyak kerja di konveksi, jadi pemuda itu bisa duduk di depan pintu pagar rumah kontrakannya sambil merokok ditemani oleh Abun yang duduk di sebelahnya.
"Sudahlah, lupakan saja!" Kata Asiong. "Cewek bukan cuma dia saja."
"Nah, itu dia, Siong!" Abun menjentikkan jarinya. "Kita bisa cari yang lain malam ini."
"Cari yang lain?" Asiong mengangkat alisnya. "Maksudmu?"
"Masih ada tempat yang juga gak kalah hebohnya kalo soal cewek." Kata Abun.
"Dimana?" Asiong menjentikkan abu dari rokoknya.
"Diskotik." Jawab Abun.
"Tak salah dengar nih?" Asiong menatap sepupunya itu.
"Gak lah. Diskotik." Ujar Abun. "Nanti malam kita dugem, gimana?"
"Wah, itu dunia yang sudah lama kutinggalkan." Kata Asiong.
"Sekali-kali lah, kembali lagi ke kebiasaan lama." Abun masih membujuk Asiong. "Hitung-hitung mengusir stress karena gak ketemu Ervina kan?"
Asiong terdiam sesaat, seperti sedang berpikir. Rokok di mulutnya dihisapnya dalam-dalam.
"Boleh deh. Tak penting bagiku mendapatkan cewek disana, yang penting aku bisa senang-senang dan melupakan Ervina." Kata Asiong tak lama kemudian.
"Nah!! Mantap tuh!" Abun tersenyum. "Kita beramai-ramai kesana nanti malam."
"Pakai motor?" Tanya Asiong.
"Gak lah. Pake mobil dong." Jawab Abun. "Gue yang bawa nanti malam ya. Lu siap-siap aja. Jam 8 kita makan dulu di Pecenongan. Pulang dari sana baru kita dugem. Oke?"
"Oke!" Asiong membuang puntung rokoknya ke jalan di depan rumahnya. "Jemput aku ya!"
"Pasti dong!" Abun tertawa sambil berdiri. "Gue mau masuk ke dalam dulu, lu ada minuman apa?"
Kedua pemuda itu pun masuk ke dalam rumah kontrakan Asiong dan kedua kakaknya itu.
Beberapa jam kemudian...
Kelima bersaudara itu menyatu dengan hentakan musik yang berada di diskotik yang mereka masuki malam itu. Kepala mereka menghentak keras mengikuti alunan musik yang berdentum tak kalah kerasnya. Sementara badan mereka bergoyang mengiringinya.
Seperti suasana diskotik pada umumnya, di dalam ruangan tertutup tampak remang-remang dengan sesekali diselingi kilatan lampu disko yang berputar di atas kepala. Banyak pemuda pemudi yang larut dalam suasana bising itu. Ada yang sendiri dan ada pula yang berpasangan.
Semakin malam suasana di klub malam itu semakin ramai, baik ramai oleh hentakan musik dan ramai oleh pengunjung yang terus bertambah. Saat itu waktu sudah lewat tengah malam. Kelima pemuda itu tidak berdansa di satu tempat yang sama. Kelimanya terpencar sambil sesekali berharap bisa mendapatkan gadis yang tak memiliki pasangan dalam dansa itu. Ini adalah ketiga kalinya mereka turun dan berdansa di tengah ruangan.
Asiong menyusul Poniman yang sudah duduk di sofa terlebih dahulu. Buntara alias Abun juga sudah duduk menikmati minumannya. Sementara Chandra dan Akong masih turun bergoyang di bawah.
"Gimana, udah gak inget lagi kan?" Abun mengepulkan asap rokoknya.
Asiong meletakkan gelas minumannya dan menyambar bungkus rokok yang tergeletak di meja. "Ya, lumayan. Tapi tak ada yang sebanding dengan Ervina."
Abun dan Apo tertawa secara bersamaan. "Sudahlah, kita semua sudah disini. Kita nikmati saja!" Kata Apo menuang minuman dari botol ke dalam gelasnya.
"Nah, itu," Abun menunjuk Apo. "Betul banget tuh!"
Saat itu musik berhenti sesaat dan berganti lagu. Chandra dan Akong bergabung dengan mereka di sofa. Sedangkan Abun berdiri saat melihat keduanya datang.
"Gue turun dulu ya." Ujar Abun sambil melangkah ke tengah arena dugem.
"Gue juga." Apo pun berdiri dan mengikuti langkah Abun.
Chandra menghempaskan badannya di sofa, sementara Akong menyandarkan punggung dan kepalanya. Keduanya tampak lelah dan membutuhkan istirahat.
"Gak turun, Siong?" Tanya Chandra yang kepalanya menghentak mengikuti irama musik yang sedang diputar itu.
"Ya, bentar lagi. Habisin rokok ini dulu." Asiong menjawab. Secara iseng-iseng kepalanya menoleh kiri kanan, sekedar untuk melihat suasana di sana. Hampir semua sofa dan kursi di diskotik tampak kosong dikarenakan pengunjung sedang bergoyang menikmati alunan musik di tengah-tengah arena.
Berputar pandangan dari arah kanan ke arah kiri, sekilas Asiong melihat seorang gadis seperti bersandar di sebuah sofa dekat pojok ruangan, bersandar seperti halnya Akong. Namun wajah gadis itu tampak tenang, seperti sedang tertidur, namun nafasnya juga tidak memburu seperti Akong. Di sampingnya terdapat seorang lelaki yang berbadan cukup besar, tampak tertawa melihat sang gadis yang tersandar itu dan tangannya mengambil gelas yang terlepas dari pegangan si gadis saat terkulai lemas itu.
"Dasar lelaki buaya!" Gumam Asiong melihat hal itu. Matanya masih belum lepas dari keduanya. "Tak boleh lihat yang bagus sedikit, langsung beraksi."
Gadis yang terkulai lemas di sofa itu ternyata seorang gadis yang masih muda, cantik dengan rambutnya yang pirang. Pakaiannya saat itu tergolong seksi, dengan kaos pas badan sebagai atasannya dan celana panjang jeans sebagai bawahan.
Asiong kembali menikmati sebatang rokok yang baru dinyalakannya. "Mendingan merokok lah, daripada ikut campur urusan orang lain."
Mendadak Asiong merasakan sesuatu yang membuatnya kembali berpaling ke arah kedua insan di pojokan tersebut. "Heh, rambut pirang?" Gumamnya.
Diperhatikannya gadis yang lemas terbaring di sofa itu dengan lebih seksama. Sedetik, dua detik, tiga detik...
"Astaga!!" Terbelalak sepasang mata Asiong saat menyadari yang sedang dilihatnya. "Itu sepertinya Ervina."
Tak percaya pada pandangannya sendiri, Asiong pun berdiri dan memandang lebih seksama lagi.
"Ya Tuhan!" Semakin terbelalak kedua mata Asiong. "Itu Ervina!!"
BERSAMBUNG
BAGIAN 10
"Sial!" Asiong melempar rokok yang baru saja dinyalakannya itu. Dengan sepatu kets nya, pemuda itu mematikan bara api di puntung rokok tersebut.
"Kenapa, Siong?" Chandra menghentikan kepalanya yang sedang bergoyang mengikuti hentakan musik dan menatap sepupunya dengan pandangan bingung.
"Itu." Asiong menunjuk ke pojokan tempat insiden itu terjadi. Chandra memalingkan wajahnya mengikuti telunjuk Asiong.
"Oh, itu sih biasa lah." Ujar Chandra tenang. "Udah sering itu terjadi."
"Perhatikan cewek itu benar-benar." Kata Asiong lagi, suaranya terdengar bergetar. Saat itu pemuda berbadan besar itu kembali beraksi. Kali ini dia memindahkan posisi badan Ervina yang sedang terbaring menyandar ke posisi duduk.
"Ooohhhh...." Kepala Ervina terkulai lemas ke belakang saat posisi badannya didudukkan dari posisi menyandar oleh lelaki di sampingnya. Kemudian dilanjutkan dengan dipapahnya gadis itu berdiri oleh lelaki tersebut.
Dengan meletakkan sebelah tangan Ervina di pundaknya, lelaki itu memapah gadis itu berdiri dan mengajaknya berjalan. Kembali gadis itu mengeluh dan kepalanya tertunduk saat diajak berjalan itu, atau lebih tepatnya diseret oleh lelaki itu.
"Gawat!!" Asiong beranjak dari tempatnya berdiri. Melihat tindakannya yang mendadak itu, Chandra dan Akong, yang sudah bangun dari tertidurnya di sofa, berteriak memanggil pemuda itu. Namun Asiong sudah keburu menjauh.
"Ada apa dengan Asiong?" Tanya Chandra menatap Akong, yang menjawab dengan menaikkan kedua bahunya.
Tak urung Akong juga melihat ke arah yang diceritakan oleh Chandra. "Chan, firasatku jelek nih. Sepertinya sesaat lagi bakal terjadi keributan. Kau kenal siapa Asiong kan?"
Chandra mengangguk. Pemuda itu rupanya cepat menangkap maksud perkataan Akong. "Tapi siapa gadis itu?"
"Siapa gadis yang dikenal Asiong?" Akong bertanya balik.
"Mana kutahu. Banyak begitu." Jawab Chandra. "Tapi ini hanya dugaanku saja. Andaikan ini benar."
"Apa pikiranmu sama denganku?" Tanya Akong.
"Gadis SPG itu!" Keduanya berkata bersamaan lalu saling bertatapan satu sama lain.
"Ada kemungkinan itu dia." Kata Akong. "Kalau gak, kenapa Asiong jadi uring-uringan begitu?"
"Bahaya!" Kata Chandra. Pemuda itu bangun dari duduknya.
"Panggil Abun dan Apo, aku akan bantu Asiong," Ujar Akong yang juga sudah bangun dari duduknya itu.
Keduanya berpencar. Chandra berlari kecil menghampiri Buntara dan Apo yang masih bergoyang di tengah ruangan, sementara Akong mengikuti Asiong.
Dengan bergerak cepat, Asiong mengikuti lelaki berbadan besar yang membawa pergi Ervina itu. Dengan dentuman musik yang hingar bingar dan suasana yang hiruk pikuk, tak sulit bagi Asiong untuk mengintai dan mengikuti lelaki itu.
"Gadis ini mabuk." Terdengar lelaki itu berkata kepada petugas penjaga pintu yang kemudian membukakan pintu untuknya. Lelaki itu pun keluar dari diskotik dengan sebuah senyum menghias di wajahnya.
"Malam ini kau tak bisa lepas lagi dariku, manis." Terdengar lelaki itu bergumam sambil membawa Ervina ke parkiran mobilnya. Karena sudah lewat tengah malam, maka tempat parkir mobil sudah cukup sepi. Terlebih parkiran tersebut berada di lantai dasar, basement.
Asiong mendorong pintu, meninggalkan kebisingan dentam musik di ruangan dalam. Matanya melihat ke sekeliling sesaat dan setelah menemukan orang yang dicarinya, pemuda itu memburu ke arah si lelaki yang telah tiba di depan sebuah mobil.
BERSAMBUNG
BAGIAN 11
Dikejar oleh degup kencang jantungnya, lelaki itu tampak terburu-buru merogoh kantongnya mencari kunci dari saku celananya. Tangannya bergetar saat menarik kunci mobil dari saku celananya. Akibatnya kunci tersebut jatuh ke tanah dekat sepatunya.
"Ahh, pakai jatuh segala." Lelaki itu mengomel. Dengan menahan agar gadis yang dipapahnya tidak terlepas, lelaki itu berjongkok dan sebelah tangannya mengambil kuncinya yang terjatuh itu. Gerakannya membuat kepala Ervina kembali berputar, dengan lemas bergoyang ke kiri dan kanan dalam keadaan tertunduk dan rambut pirang yang menutupi.
Setelah mendapatkan kunci dan berdiri kembali, lelaki itu tersenyum lebar memasukkan kunci pintu mobil dan memutarnya. Pada saat pintu mobil dibukanya, dirasakannya sebuah tepukan di pundaknya.
"Permisi, bisa tanya sesuatu?" Terdengar suara tak lama setelah tepukan di pundaknya itu. Lelaki itu menengok.
BUUAAAKKKK!!!!
Sebelum sempat menyadari siapa yang memanggilnya atau menepuk pundaknya, sebuah pukulan keras telah mendarat di wajahnya tanpa dapat dihindarinya.
"Ugghhh!!" Lelaki itu mengerang. Kepalanya mendadak pusing oleh serangan yang mendadak itu. Beruntung gadis yang dipapahnya tidak terlepas.
Digoyangkannya kepalanya yang terasa pusing itu. "Sialan!!" Umpat lelaki itu. Merasa agak baikan, lelaki itu mencoba memandang ke depan. Tapi dia terlambat menyadari.
BUUUKKKKK!!!
"AAAAkkkhhhhhhhhh!!!!" Kembali lelaki itu mengerang tatkala wajahya kembali menjadi sasaran hantaman. Kali ini dagunya yang mendapat pukulan dari arah bawah. Badan besar lelaki itu terangkat sesaat.
"Oohhh...." Terdengar Ervina mengeluh. Tubuh lemasnya terlepas dari papahan lengan lelaki bertubuh besar itu. Pada saat yang bersamaan tubuh besar yang tadi memapahnya limbung.
Asiong, yang menghantam wajah lelaki berbadan besar itu, bergerak cepat. Sebelah lengannya bergerak memapah tubuh lemas Ervina. Kembali gadis itu mengeluh ketika tubuhnya dipeluk dan disandarkan di lengan kirinya.
"Kurang ajar!" Lelaki itu berteriak. Pukulan Asiong ternyata hanya sanggup membuatnya limbung sesaat. Dikarenakan pada saat melancarkan pukulan, posisi Asiong tidak tepat berada di depannya, melainkan pukulan yang dilancarkannya berasal dari samping. Hal ini dikarenakan lelaki tersebut masih memapah tubuh lemas Ervina di lengannya, posisi yang membuat Asiong tak leluasa melancarkan pukulan.
Dengan badan besarnya, yang kini sudah mulai bergetar akibat efek pukulan di dagunya yang masih terasa, lelaki itu maju mendekati Asiong.
"Siong!" Terdengar sebuah suara memanggil dari belakang. Asiong menengok. Fatal! Kesempatan Asiong menengok dipergunakan oleh lelaki berbadan besar itu untuk menyerangnya.
BUUUKKK!!!
"AARGGHHH!!!" Kepala Asiong sampai tertarik ke samping saat pukulan si lelaki berbadan besar itu mendarat di wajahnya. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang.
Pada saat Asiong terhuyung ke belakang, kesempatan itu dipakai oleh lelaki berbadan besar itu untuk menarik Ervina kembali dari pelukan tangan kiri Asiong. Beruntung Asiong sigap dan bertindak cepat sebelum lelaki tersebut berhasil melakukannya. Dipeluknya pinggang gadis itu dengan lebih erat dan didekapnya menyatu dengan badannya, sehingga jangkauan lelaki berbadan besar itu hanya menangkap angin.
Namun tak urung, Ervina yang sedang dipeluk dengan tangan kirinya ikut terseret olehnya ketika dia terhuyung mundur ke belakang. "Ngghhhh...." Kembali terdengar keluhan dari bibir Ervina pada saat terjadi adu tarik tersebut.
"Sini kubantu!" Kata si pendatang yang memanggil Asiong, yang tak lain adalah Akong, sepupunya. Akong bergerak menolong Asiong mengambil tubuh lemas Ervina dari pelukan pemuda itu.
"Ke pinggir, Kong! Jaga dia. Yang satu ini urusanku!" Kata Asiong sambil menyerahkan badan lemas Ervina kepada sepupunya. Akong segera menghindar ke tempat yang aman, dengan Ervina yang dalam papahan lengannya. Kembali kepala gadis itu tertunduk lemas saat Akong memapahkan lengannya ke atas pundaknya.
Asiong kembali berdiri tegak sambil mengusap bibirnya dengan ibu jarinya. Sebersit cairan berwarna merah kental menempel di jarinya.
"Sial!" Asiong mengumpat. Tanpa melepaskan pandangan matanya ke arah lelaki berbadan besar itu, Asiong meludah membuang darah yang mengalir di mulutnya.
"Kurang ajar! Siapa kau berani ikut campur urusan ini?" Lelaki berbadan besar itu berteriak.
"Aku tak suka gayamu bekerja, Bung!" Kata Asiong tak mau kalah menggertak. "Itu sama sekali tidak gentleman!"
"Cuih!!" Lelaki berbadan besar itu meludah. "Kau sudah ikut campur dalam urusan ini. Kau yang memintanya, jangan salahkan saya!" Bersamaan dengan itu, si lelaki mengeluarkan handphone-nya dan tampak berbicara menghubungi seseorang.
Jantung Asiong yang saat itu sudah berdetak kencang karena ketegangan yang dialaminya, saat melihat tindakan lelaki itu semakin berdegup kencang. Dari pengalamannya sebelumnya, dia mendapatkan perasaan bahwa situasi akan bertambah buruk.
"Kong!" Teriak Asiong tanpa melepaskan pandangan dari lawannya.
"Ya." Akong yang dipanggil menyahut dari tempatnya berlindung.
"Bawa Ervina pergi dari sini!" Teriak Asiong lagi. "Cepat!!"
"Ya!" Akong segera berbalik badan dan membawa tubuh lemas Ervina pergi dari tempat itu. Pada saat yang bersamaan, Chandra datang dari pintu yang sama, pintu yang dipakai lelaki berbadan besar dan Asiong tadi keluar. Bersama dengan Chandra, Buntara dan Poniman berlari di belakangnya.
"Kenapa, Kong?" Tanya Poniman yang memang agak lamban dibanding semua saudaranya.
"Sudah, jelasinnya nanti aja." Kata Akong. "Ambil mobil, Bun. Cepat!"
Buntara yang baru tiba disana, mendapat perintah begitu dari Akong, hanya bisa berbalik badan dan berlari menuju mobilnya.
"Asiong gimana? Masa kita tinggal sendirian disana?" Tanya Buntara dalam perjalanannya menuju mobilnya.
"Habisnya gimana?" Tanya Chandra. "Lu mau kesana bantu?"
"Gimanapun juga dia itu saudara kita." Kata Buntara. Diserahkannya kunci mobilnya kepada Chandra. "Kalian bawa gadis ini ke tempat yang aman. Gue balik kesana dulu."
"Bun, lu udah gila?" Tanya Poniman.
"Gue masih waras." Tukas Buntara.
"Tapi, Bun, kalau mereka main keroyokan, gimana?" Tanya Akong.
"Kalian mau Asiong dikeroyok sendiri?" Jawab Buntara sambil berlari kecil. "Kita janjian lagi ketemu dimana. OK?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 12
Asiong sudah terbiasa dengan situasi menegangkan seperti ini. Ketika pemuda itu kembali dihadapkan kepada situasi yang sama, tak ada rasa takut sedikitpun dirasakan olehnya.
Saat itu tiga orang lelaki, yang juga berbadan kekar namun tidak sebesar lelaki yang mengundang mereka, telah berdiri di samping kiri kanan lelaki yang sempat dihajar Asiong tadi. Bukan saja badan mereka yang kekar, namun juga penampilan mereka yang bertato di lengan dan pakaian model anak jalanan, jaket kulit hitam tak berlengan, baju kaos kumal dan celana jeans belel dengan sobekan di lutut, menambah keangkeran mereka.
"Jadi aku harus berhadapan dengan empat orang ini sekaligus!" Gumam Asiong. "Oke. Satu geng pun, bila perlu, aku akan layani."
Suara tapak kaki yang seperti sedang berlari terdengar mendekat. Suara yang berasal dari belakang Asiong. Sambil menambah kewaspadaan akan datangnya serangan mendadak dari depan, Asiong mencoba melirik ke belakang, mencari tahu siapa yang mendekatinya.
"Siong!" Terdengar sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya. Suara Buntara. "Tenang, Siong. Ada gue yang bantu!"
"Kenapa disini? Ervina gimana?" Bisik Asiong. Kedua pemuda itu berdiri berdampingan.
"Ada sama yang lain, tenang aja." Kata Buntara. Diarahkannya pandangannya ke depan. "Wah, empat orang nih?"
"Seperti yang terlihat." Ujar Asiong.
"Bagus! Udah lama gue gak berantem nih." Kata Buntara sambil meluruskan dan menggoyang-goyangkan kedua lengannya, lalu dibunyikannya buku-buku jemari tangannya dengan melipat masing-masing jari ke dalam. "Tangan gue udah gatal gak mukul orang sekian lama."
"Heh!" Asiong mendengus mendengar komentar sepupunya itu. Dia memang mengetahui kalau Buntara adalah seorang petarung di sekolahnya, ketika masih di tingkat SD sampai SMA. Hampir sama seperti dirinya, selain sebagai seorang tidak menyukai ketidakadilan, Buntara juga sosok yang menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kemenangan demi keadilan.
Di seberang sana, keempat lelaki yang semuanya berusia di atas kepala tiga, tampaknya telah siap maju setelah basa basi di antara mereka sesaat.
"Hei, kalian!" Mendadak terdengar suara keras dari arah parkiran tempat mereka berdiri berhadap-hadapan. "Sedang apa kalian disana?"
Seorang pria berpakaian Satpam berlari kecil menghampiri keenam lelaki itu. Tongkat khusus Satpam mengayun-ayun di tangannya.
Lelaki berbadan besar yang menjadi pimpinan dari ketiga temannya itu memberi tanda dengan gerakan kepala ke arah temannya. Begitu mendapat aba-aba itu, salah seorang lelaki mendekati ke arah Satpam yang kini telah berjalan ke arah mereka itu.
Asiong yang melihat keadaan tak menguntungkan segera mengambil inisiatif. Didahului dengan suara teriakan, pemuda itu berlari ke arah Satpam dan lelaki berjaket hitam yang sedang menghampirinya itu.
"Pak, awas!" Teriak Asiong sambil berlari cepat dan menyergap lelaki berjaket hitam, tepat ketika lelaki itu tinggal beberapa langkah lagi dengan Satpam yang diincarnya.
Satpam terperangah melihat sergapan Asiong kepada pemuda yang mendekatinya itu. Langkahnya terhenti saking kagetnya. Matanya hanya bisa memandang melotot dengan mulut ternganga lebar melihat yang terjadi di depan matanya.
"UUUGGGHHHHH!!!" Lelaki yang disergap oleh Asiong tersungkur, sama sekali tak menyadari dirinya akan mendapat sambutan seperti itu. Bersama dengan Asiong yang memeluk erat badannya, keduanya berguling sesaat di jalanan.
Keduanya bergulingan dan saling menekan lawannya, bergumul untuk mencoba berada di atas dari yang lain. Tepat pada saat Asiong berada di atas lelaki itu, pemuda itu gerakkan lengan kirinya menjambak rambut lawannya dari belakang kepalanya.
"Heyyy!! Arrggghhh!!" Lelaki itu menjerit kesakitan merasakan jambakan di rambutnya. Tangannya berusaha menggapai wajah Asiong.
Namun niat lelaki itu mencakar wajah Asiong urung tatkala pemuda itu terlebih dulu mendaratkan sebuah pukulan tepat ke arah rahangnya. Dengan lengan kiri menjambak rambut dari belakang, Asiong menghantam wajah lawannya dengan tangan kanannya.
BUUUUKKKKK!!!
"Ooouuukkkhhhhhhh!!!!" Lelaki itu berteriak saat pukulan Asiong mendarat tepat di wajahnya. Sakit di rahangnya dirasakannya merayap naik hingga ke ubun-ubun kepalanya.
Merasakan dirinya berada di atas angin, Asiong menggandakan serangannya. Dengan memanfaatkan momen lawan yang masih pusing itu, Asiong menjambak rambut lawannya dan mendirikannya. Lelaki itu mau tak mau berdiri dengan 'bantuan' jambakan di rambutnya.
Setelah melihat lawannya berdiri, Asiong melepaskan jambakannya. Keadaan pening membuat tubuh lelaki itu berdiri dengan sempoyongan. Asiong tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Didahului oleh sebuah pukulan yang mendarat tepat di hidung lawannya. Lelaki berjaket hitam itu terundur beberapa langkah oleh pukulan itu. Belum cukup, Asiong masih menambahkan lagi dengan sebuah pukulan. Kali ini diarahkan tepat ke perut sang lawan.
"OOOOFFFFFFFF!!!" Udara seperti meluncur keluar dari paru-paru ketika mendapat pukulan di arah perut seperti itu. Kesakitan, lelaki itu tampak membungkuk memegangi perutnya.
BUAAKKKKHHHH!!!
Sebuah pukulan kembali mendarat di wajahnya pada saat dirinya terbungkuk dengan perut sakit. Dalam posisi agak membungkuk, Asiong menghantam lelaki itu dengan sebuah pukulan yang tepat diarahkan di dagu bawahnya. Sebuah pukulan uppercut! Pukulan yang dilontarkan dari arah bawah, dengan posisi tangan dan siku petinju membentuk huruf V dan dengan sasaran utama perut, ulu hati dan dagu lawan.
Tanpa banyak bersuara, lelaki tersebut roboh dengan mendarat keras di atas jalan. Punggungnya rata menghempas tanah, KO oleh pukulan uppercut, salah satu pukulan yang sangat ditakuti dalam olahraga tinju.
Dagu adalah salah satu daerah rawan yang harus dilindungi dalam bertinju. Bila terkena pukulan di dagu, terlebih oleh uppercut yang dilancarkan dari arah bawah, bukan tidak mungkin, badan sebesar apapun akan roboh olehnya.
Asiong menepuk telapak tangannya seolah debu yang menempel mengotorinya saat melihat lawannya terkapar roboh.
"Ya, satu roboh! Tiga lagi tersisa!" Asiong membalikkan badannya dan berjalan kembali ke tempatnya semula.
BERSAMBUNG
BAGIAN 13
Bersamaan dengan aksi Asiong menyergap lelaki yang ingin menyerang Pak Satpam, kedua lelaki temannya bergerak maju menyerang. Buntara pun sudah siap melayani saat keduanya bergerak maju dengan serentak.
Kedua lelaki itu menyebar. Satu menuju ke arah Satpam, sedangkan yang satu lagi bergerak ke arah Buntara.
"Pak!! Awas! Dia mau menyerang Bapak!!!" Buntara berteriak sambil membungkuk menghindari ayunan tangan lawan yang mengincar wajahnya.
Ketika mengangkat badannya lagi, kembali serangan lawan mengincarnya. Buntara menggerakkan lengannya. Jurus yang pernah diajarkan oleh papanya dan dipendamnya bertahun-tahun setelah melepas status sebagai murid petarung, kini kembali dikeluarkannya.
Masa kecil Buntara diisi dengan perkelahian hampir setiap harinya. Dikarenakan Buntara kecil tidak senang temannya dipermainkan, pertikaianpun jarang terelakkan. Suatu hari, Buntara kecil pulang dalam keadaan babak belur. Dia gagal membela temannya yang diincar anak-anak kampung sebelah, yang memang terkenal sangat merendahkan kaum keturunan. Karena jumlah mereka yang lebih banyak, Buntara kalah dalam perkelahian tersebut dan sepeda temannya yang diberikan ayahnya untuk ulang tahunnya direbut mereka. Ketika mengetahui bahwa anaknya berkelahi demi membela kebenaran, Papa Buntara mengajarkan sedikit ilmu bela diri yang pernah dipelajarinya semasa masih melajang. Baru diajarkan 3 hari oleh Papanya, Buntara kecil menantang anak-anak kampung sebelah berkelahi. Pertemuan kali ini berhasil dimenangkannya dan sepeda temannya diambilnya kembali. Keadaan berlanjut selama Buntara bersekolah. Manakala dilihatnya ada temannya yang diganggu, tak perduli kakak kelasnya sekalipun, Buntara dengan berani menantang mereka.
Sebuah pukulan sang lawan yang dilancarkan ke arah wajahnya berhasil dihalau lengan kirinya yang digerakkan dari arah dalam keluar membentuk sebuah jurus menepis.
Melihat pukulan tangan kanannya berhasil dihindari, sang lawan kembali melancarkan serangan. Kali ini dengan tangan kiri, sebuah pukulan kembali dilancarkan.
Dengan menggunakan jurus yang sama, kembali serangan lawan berhasil dikandaskan Buntara. Dengan kedua tangan yang ditepis begitu, posisi lawan berada dalam keadaan terbuka di bagian dada. Sebuah daerah serang yang bagus dan sudah diincar oleh Buntara.
Didahului oleh serangan siku tangan kanan yang mendarat tepat di ulu hati sang lawan. Sebuah serangan yang membuat lawan seperti 'tersengat' dan terhenti gerakannya. Dengan mulut seperti ingin muntah akibat telaknya serangan yang masuk itu.
Disusul dengan sapuan lengan yang digerakkan ke atas menghantam tepat wajah yang sedang terkejut itu, menghantam wajah sang lawan dengan punggung tangan yang mengepal, cukup untuk membuat lawan mundur beberapa tindak ke belakang.
"Hooeekk..." Lelaki itu memegang ulu hatinya yang terpukul dan mulutnya pun memuntahkan cairan.
"Satu peringatan bagimu! Jangan pernah berurusan dengan murid petarung sepertiku ini!" Ujar Buntara yang melancarkan sebuah tendangan lurus ke arah dagu sang lawan, membuat lelaki bertubuh kekar tersebut mental beberapa meter ke udara sebelum akhirnya tubuhnya jatuh terhempas ke tanah dengan keadaan tak sadarkan diri.
Sementara itu seorang lelaki lain yang bergerak menyerang Satpam melancarkan pukulan dengan gerakan tangan melingkar. Dengan membungkuk, Pak Satpam tersebut berhasil menghindari pukulan berputar si lelaki.
Dengan sigap, Pak Satpam mengambil peluit yang digantung di lengan seragamnya dan meniupnya. Di suasana tengah malam yang tenang itu, suara peluit yang sejatinya tidak begitu kencang itu, terdengar keras dan membuat dua orang temannya - yang juga berseragam keamanan - berlarian datang dari kejauhan.
Menyadari situasi yang tak menguntungkan, lelaki yang menyerang Pak Satpam mengurungkan niatnya. Dilihatnya lelaki berbadan besar yang menjadi pimpinannya itu. Sebuah gerakan lengan mengisyaratkan pergi membuat lelaki itu membalikkan badannya meninggalkan tempat itu.
Ketika melewati temannya yang terkapar oleh tendangan Buntara, lelaki itu berhenti untuk memapah tubuh lemas temannya dan kabur dengan langkah tertatih-tatih.
Tepat pada saat Asiong kembali ke tempat tersebut, lelaki berbadan besar itu berpapasan dengannya. Saat melihat Asiong, lelaki itu menggemeretakkan giginya.
"Urusan kita belum selesai! Tunggu pembalasanku!!" Lelaki berbadan besar itu mengacungkan jari tengahnya ke wajah Asiong yang disambut dengan cibiran pemuda itu.
"Kapanpun, Bung!" Jawab Asiong. Diarahkannya jempol tangan kirinya ke bawah, membuat lelaki berbadan besar itu semakin emosional.
"Oh ya!" Asiong berhenti sesaat dan menatap si badan besar. "Jangan lupakan temanmu! Atau kami akan membawanya bersama!"
Si badan besar dan temannya berlalu dari tempat itu. Dengan mobil mereka, keduanya membawa serta kedua teman mereka yang masih tak sadarkan dirinya ketika dinaikkan ke atas mobil.
Sementara itu, Buntara diwawancarai oleh Pak Satpam dan beberapa petugas keamanan diskotik.
"Saya tak tau banyak, Pak. Saya hanya membantu saudara saya yang dikeroyok!" Terdengar jawaban Buntara ketika Asiong mendekat. "Nah, ini dia orangnya."
"Tak ada masalah yang berarti, Pak." Jawab Asiong. "Mereka mengganggu temanku."
"Lalu dimana temanmu sekarang?" Tanya Pak Satpam.
"Sudah pulang ke rumahnya." Kata Asiong lagi sambil dalam hatinya bergumam, 'Tak perlu kuceritakan kalau dia bersama saudara-saudaraku sekarang. Nanti malah ditanya panjang lebar.'
"Oh begitu." Ujar Pak Satpam.
"Kalau boleh tahu, Pak, siapa orang berbadan besar tadi?" Tanya Asiong.
Pak Satpam dan kedua temannya saling bertatapan, sebelum balik bertanya.
"Kalian orang baru disini?" Tanya Pak Satpam.
Asiong menatap Buntara.
"Tidak, Pak. Saya sering datang kesini." Jawab Buntara. "Hanya saja saya belum pernah melihat mereka."
"Oh," Teman Pak Satpam menggaruk kepalanya. "Mustinya kalau sering datang kemari, kau mengenalnya. Dia terkenal disini."
"Terkenal?" Buntara melirik Asiong. "Maksud Bapak?"
"Saya juga masih baru disini, tapi yang saya tahu mereka itu preman disini." Jawab Pak Satpam.
"He eh. Preman ya? Mau rokok, Pak?" Buntara mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkan kepada mereka.
Ketiga orang itu menerima pemberian Buntara, menyalakan rokok masing-masing, baru melanjutkan pembicaraannya.
"Dia bernama Roni Susilo, putra Ahmad Susilo, salah seorang rentenir yang terkenal sadis." Kata Pak Satpam menjelaskan.
Kedua mata Asiong terbelalak mendengar perkataan Pak Satpam itu. Buntara juga tak berbeda keadaannya. Keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Rentenir?" Gumam kedua bersaudara itu bersamaan.
BERSAMBUNG
BAGIAN 14
"Terima kasih atas bantuanmu ya." Kata Asiong kepada Buntara. Kedua pemuda itu sedang berjalan menyusuri trotoar dan telah meninggalkan diskotik yang tak berapa lama sebelumnya terjadi pertikaian antara keduanya dengan sekelompok pemuda yang mengambil kesempatan pada seorang gadis kenalan Asiong. Diskotik yang telah mereka tinggalkan beberapa meter di belakang.
"Tak masalah, selama aku masih bisa membantu." Jawab Buntara menepuk pundak Asiong. "Hitung-hitung olahraga setelah lama tak menekuni hobi..."
Asiong tertawa. "Hebat juga berkelahimu. Sudah lama aku mendengarnya, tapi baru tadi kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Asuk yang mengajarkan ya?" Asuk berarti paman, adik ayah atau ibu.
Buntara mengangguk. "Hanya sedikit saja." Katanya merendah.
"Yang lainnya kemana?" Asiong memasukkan jemarinya ke dalam saku celana jeans-nya dan memandang ke sekeliling. Mereka sedang berada di sebuah perempatan jalan saat itu. Lalu lintas pada dini hari itu masih cukup ramai oleh lintasan kendaraan-kendaraan pribadi dan juga taksi. Mungkin karena malam itu adalah malam minggu.
"Aku tidak tenang melihat keadaan Ervina." Sambung Asiong.
"Tak perlu khawatir." Buntara menjawab sambil menyalakan sebatang rokok dengan pemantik gas. "Mereka menunggu tak jauh dari sini."
"Kita bisa kesana sekarang?" Asiong menatap saudaranya itu.
"Kenapa gak?" Buntara menghembuskan asap rokok yang dihisapnya. "Ayo!"
Kedua pemuda itu meneruskan perjalanan mereka dengan Asiong mengikuti di belakang Buntara yang memimpin di depan. Setelah berjalan beberapa meter kemudian, Asiong melihat sebuah mobil Kijang Inova berwarna putih terparkir di pinggir jalan, mobil yang malam itu dibawa oleh Buntara ke diskotik.
Hati Asiong berdegup kencang saat makin mendekati mobil tersebut. Pemuda itu mengkhawatirkan Ervina.
"Wah, itu mereka datang." Terdengar suara Poniman dari balik jendela mobil yang diturunkan. Chandra duduk di balik kemudi dan Akong berada di bangku di belakangnya bersama dengan Poniman. Di tengah-tengah kedua pemuda itu tampak Ervina yang masih dalam keadaan tertidur dengan kepala dan punggung bersandar di bangku.
"Gimana, Siong?" Akong langsung mengajukan pertanyaan saat Asiong dan Buntara membuka pintu mobil.
"Gue satu, Asiong satu. Dua-duanya KO!" Buntara menyela sambil tersenyum.
"Maksud lu? Gue gak ngerti..." Poniman menatap kedua saudaranya yang baru bergabung itu dengan pandangan bingung.
"Turun, Po!" Asiong yang membuka pintu belakang meminta tempat di samping Ervina yang saat itu masih ditempati Poniman.
"Wah yang punya pacar," Dengan tersenyum, Poniman beranjak turun dan tempatnya diganti oleh Asiong.
"Berisik!" Asiong menimpali dan duduk di samping Ervina. Sesaat matanya memeriksa keadaan sang gadis dan kemudian diliriknya Akong yang duduk di samping kiri Ervina. "Bagaimana keadaannya?"
"Masih belum bangun. Mungkin dosisnya tinggi." Ujar Akong. "Lu jaga dia ya. Gue pindah ke belakang."
Bersama dengan Poniman, Akong beranjak duduk di barisan paling belakang, meninggalkan Asiong dan Ervina di barisan tengah. Sementara Chandra berpindah ke samping kemudi dikarenakan Buntara yang membawa mobil tersebut duduk di belakang kemudi.
"Kita kemana nih, Siong?" Buntara membuang sisa rokok yang dihisapnya ke jalan dan memegang kemudi.
"Jalan saja, Bun. Aku masih belum tahu akan kemana. Kita pergi dari sini saja." Jawab Asiong.
"Oke." Buntara pun memutar kunci menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya melintasi lalu lintas di pagi dini hari itu.
Sepanjang perjalanan, Buntara dan Asiong bergantian bercerita mengenai pertarungan yang mereka temui sebelumnya. Adalah Buntara yang lebih banyak berbicara, sementara Asiong terus menerus memeriksa keadaan Ervina yang sampai waktu itu masih terkulai tak sadarkan dirinya.
"Siong, sebelumnya sori ya, tapi gue rasa gak bagus nih kalau pas dia bangun dan liat kita semua disini." Chandra tiba-tiba menimpali percakapan mereka. "Image lu bisa jelek di depannya, Siong."
Asiong mengangkat kepalanya. "Benar juga ya. Tapi apa yang harus kulakukan?"
"Gini aja, Siong." Buntara menjawab sambil sibuk mengendarai mobilnya. "Lu naik taksi aja. Jadi kalaupun dia bangun, kan cuma ada lu aja. Jadi gak ada kita."
"Jujur, Siong. Gue sih gak mau terlibat." Poniman menambahkan. "Bisa berabe."
"Tapi aku musti kemana?" Asiong menatap keempat saudaranya dengan bingung.
Akong tertawa sambil menepuk pundak Asiong. "Kalau lu emang sayang pada Ervina, lu pasti tau harus ngapain."
'Sayang katanya?' Bathin Asiong dalam hati. 'Terlalu cepat untuk bilang itu.'
Buntara menghentikan kendaraannya di pinggir jalan. "Gimana, Siong?"
"Mumpung Ervina belum sadar lho. Nanti kalau udah bangun, repot lho." Tambah Chandra.
"Ya sudahlah. Aku turun disini saja." Asiong pun membuka pintu mobil dan turun.
"Sorry, Siong. Ini demi lu juga." Kata Buntara lagi.
"Aku mengerti." Asiong menjulurkan lengannya memeluk pinggang Ervina dan memapah gadis itu turun dari mobil. Sesaat gadis itu mengeluh saat Asiong membuatnya turun dari mobil tinggi tersebut.
"Oke, sampai disini saja." Kata Asiong. "Terima kasih semuanya."
Keempat sepupu Asiong tersenyum. Akong dan Poniman kembali ke barisan tengah dan pintu yang dibuka Asiong untuk turun, ditutup salah seorang dari mereka.
"Kami jalan dulu, Siong." Keempat saudaranya berkata bersamaan sebelum mobil Toyota Inova tersebut meluncur pergi meninggalkan Asiong dan Ervina disana.
BERSAMBUNG
BAGIAN 15
Tak perlu lama bagi Asiong untuk mendapatkan taksi yang bisa ditumpanginya. Tak sampai sepuluh menit berdiri sambil memeluk pinggang Ervina yang kepalanya terbaring lemas di pundaknya, pemuda itupun sudah duduk di dalam taksi yang membawanya.
"Mau kemana, Pak?" Tanya supir taksi memandang Asiong dengan pandangan curiga. Mungkin sebersit pikiran kotor terlintas di benak sang supir melihat seorang pemuda masuk sambil memeluk seorang gadis yang tak sadarkan dirinya.
"Aku belum tahu mau kemana, tapi Bapak jalan saja." Jawab Asiong sambil membaringkan kepala Ervina ke kepala kursi.
"Maksudnya Bapak?" Sopir taksi itu masih tampak jelalatan melihat tingkah laku Asiong yang menjadi penumpangnya itu.
"Bapak jalankan taksi saja. Aku masih belum ada tujuan sampai dia bangun." Pukas Asiong yang mulai agak kesal melihat 'perhatian' si sopir taksi.
"Baik, Pak." Sambil memulai menjalankan taksinya, mata si sopir taksi masih melirik spion atas yang memungkinkannya melihat ke belakang dimana Asiong duduk berdampingan dengan Ervina.
'Atau aku bangunkan saja dia ya?' Bathin Asiong kebingungan dalam hatinya. Saat itu dia menatap wajah tenang Ervina yang sedang tertidur itu. Dengan kedua mata terpejam, rambut pirang yang tergerai lepas, dan semua keindahan di wajah Ervina, membuat Asiong seperti terpukau dan tak ingin melepaskan pandangannya pada wajah gadis itu.
'Cantik sekali.' Gumam Asiong dalam hati. 'Andai saja aku bisa mengenalnya lebih jauh.'
Perjalanan tak tentu arah tersebut berlanjut. Argo taksi sudah menunjukkan harga sekitar dua puluh ribu rupiah saat itu dan pembicaraan Asiong dengan sopir taksi pun menjadi hening karena kehabisan topik pembicaraan, namun belum ada tanda-tanda Ervina akan terbangun dari ketidaksadarannya.
'Bangun dong. Sampai berapa lama lagi harus menggantung seperti ini?' Bathin Asiong dalam hati sambil melirik gadis yang rebah di sampingnya.
Sesaat terlihat kedua bibir gadis itu membuka. Dari antara kedua bibirnya keluarlah suara keluhan.
"Ervina." Asiong memegang lengan gadis itu dan mencoba mengguncangnya pelan. Berharap gadis itu bisa sadar dan membuka matanya.
"Uuuhhhhh....." Terdengar keluhan gadis itu kembali. Melihat kesempatan itu, Asiong pun tak menyia-nyiakannya. Dipanggilnya nama gadis itu sambil mengguncang lengannya lebih keras lagi.
Samar-samar Ervina merasa namanya seperti dipanggil. Suaranya jauh, sangat jauh. Pelan sekali, namun bisa terdengar olehnya. Suara yang terus menerus memanggil namanya dan sebuah kata lain yang masih belum jelas terdengar olehnya.
"Ngghhhh..." Kepala Ervina berputar ke kanan dalam sandarannya, menjauhi Asiong yang duduk di sebelah kirinya. Melihat hal itu, Asiong memberanikan dirinya memegang kedua pipi gadis itu dan ditepuknya perlahan sambil memanggil namanya.
"Ervina, bangun." Pemuda itu terus menepuk pelan pipi gadis itu.
Suara yang terngiang di telinga Ervina mulai terdengar jelas. Terasa semakin dekat terdengar. Keadaan sekelilingnya juga sudah tidak lagi hitam tak berujung, namun kini telah bergulir sedikit lebih terang, seperti ada seberkas cahaya yang menyeruak masuk.
Makin lama cahaya terang itu semakin menyelimuti tempat tersebut. Keadaan sekitarnya menjadi seperti kelabu. Sementara suara yang memanggil namanya kian terdengar mendekat.
Keadaan mulai memutih. Sedikit demi sedikit putih semakin menguasai pandangannya. Gelap bertukar menjadi lebih cerah, lebih terang.
"Ooohhhhh..." Ervina mengeluh dan perlahan kedua matanya membuka. Dilihatnya di depan pandangan matanya, sebuah permukaan yang tertutup seperti busa namun seperti sedang bergerak.
"Dimana aku?? Ini..." Gadis itu kembali mengeluh. Diangkatnya kepalanya yang baru disadarinya sedang rebah itu. Seketika pusing melanda kepalanya.
"Ohhh, pusing..." Tak kuasa Ervina mengangkat kepalanya. Disandarkannya kembali kepalanya, membiarkan rasa pusing menghilang. Matanya kembali dipejamkan.
'Suara itu? Suara yang memanggil namaku itu? Kenapa suara itu berhenti?' Tiba-tiba bathin Ervina berkata. '
Penasaran, gadis itu kembali membuka matanya dan mengangkat kepalanya. Rasa pusing yang melandanya saat itu ditahannya. Dirasakannya tempatnya duduk seperti sedang bergerak saat itu.
"Ervina, kamu sudah bangun?" Terdengar namanya kembali dipanggil. Suara itu!
Tiba-tiba benak gadis itu teringat ketika terakhir kalinya dia masih berdansa di tengah ruangan diskotik dengan hantaman musik keras, sebelum seorang lelaki yang mengajaknya kesana menawarkan minum. Karena merasa kepalanya pusing, gadis itu memilih untuk duduk di sifa daripada meneruskan dansanya. Setelah itu, dirinya tak ingat apa-apa lagi, sampai suara itu menyadarkannya kembali.
"Ervina..." Suara itu kembali terdengar. Gadis itu menengok ke arah suara tersebut berasal. "Er..."
Suara tersebut berhenti memanggil. Sebuah suara yang lebih kencang menghentikan suara yang terus menerus memanggil namanya itu.
PLAAKKKK!!!
Sebuah tamparan keras tangan kanan Ervina membuat pemilik suara tersebut terdiam. Kepala itu diam tak bergerak, terpaku di tempat terakhir kali tamparan tersebut membuatnya berhenti.
BERSAMBUNG
BAGIAN 16
Setelah melancarkan sebuah tamparan yang membuat pemilik suara berhenti memanggil namanya, Ervina memberanikan diri untuk melihat lebih jelas situasi yang sedang dialaminya saat itu.
Sementara Asiong yang pipinya ditampar Ervina itu terdiam tak bergerak. Sekilas terlihat anting yang melekat di telinga kirinya dari posisi wajahnya setelah mendapat tamparan. Pandangannya terarah ke sofa yang sedang didudukinya tersebut.
"Hah!! Kamu..." Tiba-tiba terdengar Ervina terpekik saat menyadari siapa yang berada di hadapannya itu. "Kamu bukannya Koko yang di PRJ itu?"
Kedua mata Ervina terbelalak saat menyadari perbuatannya. "Koko, maaf, aku..."
Asiong mengangkat wajahnya yang diam tak bergerak itu. Ditatapnya kedua mata indah Ervina.
"Maafkan aku, Koko. Aku spontan. Maaf, aku sungguh minta maaf." Kembali terdengar suara Ervina. Tangannya bergerak seakan ingin mengusap pipi pemuda yang ditamparnya itu, namun diurungkannya.
Asiong menghela nafas panjang dan dihembuskannya. Pemuda itu tidaklah marah akan perbuatan Ervina kepadanya. Dia bisa memaklumi kenapa Ervina berbuat seperti itu kepadanya. Sebuah reaksi spontan yang bisa dilakukan siapapun yang sedang panik.
"Koko kenapa bisa berada disini?" Ervina menatap Asiong dan melihat ke sekeliling. Baru gadis itu menyadari, tempat duduknya yang bergerak ternyata karena dirinya berada di dalam sebuah taksi.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Asiong berkata. "Kamu tidak apa-apa?"
Ervina terperanjat. Kedua lengannya segera memeriksa tubuhnya dengan memegang saku di celana dan beberapa tempat lain di tubuhnya. Lalu ditatapnya Asiong kembali.
"Aku gak apa-apa, Ko." Kata gadis itu. Suaranya terdengar bergetar. Rasa pusing di kepalanya masih tersisa sedikit. "Terima kasih kalau memang benar Koko yang menolongku."
"Badanmu masih lemah, istirahatlah dulu." Asiong kembali berkata. Matanya bertatapan dengan mata indah Ervina. "Aku akan mengantarmu pulang."
"Tapi, Ko..."
"Istirahatlah!" Nada suara Asiong terdengar dalam membuat Ervina tak ada jalan lain kecuali menurutinya dan menyandarkan badannya di sofa di belakangnya.
Sesaat keduanya terdiam seribu bahasa. Asiong mengarahkan pandangannya keluar jendela. Walaupun hatinya tidak marah, namun bekas tamparan Ervina di pipinya masih terasa pedas saat itu.
'Pedas juga tamparanmu, Ervina.' Bathin Asiong. 'Untung saja perasaan hati ini berkata lain. Andai aku tak ada rasa padamu, aku takkan diam seperti ini.'
Ervina sendiri terpaku bersandar di sofa taksi. Ingin sekali dia bersuara membuka pembicaraan dengan pemuda di sampingnya itu. Namun tamparan yang dilakukannya sebagai reaksi spontan, membuatnya menjadi sungkan untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
'Aku takut Koko marah, aku telah bersalah menamparnya.' Gadis itu berkata dalam hatinya. 'Please, Koko, jangan marah padaku. Aku tak bermaksud menamparmu tadi. Kupikir kamu adalah Roni.'
'Tapi kalau aku diam begini, mau sampai kapan?' Kembali Asiong membathin. 'Bukankah aku ingin bertemu dengan Ervina lagi? Kenapa justru sekarang sudah bertemu dan aku malah diam begini?'
'Ayo, Vina, panggil dia terlebih dulu. Minta maaf sekali lagi. Jangan bohongi perasaanmu sendiri.'
'Siong, ayo, kenapa diam saja? Selama ini Asiong tak pernah mengenal rasa takut kepada lawan kan? Kenapa kepada lawan jenis justru sepertinya ketakutan?'
Asiong memutuskan untuk menengok dan membuka pembicaraan terlebih dahulu dengan memanggil gadis yang duduk di sampingnya itu, tepat ketika Ervina memalingkan wajahnya dan bersiap-siap untuk membuka mulut meminta maaf kepada pemuda yang membuatnya tertarik itu.
"Kamu..." Kata Asiong. Suaranya terhenti ketika Ervina ternyata juga berkata pada saat itu.
"Koko..." Disaat bersamaan Ervina juga bersuara. Gadis itu terdiam manakala menyadari panggilannya membuat pemuda di sampingnya menjadi terdiam.
Wajah keduanya saat itu saling bertatapan, mata ke mata. Kembali keheningan mencekam. Keduanya terdiam tak bersuara kembali.
"Pak, jadi kita kemana ya?" Justru yang membuka mulut memecah kebuntuan disana adalah supir taksi, membuat kedua anak muda tersebut terperanjat dan berpaling mengalihkan pandangan ke arah sopir taksi dari sebelumnya yang saling bertatapan satu sama lain itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 17
"Kita pulang saja, Pak." Jawab Asiong setelah terdiam beberapa lama. Ditatapnya Ervina yang duduk di sebelahnya itu. "Dimana rumahmu?"
"Aku tidak mau pulang." Jawab Ervina mendadak.
"Ini sudah malam. Tidak baik untuk seorang gadis berada di luar sendirian." Asiong berkata memberikan penjelasan.
"Kata siapa aku sendirian? Aku tidak sendirian." Ervina menyibakkan rambut pirangnya ke belakang. Perbuatannya ini menarik perhatian Asiong yang tak berkedip memandangnya.
"Kan ada Koko disini. Jadi aku tidak sendirian kan?" Sambung Ervina lagi dengan nada menggoda dan tatapan mata yang membuat Asiong memalingkan wajahnya.
'Gadis ini. Kenapa aku tak kuasa memandangnya?' Gumam Asiong dalam hati. 'Kenapa juga aku tak kuasa menolaknya? Kenapa?'
Ervina mengalihkan pandangannya ke arah sopir taksi. "Pak, antarkan kami ke Jalan Hayam Wuruk."
"Baik, Non." Sopir taksi menjawab sambil mengangguk.
"Kenapa ke Hayam Wuruk? Ada apa disana?" Asiong kebingungan mendengar tempat tujuan mereka.
"Sudahlah, nanti Koko juga akan tau." Ervina dengan santainya menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa taksi.
"Kenapa kamu tidak pulang saja?" Kembali Asiong bertanya. Hati pemuda itu bimbang bercampur bingung.
Ervina menatap pemuda itu sebelum menjawab, "Koko. Aku belum mau pulang. Aku masih ingin menikmati malam ini..."
'Bersamamu.' Lanjut gadis itu dalam hatinya. Dia belum ingin Asiong menyadari perasaannya secepat itu.
Karena lalu lintas yang lengang di dini hari itu, tak sulit bagi supir taksi membawa keduanya ke Jalan Hayam Wuruk. Berbeda dengan beberapa ruas jalan lainnya, suasana di jalan semi protokol itu masih cukup ramai saat itu.
"Berhenti di Fast Food depan itu, Pak." Ervina berkata dengan semangat. Sementara Asiong melihat keluar, ke arah Hayam Wuruk. Selain suasana jalan yang masih ramai, juga terdapat beberapa fast food yang masih buka 24 jam. Salah satu yang ada disana adalah Dunkin Donuts.
"Pinggir, Pak." Kata Ervina lagi sambil mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompet yang disimpan di saku celananya dan menyerahkannya kepada supir taksi. "Ambil kembaliannya."
Asiong melihat semua tingkah Ervina dengan pandangan terbelalak tak percaya. Bahkan pemuda itu masih belum menyadari ketika Ervina telah membuka pintu taksi dan menjejakkan kaki kanannya keluar.
"Koko, ayo! Kenapa bengong?" Suara Ervina menyadarkan lamunan Asiong. Pemuda itu akhirnya membuka pintu dan beranjak keluar dari taksi. Ketika berdiri di atas trotoar, kembali pemuda itu terbengong, seperti masih belum menyadari apa yang sedang terjadi.
Sebuah tarikan di lengannya membuat Asiong tersadar.
"Ayo, Ko, kita masuk!" Ervina yang ternyata menarik lengan pemuda itu untuk kemudian mengajaknya masuk ke dalam restoran fast food tersebut.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Asiong saat lengannya ditarik Ervina. Yang ada hanya degupan jantung yang mendadak dan dirasakannya semakin lama semakin kencang.
'Ada apa dengan semua ini? Apa yang sedang terjadi?' Kata Asiong dalam hati.
Dengan sebelah tangannya, Ervina mendorong pintu restoran fast food tersebut. Lalu sebelah lengannya yang menggandeng Asiong mengajak pemuda itu melangkah masuk ke dalam.
"Nah, Koko." Kata Ervina. Genggaman tangannya pada tangan Asiong masih belum dilepas. "Kita berdua akan melewati malam ini disini."
Asiong terperanjat mendengar perkataan Ervina. 'Melewati malam ini disini? Berdua katanya?' Gumamnya dalam hati.
BERSAMBUNG
BAGIAN 18
"Brengsek!!" Roni Susilo memukul setir mobilnya. "Semuanya berantakan! Sial!!"
Mobil sedan Audi keluaran terbaru yang sedang dikendarainya tampak gesit melintas di jalan. Roni sendiri yang mengendarai mobil tersebut, tak pernah memberikannya kepada siapapun untuk membawanya. Di sampingnya duduk seorang temannya, sementara kedua temannya yang tak sadarkan diri dalam pertarungan sebelumnya terkapar di bangku belakang.
"Gara-gara pemuda brengsek itu!" Teriak Roni kembali. Sepertinya emosional pemuda ini sedang meninggi. Dikendarainya mobilnya dalam kecepatan tinggi sebagai pelampiasan kekesalan emosinya.
"Sabar, Ron." Pemuda yang duduk di sampingnya berusaha menghiburnya.
"Siapa pemuda yang suka ikut campur urusan itu?!" Hardik Roni.
"Gue juga gak tau, Ron." Jawab temannya itu sambil menawarkan rokok dari bungkusannya. "Rokok dulu, bro." Namun ternyata tawarannya ternyata tidak digubris oleh Roni.
"Martin dan Niko juga goblok!!" Kembali Roni berteriak dengan kemarahan yang memuncak. "Bisa-bisanya KO pada dua pecundang itu!!"
"Tapi Ron, sepertinya mereka bukan orang sembarangan deh."
"Maksud lu?"
"Ya, kita kan hampir setiap hari latihan fisik. Kalau sampai mereka bisa mengalahkan Martin dan Niko, apalagi sampai membuat mereka KO begitu, itu artinya mereka bukan sembarangan."
Roni memegang dagunya yang masih sakit akibat hantaman tinju Asiong. Dari sana dia bisa mendapatkan pembuktian perkataan temannya itu.
"Itu belum seberapa." Sela Roni sesumbar. "Tapi gue masih ingin menghajarnya. Gue mau liat mereka, bukan, anak sial itu menderita karena sudah ikut campur urusan kita!"
"Pasti bisa, Ron. Gue yakin lu pasti bisa."
"Harus bisa!!" Roni kembali berteriak. "Tunggu aja pembalasan Roni!"
"Tapi emang lu udah tau dia anak mana, Ron?"
"Buntu! Gue sama sekali gak tau, baru sekali ini ketemu dia."
"Temennya yang satu juga jago lho. Martin sampe melintir kena tendangannya."
"Hah! Itu cuma hoki aja, Man. Gue gak yakin mereka sejago yang lu bilang!" Roni berkata sambil mengusap-usap dagunya. 'Brengsek! Sakitnya masih berasa...'
"Coba tadi semuanya berjalan lancar ya. Lu pasti udah senang-senang dengan Vina ya?" Sahut temannya sambil tertawa lepas.
Roni tertawa mengikuti temannya itu. "Tenang aja, kita kasih dia bebas dulu."
"Maksud lu gimana?"
"Gue biarin Vina bebas dulu. Sambil cari tau siapa dua orang brengsek itu." Roni membelokkan mobilnya memasuki lantai bawah sebuah gedung apartemen.
"Lukman, kita bagi tugas aja, bro." Lanjut Roni lagi. "Lu orang cari tau siapa dua orang brengsek itu. Terserah lu mau apain mereka. Bila perlu lu bunuh juga gue gak peduli."
"Nah, lu ngapain?" Tanya temannya yang bernama Lukman itu.
"Vina dong, coy! Mantap kan?"
"Wah, pintar lu, Ron!" Lukman tersenyum licik. "Jadi sekali kena dua target ya?"
"Hahaha... tenang aja. Selalu ada bonus kalo lu orang berhasil. Gue gak pernah lupain temen kok, Man...."
"Lu emang sahabat sejati, Ron!" Lukman tertawa lepas mengikuti Roni yang telah tertawa terlebih dahulu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 19
Suasana di Dunkin Donuts cukup ramai oleh pasangan-pasangan anak muda yang sedang melewati malam minggu bersama. Ada juga sekumpulan anak muda yang bercengkrama bersama disana. Terdapat beberapa meja kosong yang masih belum ditempati.
Setelah mempelajari suasana di sekeliling, Ervina menggandeng tangan Asiong untuk menempati sebuah meja kosong di pinggir tembok dan agak berada di pojok. Kedua anak muda itu duduk hampir bersamaan waktunya, saling berhadapan satu sama lain.
"Koko mau pesan apa, biar sekalian kuambilkan." Kata Ervina menatap Asiong sesaat setelah keduanya duduk.
Asiong masih kebingungan dengan situasi yang serba mendadak itu, sehingga pertanyaan Ervina dijawabnya dengan seadanya.
"Apa sajalah. Terserah kamu yang pesan." Asiong membalas tatapan Ervina.
"Kalau donat, mau ya, Ko?" Ervina menyentuh lengan Asiong.
"Boleh."
"Minumnya apa?" Gadis itu tersenyum. "Orange juice, lemon tea atau soft drink?"
"Lemon tea saja." Jawab Asiong sambil menyalakan sebatang rokok.
"Koko tunggu disini ya, aku pesan dulu." Ervina bangun dari duduknya dan sambil tersenyum, gadis itu berlari kecil ke meja pemesanan.
'Semangat sekali. Tidak seperti seorang yang kena obat penenang sebelumnya.' Gumam Asiong dalam hati.
Selang beberapa menit kemudian, Ervina kembali dengan sebuah nampan yang di atasnya terdapat dua piring dan dua gelas minuman. Diletakkannya nampan tersebut ke atas meja.
"Ini pesanan Koko." Gadis itu mengambil salah satu piring yang berisi dua donat dan lemon tea yang kemudian diserahkan kepada Asiong. Sedangkan dia sendiri mengambil piring yang tersisa dan gelas minuman yang sepertinya berisi soft drink.
"Terima kasih ya," Asiong meletakkan rokok yang dihisapnya ke asbak sebelum mengambil garpu dan pisau.
"Iya, Koko." Ervina tersenyum manis sebagai jawabannya. Tangannya menancapkan sedotan ke gelasnya dan gelas minuman Asiong. "Itu rasa stroberi, Ko. Satunya lagi keju. Koko suka gak ya?"
Asiong tersenyum mendengar komentar Ervina. "Terima kasih sudah membelikan donat ini. Tak masalah bagiku mau rasa apa."
"Oke, Koko." Ervina mengambil gelas minumannya dan berniat meminumnya. "Dimakan, Ko."
"Tunggu!" Asiong berkata dengan tiba-tiba. "Jangan diminum dulu!"
Dengan gerakan cepat, pemuda itu mengambil gelas plastik berisi soft drink itu dan menukarkannya dengan gelas berisi lemon tea yang menjadi pesanannya.
"Lho, Koko. Kenapa?" Ervina menatap perbuatan Asiong dengan pandangan bingung.
"Ini soft drink kan?" Tanya Asiong memperhatikan isi minuman itu.
Ervina mengangguk.
"Apa ini? Coca Cola ya?"
Ervina mengangguk lagi.
"Kamu tak boleh minum ini dulu untuk malam ini." Kata Asiong. Dengan santainya pemuda itu meminum Coca Cola dari sedotannya. "Minum lemon tea saja. Jangan Coca Cola!"
"Lho, kenapa?" Ervina semakin bingung melihat tingkah laku Asiong tersebut.
"Bukannya kamu baru sadar dari efek..." Asiong berhenti sesaat untuk memelankan nada suaranya. "...obat penenang?"
Tak ada suara yang keluar dari bibir Ervina mendengar alasan yang dikemukakan Asiong itu.
"Ini minuman bersoda. Soda bisa bereaksi dengan zat kimia yang terdapat pada obat." Asiong melanjutkan penjelasannya. "Aku lupa apa istilahnya. Tapi yang pasti kamu minum lemon tea ini saja. Lebih aman."
"Nih, minumlah." Asiong menyodorkan gelasnya yang berisi lemon tea kepada Ervina. "Aku belum menyentuhnya. Apalagi meminumnya."
Ervina menerima gelas berisi lemon tea dengan hati tak menentu. 'Koko, kamu perhatian sekali, sampai hal sedetil itu pun kamu perhatian?'
'Aku sendiri sudah lupa kalau akan terjadi reaksi kimia ini kalau saja kamu tidak mengingatkanku, Ko.' Ervina menatap wajah Asiong yang tengah asyik menikmati rokoknya. 'Entah apa jadinya kalau kamu tak memperingatkanku tadi.'
"Terima kasih ya, Koko." Ucapan itu meluncur begitu saja keluar dari mulut Ervina.
"Heh, terima kasih? Untuk apa ya?" Asiong mematikan rokoknya di asbak dan menghembuskan asapnya dari mulut.
"Terima kasih telah menolongku." Ervina menyunggingkan senyum manisnya. 'Dua kali.'
"Sudahlah, kita makan saja yuk." Seru Asiong sambil mengambil donat dengan tangannya dan langsung melahapnya tanpa memotongnya lagi. "Upppsss!!"
Pemuda itu terloncat dari duduknya ketika selai stroberi yang menjadi isi donat yang sedang digigitnya meleleh dan menetes di tangannya. Buru-buru pemuda itu meletakkan donat itu ke atas piring dan mengambil serbet tisu untuk membersihkan tangannya dari selai stroberi.
"Hihihi..." Di saat bersamaan Ervina tertawa lepas melihat tingkah Asiong tersebut. "Makannya sabar aja, Ko. Gak perlu buru-buru. Kita disini sampai pagi kok."
"Sampai pagi?" Ujar Asiong sambil membersihkan tangannya. "Mau ngapain disini lama-lama?"
"Hihihi... Koko..." Ervina menatap Asiong dengan tatapan menggoda. "Ada yang ingin kutanyakan padamu, Ko."
"Apa itu?"
"Tapi aku mau Koko jawabnya jujur ya." Nada suara gadis itu terdengar memikat di telinga Asiong, membuat pemuda itu tak sanggup menolaknya. "Boleh ya, Ko?"
'Gadis ini? Kenapa aku lagi-lagi terpikat padanya? Kenapa lagi-lagi aku tak sanggup menolaknya?' Gumam Asiong dalam hati. Jantungnya mendadak berdegup kencang saat itu, bulu-bulu halus di lengannya terasa meremang dengan mendadak.
'Perasaan ini...' Asiong tak berkedip menatap pesona gadis keturunan yang berada di hadapannya itu. Gadis yang sedang tersenyum manis dan membalas tatapannya dengan kerdipan matanya.
"Koko," Ervina lagi-lagi memanggil dengan suaranya yang memikat. "Bagaimana Koko bisa tau kalau semalam aku sedang berada di diskotik?"
Sebenarnya itu merupakan sebuah pertanyaan sederhana saja, namun cukup membuat Asiong tersentak untuk beberapa detik. Sementara Ervina yang mengajukan pertanyaan itu menatapnya dengan pandangan tak berkedip.
BERSAMBUNG
BAGIAN 20
Untuk mengusir rasa gugupnya, Asiong kembali menyalakan sebatang rokok. Dihisapnya dalam-dalam dan dihembuskannya melalui hidungnya.
'Mana mungkin aku cerita kalau aku jadi salah tingkah sejak pertama kali mengenalmu?' Gumam Asiong dalam hati. 'Padahal itulah yang membuatku pergi ke diskotik dan bertemu kembali denganmu.'
"Koko, kok diam? Jawab dong pertanyaan Vina..." Gadis di depan Asiong itu mengerdipkan matanya, membuat Asiong seperti terbangun dari mimpi.
"Eh... gimana ya?" Asiong menghembuskan asap rokoknya lagi. 'Mati deh aku. Di depannya aku malah tak berkutik.'
"Koko gak tanya temenku yang jaga stand kemarin kan?" Ervina mengibaskan rambut pirangnya ke belakang, menyisakan sebagian poni di keningnya.
'Ah, cantiknya.' Asiong tak bisa berhenti terkesima melihatnya. 'Tapi darimana dia bisa tahu aku ke PRJ mencarinya? Jangan-jangan temannya cerita lagi...'
"Kenapa kamu bisa tau kalau aku mencarimu kemarin?" Asiong berbalik tanya. "Jangan-jangan temanmu yang cerita ya?"
Ervina tersenyum. "Tentunya, Ko."
"Oh ya? Dia bilang apa?" Penasaran, Asiong kembali bertanya.
"Ada deh, Koko. Mau tau aja ya... Hihihi..." Sahut Ervina sambil tertawa. Diambilnya gelas minuman berisi lemon tea dan diminumnya beberapa teguk melalui sedotan.
"Sebenarnya aku cuma iseng pergi ke diskotik, Vin." Kata Asiong setelah berhasil mengatasi kegugupannya, dengan susah payah. "Itu juga karena diajak..."
"Siapa yang mengajak?"
"Saudaraku."
"Oh, yang waktu itu bersamamu ke PRJ ya?"
"Iya, benar." Asiong tersenyum. "Siapa sangka malah bertemu kamu disana."
"Kalian kompak ya? Aku jadi iri, Ko." Sela Ervina sambil menunduk.
"Lho memangnya keluargamu gak kompak ya sampai kamu bilang begitu?"
"Bukan gitu, Ko." Ervina mengangkat wajahnya kembali. "Ceritanya panjang."
"Oh, maaf kalau begitu. Aku tak bermaksud mengungkit masa lalumu."
"Gak apa-apa kok, Koko." Gadis itu tersenyum kembali. "Aku gak keberatan juga..."
"Begitu ya?" Asiong kembali menyemburkan asap rokoknya.
"Tapi, Ko. Jujur padaku." Ervina lagi-lagi berkata dengan suaranya yang menggoda.
'Apa lagi nih?' Bathin Asiong. 'Daya tarikmu membuatku tak berkutik, apa kamu tau itu?'
"Pada waktu Koko melihatku dan menolongku, Koko sempat terlibat perkelahian gak tadi?" Kembali pertanyaan sederhana yang diajukan Ervina membuat lidah Asiong kelu tak bisa menjawabnya.
"Tolong jujur padaku, Ko." Kedua mata bening gadis itu menatap lurus ke sepasang mata Asiong. "Please..."
'Mungkin aku bisa pakai kesempatan ini untuk mencari tau siapa Roni itu dan kenapa Ervina bisa kenal dengannya.' Bathin Asiong kembali. 'Cerita tukar cerita, kurasa bukan masalah yang besar.'
Memikir kesana, Asiong menjawab. "Baik, aku akan cerita. Tapi aku juga ingin kamu jujur."
"Tentang?" Ervina mengangkat alisnya.
Asiong mematikan rokok yang telah habis dihisapnya ke asbak. "Roni. Roni Susilo. Bagaimana kamu bisa mengenalnya?"
Alis mata Ervina tidak lagi terangkat, namun kedua matanya kini memandang Asiong dengan terbelalak. "Koko kenal dengan Roni?"
"Gimana ya?" Asiong menengok ke samping sesaat. Terlihat beberapa anak muda duduk bersama, mengobrol dan bercanda sambil tertawa-tawa.
"Yah, aku mau bilang, dalam usaha menolongmu, mau tidak mau kami terlibat pertarungan." Asiong mengungkapkan.
"Hah?! Koko..." Ervina semakin terbelalak mendengarnya. "Tapi Koko gak apa-apa kan? Soalnya Roni itu ganas."
"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak apa-apa, Vina." Asiong tersenyum. Pemuda itu tidak melanjutkan bahwa dia dan sepupunya merobohkan dua orang anak buah Roni dalam pertarungan itu.
"Syukurlah, aku sudah khawatir saja Koko kenapa-kenapa..." Ujar Ervina.
'Heh? Khawatir? Sudah seperti pacar saja...' Asiong membathin. Jantungnya semakin berdegup kencang setelah mendengar perkataan gadis itu.
"Kalau aku boleh tau, kejadiannya gimana, Ko?"
'Aduh, ini sih sama saja aku harus cerita kalau Buntara dan aku merobohkan dua orangnya Roni.' Bathin Asiong lagi.
"Cerita padaku ya." Suara Ervina terdengar memelas. "Please, Koko..."
Sepertinya tak ada pilihan lagi bagi Asiong untuk menghindar, apalagi menolak. Pemuda itu menarik nafas sebelum bersiap untuk menceritakan pertemuan mereka yang terjadi secara kebetulan di diskotik semalam.
BERSAMBUNG
BAGIAN 21
Sambil menyalakan sebatang rokok, Asiong mulai bercerita. Diawali dari kepergiannya ke PRJ kemarin dan bertemu dengan salah seorang SPG teman Ervina disana hingga diajak pergi ke diskotik oleh Buntara keesokan harinya.
Namun sesuatu yang tidak pernah disangkanya akan berjumpa adalah pertemuannya dengan Ervina. Bisa dibilang itu suatu kebetulan yang tidak disengaja. Bisa juga mungkin Tuhan yang menghendaki keduanya bertemu kembali. Dilanjutkan dengan pertarungan fisik dengan Roni dalam upaya menolong Ervina dan merebut gadis itu dari tangan jahat Roni.
"Jadi selama itu kamu memeluk aku ya?" Ervina menyela di tengah cerita Asiong. Pertanyaannya membuat wajah pemuda itu jengah.
"Aku tak ada pilihan lain. Maafkan bila aku sudah lancang memelukmu." Kata Asiong.
"Kenapa harus minta maaf?" Ervina bertanya balik. "Aku tidak merasakan itu suatu hal yang salah."
'Jadi apa yang kurasakan selama aku tak sadarkan itu adalah pelukanmu di pinggangku dan usahamu mempertahankan diriku agar tak direbut oleh Roni?' Ervina membathin. 'Sungguh suatu perjuangan yang tak mudah dan kamu tak mengeluh sedikitpun?'
Asiong masih melanjutkan ceritanya tentang pertempurannya dengan Roni dan dua anak buahnya, yang salah satunya dirobohkan oleh Buntara.
"Jadi kamu dan Buntara masing-masing merobohkan satu orang ya?" Ervina menatapnya dengan tak berkedip. "Hebat! Sekali lagi terima kasih ya sudah susah payah menolongku."
Asiong melambaikan tangannya. "Kamu sendiri, kalau boleh tahu, kenapa bisa sampai terjebak olehnya?"
"Roni mengajakku hangout." Jawab Ervina. "Aku tak tahu harus bagaimana."
"Apanya yang bagaimana? Kalau kamu tahu Roni orangnya seperti apa, kenapa tidak kamu tolak saja?"
Ervina terdiam.
"Roni itu pacarmu?" Tanya Asiong tiba-tiba.
Terhenyak Ervina mendengar pertanyaan Asiong itu. "Gak, bukan. Dia bukan siapa-siapa."
"Lantas kenapa kamu mau keluar dengannya kalau kamu sudah tau dia orangnya begitu?"
Ervina menghela nafas. Tampak ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Pandangannya dialihkan ke samping.
"Apa karena alasan tertentu?" Asiong tak berhenti bertanya. "Hutang barangkali?"
"Darimana kamu bisa tau?" Ervina menatap pemuda itu. Kedua mata gadis itu tampak berkaca-kaca.
Melihat kedua mata Ervina yang berkaca-kaca itu, mendadak Asiong menjadi tidak tega. "Maaf, aku tidak bermaksud memaksamu. Tapi itu hanya dugaanku saja."
Pemuda itu menawarkan gelas minuman yang berada di meja kepada Ervina.
"Minumlah. Tenangkan pikiranmu dulu." Kata pemuda itu sambil menyerahkan gelas plastik yang kemudian diambil oleh Ervina.
"Maafkan aku sebelumnya." Asiong mematikan rokok yang baru setengah dihisapnya ke dalam asbak. "Kalau memang benar begitu, kasusnya serupa dengan yang terjadi pada temanku."
"Dia menjual putrinya untuk melunasi hutang keluarganya." Asiong terdiam sesaat, membiarkan Ervina memperhatikannya lebih lanjut.
"Dan putrinya ini adalah temanku." Lanjut Asiong ketika Ervina menatapnya.
Ervina mengeluarkan tisu yang dibawanya di kantong celananya dan menyeka matanya yang mulai basah oleh air mata.
"Ceritanya panjang." Kata gadis itu pada akhirnya. "Mudah-mudahan kamu bisa kupercaya kalau aku menceritakan ini semua."
Asiong mengangguk dan menyedot minumannya. "Boleh kalau memang kamu bisa mempercayaiku."
"Awalnya keluargaku adalah keluarga yang sederhana." Ervina memulai ceritanya. "Perlahan-lahan karena giat, Papa mulai berhasil membuka usaha sendiri. Papa menyewa sebuah kios yang waktu itu baru diresmikan. Boleh dibilang kios Papa adalah kios pemula di tempat itu."
"Usaha apa?"
"Toko spare part motor." Jawab Ervina. "Usahanya semakin lama semakin berkembang. Sementara kios-kios lainnya juga semakin banyak yang dibuka. Salah satunya adalah kios yang menjadi saingan Papa, sama-sama menjual spare part motor juga."
"Awalnya kami bersaing secara sehat. Namun saingan tak selamanya baik. Suatu hari kios kami kemasukan maling. Papa mengalami kerugian sebesar ratusan juta rupiah. Anehnya, kios-kios lainnya tak tersentuh, hanya kios kami saja. Tapi kami masih belum mau menaruh curiga yang tak beralasan. Papa juga belum menyerah. Dia masih bertahan disana."
Asiong menyimak cerita Ervina sambil menikmati rokoknya.
"Ternyata kami kembali dijebak. Karena barang yang tercuri itu sebagian belum lunas, kami kesulitan mendapatkan order dari distributor langganan kami lagi. Barang kami pun banyak yang tak ada stok lagi. Lalu kami dikenalkan kepada seorang yang mengaku sebagai distributor spare part dimana kami bisa mengambil barang dan membayar dalam tempo 3 bulan di muka."
"Sebentar." Asiong memotong cerita Ervina. "Distributor yang lama itu berapa lama tempo waktu pembayarannya?"
"Sebulan, Ko. Kami tidak menyadarinya karena sudah terlanjur senang dengan kondisi boleh dilunasi 3 bulan di muka. Ternyata pada saat kami membayarnya, hutang kami menjadi semakin banyak, semakin berlipat ganda. Ternyata setelah diselidiki, orang ini bukan distributor, tapi..."
"Rentenir..." Asiong memotong perkataan Ervina sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Lho," Ervina menatap Asiong dengan pandangan tak percaya. "Darimana Koko bisa tau?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 22
"Tepatnya rentenir yang mengaku sebagai distributor kan?" Tanya Asiong lagi. "Menyamar sebagai distributor, padahal belang sebenarnya tukang jerat tak berperasaan alias rentenir kan?"
"Kamu bisa tau darimana?" Ervina menatap Asiong, masih dengan pandangan tak percaya.
"Berapa hutang papamu padanya?" Tanya Asiong lagi.
"Ratusan juta rupiah." Jawab Ervina.
"Seharga barang yang hilang dicuri itu ya?"
"Kurang lebih segitu, Ko." Kata Ervina.
"Jadi kios papamu tutup gara-gara tak sanggup membayar bunganya? Ditambah hilangnya kepercayaan dari distributor lain. Dan pesaingnya sekarang semakin maju, begitu?"
Ervina mengangguk.
"Licik!" Pemuda itu mengepalkan tangan kanannya, matanya membesar penuh amarah.
"Bukan cuma itu, Koko." Ujar Ervina. "Aku juga curiga kematian Papaku karena akibat hutang juga."
"Heh! Maksudmu?" Mata Asiong bertambah besar, kini terbelalak kaget.
"Papa meninggal mendadak suatu siang dan ketika diperiksa oleh dokter, katanya terkena serangan jantung. Seingatku Papa gak ada penyakit jantung deh."
"Bagaimana kondisinya waktu meninggal itu?"
"Tubuhnya membiru kehijauan. Seperti terkena racun." Bibir gadis itu seperti bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
"Bukan. Itu bukan racun." Jawab Asiong. "Itu kegagalan jantung. Papamu merasa tidak mendapat oksigen yang cukup waktu itu. Jantungnya gagal memompa oksigen, jadi tubuh kehabisan oksigen."
"Aku tidak ada di rumah waktu itu, aku masih di sekolah. Ketika aku diminta pulang, Papa sudah tiada." Ervina menunduk sedih dan air matanya kembali menetes saat itu. "Terbujur kaku di ruang tamu rumah kami."
"Kalau boleh tau, sebelumnya Papamu kemana atau apa dia makan sesuatu?"
"Apa yang Koko katakan persis seperti yang dikatakan dokter." Sahut Ervina sambil menyeka air matanya. "Aku curiga dari makanan yang dimakannya."
"Oh, di rumah ya makannya?"
"Bukan, Ko. Yang aku tau Papa diundang makan siang itu."
"Siapa yang mengundang?"
"Saingan bisnis Papa."
"Benar-benar licik!" Dengan geram, Asiong menggebrak meja dengan telapak tangannya. Piring dan tatakan yang berada di atasnya melayang beberapa centimeter ke udara sebelum jatuh lagi. Hal itu membuat orang-orang di sekitar mereka berdua menengok dan berpaling ke arah pemuda itu.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Asiong tak memperdulikan orang-orang yang memandangnya. "Usaha dimatikan. Pemiliknya juga ikut ditiadakan. Tapi kan Papamu bisa menolaknya, kenapa dia malah pergi?"
"Karena Papa diiming-iming hutangnya yang ratusan juta itu akan lunas bila datang ke undangan makan tersebut. Padahal sudah kami larang malam sebelumnya, tapi Papa lebih percaya mereka daripada kami."
"Tunggu. Darimana saingan bisnis Papamu ini bisa tahu Papamu terjerat hutang dengan rentenir?"
"Ahmad Susilo, rentenir yang menjerat Papa itu, berteman dengan Babah Chen Kuang." Ujar Ervina. "Dan dia datang ke undangan makan itu. Mungkin mereka bertiga makan siang bersama."
'Ahmad Susilo? Berarti yang dikatakan si satpam itu benar?' Gumam Asiong dalam hatinya. 'Kasus ini makin lama makin pelik.'
"Ohya, tadi kamu panggil dia Babah, berarti sudah tua ya?" Asiong menyalakan sebatang rokok baru untuk mengusir kepenatannya.
"Enam puluhan tahun, Ko." Jawab Ervina. "Nah, karena kami tak sanggup lagi membayar hutang, kami pun pindah sepeninggal Papa. Kami mengungsi ke perumahan yang lebih murah harga sewanya."
"Apa mereka tahu kamu pindah?"
"Semula mereka gak tau, Ko. Kami bisa tinggal dengan tenang selama hampir setahun lebih. Tapi entah gimana caranya, mereka bisa tau rumah kontrakan kami."
"Yah, yang namanya rentenir itu punya cara tersendiri untuk menjerat korbannya." Jawab Asiong.
"Akhirnya, di suatu pagi buta, saat semua tetangga sedang tidur, kami pun pindah lagi. Masih tetap menempati komplek perumahan, hanya saja harga kontraknya sudah jauh lebih murah."
Ervina memandang pemuda yang duduk di hadapannya itu. "Begitu Ko, ceritanya."
"Hmmm... Aku masih kurang jelas nih." Kata Asiong. Dimatikannya rokok yang masih tersisa sedikit itu. "Jam berapa ya sekarang?"
Ervina mengeluarkan hape dari saku celananya. "Hampir setengah empat."
"Oh ya, kamu minum kopi tidak?" Tanya pemuda itu sambil bersiap-siap berdiri. "Mataku sudah mulai mengantuk, tapi aku masih belum puas dengan ceritamu."
"Boleh, Ko." Gadis itu mengganguk.
"Kalau begitu, tunggu disini ya. Aku pergi beli kopi dulu." Berkata begitu, Asiong pun bergegas meninggalkan Ervina dan menuju ke meja pemesanan.
Sepeninggal Asiong memesan minuman, Ervina bergumam kepada dirinya sendiri, masih tersisa sejumlah pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban.
"Aneh, darimana Koko bisa tau tentang rentenir ya? Juga dia bisa tau tentang Roni?" Gadis itu memalingkan wajahnya melirik Asiong sedang berdiri memesan minumannya. "Siapa dirimu sebenarnya?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 23
"Nih kopimu." Asiong meletakkan secangkir kopi ke atas meja di depan Ervina dan dia sendiri duduk di hadapan gadis itu.
"Terima kasih." Sahut Ervina memperhatikan pemuda itu mengambil posisi duduknya. Rambut yang gondrong seleher, kalung yang dikenakan pemuda itu di lehernya, anting yang hanya sebelah dan lengannya yang memakai rantai gelang, semuanya tak luput dari perhatian gadis itu. 'Macho juga pemuda ini. Bila memang benar dia bertarung demi menyelamatkanku...'
Gadis itu menunggu Asiong duduk dan bibirnya mulai terbuka melontarkan pertanyaan. Asiong sendiri yang sudah duduk itu bersiap-siap mengajukan pertanyaan berikutnya kepada gadis di hadapannya itu.
"Kamu..." Terdengar suara keduanya secara bersamaan. Keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Ah..." Ervina menarik perkataannya, matanya melirik ke arah lain. "Koko dulu..."
"Tidak, kamu dulu..." Asiong membuang mukanya bertatapan langsung dengan Ervina. 'Terjadi lagi, padahal tadi sudah terjadi di taksi.'
'Vina, kamu kenapa? Terulang lagi ya? Ada apa sebenarnya padamu, Vina?' Ervina juga tak kalah terkejut dan membathin.
'Aku diam saja lah, biarkan dia yang bertanya dulu.' Asiong kembali membathin.
'Aku dulu atau gimana nih?' Gumam Ervina penuh kebimbangan dalam hatinya. 'Nanti nabrak kata lagi.'
Kedua insan itu terdiam untuk beberapa detik lamanya. Tak ada yang bersuara, baik Asiong maupun Ervina. Keduanya saling menunggu.
"Ladies first." Akhirnya Asiong memecah kebuntuan. Dipersilakannya Ervina bertanya terlebih dulu.
Ervina menatap Asiong yang dikaguminya itu. "Aku hanya ingin tau, darimana kamu bisa kenal Roni dan juga tau kalau dia itu rentenir?"
"Itu mudah saja." Asiong mengambil sebatang rokok dari bungkusannya dan menyalakannya. "Setelah perkelahian kami, kami sempat berbicara dengan petugas keamanan diskotik. Dari merekalah aku bisa tahu siapa orang yang kurang ajar kepadamu itu."
'Kurang ajar katanya?' Bathin Ervina, namun gadis itu masih sempat menjawab. "Oh, begitu ya."
"Nah, sekarang giliranku ya." Kata Asiong sambil menjentik abu rokok.
"Oke..." Ervina tersenyum.
"Sepeninggal Papamu, siapa yang menjadi penanggung beban keluarga? Mama ya?" Tanya Asiong blak-blakan.
Ervina mengangguk. "Ya, Mama dan aku."
"Kamu?" Asiong menatap gadis itu tak percaya.
"Iya. Tak lama setelah Papa meninggal, aku lulus. Saat itu aku sudah 18 tahun, jadi sudah bisa mencari kerja sebagai SPG."
"Sudah berapa lama Papamu meninggal?"
"Dua tahun lebih."
"Berarti kamu sekarang berusia dua puluh tahun ya?"
"Iya. Aku 20 tahun. Koko berapa?"
"24." Jawab Asiong singkat.
"Terus nama Koko Asiong kan?"
Asiong mengangguk.
"Cuma Asiong aja? Gak ada yang lain?"
"Kim Siong."
Ervina tertawa mendengar nama pemuda itu. "Namamu oriental banget ya."
"Ya, pemberian orang tua. Mau gimana lagi."
"Memangnya gak ada nama Indonesia gitu?"
Asiong menggeleng. "Namaku hanya Asiong, Kim Siong."
"Aku kasih nama untukmu ya? Tapi nama ini hanya boleh kita berdua yang tau dan hanya kita berdua yang boleh panggil nama ini." Kata Ervina tiba-tiba.
"Heh, maksudmu?" Asiong menatap wajah gadis itu.
Ervina memalingkan wajahnya sesaat ke sekeliling tempat di ruang makan restoran fastfood itu. Otaknya berputar mencari sebuah petunjuk yang sekiranya bisa dipergunakan sebagai nama untuk pemuda di hadapannya itu. Namun akhirnya gadis itu menyerah karena di tempat itu tak ada suatu petunjukpun yang bisa dipakai olehnya.
"Margamu apa, Ko?" Tanya gadis itu tiba-tiba.
"Liu."
"Jadi Liu Kim Siong ya?"
Asiong mengangguk.
"Nama yang bagus. Tapi kalau cuma Asiong terkesan lucu." Kata Ervina. "Aku kasih nama Alex ya. Jadinya kalau nama Baratnya menjadi Alex Lau. Wah, kereeeeen."
"Saudaranya Andy Lau ya?" Asiong tertawa mendengar nama pemberian Ervina itu. Gadis itu juga tertawa mendengar guyonan pemuda itu.
"Gimana, mau?" Ervina bertanya lagi.
"Alex Lau, Alex Lau." Ujar Asiong. "Keren juga sih."
"Tapi cuma aku yang boleh memanggil kamu begitu ya. Orang lain gak boleh." Tegas Ervina.
"Lho kenapa? Nama bukannya untuk dipanggil?" Asiong menatap bingung gadis di hadapannya.
"Pokoknya nama Alex cuma boleh aku yang panggil, lainnya gak boleh. " Kata Ervina lagi.
"Iya deh, iya..." Jawab Asiong mengalah. "Tapi kok, begitu banyak nama, kenapa dipilih Alex?"
"Karena namaku Patricia Ervina Wijaya."
"Wow, namamu bagus sekali." Terkagum Asiong mendengar nama panjang Ervina itu. "Tapi aku masih bingung, apa hubungannya Patricia Ervina Wijaya dengan Alex Lau?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 24
"Alex Lau Ching Siang. Itu bahasa Mandarinnya." Ujar Ervina menatap Asiong.
"Kamu pintar bahasa Mandarin ya?" Tanya Asiong. "Aku saja tidak tahu nama Mandarinku seperti apa. Yang aku tahu hanya Liu Kim Siong saja."
"Hanya sedikit. Itu juga kalau benar terjemahan Kim Siong menjadi Ching Siang." Ervina tersenyum.
"Tapi tetap tak menjawab pertanyaanku, kenapa Alex?"
"Karena Patricia."
"Patricia?"
"Ya, Patricia." Senyum Ervina semakin merekah. "Alex dan Patricia. Alexander Patricia Ramsay."
"Hah?! Apa itu?" Asiong yang semakin kebingungan hanya bisa ternganga menatap Ervina.
"Pernah dengar sejarah Pangeran Arthur? Nah, Alexander Patricia Ramsay ini salah satu tokoh di dalam sejarah itu."
"Aku tidak mengerti yang seperti itu." Ujar Asiong. "Tapi nama Alex Lau bagus dan aku menerimanya."
"Baiklah. Kalau begitu, mulai detik ini aku akan memanggilmu Alex." Kata Ervina masih tersenyum.
"Tapi kenapa hanya kamu yang boleh memanggilku begitu?" Kembali Asiong yang masih bingung itu bertanya.
"Karena nama Alex hanya khusus untukku saja. Orang lain tetap memanggilmu dengan Asiong, atau Kim Siong."
"Tetap tidak menjawab pertanyaanku."
'Aduh. Alex itu panggilan sayangku untukmu. Kamu masih belum mengerti juga? Tidak mungkin dong aku ceritakan hal itu juga?' Gumam Ervina dalam hatinya. 'Aku mau kamu menyadarinya, bukan aku yang mengingatkannya.'
"Ya sudah, tak apa-apa. Kan ada pertanyaan yang tidak terjawab. Mungkin ini salah satunya." Kata Asiong tertawa.
'Sebenarnya bukan tidak terjawab. Kalau kamu teliti, kamu pasti akan mencari tau tentang Pangeran Arthur dan Alexander Patricia Ramsay.' Kata Ervina lagi dalam hatinya. 'Saat kamu mengetahuinya, kamu akan menyadarinya, mengapa aku memilih nama Alex untukmu.'
"Kalau kamu, nama Mandarinmu apa?" Tanya Asiong tiba-tiba.
"Hui Na." Jawab Ervina. "Dari kata Vina."
"Oh..." Asiong manggut-manggut mendengar perkataan Ervina. "Bagus namanya. Hui Na, Vina. Hui Na, Vina..."
Pembicaraan keduanya terus berlanjut untuk beberapa lama waktunya. Suatu momen yang membuat keduanya semakin akrab dan bisa saling mengenal lebih dekat. Sementara pengunjung di Dunkin Donuts yang tadinya ramai, kini sudah banyak berkurang karena sebagian yang sudah pulang dan hanya tersisa beberapa pengunjung saja disana.
Tak terasa keakraban keduanya membawa mereka mengarungi waktu hingga sekitar pukul lima pagi. Asiong sudah menguap beberapa kali, begitu pula dengan Ervina. Hidangan di depan meja mereka sudah tak bersisa dan keduanya juga sudah tak berniat menambah pesanan lagi. Sebungkus kosong rokok Marlboro tergeletak di atas meja, isinya yang telah menjadi puntung-puntung rokok itu memenuhi asbak yang terletak di samping bungkus kosong rokok tersebut.
"Pulang yuk, aku sudah mengantuk nih." Asiong menguap lagi sambil mengajak Ervina untuk pulang.
Seperti halnya penyakit, menguap selalu menyebar. Kali ini Ervina yang menguap setelah Asiong.
"Boleh, Lex. Aku juga udah ngantuk." Gadis itu berdiri. "Kamu mau mengantarku kan?"
"Ya, sampai di rumahmu kalau boleh." Jawab Asiong mengikuti gadis itu berdiri.
"Boleh dong, siapa yang melarang?" Ervina tersenyum dan berjalan bersama dengan Asiong meninggalkan Dunkin Donut.
Saat keduanya mendorong pintu keluar yang terbuat dari kaca, saat itu waktu menunjukkan pukul 05:23 pagi. Petualangan yang sebenarnya baru akan dimulai.
BERSAMBUNG
BAGIAN 25
Embun pagi bergulir menggantikan kegelapan malam dengan sinaran cerah mentari. Taksi yang ditumpangi Asiong dan Ervina berhenti di sebuah rumah sederhana berlantai dua di kawasan perumahan di Jakarta Barat.
"Ini rumahku, Lex." Kata Ervina ketika keduanya telah turun dari taksi dan taksi tersebut pergi. Gadis itu membuka pintu pagar yang ternyata tidak dikunci itu.
Asiong memandang ke rumah sederhana berlantai dua itu. Pekarangan yang luas diperuntukkan parkir mobil. Namun berhubung keluarga Ervina tidak memiliki mobil, maka pekarangan rumah terasa lebih luas dan lega. Sebuah motor jet-matic merk Yamaha Mio berwarna pink terparkir disana.
"Ayo, masuk. Rumahku sederhana lho." Kata Ervina lagi sambil membuka pintu rumahnya. Setelah membuka sepatu kets yang dipakainya, Asiong melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Kedatangannya disambut oleh gonggongan anjing yang melompat dari dalam menuju ruang tamu.
Binatang berkaki empat itu menggonggong ke arah Asiong yang berdiri terpaku saat itu. Gonggongannya semakin lama semakin kencang dan cepat, sambil sesekali mundur dan mendengus, kemudian menggonggong lagi.
"Justine, sini!" Ervina berjongkok dan menjulurkan tangannya. Anjing yang dipanggil dengan nama Justine itu berhenti menggonggong sesaat dan berlari ke pelukan Ervina yang segera berdiri dengan Justine di pelukannya. Sesaat anjing itu menjulurkan lidah menjilat majikannya.
"Udah, udah, Justine, diam ya." Ervina mencoba menghindari jilatan peliharaannya itu.
Ini namanya Asiong. Tapi aku panggil dia Alex." Lalu gadis itu memegang lengan depan anjing itu dan menggoyangkannya. "Ayo kenalan."
Anjing itu masih menggonggong sesaat sebelum akhirnya tangannya disambut salaman Asiong yang tersenyum. "Namanya Justine ya. Lucu ya?"
Anjing yang berada dalam pelukan Ervina itu berbulu lebat berwarna dominan putih dengan bulu hitam di bagian kedua telinga dan di bagian kelopak mata. Bagian pinggul dan ekornya berwarna abu-abu. Badannya masih tergolong anjing kecil, imut, lucu dan menggemaskan.
Ketika Asiong mengajaknya bersalaman, Justine menggeliat di pelukan Ervina. Lidahnya terjulur dengan nafas terengah-engah menatap sosok Asiong yang baru pertama kali dilihatnya itu.
"Ini anjing ras ya?" Tanya Asiong menerima sodoran Ervina yang memberikan Justine ke pelukan pemuda itu. Justine tak mau dipeluk Asiong. Dengan kaki belakangnya, anjing kecil itu berdiri dan menjilati wajah pemuda itu dengan lidahnya.
"Justine, gak boleh gitu, hayo..." Ujar Ervina saat melihat Asiong tersenyum saat wajahnya dijilati anjing piaraannya. "Ya, anjing ras Shih Tzu, umurnya baru 3 bulan."
Justine berhenti menjilati wajah Asiong dan sebagai gantinya anjing jantan itu menggonggong pelan dengan ekor bergoyang-goyang.
"Dia memintamu sebagai temannya tuh," Ervina berkata sambil tersenyum.
Asiong mengangkat Justine yang berada dalam pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah binatang tersebut. "Justine...hmmmm..."
"Gukk..." Gonggong Justine. Lidahnya menjulur dengan nafas terengah-engah.
"Justine, udah ya... Sini, sayang..." Ervina menjulurkan lengannya menampung anjing kecil itu yang segera berpindah pelukan. Gadis itu merangkul anjing piaraannya sambil mengelus-elus punggungnya yang berbulu lebat itu.
"Dia lucu, aku suka." Kata Asiong dengan mata masih memandang Justine.
"Ya, sepertina Justine juga suka padamu." Sahut Ervina sambil tertawa kecil.
Asiong memandang ke sekeliling ruang yang luput dari perhatiannya karena Justine. Tampak di pojok dinding yang terhubung ke koridor, sebuah altar sembahyang dengan sepasang lampu merah dan guci kecil di depannya. Beberapa batang hio yang telah habis terbakar masih menancap di tempat abu di depan guci. Sebuah foto bergambar wajah seorang laki-laki terletak di belakangnya.
"Lho, kamu Buddhis ya? Kupikir kamu Katholik." Asiong memandang Ervina saat melihat altar sembahyang itu.
"Aku memang Katholik, Lex. Itu abu Papaku." Jelas Ervina.
"Oh," Asiong terpana. Diperhatikannya foto itu dengan seksama.
"Lex, kamu duduk dulu ya. Aku mau ke dalam dulu." Gadis itu berkata sambil menurunkan Justine dari pelukannya.
"Tidak apa-apa. Aku langsung pulang saja ya." Asiong menjawab. Wajahnya sudah mengantuk saat itu. Bibirnya menguap lebar.
"Tuh, kamu udah ngantuk. Duduk dulu sana." Kata Ervina lagi. "Tunggu aku keluar ya."
Asiong mau tak mau menurut kepada gadis itu. Sambil duduk di sofa di ruang tamu, pemuda itu memandang ke sekeliling ruang tamu. Sebuah lemari berukuran besar seakan menempel di dinding yang menjadi pemisah dengan ruangan di belakangnya. Sofa berukuran sedang mengisi ruangan tamu sederhana itu.
Merasa cukup lelah setelah petualangannya semalam, Asiong menyandarkan dirinya di sofa yang sedang didudukinya. Tak lupa kepalanya juga disandarkan di kepala sofa.
'Lelah juga badanku.' Gumam pemuda itu dalam hati. 'Baru terasa kelelahan ini.'
Ditutupnya kedua matanya sesaat, menikmati saat tenang dan nyaman waktu itu. Namun karena lelah yang menggelayut di badannya, hanya beberapa menit kemudian, pemuda itupun terlelap dalam tidur.
Ketika Ervina keluar dari dalam menuju ruang tamu, Asiong sudah tertidur pulas dengan kepala menengadah. Nafasnya tenang dan teratur.
"Kasian, Alex. Susah payah menolongku, sekarang kamu kelelahan." Kata gadis itu. "Tidurlah. Aku tak mau mengganggu istirahatmu."
Akhirnya Ervina memutuskan untuk duduk di sofa menemani Asiong yang tertidur itu. Walau dia tak mengetahui kapan pemuda itu akan bangun, namun gadis itu tidak mengeluh. Dia sendiri menyandarkan badannya ke sofa dan menutup matanya. Kelelahan membuatnya juga terlelap dalam tidurnya. Masing-masing terbuai dalam mimpi di sofa yang bersebelahan letaknya.
BERSAMBUNG
Kamis, 05 Agustus 2010
ASKSAR 1-25
Asiong, Sepenggal Kisah Si Anak Rantau
"Segelas arak ini lambang persahabatan. Kehilanganmu berarti kehilangan secangkir arak. Ingatlah selalu persahabatan kita setiap saat kau meneguk arak ini. Karena persahabatan kita akan semakin hangat dengan secangkir arak. Walaupun arak ini akan dingin, namun ketika masuk ke dalam tubuh, arak ini menjadi hangat. Walaupun kita berjauhan, selama arak masih bisa menghangatkan badan, selama itulah persahabatan kita akan terjalin." ~ Kim Siong
BAGIAN 1
Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pukul 05:45 WIB.
"Tahan, tahan, jangan turun dulu. Tunggu kapal menepi." Terdengar suara teriakan lantang seorang lelaki dari atas sebuah kapal di pagi yang sebenarnya sudah sibuk dan ramai di pelabuhan itu.
Di hari yang masih pagi itu, aktivitas di pelabuhan seakan tak pernah tidur. Selalu sibuk dengan hiruk pikuk yang menandai dimulainya kesibukan dan rutinitas.
Lelaki yang berteriak tadi melempar jangkar tambang kepada seorang anak muda di atas dermaga yang segera mengikatnya di sebuah tiang berukuran besar, sambil menarik kapal agar lebih mendekat lagi.
Para penumpang sendiri sudah berdiri dan ingin turun secepatnya dari perahu. Di antara para penumpang yang sibuk dengan urusannya sendiri, tampak seorang pemuda bertubuh sekitar 170an cm tinggi dan berbadan tegap, dengan wajah khas oriental yang masih totok, berambut gondrong seleher dan beranting satu di telinga kirinya, menggigit sebatang korek api di giginya. Sebuah kalung model rantai yang cukup besar menghiasi lehernya di atas baju kaos berwarna kuning yang membalut di badannya.
"Kenapa pada tak sabaran ya orang-orang ini?" Pemuda tersebut memandangi para penumpang yang bergegas turun dengan pandangan cuek. Tas ransel yang digenggamnya disampirkannya di pundaknya.
Dari sebelah kanannya, seseorang tanpa sengaja menyenggol pundak pemuda itu. Untung saja si penabrak itu menyadarinya dan sambil membalikkan wajahnya, lelaki muda yang berjalan bergegas itu meminta maaf kepada pemuda itu.
"Maaf, Ko," Lelaki muda itu menyunggingkan senyum dengan malas-malasan. "Saya buru-buru."
Pemuda gondrong beranting satu itu menggertakkan giginya diminta maaf seperti itu. Ditatapnya lelaki muda yang menabrak lengannya itu. "Buru-buru mau kemana? Bukannya kapal baru merapat?"
Ditanya dengan suara yang tenang namun terkesan mendalam, lelaki muda itu selain merasa bersalah, juga merasakan bulu kuduknya berdiri sesaat. Dilihatnya lengan pemuda berambut gondrong itu cukup kekar karena otot bisepnya yang mengeras saat menyampirkan tas ransel ke balik punggungnya. Sebuah rantai gelang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"I...iya...sudah dijemput saudara...per...permisi..." Lelaki muda itu mengeluarkan keringat dingin saat berkata dengan suara gugup. Setiap gerakan tubuhnya diikuti dengan tatapan mata pemuda beranting satu itu.
Mungkin dengan mengumpulkan keberanian, lelaki muda itu buru-buru bergegas meninggalkan si pemuda beranting satu yang masih mengekor kepergiannya dengan tatapan matanya.
"Dijemput? Kenapa kalau dijemput itu justru buru-buru?" Si anting satu geleng-geleng kepala. Dia beranjak mengikuti yang lainnya meninggalkan perahu.
Ketika kakinya menginjak jembatan di dermaga, pemuda itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Jakarta. Aku datang lagi. Sambutan apa lagi yang akan kau berikan padaku kali ini?"
Memang itu adalah kali kedua pemuda itu menginjakkan kakinya ke Jakarta. Ketika setahun yang lalu pemuda itu tiba di Jakarta, itu ketika dia masih lugu dan banyak mendapatkan pengalaman pahit. Dimulai dari dicopet di dermaga, kebut-kebutan motor dengan geng pembalap, sampai difitnah seorang temannya hingga terjadi perkelahian massal antar geng. Hal itulah yang membuatnya dipulangkan saudaranya yang telah lama bermukim di Jakarta dan setelah keadaan tenang, barulah dia diperkenankan datang kembali ke Jakarta.
Pagi itu bulan Mei, tiga bulan sudah ketika dia pulang kembali ke Pontianak, kota kelahirannya dan kampung halamannya di bulan Februari untuk menyambut Tahun Baru Imlek. Kim Siong, nama pemuda itu, kembali menginjakkan kakinya ke Jakarta, mencari pengalaman hidup dan sesuap nasi, bergabung dengan saudara-saudaranya yang telah lebih dulu mengecap pengalaman di Jakarta.
Kim Siong, 24 tahun, pemuda yang terkenal sangat setia kawan. Di kampungnya, Pontianak, Asiong, begitu biasa dia dipanggil, memiliki banyak teman seperjuangan. Bila ada satu teman yang mendapat masalah atau kesulitan, maka teman-teman yang lainnya akan datang memberikan bantuan. Bila tak bisa berupa materi, maka nasehat ataupun dukungan pun akan diberikan.
Selama ini, Asiong termasuk salah satu dari mereka yang paling membela teman. Sikap kesetiakawannya sudah terkenal di kalangan anak muda. Banyak anak muda yang mengagumi, bahkan tak jarang bergabung dengan kelompoknya. Tak jarang banyak pula gadis-gadis yang tertarik kepada keberanian dan kesetiakawanan Asiong itu.
Suatu ketika di saat Asiong membantu seorang temannya yang terlibat masalah karena ketidakadilan pihak polisi yang ingin menilangnya, Asiong sampai berurusan dengan pihak kepolisian setempat. Setelah masalah berhasil diselesaikannya, Asiong bukan saja telah menolong temannya, tapi beberapa polisi 'bersih' bahkan mendukung perbuatannya. Dari sanalah Asiong mulai mendapat bekingan.
Lahir di sebuah keluarga dengan 5 saudara, Asiong adalah putra tertua di keluarganya. Anak ketiga dari lima bersaudara, dimana dua kakaknya adalah perempuan. Menjadi seorang kakak dari 2 adik laki-laki membuat Asiong menjadi seorang yang tangguh.
Tak jarang, dia harus mengajari kedua adiknya ilmu bela diri yang pernah didapatnya dari pengalamannya sebagai anak geng hanya supaya sang adik tidak dipermainkan oleh teman-teman sekolahnya.
Bahkan Asiong tak segan-segan menyebrang ke perbatasan wilayah hanya untuk mencari seseorang yang dianggapnya menjadi biang keladi permasalahan.
Dengan semua sepak terjangnya itu, Asiong bukan saja dikenal, namun juga menjadi sosok yang disegani di Pontianak, khususnya di daerah Siantan.
Ketika Asiong akan bertolak ke Jakarta, semua teman seperjuangannya merasa kehilangan sosok yang sangat mereka dukung itu. Namun, Asiong bersikap teguh untuk mengadu nasib di Jakarta. Termasuk ketika Asiong harus kembali lagi ke Jakarta untuk kedua kalinya. Semua teman-temannya merasa keberatan akan kepergiannya.
Permasalahan sepertinya tak pernah meninggalkan pemuda itu. Kemanapun dia pergi, hampir setiap saat masalah selalu mengikutinya. Semestinya di pelabuhan di hari sepagi itu tidaklah ada kejadian. Namun sepertinya nasib berkata lain.
Ketika Asiong melangkah sambil menyalakan sebatang rokok yang tersisa di kantongnya, seorang wanita muda yang menggandeng anak perempuannya tampak berjalan di depannya. Tas bawaan mereka sepertinya cukup berat karena keduanya mengeluarkan tenaga ekstra untuk membawanya. Ketika melihat hal itu, timbul niat Asiong untuk membantu membawakan tas mereka.
Baru saja Asiong mempercepat jalannya dengan maksud mendekati mereka agar bisa menawarkan bantuan, dari arah belakang dirasakannya selarik angin berhembus cukup kencang dan semua yang terjadi setelah itu sangat cepat.
"Tasku. Kemana tasku?" Terdengar teriakan wanita muda di depan Asiong. Langkahnya terhenti. Wajahnya panik menengok ke arah tas gandengnya yang hilang itu. Secepat kilat, wanita itu menyadari apa yang terjadi dan berteriak, "Copet! Tasku dicopet!!"
"Hahh!!" Asiong yang berada paling dekat dengan wanita itu terperanjat. Sebagian orang di dermaga juga terperanjat mendengar teriakan wanita itu. Segera Asiong memandang ke arah tas yang dicopet itu. Angin yang menerpanya dari belakang itu ternyata adalah angin yang ditimbulkan oleh si pencopet yang berlari kencang mendahuluinya dan merebut tas gandeng wanita muda itu lalu kabur.
"Toloooong! Copeeett!!" Teriak wanita muda itu lagi, panik kehilangan tas gandengnya yang baru saja dicopet.
BERSAMBUNG
BAGIAN 2
Asiong bertindak cepat. Melihat tak ada yang bereaksi atas teriakan wanita muda itu, Asiong menurunkan tas bawaannya yang ditenteng di pundaknya. Dia meletakkan tas itu di atas dermaga. Rokok yang baru dihisapnya dibuangnya tanpa berpikir panjang lagi. Dengan ancang-ancang, Asiong mulai berlari mengejar copet itu.
Dari berbagai arah, beberapa orang juga telah bersiap-siap mengejar si pencopet. Mengetahui dirinya dikejar, si pencopet mempercepat larinya. Langkahnya larinya diperlebar. Sementara pengejar lainnya, beberapa pemuda di dermaga, berlari sambil berteriak copet agar orang di sekitar bisa tergerak hatinya membantu.
Asiong mengerahkan tenaganya, dia berlari lebih cepat dari kebanyakan orang di dermaga itu. Si pencopet terus berlari namun Asiong sendiri tak kalah cepatnya. Dilihatnya si pencopet telah naik ke atas jalanan.
'Gawat! Sudah naik jalanan susah dikejar! Licin juga dia!' Asiong berkata dalam harinya. Dipercepat larinya mengejarnya.
Asiong terus berlari dan mengejar. Tak dipedulikannya keadaan disana yang mulai memanas dan pengejar-pengejar lainnya yang tertinggal di belakang. Dalam waktu kurang dari semenit, jarak Asiong dengan si pencopet berjarak sekitar 60 meter. Tanpa pikir panjang lagi, Asiong mengambil inisiatif melompat!
Si pencopet tersentak ketika merasakan pundaknya terpegang dan tak lama kemudian dirinya terjatuh terguling. Seseorang tampak berada di atasnya, menindihnya.
Belum sempat menyadari apa yang sedang terjadi, si pencopet merasakan badannya seperti dibalikkan oleh orang yang menindihnya itu. Kini punggungnya telah rata dengan jalan. Mendadak, secepat kilat...
BUKKK!!!
Sebuah pukulan keras menghantam wajahnya. Karena tak sempat bereaksi, pukulan telak itu membuat kepalanya pusing. Di saat mulai pusing itu, kembali...
BUUAAKKKKHHH!!!
Kali ini pukulan tersebut mampir tepat di hidungnya. Pukulan keras itu membuat kepalanya terhantam jalanan di bawahnya. Dirasakannya sesuatu seperti mengalir keluar dari hidungnya yang terpukul itu, sementara kepalanya semakin pusing.
Belum sadar apa yang sedang terjadi itu, si pencopet merasakan kerah bajunya seperti ditarik. Kepalanya yang pusing itu ikut tertarik dan membuatnya mengerang. Untung saja tak ada lagi pukulan yang bersarang di wajahnya saat itu. Dua pukulan telak, namun cukup untuk membuatnya pusing dan terkapar.
"Dasar pencopet!" Terdengar makian sosok laki-laki yang duduk di atas perutnya itu. "Pagi-pagi bisanya bikin keributan!" Dilihatnya sosok itu mengangkat tangan kanannya yang masih mengepal dan hendak diarahkan ke wajahnya kembali.
"Ampun...ampun... Jangan pukul lagi... Ampun..." Pencopet itu mengangkat kedua tangannya melindungi wajahnya. Dirasakannya ketakutan mulai menerpanya. Saat dia menyadari sosok yang menduduki badannya itu bertubuh tegap dan tangannya yang terangkat itu sangat berotot, saat itu juga ketakutan semakin melandanya.
Seketika banyak orang yang berkumpul dan mengerumuni mereka berdua. Semuanya ramai berkomentar.
"Hajar lagi aja! Ngapain dikasih ampun!"
"Topo lagi, Topo lagi!"
"Kena lu kali ini, Po. Sukurin!!"
Bermacam-macam komentar mengisi kerumunan tempat itu. Sementara kedua wanita yang menjadi korban pencopetan tergopoh-gopoh bergabung dengan mereka disana.
"Copetnya sudah ketangkap, Bu!" Terdengar teriakan lagi.
Kerumunan itu sesaat tersibak dan kedua perempuan itu muncul sambil berlari-lari. Mereka memberi jalan kepada keduanya untuk bergabung disana. Di belakang mereka tampak dua orang berpakaian seperti seragam keamanan mengikuti.
"Tasku!" Wanita itu berjongkok dan mengambil tas yang teronggok di jalan akibat si pencopet kaget disergap oleh Asiong. Diperiksanya isi tasnya itu.
Sementara Asiong merasa keadaan sudah aman, dia pun berdiri. Namun, tangannya menarik si pencopet agar ikut berdiri juga. Dengan lunglai si pencopet mau tak mau ikut berdiri ditariknya seperti itu.
Kedua petugas mendekat. Asiong menyerahkan si pencopet kepada mereka.
"Bapak ikut dengan kami ke kantor." Ujar salah seorang dari mereka kepada Asiong.
Sementara bersamaan dengan itu, kerumunan mulai menyingkir, Asiong dan kedua wanita itu berjalan ke kantor keamanan pelabuhan. Si pencopet dibawa oleh kedua pengaman pelabuhan itu.
Selang lima belas menit kemudian...
"Terima kasih atas pertolongannya, Ko." Wanita muda itu berkata kepada Asiong ketika pemuda itu berdiri sambil menepuk celananya yang kotor terkena debu saat bergumul dengan si pencopet itu. Si pencopet sendiri sudah diamankan ke kantor polisi terdekat.
Asiong mengangkat wajahnya yang tertunduk itu. "Tidak perlu, Bu. Itu bukan masalah besar untukku."
"Maaf, ini tasnya." Kata wanita yang lebih muda itu menyerahkan tas ransel Asiong. Rupanya saat Asiong meletakkan tasnya begitu saja dan mengejar si pencopet, keduanya segera mengambil untuk mengamankannya. Dan tas itu dibawa serta ke kantor keamanan pelabuhan oleh kedua wanita itu.
"Terima kasih." Asiong tersenyum melihat gadis itu. Dengan potongan rambut sepundak lebih, hitam dan halus. Sebuah senyum menghias di bibirnya saat gadis itu menyerahkan tas itu kepada Asiong. "Cantik juga."
"Ini, Nak, sedikit balas budi kami." Kata wanita muda di sebelahnya membuat pandangan Asiong berpindah. Di tangan wanita itu tergenggam dua lembar uang lima puluh ribuan.
"Apa-apaan ini?" Asiong membentak. "Aku menolong dengan ikhlas, tidak mengharap begituan." Disampirkannya tas ranselnya di pundaknya.
"Simpan saja uang itu! Hati-hati! Jangan sampai dicopet lagi!" Kata Asiong kepada wanita itu. "Permisi!" Dibalikkannya badannya dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tunggu!" Terdengar wanita muda itu memanggil. Asiong menghentikan langkahnya dan membalikkan setengah badannya.
"Ya?" Dengan ujung matanya, Asiong melirik wanita itu.
"Siapa namamu?" Tanya wanita itu lagi.
"Asiong. Panggil aku Asiong!" Jawab Asiong sambil tersenyum. Dibalikkannya kembali badannya dan diteruskannya langkahnya.
"Te... Terima kasih, Ko Asiong..." Terdengar kedua wanita itu berkata bersamaan di belakangnya.
Asiong mengangkat tangan kirinya dan melambai, pertanda tak ada menjadi masalah baginya. Kakinya terus melangkah meninggalkan dermaga itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 3
Asiong tinggal bersama dengan tiga dari empat saudara kandungnya di Jakarta. Kedua kakak perempuannya dan juga seorang adiknya. Kedua kakak perempuannya belum menikah, dan satu di antara mereka telah memiliki calon. Sementara adik lelakinya bekerja sebagai salesman di sebuah perusahaan distributor aksesoris kendaraan bermotor.
Bersatu padu keempat bersaudara itu mengontrak sebuah rumah sederhana bertingkat dua yang mereka tempati bersama. Sementara di Pontianak masih menetap kedua orang tuanya dan adik bungsunya, yang telah duduk di bangku kelas 3 SMA. Bersama dengan kedua kakak perempuannya, Asiong bekerja di konveksi milik bersama itu.
Di malam minggu ketika pekerjaan tidak banyak, Asiong terkadang keluar bersama dengan saudara-saudara sepupunya yang berasal dari papanya. Menonton film di bioskop, makan malam bersama, bowling ataupun aktivitas hang-out lainnya di malam minggu, serta jalan-jalan ke mall, berenang ataupun fitness di hari minggunya.
Asiong termasuk pemuda yang menyukai olahraga fisik seperti berenang, fitness dan sepakbola. Khususnya fitness, Asiong membuatkan dirinya sebuah barbel dari semen yang bisa dipakainya untuk membentuk badannya menjadi lebih kekar.
Sebulan kemudian...
Pertengahan bulan Juni, menjelang hari ulang tahun Jakarta, selalu terdapat satu festival tahunan yang diselenggarakan selama kurang lebih sebulan. Biasanya di antara bulan Juni dan berakhir di pertengahan Juli. Selain untuk menyambut liburan sekolah, festival tahunan itu juga menjadi ajang promosi bagi perusahaan-perusahaan dan sekaligus menjadi tempat mengisi waktu liburan bagi para gadis yang ingin mencari kerja sebagai Sales Promotion Girl. Festival tahunan itu dikenal dengan nama Pekan Raya Jakarta atau PRJ.
"Siong, kerja terus nih, kapan istirahatnya?" Seorang sepupunya yang kebetulan bermain di rumah kontrakan Asiong menepuk pundak pemuda itu. Asiong sedang melipat baju buatan konveksi mereka untuk dimasukkan ke dalam kantong.
"Tanggung nih, Bun. Nanti sore mau dikirim dan yang packing gak ada." Jawab Asiong.
"Yah, gak bisa keluar dong nanti malam..." Sepupunya yang bernama A Bun alias Buntara membuka sebungkus rokok dan menawarkannya kepada Asiong. Umurnya tak berbeda jauh dengan Asiong, setahun lebih tua, namun wajahnya masih baby face karena penampilannya yang senantiasa ceria. Dengan tinggi badan hampir setara dengan Asiong, hanya saja badannya agak sedikit kurang berisi dibanding saudaranya. Rambutnya dibiarkannya terbelah tengah dengan sendirinya.
"Memangnya ada rencana mau kemana?" Tanya Asiong menerima sodoran rokok Abun dan menjepitnya di antara kedua bibirnya.
"Jakarta Fair," Jawab Abun sambil menyalakan rokoknya.
"Jakarta Fair?" Kedua tangan Asiong kembali sibuk melakukan packing setelah menyalakan rokoknya.
"Itu lho, PRJ..." Sahut Abun.
"Oohhh, itu..." Asiong menatap Abun. "Memangnya ada apa disana?"
"Wah, Asiong, Asiong..." Abun menepuk pundak sepupunya itu. "Belum pernah tau ya?"
"Kalau sudah tahu, untuk apa aku tanya lagi?" Asiong membuang debu rokoknya.
"Tahu kan yang namanya pameran?" Tanya Abun. Asiong mengangguk.
"Nah, seperti itu." Ujar Abun lagi.
"Yah, tidak seru dong." Kata Asiong.
"Eh, Cik Mei Hwa mana? Koko gak keliatan?" Mei Hwa itu kakak sulung Asiong. Umurnya 29 tahun dan telah bertunangan.
"Katanya sih tadi pergi ke Tanah Abang cari kain." Jawab Asiong.
"Terus Cik Chun Hwa?" Chun Hwa, adik perempuan Mei Hwa, kakak kedua Asiong. Chun Hwa berarti bunga musim semi. Umurnya 27 tahun.
"Berdua tuh perginya." Kata Asiong.
"Pantes sepi. Jadi cuma ada pegawai aja nih?" Abun mengambil baju yang telah jadi dan membantu Asiong packing.
Asiong mengangguk. "Terus yang pergi kesana siapa saja?"
"Kitalah satu geng." Kata Abun. Yang dimaksud Abun dengan satu geng itu adalah kelompok saudara sepupu dari papa-papa mereka, dengan Abun dan Asiong, kelompok mereka membentuk 7-8 orang.
"Tapi mau ngapain ke pameran? Bosan ah kalau cuma pameran saja." Kata Asiong lagi.
"Wah, jangan salah, Siong. Disana gak cuma ada pameran aja." Ujar Abun.
"Terus?"
"Satu hal yang pasti, gue tahu lu suka yang satu ini..." Abun tertawa. "Ceweknya cantik-cantik."
Asiong terhenti sejenak dan menatap Abun. "Ah, yang benar?"
"Iya lah. Gak cuma cantik, tapi juga seksi." Abun melanjutkan bujukannya.
"Tapi kalau bukan Chinese untuk apa?" Kata Asiong.
"Justru mereka itu Chinese." Abun tersenyum. "SPG cantik, seksi, Chinese lagi. Masa lu gak mau?"
"Ah, yang benar?"
"Ah, yang benar mulu..." Abun memonyongkan bibirnya. "Gue udah sering kesana, makanya gue tau. Cantik, seksi, rambut panjang, pokoknya selera lu banget dah..."
"Wah!! Tapi mereka jualan apa?"
"Macam-macam! Ada yang rokok," Abun memamerkan rokoknya yang sudah pendek terbakar itu. "Ada SPG mobil, motor, makanan, minuman, macam-macam deh. Dengan dandanan yang aduhai dan pakaian yang wow!! Dijamin lu pasti suka!!"
"Wah, sepertinya menarik tuh." Asiong mematikan rokok yang dihisapnya di bawah meja tempaynya packing.
"Bukan sepertinya lagi. Tapi kenyataannya." Abun tertawa. "Siapa tau kan lu bisa dapat ketemu cewek idaman disana."
"Hmmm..." Asiong memegang dagunya dan menatap Abun.
"Secara banyak lho yang dapet pacar disana." Sambung Abun mengompori Asiong lagi. "Gimana, tertarik?"
"Tapi kalau tidak membeli barang, tidak apa-apa kan?"
"Itu sih suka-suka lu mau beli atau gak." Jawab Abun. "Lu mau kesana cuma untuk kenalan juga boleh."
"Wah, kalau begitu, aku mau deh." Asiong tersenyum. "Jam berapa?"
"Jam enam sore dari sini."
"Kok, pagi amat?" Tanya Asiong.
"Itu sih udah gak pagi. Sabtu PRJ buka jam sebelasan, jadi kalau jam enam sore sih udah buka lama."
"Hmmm... Boleh. Yang pergi siapa saja?" Tanya Asiong lagi.
"Nih, gue kasih tau ya." Abun menyalakan sebatang rokok lagi sebelum melanjutkan perkataannya. Asiong mengangguk-angguk saat Abun memberi penjelasan itu.
"Gimana, ikut dong?" Tanya Abun lagi.
"Mau. Aku pasti ikut!" Kata Asiong dengan bersemangat.
BERSAMBUNG
BAGIAN 4
Sambil bersiul-siul kecil, Asiong, yang baru saja selesai mandi itu, berpindah dari kamar mandi menuju kamarnya. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul enam sore. Selang beberapa menit kemudian, Asiong pun keluar dari kamarnya dengan penampilan beda.
Kaos putih dengan jaket kulit hitam yang dipadu dengan celana jeans hitam menjadi pilihan busananya saat itu. Rambut panjangnya disisir sambil lalu. Tak lupa aksesoris kebanggaannya: rantai gelang di lengan kanan, anting di telinga kirinya dan kalung rantai yang menggantung di lehernya.
"Mau kemana, Siong?" Tanya seorang gadis yang berpapasan dengannya saat pemuda itu keluar dari kamarnya.
"Mau ke PRJ, Ce." Jawab Asiong singkat.
"Sendiri?" Tanya gadis itu lagi. Wajahnya cantik, dengan kulit putih dan rambut sebahu. Psostur badannya tidak setinggi Asiong, namun ramping. Dialah Chun Hwa, kakak kedua Asiong.
"Sama Abun dan yang lainnya." Kata Asiong.
Chun Hwa mengangguk. "Pergilah, biar rumah aku yang jaga."
"Lho, Mei Ce kemana?" Asiong selalu memanggil kakak sulungnya, Mei Hwa, dengan panggilan Mei Ce.
Chun Hwa tertawa lepas. "Ini hari apa? Lupa ya?"
"Oh, dengan cowoknya ya?" Asiong menaikkan alis matanya.
"Begitulah." Jawab Chun Hwa tersenyum.
"Terus, ce kapan?" Asiong tertawa. "Jangan mau kalah dengan Mei Ce dong."
Chun Hwa menggoyangkan ponsel yang sedang digenggamnya itu. "Nih, disini."
"Pacaran lewat telepon? Mana enak, Ce?" Tanya Asiong sambil mengambil air di dapur dan meminumnya.
Chun Hwa terkikik mendengar celotehan adiknya. "Hihihi. Baru kenal gak lama, masih PDKT. Masa udah disuruh datang sih?"
"Ya tak apa-apalah." Kata Asiong mendekati Chun Hwa. Dibanding Mei Hwa, Asiong lebih suka menggoda kakaknya yang satu ini. "Ce kan sudah 27, bukannya muda lagi."
"Cepetan lah, wa udah tak sabar nih mau lihat koko ipar." Asiong tertawa.
Dari ruang tamu terdengar suara memanggil nama Asiong.
"Tuh, Abun datang." Chun Hwa tersenyum. "Sana pergi."
"Hahaha..." Asiong tertawa. "Wa tahu sekarang..."
"Tahu apa?" Chun Hwa menatap adiknya dengan bingung.
"Sepeninggal wa, pasti Ce langsung deh minta koko ipar datang kesini. Jadi kan Ce tak terganggu." Asiong mengedipkan matanya ke arah Chun Hwa. "Berduaan di tempat sepi begini, seru lho. Apalagi para pegawai sudah pada pulang. Ehem ehem. Dunia serasa milik berdua deh. Hahahaha..."
"Eh, Siong, mulai deh isengnya." Chun Hwa tertawa mendengar guyonan adiknya itu. "Kalaupun dia datang, wa juga gak akan kasih tau..."
"Wa juga tak mau tahu, Ce." Jawab Asiong sambil membuka pintu. "Bila perlu wa pulang malam jadi Ce bisa berduaan lebih lama. Hahaha. Selamat malam minggu!"
Chun Hwa bergeleng-geleng kecil melihat ulah adiknya itu. Ditutup dan dikuncinya pintu rumah sepeninggal Asiong. Lalu gadis itu kembali duduk di sofa meneruskan kencan melalui teleponnya dengan someone-nya.
Sementara itu, Asiong membawa motornya sendiri, Yamaha Scorpio, dengan beberapa saudara sepupunya yang telah menunggunya di luar pintu rumahnya. Selain Abun yang membawa motornya sendiri, juga terdapat Chandra yang juga membawa motor sendiri.
Papa Asiong memilili 6 saudara, 1 kakak perempuan yang merupakan paling sulung dari enam bersaudara, 2 kakak laki-laki dan papa Asiong adalah anak keempat atau putra ketiga. Dibawahnya masih ada adik laki-laki dan seorang adik wanita yang paling bungsu. Kecuali orang tua Asiong, semuanya sudah tinggal menetap bertahun-tahun di Jakarta.
Chandra alias Achan adalah anak kedua dari paman tertua Asiong, berumur 22 tahun. Abun alias Buntara anak bungsu dari paman kedua. Juga ada pula anak angkat bibi sulungnya, seorang pemuda berusia sepantaran dengan Asiong, bernama Akong, 24 tahun. Terakhir, Apo, 21 tahun, termuda dari semuanya, sepupu dari paman keempat Asiong.
Abun berboncengan bersama dengan Akong, sementara Chandra berboncengan dengan Apo, dan Asiong sendiri memakai satu motor. Dengan tiga kendaraan beroda dua tersebut, kelima pemuda itu mengunjungi Jakarta Fair yang berjarak beberapa kilo dari rumah kontrakan Asiong.
BERSAMBUNG
BAGIAN 5
"Gila, ramai banget." Ujar Asiong yang takjub melihat situasi di pameran yang bertajuk PRJ itu. Berbeda dengan sepupu-sepupunya, kali itu adalah pertama kalinya Asiong menginjakkan kakinya ke festival tahunan tersebut. Setelah mengantri cukup lama untuk membeli tiket, kelima pemuda itu akhirnya berhasil masuk ke dalam ajang pameran tersebut.
"Ya, beginilah Jakarta Fair itu, Siong." Kata Akong. Perawakannya kurus namun wajah khas Pontianaknya terpancar jelas sekali.
"Apalagi Sabtu begini. Malam minggu pula." Sambung Apo. Di antara semuanya, Apo yang bertubuh paling pendek dengan badan yang agak gemuk.
Asiong memandang ke sekeliling dan semakin takjub dengan situasi di PRJ itu. Tampak olehnya, orang yang berlalu lalang dengan suara yang hiruk pikuk sangat bising.
"Wah, kalau begini, mau berbicara saja harus dengan teriak," Kata Asiong. Keempat saudaranya berjalan tak jauh darinya.
"Ya, betul." Teriak Abun sambil menyalakan sebatang rokok. Asiong pun mengeluarkan bungkus rokok yang disimpan di kantong celananya.
Kelima pemuda itu berjalan berkeliling tak tentu arah. Tiba-tiba terdengar bunyi kencang dari belakang mereka.
"Po, kereta!!" Asiong menarik tangan Apo. Sebuah mobil gandeng yang menyerupai kereta berjalan sambil membunyikan klakson tak henti-hentinya. Di dalamnya terdapat banyak penumpang yang dimanjakan dengan diajak berkeliling mengitari area seputar pameran untuk waktu sekitar lima belas menit sampai setengah jam.
"Gimana sih lu? Udah sering kesini, masih juga ngaco!" Abun yang diplot sebagai pimpinan geng itu menepuk pundak Apo. "Liat-liat dong. Nyasar udah susah nih. Udah tau rame begini."
"Ya, thai ko, sorry deh." Apo mengusap-usap kepalanya dengan salah tingkah. Sementara Achan dan Akong geleng-geleng kepalanya.
"Apa itu?" Kata Asiong menunjuk ke seorang lelaki yang bertelanjang dada dan sekujur badannya dicat hitam mengkilat, sementara lelaki itu berjalan dalam gerakan slow motion dan berhenti beberapa saat tanpa bergerak dan kembali berjalan lagi dengan lambat.
"Itu orang-orangan yang dibayar untuk jadi menarik produk perusahaan agar laku," Kata Chandra. Pemuda itu sehari-harinya bekerja sebagai kepala sales, jadi tak heran kalau dia cukup mengetahui tentang produk dan barang dagangan.
"Oh begitu." Asiong berhenti dan melihat orang-orangan tersebut beraksi. Kerumunan disana dibuat tertawa-tawa oleh ulah dan tingkah orang-orangan tersebut. Tak jarang ada yang menepuknya, mencubitnya bahkan meninjunya, hanya sekedar untuk memastikan orang-orangan tersebut adalah manusia yang disamarkan. Namun tak sedikitpun 'siksaan' tersebut membuat manusia bertubuh serba hitam itu bergeming ataupun menyeringai kesakitan.
Apo masih sempat meminta difoto bersama dengan orang-orangan tersebut. Beranjak dari tempat tersebut, kelima pemuda itu kembali meneruskan langkah tak tentu arahnya.
Seorang gadis cantik berpakaian SPG berjalan melewati mereka. Kelima pemuda yang memang masih single itu menatapnya tak berkedip, bahkan Apo tak tahan untuk menggodanya.
"Kita ke show room motor yuk." Kata Akong ketika SPG tersebut telah jauh meninggalkan mereka.
"Ayo!" Jawab Chandra sambil berjalan. "Siapa tahu bisa ketemu yang oke disana."
Kelima pemuda tersebut tertawa.
"Kita berlomba yuk, gimana?" Kata Abun tiba-tiba.
"Maksudmu?" Tanya Akong, yang sejatinya bukan saudara kandung mereka, namun sudah dianggap sebagai saudara kandung oleh keluarga mereka.
"Kita kan berlima nih." Abun melanjutkan. "Siapa yang diantara kita berlima ini yang duluan mendapatkan gebetan?? Tapi harus di PRJ sini lho, gak boleh di tempat lain. Gimana?"
"Wah, boleh tuh usulnya." Kata Apo. "Gue terima."
"Boleh saja!" Asiong menimpali sambil tangannya merogoh kantong celananya. "Ah, rokokku habis!"
"Mau lagi, Siong?" Abun menawarkan sebungkus rokok yang diambilnya dari celananya. "Nih, gue masih ada..."
Terlalu asyik dengan perjalanan mereka membuat kelima pemuda itu tak menyadari kalau saat itu mereka sedang melintasi tempat pameran rokok Marlboro. Seorang gadis yang sedari tadi memperhatikan mereka mendekati kelima pemuda itu, khususnya Asiong dan Abun.
"Ko, beli rokoknya dong. Marlboro. Kalau beli dua, aku kasih tiga!" Terdengar sebuah suara yang walaupun dalam suasana yang ramai, namun suara gadis itu masih terdengar manis di telinga kelima pemuda itu.
Asiong tersadar akan suara itu dan memalingkan kepalanya. Di samping kirinya, berdiri seorang gadis ramping dan berbadan cukup tinggi, dengan pakaian SPG berwarna kuning khas produk rokok, menawarkan dua bungkus Marlboro kepadanya sambil tersenyum. Seorang gadis keturunan dengan rambut panjang sepunggung yang disemir pirang. Beberapa helai poni tampak menutupi keningnya, menambah daya tarik gadis itu.
Terpana Asiong melihat siapa yang berdiri di sampingnya itu. Kedua matanya tak berkedip melihat sang gadis. Saat itu kedua mata bening sang gadis juga tepat membalas tatapannya. Kedua pasang mata mereka saling beradu pandang!
"Astaga, cantiknya!!" Asiong tak kuasa menahan kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Matanya masih tak lepas memandangi gadis SPG yang berdiri di dekatnya itu. Mendadak jantungnya berdegup kencang saat itu. Sebuah perasaan merinding mendadak menghampirinya.
'Perasaan ini...' Batin Asiong mencoba memahami perubahan mendadak itu. 'Ini...'
BERSAMBUNG
BAGIAN 6
Mendengar komentar Asiong yang mendadak itu, keempat saudaranya tertawa terkekeh, sementara si gadis SPG yang menawarkan rokok tersebut seperti tak bergeming dipuji seperti itu. Dengan profesinya sebagai SPG sepertinya sudah terbiasa dengan pujian seperti itu.
"Ko, beli ya, aku kasih murah deh." Gadis itu tersenyum manis. "Bonus satu bungkus lho kalau Koko beli dua bungkus sekaligus."
Akong yang juga merokok namun tak separah Abun dan Asiong itu tampak tertarik dengan penawaran gadis SPG itu. Akong mendekat ikut terlibat dalam pembicaraan itu.
Sementara Asiong masih merasakan degup jantungnya. 'Untung ramai, jadi detak jantung ini tak terdengar.' Batinnya. 'Tapi nih cewek cantik juga.'
"Namanya siapa ya? Kenalan dong." Akong menjulurkan tangan hendak menyalami SPG rokok itu. Tahu-tahu Asiong mendehem kencang membuat sepupu-sepupunya terkejut. Akong menarik lengannya kembali saking kagetnya oleh deheman Asiong.
"Ehhhmmmmmm!!!" Perlahan Asiong melirik ke kiri kanan tempat keempat sepupunya berada. Lalu dengan menggeretakkan giginya, pemuda itu berbicara pelan dengan gigi terkatup rapat.
"Aduh, tolong ya." Karena giginya terkatup, suara yang terdengar tak begitu kencang, namun cukup untuk didengar keempat saudaranya. Kedua tangannya diselipkannya di kantong celana jeansnya. "Dia mendekatiku dulu, menawarkan rokok padaku. Jadi kasih aku kesempatan ya..."
Terdengar keempat saudaranya menggerutu sebagai tanggapan perkataan Asiong itu.
"Sudah, sana...." Asiong mengangkat tangannya dari sakunya dan membuat gerakan seperti mengusir. "Katanya mau lihat pameran motor, terus ngapain juga masih disini?"
Keempat sepupunya masih menggerutu kesal, namun mereka pergi juga memberi kesempatan kepada Asiong dengan gadis SPG itu.
"Dasar Asiong! Cepet banget sih kalo soal cewek!" Kata Buntara sambil menyulut rokoknya.
"Lu kurang ganteng sih, makanya gak dilirik tuh cewek." Tukas Akong tertawa.
"Enak aja! Itu sih bukan gue yang kurang ganteng, tapi Asiong aja yang emang lebih ganteng." Jawab Buntara, kekonyolannya keluar.
"Sama aja kaleee..." Poniman terkekeh.
"Tapi kalo lu mah gak bakal dilirik, Po." Chandra nyeletuk dalam pembicaraan mereka.
"Emangnya gue kenapa? Apa yang kurang dari gue?" Tanya Poniman lagi.
Ketiga sepupunya tertawa lebar mendengar pertanyaan Poniman itu. "Masih gak sadar lu?" Tanya Buntara yang memang aslinya sudah konyol itu.
"Kalo dia tau pasti gak bakal tanya lagi dong." Timpal Akong.
Chandra menempelkan tangannya di pinggang Poniman membuatnya melompat karena kegelian.
"Nih, nih jawabannya..."Kata Chandra sambil tertawa. "Lebar badan lu tuh..."
"Sama pendek lu tuh..." Sambung Buntara. Disambut oleh tertawa yang lainnya.
"Kena lagi deh gue..." Poniman menunduk sambil menggaruk kepalanya. Diantara semua sepupu, Poniman memang yang paling sering menjadi sasaran kekonyolan.
Sambil tertawa renyah, keempatnya memasuki showroom motor Yamaha.
Sementara itu, di saat yang bersamaan, Asiong tengah terlibat pembicaraan serius dengan SPG Marlboro.
"Maaf ya, tadi itu sepupuku..." Dengan tingkah yang agak kaku, Asiong memulai pembicaraannya dengan SPG Marlboro itu. Dengan ibu jarinya, pemuda itu menunjuk sepupu-sepupunya yang telah berjalan di belakangnya menjauh darinya.
"Ah, gak apa-apa kok..." Gadis itu tersenyum. "Kalian ternyata kompak juga ya."
'Wow! Senyumnya manis!' Detak jantung Asiong semakin kencang melihat keindahan itu. Matanya tak lepas dari wajah cantik gadis di hadapannya itu.
"Ko..." Sapaan gadis itu membuat Asiong tersadar. Sekilas kedua mata gadis itu bergerak-gerak mempelajari wajah Asiong, mulai dari rambut gondrongnya, antingnya, hingga kalungnya.
"Eh iya, kenapa?" Asiong tersentak dari panggilan si gadis.
"Beli dong, Ko. Bantu aku ya." Gadis itu berkata dengan suara manja.
"Maksudnya bantu?" Pemuda itu melihat beberapa teman si gadis yang berseragam sama berseliweran di sekitar tempat itu menjajakan rokok kepada pengunjung yang lewat disana. "Oh ya, namamu siapa? Boleh tau?"
"Boleh, Ko." Jawab gadis itu. "Aku Ervina."
"Hah? Erika?" Teriak Asiong ketika bunyi klakson mobil kereta mengalahkan suara mereka.
Gadis itu tersipu. "Ervina, Ko, bukan Erika. Er-Vi-Na."
"Ohhh. Ervina." Manggut-manggut Asiong mendengarnya. "Tak perlu dieja lah, aku masih bisa baca."
"Hihihi... Koko lucu..." Gadis yang bernama Ervina itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
"Lho, kok malah tertawa?" Asiong menaikkan alisnya, pertanda bingung sambil hatinya membathin. 'Kupikir tadi malah marah aku tanya begitu. Tak tahunya malah tertawa.'
"Gak apa-apa." Ervina masih tersenyum kecil. "Koko namanya siapa?"
"Aku? Asiong." Jawab pemuda itu.
Tawa Ervina yang sudah mereda kini kembali meledak mendengar ucapan Asiong itu.
"Lho, kok tertawa lagi?" Kembali Asiong menaikkan alisnya, semakin bingung rupanya pemuda itu.
"Hihihi... Nama Koko lucu. Asli Pontianak ya, Ko?" Kata Ervina ketika tawanya mulai reda kembali.
"Lho, kok bisa tahu?" Alis Asiong semakin tinggi dibuatnya.
Ervina tak dapat menahan tertawanya yang kembali meledak melihat keluguan Asiong.
"Koko, dari tadi lho kok, lho kok terus. Hihihi..." Ervina masih terkikik. "Rokok lah, Ko, bukan lho kok. Beli rokok ku, bukan lho kok mu lah..."
Jawaban Ervina yang lucu itu membuat Asiong tertawa lepas. Keduanya tertawa di antara hiruk pikuknya suasana pameran yang tak kalah ramainya dengan suasana di pasar tradisional.
BERSAMBUNG
BAGIAN 7
Di sela-sela tertawanya, Asiong menyadari satu hal. Baru sekali itu seorang gadis bisa membuatnya kebingungan dan tertawa lepas seperti itu. Di balik sikapnya yang cool dan terkesan berani itu, tak banyak gadis yang bisa mendekatinya. Terlebih Asiong adalah tipe pemilih. Selama ini gadis yang akrab dengan dirinya dan menjadi pasangannya bisa dihitung dengan jari.
"Dari mana bisa tahu aku datang dari Pontianak?" Tanya Asiong lagi. Rupanya dia belum puas bila belum mendapat jawabannya.
"Aku tebak aja, Ko." Jawab Ervina. "Pertama aku lihat wajah Koko yang totok banget itu. Waktu Koko bilang nama, aku jadi makin yakin Koko berasal dari sana."
"Ooo... Ervina sendiri berasal dari mana?" Asiong tak mau kalah dan bertanya balik.
"Aku asli sini, Ko." Sahut gadis itu. "Jadi nama Koko cuma Asiong aja ya?"
"Kim Siong, panggilannya Asiong." Kata pemuda itu disusul oleh suara dari hatinya. 'Kok aku jadi jujur begini sih? Asiong, sadar, jangan jujur di depan orang yang belum dikenal.'
"Nah itu bagus namanya." Ervina tertawa. "Ayo, Ko, beli. Masih belum tercapai target nih."
"Oh, jadi itu maksudmu dengan bantu itu?" Tanya Asiong sambil mengambil dompet di kantong belakang celananya.
Ervina mengangguk. "Iya, Ko. Kami bergantian jaga, dengan shift. Mau berapa, Ko?"
"Maksudnya shift? Dua bungkus ya."
Ervina menyerahkan tiga bungkus rokok kepada Asiong. "Nih, Ko, bonus sebungkus."
"Iya, Ko. Yang jualan banyak, jadi kami bergantian hari." Lanjut Ervina lagi. "Kalau hari ini aku jualan, besok aku libur, lusa jualan lagi. Begitu seterusnya, Ko."
"Ooo..." Asiong membuka sebungkus rokok yang baru dibelinya itu dan sisa dua bungkusnya dimasukkan ke dalam celananya. "Berapa dua bungkus?"
"Harga promosi untuk Koko, lima belas ribu saja." Jawab Ervina.
"Murah amat?" Asiong terperanjat. "Apa bisa untung?" Diberikannya selembar uang duapuluh ribu kepada Ervina.
"Udahlah, Ko. Ini cuma untuk Koko aja. Orang lain aku gak kasih segitu." Kata Ervina sambil menyerahkan kembalian selembar uang lima ribu. "Terima kasih ya, Ko."
Gadis bernama Ervina itu hendak berbalik dan menjajakan rokoknya kepada yang lainnya juga, ketika Asiong memanggilnya kembali.
"Ada apa, Ko?" Tanya gadis itu.
"Boleh aku tahu apa kamu sudah punya pasangan?" Asiong bertanya. 'Gila, mana mungkin dikasih tahu?'
"Maksud Koko, pacar?" Gadis itu tersipu.
Asiong mengangguk.
Ervina menggeleng perlahan.
"Berarti belum ada dong ya?" Tanya Asiong lagi. 'Wah, ada harapan nih aku.'
"Bukan, Ko." Jawab Ervina menatap Asiong. "Aku belum yakin."
"Belum yakin?" Alis Asiong terangkat. "Maksudmu?"
Sebuah tepukan di pundak membuat Asiong menoleh.
"Wah, cogan kita nih, sampai dimana tuh PDKT-nya?" Terdengar sebuah suara yang sangat dikenal Asiong. Suara Buntara, alias Abun. Dia jugalah yang menepuk pundaknya. Sementara ketiga sepupu lainnya tak jauh berdiri di belakangnya sambil cengar cengir.
Asiong tak memperdulikan kehadiran mereka disana. Dialihkannya pandangannya ke depan kembali, ke arah Ervina. Saat itu seorang teman Ervina, sesama SPG, berdiri di dekatnya dan tampak sedang berbicara. Tak lama kemudian Ervina menengok ke arah Asiong.
"Ko, aku dipanggil, aku tinggal dulu ya." Kata gadis itu sambil berlalu tanpa meminta jawaban Asiong terlebih dulu. Sementara gadis temannya itu melangkah mendekati mereka.
"Ko, beli dong. Lagi sepi nih. Beli dua dapat tiga lho." Gadis itu mengacungkan dua bungkus Marlboro yang dipegangnya.
"Wah, aku sudah beli tadi." Asiong mengepulkan asap rokok dari mulutnya. "Mereka saja deh."
'Rasakan tuh! Kukerjain kalian sudah buat Ervina pergi cepat begitu.' Kata Asiong dalam hati. 'Gara-gara kalian, gagal deh aku dapat info.'
Benar saja! SPG tersebut mendekati Buntara dan ketiga saudaranya sembari menawarkan produk yang dijualnya.
"Berapa harganya?" Tanya Akong.
"Tiga bungkus dua puluh ribu." Jawab SPG itu.
"Kok mahal sih?" Tanya Buntara, namun dia mengeluarkan uang untuk membayar juga.
"Gak dong, Ko. Kan udah gratis sebungkus." Jawab SPG itu lagi. "Kalau eceran bisa lebih mahal."
Diam-diam Asiong tertawa mendengar percakapan mereka. "Kena deh kalian!! Segitu tetap saja mahal. Aku cuma lima belas ribu."
Setelah transaksi selesai, Asiong berjalan di depan keempat saudaranya dengan bibir masih tertawa kecil. Di belakangnya Buntara membagikan Akong sebungkus Marlboro yang dibelinya dan dia mengambil dua bungkus.
'Makanya, kalau orang sedang usaha, jangan diganggu.' Bathin Asiong lagi sambil tertawa tanpa diketahui sepupu satu geng yang berjalan di belakangnya.
BERSAMBUNG
BAGIAN 8
Malam itu berlalu dengan cepat. Terlebih di tengah suasana ramai dan hiruk pikuk khas festival, waktu terasa berlalu bukan dengan merangkak, melainkan seperti melompat. Sampai saat pulang, Asiong tak berhasil menjumpai SPG yang bernama Ervina itu lagi. Niatnya untuk bertemu dengannya dan meminta nomor teleponnya tak terpenuhi, selain karena padatnya pengunjung, juga karena Ervina tak berada di tempatnya lagi ketika Asiong dan keempat sepupunya kembali kesana.
Sejak pertemuannya dengan Ervina, pikiran dan kepala Asiong senantiasa dipenuhi oleh wajah dan tingkah gadis keturunan itu. Perkataan gadis itu terngiang-ngiang di telinganya.
"Yang jualan banyak, jadi kami bergantian hari. Kalau hari ini aku jualan, besok aku libur, lusa jualan lagi. Begitu seterusnya."
Saat itu hari Rabu, empat hari berlalu setelah perjumpaan Asiong dengan Ervina secara tak sengaja di PRJ. Asiong melihat ke kalender yang tergantung di dinding rumah kontrakannya.
"Rabu." Digerakkannya jemari seperti menghitung. "Berarti ini hari Ervina shift jualan."
Dimatikannya rokok yang dihisapnya di sebuah asbak di meja kerjanya. Dia sedang menghitung stock kain yang baru datang pagi itu. "Apa aku kesana saja ya?"
"Tapi kalau kesana hanya untuk menemuinya," Asiong menyalakan sebatang rokok baru. "Ah, karcis masuknya saja sudah belasan ribu. Bisa dapat untuk beli rokok ya?"
"Tak usah lah, biar saja." Asiong menghembuskan asap rokok yang dihisapnya. "Mending uangnya untuk beli rokok saja."
Dengan pemikiran itu, Asiong kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya menghitung stok kain.
Namun bayangan Ervina seakan tak bisa menghilang dari ingatannya. Senyumnya manisnya, wajah cantiknya, rambut pirangnya dan suara merdunya, semuanya seperti terus bergantian mengusik pikiran pemuda itu.
Rabu malam dilalui pemuda itu dengan hati galau. Kamis esoknya, Asiong mulai tampak uring-uringan. Beberapa pegawai yang melakukan kesalahan kecil mendapat teguran darinya. Suatu hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya kepada para pegawai konveksinya.
Hari Jumat, Asiong memutuskan untuk membuang sejumlah uang untuk pergi ke PRJ dan menemui gadis SPG bernama Ervina yang membuatnya uring-uringan. Pemuda itu berharap hari segera berganti malam, sehingga pekerjaan bisa ditinggalkan dan dia bisa ke PRJ kembali menemui Ervina.
Saat malam tiba, dengan mempersiapkan dirinya, Asiong pergi ke PRJ sendiri tanpa mengajak seorang pun saudara atau temannya.
"Aku harus bisa menemui Ervina hari ini. Harus!" Kata pemuda itu ketika melangkah masuk ke arena PRJ. Hari Jumat termasuk awal dari akhir pekan, tak heran jumlah pengunjung saat itu cukup ramai. Dibanding hari Sabtu sebelumnya, malam itu tidak seramai malam minggu saat keduanya saling bertemu.
Asiong mengacuhkan SPG yang menawarkan brosur dan produk sepanjang jalannya ke stand Marlboro tempat Ervina berjualan.
"Tunggu aku ya. Malam ini aku harus bisa mendapatkan nomormu." Kata Asiong lagi. Dia sudah berada di stand Marlboro dan tampak celingukan kesana kemari.
"Ada yang bisa dibantu, Ko?" Terdengar sebuah suara wanita dari arah belakangnya. Asiong menengok. Seorang gadis berpakaian SPG Marlboro seperti Ervina sedang tersenyum menatapnya.
"Aku mencari seseorang." Kata Asiong. "Namanya Ervina."
"Oh, Ervina ya." SPG itu menyahut.
Asiong mengangguk bersemangat. "Ya, Ervina. Hari ini jadwal dia jaga kan?"
"Betul, Bapak." SPG itu tersenyum. "Tapi hari ini Ervina gak masuk."
"Hah? Tidak masuk?" Asiong mengulangi jawaban SPG. Dia tak bisa mempercayainya.
"Ya, Ervina hari ini tidak masuk." Kata SPG itu mempertegas perkataannya.
"Kalau boleh tahu, kenapa ya dia tidak masuk?"
"Wah, saya gak tau deh kalau itu, Pak." Kata SPG itu.
"Ooo." Hati Asiong terasa jatuh saat itu juga. Pengorbanannya malam itu terasa percuma. Dengan berat hati, pemuda itu membalikkan badannya dan meninggalkan tempat itu.
"Rokoknya, Pak. Kami sedang ada promosi." Terdengar SPG itu memanggilnya.
"Lain kali saja. Aku sedang tidak merokok!" Ujar Asiong datar sambil melangkah pergi.
BERSAMBUNG
BAGIAN 9
"Jadi ceritanya lu gagal nih bertemu dengan Ervina?" Tanya Buntara alias Abun yang Sabtu itu kembali bermain di konveksi Asiong. Hampir setiap Sabtu, Abun menyempatkan dirinya bermain di konveksi Asiong dikarenakan dia libur kerja.
Asiong menganguk. Namun pemuda itu tak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. Saat itu sedang tidak banyak kerja di konveksi, jadi pemuda itu bisa duduk di depan pintu pagar rumah kontrakannya sambil merokok ditemani oleh Abun yang duduk di sebelahnya.
"Sudahlah, lupakan saja!" Kata Asiong. "Cewek bukan cuma dia saja."
"Nah, itu dia, Siong!" Abun menjentikkan jarinya. "Kita bisa cari yang lain malam ini."
"Cari yang lain?" Asiong mengangkat alisnya. "Maksudmu?"
"Masih ada tempat yang juga gak kalah hebohnya kalo soal cewek." Kata Abun.
"Dimana?" Asiong menjentikkan abu dari rokoknya.
"Diskotik." Jawab Abun.
"Tak salah dengar nih?" Asiong menatap sepupunya itu.
"Gak lah. Diskotik." Ujar Abun. "Nanti malam kita dugem, gimana?"
"Wah, itu dunia yang sudah lama kutinggalkan." Kata Asiong.
"Sekali-kali lah, kembali lagi ke kebiasaan lama." Abun masih membujuk Asiong. "Hitung-hitung mengusir stress karena gak ketemu Ervina kan?"
Asiong terdiam sesaat, seperti sedang berpikir. Rokok di mulutnya dihisapnya dalam-dalam.
"Boleh deh. Tak penting bagiku mendapatkan cewek disana, yang penting aku bisa senang-senang dan melupakan Ervina." Kata Asiong tak lama kemudian.
"Nah!! Mantap tuh!" Abun tersenyum. "Kita beramai-ramai kesana nanti malam."
"Pakai motor?" Tanya Asiong.
"Gak lah. Pake mobil dong." Jawab Abun. "Gue yang bawa nanti malam ya. Lu siap-siap aja. Jam 8 kita makan dulu di Pecenongan. Pulang dari sana baru kita dugem. Oke?"
"Oke!" Asiong membuang puntung rokoknya ke jalan di depan rumahnya. "Jemput aku ya!"
"Pasti dong!" Abun tertawa sambil berdiri. "Gue mau masuk ke dalam dulu, lu ada minuman apa?"
Kedua pemuda itu pun masuk ke dalam rumah kontrakan Asiong dan kedua kakaknya itu.
Beberapa jam kemudian...
Kelima bersaudara itu menyatu dengan hentakan musik yang berada di diskotik yang mereka masuki malam itu. Kepala mereka menghentak keras mengikuti alunan musik yang berdentum tak kalah kerasnya. Sementara badan mereka bergoyang mengiringinya.
Seperti suasana diskotik pada umumnya, di dalam ruangan tertutup tampak remang-remang dengan sesekali diselingi kilatan lampu disko yang berputar di atas kepala. Banyak pemuda pemudi yang larut dalam suasana bising itu. Ada yang sendiri dan ada pula yang berpasangan.
Semakin malam suasana di klub malam itu semakin ramai, baik ramai oleh hentakan musik dan ramai oleh pengunjung yang terus bertambah. Saat itu waktu sudah lewat tengah malam. Kelima pemuda itu tidak berdansa di satu tempat yang sama. Kelimanya terpencar sambil sesekali berharap bisa mendapatkan gadis yang tak memiliki pasangan dalam dansa itu. Ini adalah ketiga kalinya mereka turun dan berdansa di tengah ruangan.
Asiong menyusul Poniman yang sudah duduk di sofa terlebih dahulu. Buntara alias Abun juga sudah duduk menikmati minumannya. Sementara Chandra dan Akong masih turun bergoyang di bawah.
"Gimana, udah gak inget lagi kan?" Abun mengepulkan asap rokoknya.
Asiong meletakkan gelas minumannya dan menyambar bungkus rokok yang tergeletak di meja. "Ya, lumayan. Tapi tak ada yang sebanding dengan Ervina."
Abun dan Apo tertawa secara bersamaan. "Sudahlah, kita semua sudah disini. Kita nikmati saja!" Kata Apo menuang minuman dari botol ke dalam gelasnya.
"Nah, itu," Abun menunjuk Apo. "Betul banget tuh!"
Saat itu musik berhenti sesaat dan berganti lagu. Chandra dan Akong bergabung dengan mereka di sofa. Sedangkan Abun berdiri saat melihat keduanya datang.
"Gue turun dulu ya." Ujar Abun sambil melangkah ke tengah arena dugem.
"Gue juga." Apo pun berdiri dan mengikuti langkah Abun.
Chandra menghempaskan badannya di sofa, sementara Akong menyandarkan punggung dan kepalanya. Keduanya tampak lelah dan membutuhkan istirahat.
"Gak turun, Siong?" Tanya Chandra yang kepalanya menghentak mengikuti irama musik yang sedang diputar itu.
"Ya, bentar lagi. Habisin rokok ini dulu." Asiong menjawab. Secara iseng-iseng kepalanya menoleh kiri kanan, sekedar untuk melihat suasana di sana. Hampir semua sofa dan kursi di diskotik tampak kosong dikarenakan pengunjung sedang bergoyang menikmati alunan musik di tengah-tengah arena.
Berputar pandangan dari arah kanan ke arah kiri, sekilas Asiong melihat seorang gadis seperti bersandar di sebuah sofa dekat pojok ruangan, bersandar seperti halnya Akong. Namun wajah gadis itu tampak tenang, seperti sedang tertidur, namun nafasnya juga tidak memburu seperti Akong. Di sampingnya terdapat seorang lelaki yang berbadan cukup besar, tampak tertawa melihat sang gadis yang tersandar itu dan tangannya mengambil gelas yang terlepas dari pegangan si gadis saat terkulai lemas itu.
"Dasar lelaki buaya!" Gumam Asiong melihat hal itu. Matanya masih belum lepas dari keduanya. "Tak boleh lihat yang bagus sedikit, langsung beraksi."
Gadis yang terkulai lemas di sofa itu ternyata seorang gadis yang masih muda, cantik dengan rambutnya yang pirang. Pakaiannya saat itu tergolong seksi, dengan kaos pas badan sebagai atasannya dan celana panjang jeans sebagai bawahan.
Asiong kembali menikmati sebatang rokok yang baru dinyalakannya. "Mendingan merokok lah, daripada ikut campur urusan orang lain."
Mendadak Asiong merasakan sesuatu yang membuatnya kembali berpaling ke arah kedua insan di pojokan tersebut. "Heh, rambut pirang?" Gumamnya.
Diperhatikannya gadis yang lemas terbaring di sofa itu dengan lebih seksama. Sedetik, dua detik, tiga detik...
"Astaga!!" Terbelalak sepasang mata Asiong saat menyadari yang sedang dilihatnya. "Itu sepertinya Ervina."
Tak percaya pada pandangannya sendiri, Asiong pun berdiri dan memandang lebih seksama lagi.
"Ya Tuhan!" Semakin terbelalak kedua mata Asiong. "Itu Ervina!!"
BERSAMBUNG
BAGIAN 10
"Sial!" Asiong melempar rokok yang baru saja dinyalakannya itu. Dengan sepatu kets nya, pemuda itu mematikan bara api di puntung rokok tersebut.
"Kenapa, Siong?" Chandra menghentikan kepalanya yang sedang bergoyang mengikuti hentakan musik dan menatap sepupunya dengan pandangan bingung.
"Itu." Asiong menunjuk ke pojokan tempat insiden itu terjadi. Chandra memalingkan wajahnya mengikuti telunjuk Asiong.
"Oh, itu sih biasa lah." Ujar Chandra tenang. "Udah sering itu terjadi."
"Perhatikan cewek itu benar-benar." Kata Asiong lagi, suaranya terdengar bergetar. Saat itu pemuda berbadan besar itu kembali beraksi. Kali ini dia memindahkan posisi badan Ervina yang sedang terbaring menyandar ke posisi duduk.
"Ooohhhh...." Kepala Ervina terkulai lemas ke belakang saat posisi badannya didudukkan dari posisi menyandar oleh lelaki di sampingnya. Kemudian dilanjutkan dengan dipapahnya gadis itu berdiri oleh lelaki tersebut.
Dengan meletakkan sebelah tangan Ervina di pundaknya, lelaki itu memapah gadis itu berdiri dan mengajaknya berjalan. Kembali gadis itu mengeluh dan kepalanya tertunduk saat diajak berjalan itu, atau lebih tepatnya diseret oleh lelaki itu.
"Gawat!!" Asiong beranjak dari tempatnya berdiri. Melihat tindakannya yang mendadak itu, Chandra dan Akong, yang sudah bangun dari tertidurnya di sofa, berteriak memanggil pemuda itu. Namun Asiong sudah keburu menjauh.
"Ada apa dengan Asiong?" Tanya Chandra menatap Akong, yang menjawab dengan menaikkan kedua bahunya.
Tak urung Akong juga melihat ke arah yang diceritakan oleh Chandra. "Chan, firasatku jelek nih. Sepertinya sesaat lagi bakal terjadi keributan. Kau kenal siapa Asiong kan?"
Chandra mengangguk. Pemuda itu rupanya cepat menangkap maksud perkataan Akong. "Tapi siapa gadis itu?"
"Siapa gadis yang dikenal Asiong?" Akong bertanya balik.
"Mana kutahu. Banyak begitu." Jawab Chandra. "Tapi ini hanya dugaanku saja. Andaikan ini benar."
"Apa pikiranmu sama denganku?" Tanya Akong.
"Gadis SPG itu!" Keduanya berkata bersamaan lalu saling bertatapan satu sama lain.
"Ada kemungkinan itu dia." Kata Akong. "Kalau gak, kenapa Asiong jadi uring-uringan begitu?"
"Bahaya!" Kata Chandra. Pemuda itu bangun dari duduknya.
"Panggil Abun dan Apo, aku akan bantu Asiong," Ujar Akong yang juga sudah bangun dari duduknya itu.
Keduanya berpencar. Chandra berlari kecil menghampiri Buntara dan Apo yang masih bergoyang di tengah ruangan, sementara Akong mengikuti Asiong.
Dengan bergerak cepat, Asiong mengikuti lelaki berbadan besar yang membawa pergi Ervina itu. Dengan dentuman musik yang hingar bingar dan suasana yang hiruk pikuk, tak sulit bagi Asiong untuk mengintai dan mengikuti lelaki itu.
"Gadis ini mabuk." Terdengar lelaki itu berkata kepada petugas penjaga pintu yang kemudian membukakan pintu untuknya. Lelaki itu pun keluar dari diskotik dengan sebuah senyum menghias di wajahnya.
"Malam ini kau tak bisa lepas lagi dariku, manis." Terdengar lelaki itu bergumam sambil membawa Ervina ke parkiran mobilnya. Karena sudah lewat tengah malam, maka tempat parkir mobil sudah cukup sepi. Terlebih parkiran tersebut berada di lantai dasar, basement.
Asiong mendorong pintu, meninggalkan kebisingan dentam musik di ruangan dalam. Matanya melihat ke sekeliling sesaat dan setelah menemukan orang yang dicarinya, pemuda itu memburu ke arah si lelaki yang telah tiba di depan sebuah mobil.
BERSAMBUNG
BAGIAN 11
Dikejar oleh degup kencang jantungnya, lelaki itu tampak terburu-buru merogoh kantongnya mencari kunci dari saku celananya. Tangannya bergetar saat menarik kunci mobil dari saku celananya. Akibatnya kunci tersebut jatuh ke tanah dekat sepatunya.
"Ahh, pakai jatuh segala." Lelaki itu mengomel. Dengan menahan agar gadis yang dipapahnya tidak terlepas, lelaki itu berjongkok dan sebelah tangannya mengambil kuncinya yang terjatuh itu. Gerakannya membuat kepala Ervina kembali berputar, dengan lemas bergoyang ke kiri dan kanan dalam keadaan tertunduk dan rambut pirang yang menutupi.
Setelah mendapatkan kunci dan berdiri kembali, lelaki itu tersenyum lebar memasukkan kunci pintu mobil dan memutarnya. Pada saat pintu mobil dibukanya, dirasakannya sebuah tepukan di pundaknya.
"Permisi, bisa tanya sesuatu?" Terdengar suara tak lama setelah tepukan di pundaknya itu. Lelaki itu menengok.
BUUAAAKKKK!!!!
Sebelum sempat menyadari siapa yang memanggilnya atau menepuk pundaknya, sebuah pukulan keras telah mendarat di wajahnya tanpa dapat dihindarinya.
"Ugghhh!!" Lelaki itu mengerang. Kepalanya mendadak pusing oleh serangan yang mendadak itu. Beruntung gadis yang dipapahnya tidak terlepas.
Digoyangkannya kepalanya yang terasa pusing itu. "Sialan!!" Umpat lelaki itu. Merasa agak baikan, lelaki itu mencoba memandang ke depan. Tapi dia terlambat menyadari.
BUUUKKKKK!!!
"AAAAkkkhhhhhhhhh!!!!" Kembali lelaki itu mengerang tatkala wajahya kembali menjadi sasaran hantaman. Kali ini dagunya yang mendapat pukulan dari arah bawah. Badan besar lelaki itu terangkat sesaat.
"Oohhh...." Terdengar Ervina mengeluh. Tubuh lemasnya terlepas dari papahan lengan lelaki bertubuh besar itu. Pada saat yang bersamaan tubuh besar yang tadi memapahnya limbung.
Asiong, yang menghantam wajah lelaki berbadan besar itu, bergerak cepat. Sebelah lengannya bergerak memapah tubuh lemas Ervina. Kembali gadis itu mengeluh ketika tubuhnya dipeluk dan disandarkan di lengan kirinya.
"Kurang ajar!" Lelaki itu berteriak. Pukulan Asiong ternyata hanya sanggup membuatnya limbung sesaat. Dikarenakan pada saat melancarkan pukulan, posisi Asiong tidak tepat berada di depannya, melainkan pukulan yang dilancarkannya berasal dari samping. Hal ini dikarenakan lelaki tersebut masih memapah tubuh lemas Ervina di lengannya, posisi yang membuat Asiong tak leluasa melancarkan pukulan.
Dengan badan besarnya, yang kini sudah mulai bergetar akibat efek pukulan di dagunya yang masih terasa, lelaki itu maju mendekati Asiong.
"Siong!" Terdengar sebuah suara memanggil dari belakang. Asiong menengok. Fatal! Kesempatan Asiong menengok dipergunakan oleh lelaki berbadan besar itu untuk menyerangnya.
BUUUKKK!!!
"AARGGHHH!!!" Kepala Asiong sampai tertarik ke samping saat pukulan si lelaki berbadan besar itu mendarat di wajahnya. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang.
Pada saat Asiong terhuyung ke belakang, kesempatan itu dipakai oleh lelaki berbadan besar itu untuk menarik Ervina kembali dari pelukan tangan kiri Asiong. Beruntung Asiong sigap dan bertindak cepat sebelum lelaki tersebut berhasil melakukannya. Dipeluknya pinggang gadis itu dengan lebih erat dan didekapnya menyatu dengan badannya, sehingga jangkauan lelaki berbadan besar itu hanya menangkap angin.
Namun tak urung, Ervina yang sedang dipeluk dengan tangan kirinya ikut terseret olehnya ketika dia terhuyung mundur ke belakang. "Ngghhhh...." Kembali terdengar keluhan dari bibir Ervina pada saat terjadi adu tarik tersebut.
"Sini kubantu!" Kata si pendatang yang memanggil Asiong, yang tak lain adalah Akong, sepupunya. Akong bergerak menolong Asiong mengambil tubuh lemas Ervina dari pelukan pemuda itu.
"Ke pinggir, Kong! Jaga dia. Yang satu ini urusanku!" Kata Asiong sambil menyerahkan badan lemas Ervina kepada sepupunya. Akong segera menghindar ke tempat yang aman, dengan Ervina yang dalam papahan lengannya. Kembali kepala gadis itu tertunduk lemas saat Akong memapahkan lengannya ke atas pundaknya.
Asiong kembali berdiri tegak sambil mengusap bibirnya dengan ibu jarinya. Sebersit cairan berwarna merah kental menempel di jarinya.
"Sial!" Asiong mengumpat. Tanpa melepaskan pandangan matanya ke arah lelaki berbadan besar itu, Asiong meludah membuang darah yang mengalir di mulutnya.
"Kurang ajar! Siapa kau berani ikut campur urusan ini?" Lelaki berbadan besar itu berteriak.
"Aku tak suka gayamu bekerja, Bung!" Kata Asiong tak mau kalah menggertak. "Itu sama sekali tidak gentleman!"
"Cuih!!" Lelaki berbadan besar itu meludah. "Kau sudah ikut campur dalam urusan ini. Kau yang memintanya, jangan salahkan saya!" Bersamaan dengan itu, si lelaki mengeluarkan handphone-nya dan tampak berbicara menghubungi seseorang.
Jantung Asiong yang saat itu sudah berdetak kencang karena ketegangan yang dialaminya, saat melihat tindakan lelaki itu semakin berdegup kencang. Dari pengalamannya sebelumnya, dia mendapatkan perasaan bahwa situasi akan bertambah buruk.
"Kong!" Teriak Asiong tanpa melepaskan pandangan dari lawannya.
"Ya." Akong yang dipanggil menyahut dari tempatnya berlindung.
"Bawa Ervina pergi dari sini!" Teriak Asiong lagi. "Cepat!!"
"Ya!" Akong segera berbalik badan dan membawa tubuh lemas Ervina pergi dari tempat itu. Pada saat yang bersamaan, Chandra datang dari pintu yang sama, pintu yang dipakai lelaki berbadan besar dan Asiong tadi keluar. Bersama dengan Chandra, Buntara dan Poniman berlari di belakangnya.
"Kenapa, Kong?" Tanya Poniman yang memang agak lamban dibanding semua saudaranya.
"Sudah, jelasinnya nanti aja." Kata Akong. "Ambil mobil, Bun. Cepat!"
Buntara yang baru tiba disana, mendapat perintah begitu dari Akong, hanya bisa berbalik badan dan berlari menuju mobilnya.
"Asiong gimana? Masa kita tinggal sendirian disana?" Tanya Buntara dalam perjalanannya menuju mobilnya.
"Habisnya gimana?" Tanya Chandra. "Lu mau kesana bantu?"
"Gimanapun juga dia itu saudara kita." Kata Buntara. Diserahkannya kunci mobilnya kepada Chandra. "Kalian bawa gadis ini ke tempat yang aman. Gue balik kesana dulu."
"Bun, lu udah gila?" Tanya Poniman.
"Gue masih waras." Tukas Buntara.
"Tapi, Bun, kalau mereka main keroyokan, gimana?" Tanya Akong.
"Kalian mau Asiong dikeroyok sendiri?" Jawab Buntara sambil berlari kecil. "Kita janjian lagi ketemu dimana. OK?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 12
Asiong sudah terbiasa dengan situasi menegangkan seperti ini. Ketika pemuda itu kembali dihadapkan kepada situasi yang sama, tak ada rasa takut sedikitpun dirasakan olehnya.
Saat itu tiga orang lelaki, yang juga berbadan kekar namun tidak sebesar lelaki yang mengundang mereka, telah berdiri di samping kiri kanan lelaki yang sempat dihajar Asiong tadi. Bukan saja badan mereka yang kekar, namun juga penampilan mereka yang bertato di lengan dan pakaian model anak jalanan, jaket kulit hitam tak berlengan, baju kaos kumal dan celana jeans belel dengan sobekan di lutut, menambah keangkeran mereka.
"Jadi aku harus berhadapan dengan empat orang ini sekaligus!" Gumam Asiong. "Oke. Satu geng pun, bila perlu, aku akan layani."
Suara tapak kaki yang seperti sedang berlari terdengar mendekat. Suara yang berasal dari belakang Asiong. Sambil menambah kewaspadaan akan datangnya serangan mendadak dari depan, Asiong mencoba melirik ke belakang, mencari tahu siapa yang mendekatinya.
"Siong!" Terdengar sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya. Suara Buntara. "Tenang, Siong. Ada gue yang bantu!"
"Kenapa disini? Ervina gimana?" Bisik Asiong. Kedua pemuda itu berdiri berdampingan.
"Ada sama yang lain, tenang aja." Kata Buntara. Diarahkannya pandangannya ke depan. "Wah, empat orang nih?"
"Seperti yang terlihat." Ujar Asiong.
"Bagus! Udah lama gue gak berantem nih." Kata Buntara sambil meluruskan dan menggoyang-goyangkan kedua lengannya, lalu dibunyikannya buku-buku jemari tangannya dengan melipat masing-masing jari ke dalam. "Tangan gue udah gatal gak mukul orang sekian lama."
"Heh!" Asiong mendengus mendengar komentar sepupunya itu. Dia memang mengetahui kalau Buntara adalah seorang petarung di sekolahnya, ketika masih di tingkat SD sampai SMA. Hampir sama seperti dirinya, selain sebagai seorang tidak menyukai ketidakadilan, Buntara juga sosok yang menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kemenangan demi keadilan.
Di seberang sana, keempat lelaki yang semuanya berusia di atas kepala tiga, tampaknya telah siap maju setelah basa basi di antara mereka sesaat.
"Hei, kalian!" Mendadak terdengar suara keras dari arah parkiran tempat mereka berdiri berhadap-hadapan. "Sedang apa kalian disana?"
Seorang pria berpakaian Satpam berlari kecil menghampiri keenam lelaki itu. Tongkat khusus Satpam mengayun-ayun di tangannya.
Lelaki berbadan besar yang menjadi pimpinan dari ketiga temannya itu memberi tanda dengan gerakan kepala ke arah temannya. Begitu mendapat aba-aba itu, salah seorang lelaki mendekati ke arah Satpam yang kini telah berjalan ke arah mereka itu.
Asiong yang melihat keadaan tak menguntungkan segera mengambil inisiatif. Didahului dengan suara teriakan, pemuda itu berlari ke arah Satpam dan lelaki berjaket hitam yang sedang menghampirinya itu.
"Pak, awas!" Teriak Asiong sambil berlari cepat dan menyergap lelaki berjaket hitam, tepat ketika lelaki itu tinggal beberapa langkah lagi dengan Satpam yang diincarnya.
Satpam terperangah melihat sergapan Asiong kepada pemuda yang mendekatinya itu. Langkahnya terhenti saking kagetnya. Matanya hanya bisa memandang melotot dengan mulut ternganga lebar melihat yang terjadi di depan matanya.
"UUUGGGHHHHH!!!" Lelaki yang disergap oleh Asiong tersungkur, sama sekali tak menyadari dirinya akan mendapat sambutan seperti itu. Bersama dengan Asiong yang memeluk erat badannya, keduanya berguling sesaat di jalanan.
Keduanya bergulingan dan saling menekan lawannya, bergumul untuk mencoba berada di atas dari yang lain. Tepat pada saat Asiong berada di atas lelaki itu, pemuda itu gerakkan lengan kirinya menjambak rambut lawannya dari belakang kepalanya.
"Heyyy!! Arrggghhh!!" Lelaki itu menjerit kesakitan merasakan jambakan di rambutnya. Tangannya berusaha menggapai wajah Asiong.
Namun niat lelaki itu mencakar wajah Asiong urung tatkala pemuda itu terlebih dulu mendaratkan sebuah pukulan tepat ke arah rahangnya. Dengan lengan kiri menjambak rambut dari belakang, Asiong menghantam wajah lawannya dengan tangan kanannya.
BUUUUKKKKK!!!
"Ooouuukkkhhhhhhh!!!!" Lelaki itu berteriak saat pukulan Asiong mendarat tepat di wajahnya. Sakit di rahangnya dirasakannya merayap naik hingga ke ubun-ubun kepalanya.
Merasakan dirinya berada di atas angin, Asiong menggandakan serangannya. Dengan memanfaatkan momen lawan yang masih pusing itu, Asiong menjambak rambut lawannya dan mendirikannya. Lelaki itu mau tak mau berdiri dengan 'bantuan' jambakan di rambutnya.
Setelah melihat lawannya berdiri, Asiong melepaskan jambakannya. Keadaan pening membuat tubuh lelaki itu berdiri dengan sempoyongan. Asiong tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Didahului oleh sebuah pukulan yang mendarat tepat di hidung lawannya. Lelaki berjaket hitam itu terundur beberapa langkah oleh pukulan itu. Belum cukup, Asiong masih menambahkan lagi dengan sebuah pukulan. Kali ini diarahkan tepat ke perut sang lawan.
"OOOOFFFFFFFF!!!" Udara seperti meluncur keluar dari paru-paru ketika mendapat pukulan di arah perut seperti itu. Kesakitan, lelaki itu tampak membungkuk memegangi perutnya.
BUAAKKKKHHHH!!!
Sebuah pukulan kembali mendarat di wajahnya pada saat dirinya terbungkuk dengan perut sakit. Dalam posisi agak membungkuk, Asiong menghantam lelaki itu dengan sebuah pukulan yang tepat diarahkan di dagu bawahnya. Sebuah pukulan uppercut! Pukulan yang dilontarkan dari arah bawah, dengan posisi tangan dan siku petinju membentuk huruf V dan dengan sasaran utama perut, ulu hati dan dagu lawan.
Tanpa banyak bersuara, lelaki tersebut roboh dengan mendarat keras di atas jalan. Punggungnya rata menghempas tanah, KO oleh pukulan uppercut, salah satu pukulan yang sangat ditakuti dalam olahraga tinju.
Dagu adalah salah satu daerah rawan yang harus dilindungi dalam bertinju. Bila terkena pukulan di dagu, terlebih oleh uppercut yang dilancarkan dari arah bawah, bukan tidak mungkin, badan sebesar apapun akan roboh olehnya.
Asiong menepuk telapak tangannya seolah debu yang menempel mengotorinya saat melihat lawannya terkapar roboh.
"Ya, satu roboh! Tiga lagi tersisa!" Asiong membalikkan badannya dan berjalan kembali ke tempatnya semula.
BERSAMBUNG
BAGIAN 13
Bersamaan dengan aksi Asiong menyergap lelaki yang ingin menyerang Pak Satpam, kedua lelaki temannya bergerak maju menyerang. Buntara pun sudah siap melayani saat keduanya bergerak maju dengan serentak.
Kedua lelaki itu menyebar. Satu menuju ke arah Satpam, sedangkan yang satu lagi bergerak ke arah Buntara.
"Pak!! Awas! Dia mau menyerang Bapak!!!" Buntara berteriak sambil membungkuk menghindari ayunan tangan lawan yang mengincar wajahnya.
Ketika mengangkat badannya lagi, kembali serangan lawan mengincarnya. Buntara menggerakkan lengannya. Jurus yang pernah diajarkan oleh papanya dan dipendamnya bertahun-tahun setelah melepas status sebagai murid petarung, kini kembali dikeluarkannya.
Masa kecil Buntara diisi dengan perkelahian hampir setiap harinya. Dikarenakan Buntara kecil tidak senang temannya dipermainkan, pertikaianpun jarang terelakkan. Suatu hari, Buntara kecil pulang dalam keadaan babak belur. Dia gagal membela temannya yang diincar anak-anak kampung sebelah, yang memang terkenal sangat merendahkan kaum keturunan. Karena jumlah mereka yang lebih banyak, Buntara kalah dalam perkelahian tersebut dan sepeda temannya yang diberikan ayahnya untuk ulang tahunnya direbut mereka. Ketika mengetahui bahwa anaknya berkelahi demi membela kebenaran, Papa Buntara mengajarkan sedikit ilmu bela diri yang pernah dipelajarinya semasa masih melajang. Baru diajarkan 3 hari oleh Papanya, Buntara kecil menantang anak-anak kampung sebelah berkelahi. Pertemuan kali ini berhasil dimenangkannya dan sepeda temannya diambilnya kembali. Keadaan berlanjut selama Buntara bersekolah. Manakala dilihatnya ada temannya yang diganggu, tak perduli kakak kelasnya sekalipun, Buntara dengan berani menantang mereka.
Sebuah pukulan sang lawan yang dilancarkan ke arah wajahnya berhasil dihalau lengan kirinya yang digerakkan dari arah dalam keluar membentuk sebuah jurus menepis.
Melihat pukulan tangan kanannya berhasil dihindari, sang lawan kembali melancarkan serangan. Kali ini dengan tangan kiri, sebuah pukulan kembali dilancarkan.
Dengan menggunakan jurus yang sama, kembali serangan lawan berhasil dikandaskan Buntara. Dengan kedua tangan yang ditepis begitu, posisi lawan berada dalam keadaan terbuka di bagian dada. Sebuah daerah serang yang bagus dan sudah diincar oleh Buntara.
Didahului oleh serangan siku tangan kanan yang mendarat tepat di ulu hati sang lawan. Sebuah serangan yang membuat lawan seperti 'tersengat' dan terhenti gerakannya. Dengan mulut seperti ingin muntah akibat telaknya serangan yang masuk itu.
Disusul dengan sapuan lengan yang digerakkan ke atas menghantam tepat wajah yang sedang terkejut itu, menghantam wajah sang lawan dengan punggung tangan yang mengepal, cukup untuk membuat lawan mundur beberapa tindak ke belakang.
"Hooeekk..." Lelaki itu memegang ulu hatinya yang terpukul dan mulutnya pun memuntahkan cairan.
"Satu peringatan bagimu! Jangan pernah berurusan dengan murid petarung sepertiku ini!" Ujar Buntara yang melancarkan sebuah tendangan lurus ke arah dagu sang lawan, membuat lelaki bertubuh kekar tersebut mental beberapa meter ke udara sebelum akhirnya tubuhnya jatuh terhempas ke tanah dengan keadaan tak sadarkan diri.
Sementara itu seorang lelaki lain yang bergerak menyerang Satpam melancarkan pukulan dengan gerakan tangan melingkar. Dengan membungkuk, Pak Satpam tersebut berhasil menghindari pukulan berputar si lelaki.
Dengan sigap, Pak Satpam mengambil peluit yang digantung di lengan seragamnya dan meniupnya. Di suasana tengah malam yang tenang itu, suara peluit yang sejatinya tidak begitu kencang itu, terdengar keras dan membuat dua orang temannya - yang juga berseragam keamanan - berlarian datang dari kejauhan.
Menyadari situasi yang tak menguntungkan, lelaki yang menyerang Pak Satpam mengurungkan niatnya. Dilihatnya lelaki berbadan besar yang menjadi pimpinannya itu. Sebuah gerakan lengan mengisyaratkan pergi membuat lelaki itu membalikkan badannya meninggalkan tempat itu.
Ketika melewati temannya yang terkapar oleh tendangan Buntara, lelaki itu berhenti untuk memapah tubuh lemas temannya dan kabur dengan langkah tertatih-tatih.
Tepat pada saat Asiong kembali ke tempat tersebut, lelaki berbadan besar itu berpapasan dengannya. Saat melihat Asiong, lelaki itu menggemeretakkan giginya.
"Urusan kita belum selesai! Tunggu pembalasanku!!" Lelaki berbadan besar itu mengacungkan jari tengahnya ke wajah Asiong yang disambut dengan cibiran pemuda itu.
"Kapanpun, Bung!" Jawab Asiong. Diarahkannya jempol tangan kirinya ke bawah, membuat lelaki berbadan besar itu semakin emosional.
"Oh ya!" Asiong berhenti sesaat dan menatap si badan besar. "Jangan lupakan temanmu! Atau kami akan membawanya bersama!"
Si badan besar dan temannya berlalu dari tempat itu. Dengan mobil mereka, keduanya membawa serta kedua teman mereka yang masih tak sadarkan dirinya ketika dinaikkan ke atas mobil.
Sementara itu, Buntara diwawancarai oleh Pak Satpam dan beberapa petugas keamanan diskotik.
"Saya tak tau banyak, Pak. Saya hanya membantu saudara saya yang dikeroyok!" Terdengar jawaban Buntara ketika Asiong mendekat. "Nah, ini dia orangnya."
"Tak ada masalah yang berarti, Pak." Jawab Asiong. "Mereka mengganggu temanku."
"Lalu dimana temanmu sekarang?" Tanya Pak Satpam.
"Sudah pulang ke rumahnya." Kata Asiong lagi sambil dalam hatinya bergumam, 'Tak perlu kuceritakan kalau dia bersama saudara-saudaraku sekarang. Nanti malah ditanya panjang lebar.'
"Oh begitu." Ujar Pak Satpam.
"Kalau boleh tahu, Pak, siapa orang berbadan besar tadi?" Tanya Asiong.
Pak Satpam dan kedua temannya saling bertatapan, sebelum balik bertanya.
"Kalian orang baru disini?" Tanya Pak Satpam.
Asiong menatap Buntara.
"Tidak, Pak. Saya sering datang kesini." Jawab Buntara. "Hanya saja saya belum pernah melihat mereka."
"Oh," Teman Pak Satpam menggaruk kepalanya. "Mustinya kalau sering datang kemari, kau mengenalnya. Dia terkenal disini."
"Terkenal?" Buntara melirik Asiong. "Maksud Bapak?"
"Saya juga masih baru disini, tapi yang saya tahu mereka itu preman disini." Jawab Pak Satpam.
"He eh. Preman ya? Mau rokok, Pak?" Buntara mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkan kepada mereka.
Ketiga orang itu menerima pemberian Buntara, menyalakan rokok masing-masing, baru melanjutkan pembicaraannya.
"Dia bernama Roni Susilo, putra Ahmad Susilo, salah seorang rentenir yang terkenal sadis." Kata Pak Satpam menjelaskan.
Kedua mata Asiong terbelalak mendengar perkataan Pak Satpam itu. Buntara juga tak berbeda keadaannya. Keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Rentenir?" Gumam kedua bersaudara itu bersamaan.
BERSAMBUNG
BAGIAN 14
"Terima kasih atas bantuanmu ya." Kata Asiong kepada Buntara. Kedua pemuda itu sedang berjalan menyusuri trotoar dan telah meninggalkan diskotik yang tak berapa lama sebelumnya terjadi pertikaian antara keduanya dengan sekelompok pemuda yang mengambil kesempatan pada seorang gadis kenalan Asiong. Diskotik yang telah mereka tinggalkan beberapa meter di belakang.
"Tak masalah, selama aku masih bisa membantu." Jawab Buntara menepuk pundak Asiong. "Hitung-hitung olahraga setelah lama tak menekuni hobi..."
Asiong tertawa. "Hebat juga berkelahimu. Sudah lama aku mendengarnya, tapi baru tadi kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Asuk yang mengajarkan ya?" Asuk berarti paman, adik ayah atau ibu.
Buntara mengangguk. "Hanya sedikit saja." Katanya merendah.
"Yang lainnya kemana?" Asiong memasukkan jemarinya ke dalam saku celana jeans-nya dan memandang ke sekeliling. Mereka sedang berada di sebuah perempatan jalan saat itu. Lalu lintas pada dini hari itu masih cukup ramai oleh lintasan kendaraan-kendaraan pribadi dan juga taksi. Mungkin karena malam itu adalah malam minggu.
"Aku tidak tenang melihat keadaan Ervina." Sambung Asiong.
"Tak perlu khawatir." Buntara menjawab sambil menyalakan sebatang rokok dengan pemantik gas. "Mereka menunggu tak jauh dari sini."
"Kita bisa kesana sekarang?" Asiong menatap saudaranya itu.
"Kenapa gak?" Buntara menghembuskan asap rokok yang dihisapnya. "Ayo!"
Kedua pemuda itu meneruskan perjalanan mereka dengan Asiong mengikuti di belakang Buntara yang memimpin di depan. Setelah berjalan beberapa meter kemudian, Asiong melihat sebuah mobil Kijang Inova berwarna putih terparkir di pinggir jalan, mobil yang malam itu dibawa oleh Buntara ke diskotik.
Hati Asiong berdegup kencang saat makin mendekati mobil tersebut. Pemuda itu mengkhawatirkan Ervina.
"Wah, itu mereka datang." Terdengar suara Poniman dari balik jendela mobil yang diturunkan. Chandra duduk di balik kemudi dan Akong berada di bangku di belakangnya bersama dengan Poniman. Di tengah-tengah kedua pemuda itu tampak Ervina yang masih dalam keadaan tertidur dengan kepala dan punggung bersandar di bangku.
"Gimana, Siong?" Akong langsung mengajukan pertanyaan saat Asiong dan Buntara membuka pintu mobil.
"Gue satu, Asiong satu. Dua-duanya KO!" Buntara menyela sambil tersenyum.
"Maksud lu? Gue gak ngerti..." Poniman menatap kedua saudaranya yang baru bergabung itu dengan pandangan bingung.
"Turun, Po!" Asiong yang membuka pintu belakang meminta tempat di samping Ervina yang saat itu masih ditempati Poniman.
"Wah yang punya pacar," Dengan tersenyum, Poniman beranjak turun dan tempatnya diganti oleh Asiong.
"Berisik!" Asiong menimpali dan duduk di samping Ervina. Sesaat matanya memeriksa keadaan sang gadis dan kemudian diliriknya Akong yang duduk di samping kiri Ervina. "Bagaimana keadaannya?"
"Masih belum bangun. Mungkin dosisnya tinggi." Ujar Akong. "Lu jaga dia ya. Gue pindah ke belakang."
Bersama dengan Poniman, Akong beranjak duduk di barisan paling belakang, meninggalkan Asiong dan Ervina di barisan tengah. Sementara Chandra berpindah ke samping kemudi dikarenakan Buntara yang membawa mobil tersebut duduk di belakang kemudi.
"Kita kemana nih, Siong?" Buntara membuang sisa rokok yang dihisapnya ke jalan dan memegang kemudi.
"Jalan saja, Bun. Aku masih belum tahu akan kemana. Kita pergi dari sini saja." Jawab Asiong.
"Oke." Buntara pun memutar kunci menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya melintasi lalu lintas di pagi dini hari itu.
Sepanjang perjalanan, Buntara dan Asiong bergantian bercerita mengenai pertarungan yang mereka temui sebelumnya. Adalah Buntara yang lebih banyak berbicara, sementara Asiong terus menerus memeriksa keadaan Ervina yang sampai waktu itu masih terkulai tak sadarkan dirinya.
"Siong, sebelumnya sori ya, tapi gue rasa gak bagus nih kalau pas dia bangun dan liat kita semua disini." Chandra tiba-tiba menimpali percakapan mereka. "Image lu bisa jelek di depannya, Siong."
Asiong mengangkat kepalanya. "Benar juga ya. Tapi apa yang harus kulakukan?"
"Gini aja, Siong." Buntara menjawab sambil sibuk mengendarai mobilnya. "Lu naik taksi aja. Jadi kalaupun dia bangun, kan cuma ada lu aja. Jadi gak ada kita."
"Jujur, Siong. Gue sih gak mau terlibat." Poniman menambahkan. "Bisa berabe."
"Tapi aku musti kemana?" Asiong menatap keempat saudaranya dengan bingung.
Akong tertawa sambil menepuk pundak Asiong. "Kalau lu emang sayang pada Ervina, lu pasti tau harus ngapain."
'Sayang katanya?' Bathin Asiong dalam hati. 'Terlalu cepat untuk bilang itu.'
Buntara menghentikan kendaraannya di pinggir jalan. "Gimana, Siong?"
"Mumpung Ervina belum sadar lho. Nanti kalau udah bangun, repot lho." Tambah Chandra.
"Ya sudahlah. Aku turun disini saja." Asiong pun membuka pintu mobil dan turun.
"Sorry, Siong. Ini demi lu juga." Kata Buntara lagi.
"Aku mengerti." Asiong menjulurkan lengannya memeluk pinggang Ervina dan memapah gadis itu turun dari mobil. Sesaat gadis itu mengeluh saat Asiong membuatnya turun dari mobil tinggi tersebut.
"Oke, sampai disini saja." Kata Asiong. "Terima kasih semuanya."
Keempat sepupu Asiong tersenyum. Akong dan Poniman kembali ke barisan tengah dan pintu yang dibuka Asiong untuk turun, ditutup salah seorang dari mereka.
"Kami jalan dulu, Siong." Keempat saudaranya berkata bersamaan sebelum mobil Toyota Inova tersebut meluncur pergi meninggalkan Asiong dan Ervina disana.
BERSAMBUNG
BAGIAN 15
Tak perlu lama bagi Asiong untuk mendapatkan taksi yang bisa ditumpanginya. Tak sampai sepuluh menit berdiri sambil memeluk pinggang Ervina yang kepalanya terbaring lemas di pundaknya, pemuda itupun sudah duduk di dalam taksi yang membawanya.
"Mau kemana, Pak?" Tanya supir taksi memandang Asiong dengan pandangan curiga. Mungkin sebersit pikiran kotor terlintas di benak sang supir melihat seorang pemuda masuk sambil memeluk seorang gadis yang tak sadarkan dirinya.
"Aku belum tahu mau kemana, tapi Bapak jalan saja." Jawab Asiong sambil membaringkan kepala Ervina ke kepala kursi.
"Maksudnya Bapak?" Sopir taksi itu masih tampak jelalatan melihat tingkah laku Asiong yang menjadi penumpangnya itu.
"Bapak jalankan taksi saja. Aku masih belum ada tujuan sampai dia bangun." Pukas Asiong yang mulai agak kesal melihat 'perhatian' si sopir taksi.
"Baik, Pak." Sambil memulai menjalankan taksinya, mata si sopir taksi masih melirik spion atas yang memungkinkannya melihat ke belakang dimana Asiong duduk berdampingan dengan Ervina.
'Atau aku bangunkan saja dia ya?' Bathin Asiong kebingungan dalam hatinya. Saat itu dia menatap wajah tenang Ervina yang sedang tertidur itu. Dengan kedua mata terpejam, rambut pirang yang tergerai lepas, dan semua keindahan di wajah Ervina, membuat Asiong seperti terpukau dan tak ingin melepaskan pandangannya pada wajah gadis itu.
'Cantik sekali.' Gumam Asiong dalam hati. 'Andai saja aku bisa mengenalnya lebih jauh.'
Perjalanan tak tentu arah tersebut berlanjut. Argo taksi sudah menunjukkan harga sekitar dua puluh ribu rupiah saat itu dan pembicaraan Asiong dengan sopir taksi pun menjadi hening karena kehabisan topik pembicaraan, namun belum ada tanda-tanda Ervina akan terbangun dari ketidaksadarannya.
'Bangun dong. Sampai berapa lama lagi harus menggantung seperti ini?' Bathin Asiong dalam hati sambil melirik gadis yang rebah di sampingnya.
Sesaat terlihat kedua bibir gadis itu membuka. Dari antara kedua bibirnya keluarlah suara keluhan.
"Ervina." Asiong memegang lengan gadis itu dan mencoba mengguncangnya pelan. Berharap gadis itu bisa sadar dan membuka matanya.
"Uuuhhhhh....." Terdengar keluhan gadis itu kembali. Melihat kesempatan itu, Asiong pun tak menyia-nyiakannya. Dipanggilnya nama gadis itu sambil mengguncang lengannya lebih keras lagi.
Samar-samar Ervina merasa namanya seperti dipanggil. Suaranya jauh, sangat jauh. Pelan sekali, namun bisa terdengar olehnya. Suara yang terus menerus memanggil namanya dan sebuah kata lain yang masih belum jelas terdengar olehnya.
"Ngghhhh..." Kepala Ervina berputar ke kanan dalam sandarannya, menjauhi Asiong yang duduk di sebelah kirinya. Melihat hal itu, Asiong memberanikan dirinya memegang kedua pipi gadis itu dan ditepuknya perlahan sambil memanggil namanya.
"Ervina, bangun." Pemuda itu terus menepuk pelan pipi gadis itu.
Suara yang terngiang di telinga Ervina mulai terdengar jelas. Terasa semakin dekat terdengar. Keadaan sekelilingnya juga sudah tidak lagi hitam tak berujung, namun kini telah bergulir sedikit lebih terang, seperti ada seberkas cahaya yang menyeruak masuk.
Makin lama cahaya terang itu semakin menyelimuti tempat tersebut. Keadaan sekitarnya menjadi seperti kelabu. Sementara suara yang memanggil namanya kian terdengar mendekat.
Keadaan mulai memutih. Sedikit demi sedikit putih semakin menguasai pandangannya. Gelap bertukar menjadi lebih cerah, lebih terang.
"Ooohhhhh..." Ervina mengeluh dan perlahan kedua matanya membuka. Dilihatnya di depan pandangan matanya, sebuah permukaan yang tertutup seperti busa namun seperti sedang bergerak.
"Dimana aku?? Ini..." Gadis itu kembali mengeluh. Diangkatnya kepalanya yang baru disadarinya sedang rebah itu. Seketika pusing melanda kepalanya.
"Ohhh, pusing..." Tak kuasa Ervina mengangkat kepalanya. Disandarkannya kembali kepalanya, membiarkan rasa pusing menghilang. Matanya kembali dipejamkan.
'Suara itu? Suara yang memanggil namaku itu? Kenapa suara itu berhenti?' Tiba-tiba bathin Ervina berkata. '
Penasaran, gadis itu kembali membuka matanya dan mengangkat kepalanya. Rasa pusing yang melandanya saat itu ditahannya. Dirasakannya tempatnya duduk seperti sedang bergerak saat itu.
"Ervina, kamu sudah bangun?" Terdengar namanya kembali dipanggil. Suara itu!
Tiba-tiba benak gadis itu teringat ketika terakhir kalinya dia masih berdansa di tengah ruangan diskotik dengan hantaman musik keras, sebelum seorang lelaki yang mengajaknya kesana menawarkan minum. Karena merasa kepalanya pusing, gadis itu memilih untuk duduk di sifa daripada meneruskan dansanya. Setelah itu, dirinya tak ingat apa-apa lagi, sampai suara itu menyadarkannya kembali.
"Ervina..." Suara itu kembali terdengar. Gadis itu menengok ke arah suara tersebut berasal. "Er..."
Suara tersebut berhenti memanggil. Sebuah suara yang lebih kencang menghentikan suara yang terus menerus memanggil namanya itu.
PLAAKKKK!!!
Sebuah tamparan keras tangan kanan Ervina membuat pemilik suara tersebut terdiam. Kepala itu diam tak bergerak, terpaku di tempat terakhir kali tamparan tersebut membuatnya berhenti.
BERSAMBUNG
BAGIAN 16
Setelah melancarkan sebuah tamparan yang membuat pemilik suara berhenti memanggil namanya, Ervina memberanikan diri untuk melihat lebih jelas situasi yang sedang dialaminya saat itu.
Sementara Asiong yang pipinya ditampar Ervina itu terdiam tak bergerak. Sekilas terlihat anting yang melekat di telinga kirinya dari posisi wajahnya setelah mendapat tamparan. Pandangannya terarah ke sofa yang sedang didudukinya tersebut.
"Hah!! Kamu..." Tiba-tiba terdengar Ervina terpekik saat menyadari siapa yang berada di hadapannya itu. "Kamu bukannya Koko yang di PRJ itu?"
Kedua mata Ervina terbelalak saat menyadari perbuatannya. "Koko, maaf, aku..."
Asiong mengangkat wajahnya yang diam tak bergerak itu. Ditatapnya kedua mata indah Ervina.
"Maafkan aku, Koko. Aku spontan. Maaf, aku sungguh minta maaf." Kembali terdengar suara Ervina. Tangannya bergerak seakan ingin mengusap pipi pemuda yang ditamparnya itu, namun diurungkannya.
Asiong menghela nafas panjang dan dihembuskannya. Pemuda itu tidaklah marah akan perbuatan Ervina kepadanya. Dia bisa memaklumi kenapa Ervina berbuat seperti itu kepadanya. Sebuah reaksi spontan yang bisa dilakukan siapapun yang sedang panik.
"Koko kenapa bisa berada disini?" Ervina menatap Asiong dan melihat ke sekeliling. Baru gadis itu menyadari, tempat duduknya yang bergerak ternyata karena dirinya berada di dalam sebuah taksi.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Asiong berkata. "Kamu tidak apa-apa?"
Ervina terperanjat. Kedua lengannya segera memeriksa tubuhnya dengan memegang saku di celana dan beberapa tempat lain di tubuhnya. Lalu ditatapnya Asiong kembali.
"Aku gak apa-apa, Ko." Kata gadis itu. Suaranya terdengar bergetar. Rasa pusing di kepalanya masih tersisa sedikit. "Terima kasih kalau memang benar Koko yang menolongku."
"Badanmu masih lemah, istirahatlah dulu." Asiong kembali berkata. Matanya bertatapan dengan mata indah Ervina. "Aku akan mengantarmu pulang."
"Tapi, Ko..."
"Istirahatlah!" Nada suara Asiong terdengar dalam membuat Ervina tak ada jalan lain kecuali menurutinya dan menyandarkan badannya di sofa di belakangnya.
Sesaat keduanya terdiam seribu bahasa. Asiong mengarahkan pandangannya keluar jendela. Walaupun hatinya tidak marah, namun bekas tamparan Ervina di pipinya masih terasa pedas saat itu.
'Pedas juga tamparanmu, Ervina.' Bathin Asiong. 'Untung saja perasaan hati ini berkata lain. Andai aku tak ada rasa padamu, aku takkan diam seperti ini.'
Ervina sendiri terpaku bersandar di sofa taksi. Ingin sekali dia bersuara membuka pembicaraan dengan pemuda di sampingnya itu. Namun tamparan yang dilakukannya sebagai reaksi spontan, membuatnya menjadi sungkan untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
'Aku takut Koko marah, aku telah bersalah menamparnya.' Gadis itu berkata dalam hatinya. 'Please, Koko, jangan marah padaku. Aku tak bermaksud menamparmu tadi. Kupikir kamu adalah Roni.'
'Tapi kalau aku diam begini, mau sampai kapan?' Kembali Asiong membathin. 'Bukankah aku ingin bertemu dengan Ervina lagi? Kenapa justru sekarang sudah bertemu dan aku malah diam begini?'
'Ayo, Vina, panggil dia terlebih dulu. Minta maaf sekali lagi. Jangan bohongi perasaanmu sendiri.'
'Siong, ayo, kenapa diam saja? Selama ini Asiong tak pernah mengenal rasa takut kepada lawan kan? Kenapa kepada lawan jenis justru sepertinya ketakutan?'
Asiong memutuskan untuk menengok dan membuka pembicaraan terlebih dahulu dengan memanggil gadis yang duduk di sampingnya itu, tepat ketika Ervina memalingkan wajahnya dan bersiap-siap untuk membuka mulut meminta maaf kepada pemuda yang membuatnya tertarik itu.
"Kamu..." Kata Asiong. Suaranya terhenti ketika Ervina ternyata juga berkata pada saat itu.
"Koko..." Disaat bersamaan Ervina juga bersuara. Gadis itu terdiam manakala menyadari panggilannya membuat pemuda di sampingnya menjadi terdiam.
Wajah keduanya saat itu saling bertatapan, mata ke mata. Kembali keheningan mencekam. Keduanya terdiam tak bersuara kembali.
"Pak, jadi kita kemana ya?" Justru yang membuka mulut memecah kebuntuan disana adalah supir taksi, membuat kedua anak muda tersebut terperanjat dan berpaling mengalihkan pandangan ke arah sopir taksi dari sebelumnya yang saling bertatapan satu sama lain itu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 17
"Kita pulang saja, Pak." Jawab Asiong setelah terdiam beberapa lama. Ditatapnya Ervina yang duduk di sebelahnya itu. "Dimana rumahmu?"
"Aku tidak mau pulang." Jawab Ervina mendadak.
"Ini sudah malam. Tidak baik untuk seorang gadis berada di luar sendirian." Asiong berkata memberikan penjelasan.
"Kata siapa aku sendirian? Aku tidak sendirian." Ervina menyibakkan rambut pirangnya ke belakang. Perbuatannya ini menarik perhatian Asiong yang tak berkedip memandangnya.
"Kan ada Koko disini. Jadi aku tidak sendirian kan?" Sambung Ervina lagi dengan nada menggoda dan tatapan mata yang membuat Asiong memalingkan wajahnya.
'Gadis ini. Kenapa aku tak kuasa memandangnya?' Gumam Asiong dalam hati. 'Kenapa juga aku tak kuasa menolaknya? Kenapa?'
Ervina mengalihkan pandangannya ke arah sopir taksi. "Pak, antarkan kami ke Jalan Hayam Wuruk."
"Baik, Non." Sopir taksi menjawab sambil mengangguk.
"Kenapa ke Hayam Wuruk? Ada apa disana?" Asiong kebingungan mendengar tempat tujuan mereka.
"Sudahlah, nanti Koko juga akan tau." Ervina dengan santainya menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa taksi.
"Kenapa kamu tidak pulang saja?" Kembali Asiong bertanya. Hati pemuda itu bimbang bercampur bingung.
Ervina menatap pemuda itu sebelum menjawab, "Koko. Aku belum mau pulang. Aku masih ingin menikmati malam ini..."
'Bersamamu.' Lanjut gadis itu dalam hatinya. Dia belum ingin Asiong menyadari perasaannya secepat itu.
Karena lalu lintas yang lengang di dini hari itu, tak sulit bagi supir taksi membawa keduanya ke Jalan Hayam Wuruk. Berbeda dengan beberapa ruas jalan lainnya, suasana di jalan semi protokol itu masih cukup ramai saat itu.
"Berhenti di Fast Food depan itu, Pak." Ervina berkata dengan semangat. Sementara Asiong melihat keluar, ke arah Hayam Wuruk. Selain suasana jalan yang masih ramai, juga terdapat beberapa fast food yang masih buka 24 jam. Salah satu yang ada disana adalah Dunkin Donuts.
"Pinggir, Pak." Kata Ervina lagi sambil mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompet yang disimpan di saku celananya dan menyerahkannya kepada supir taksi. "Ambil kembaliannya."
Asiong melihat semua tingkah Ervina dengan pandangan terbelalak tak percaya. Bahkan pemuda itu masih belum menyadari ketika Ervina telah membuka pintu taksi dan menjejakkan kaki kanannya keluar.
"Koko, ayo! Kenapa bengong?" Suara Ervina menyadarkan lamunan Asiong. Pemuda itu akhirnya membuka pintu dan beranjak keluar dari taksi. Ketika berdiri di atas trotoar, kembali pemuda itu terbengong, seperti masih belum menyadari apa yang sedang terjadi.
Sebuah tarikan di lengannya membuat Asiong tersadar.
"Ayo, Ko, kita masuk!" Ervina yang ternyata menarik lengan pemuda itu untuk kemudian mengajaknya masuk ke dalam restoran fast food tersebut.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Asiong saat lengannya ditarik Ervina. Yang ada hanya degupan jantung yang mendadak dan dirasakannya semakin lama semakin kencang.
'Ada apa dengan semua ini? Apa yang sedang terjadi?' Kata Asiong dalam hati.
Dengan sebelah tangannya, Ervina mendorong pintu restoran fast food tersebut. Lalu sebelah lengannya yang menggandeng Asiong mengajak pemuda itu melangkah masuk ke dalam.
"Nah, Koko." Kata Ervina. Genggaman tangannya pada tangan Asiong masih belum dilepas. "Kita berdua akan melewati malam ini disini."
Asiong terperanjat mendengar perkataan Ervina. 'Melewati malam ini disini? Berdua katanya?' Gumamnya dalam hati.
BERSAMBUNG
BAGIAN 18
"Brengsek!!" Roni Susilo memukul setir mobilnya. "Semuanya berantakan! Sial!!"
Mobil sedan Audi keluaran terbaru yang sedang dikendarainya tampak gesit melintas di jalan. Roni sendiri yang mengendarai mobil tersebut, tak pernah memberikannya kepada siapapun untuk membawanya. Di sampingnya duduk seorang temannya, sementara kedua temannya yang tak sadarkan diri dalam pertarungan sebelumnya terkapar di bangku belakang.
"Gara-gara pemuda brengsek itu!" Teriak Roni kembali. Sepertinya emosional pemuda ini sedang meninggi. Dikendarainya mobilnya dalam kecepatan tinggi sebagai pelampiasan kekesalan emosinya.
"Sabar, Ron." Pemuda yang duduk di sampingnya berusaha menghiburnya.
"Siapa pemuda yang suka ikut campur urusan itu?!" Hardik Roni.
"Gue juga gak tau, Ron." Jawab temannya itu sambil menawarkan rokok dari bungkusannya. "Rokok dulu, bro." Namun ternyata tawarannya ternyata tidak digubris oleh Roni.
"Martin dan Niko juga goblok!!" Kembali Roni berteriak dengan kemarahan yang memuncak. "Bisa-bisanya KO pada dua pecundang itu!!"
"Tapi Ron, sepertinya mereka bukan orang sembarangan deh."
"Maksud lu?"
"Ya, kita kan hampir setiap hari latihan fisik. Kalau sampai mereka bisa mengalahkan Martin dan Niko, apalagi sampai membuat mereka KO begitu, itu artinya mereka bukan sembarangan."
Roni memegang dagunya yang masih sakit akibat hantaman tinju Asiong. Dari sana dia bisa mendapatkan pembuktian perkataan temannya itu.
"Itu belum seberapa." Sela Roni sesumbar. "Tapi gue masih ingin menghajarnya. Gue mau liat mereka, bukan, anak sial itu menderita karena sudah ikut campur urusan kita!"
"Pasti bisa, Ron. Gue yakin lu pasti bisa."
"Harus bisa!!" Roni kembali berteriak. "Tunggu aja pembalasan Roni!"
"Tapi emang lu udah tau dia anak mana, Ron?"
"Buntu! Gue sama sekali gak tau, baru sekali ini ketemu dia."
"Temennya yang satu juga jago lho. Martin sampe melintir kena tendangannya."
"Hah! Itu cuma hoki aja, Man. Gue gak yakin mereka sejago yang lu bilang!" Roni berkata sambil mengusap-usap dagunya. 'Brengsek! Sakitnya masih berasa...'
"Coba tadi semuanya berjalan lancar ya. Lu pasti udah senang-senang dengan Vina ya?" Sahut temannya sambil tertawa lepas.
Roni tertawa mengikuti temannya itu. "Tenang aja, kita kasih dia bebas dulu."
"Maksud lu gimana?"
"Gue biarin Vina bebas dulu. Sambil cari tau siapa dua orang brengsek itu." Roni membelokkan mobilnya memasuki lantai bawah sebuah gedung apartemen.
"Lukman, kita bagi tugas aja, bro." Lanjut Roni lagi. "Lu orang cari tau siapa dua orang brengsek itu. Terserah lu mau apain mereka. Bila perlu lu bunuh juga gue gak peduli."
"Nah, lu ngapain?" Tanya temannya yang bernama Lukman itu.
"Vina dong, coy! Mantap kan?"
"Wah, pintar lu, Ron!" Lukman tersenyum licik. "Jadi sekali kena dua target ya?"
"Hahaha... tenang aja. Selalu ada bonus kalo lu orang berhasil. Gue gak pernah lupain temen kok, Man...."
"Lu emang sahabat sejati, Ron!" Lukman tertawa lepas mengikuti Roni yang telah tertawa terlebih dahulu.
BERSAMBUNG
BAGIAN 19
Suasana di Dunkin Donuts cukup ramai oleh pasangan-pasangan anak muda yang sedang melewati malam minggu bersama. Ada juga sekumpulan anak muda yang bercengkrama bersama disana. Terdapat beberapa meja kosong yang masih belum ditempati.
Setelah mempelajari suasana di sekeliling, Ervina menggandeng tangan Asiong untuk menempati sebuah meja kosong di pinggir tembok dan agak berada di pojok. Kedua anak muda itu duduk hampir bersamaan waktunya, saling berhadapan satu sama lain.
"Koko mau pesan apa, biar sekalian kuambilkan." Kata Ervina menatap Asiong sesaat setelah keduanya duduk.
Asiong masih kebingungan dengan situasi yang serba mendadak itu, sehingga pertanyaan Ervina dijawabnya dengan seadanya.
"Apa sajalah. Terserah kamu yang pesan." Asiong membalas tatapan Ervina.
"Kalau donat, mau ya, Ko?" Ervina menyentuh lengan Asiong.
"Boleh."
"Minumnya apa?" Gadis itu tersenyum. "Orange juice, lemon tea atau soft drink?"
"Lemon tea saja." Jawab Asiong sambil menyalakan sebatang rokok.
"Koko tunggu disini ya, aku pesan dulu." Ervina bangun dari duduknya dan sambil tersenyum, gadis itu berlari kecil ke meja pemesanan.
'Semangat sekali. Tidak seperti seorang yang kena obat penenang sebelumnya.' Gumam Asiong dalam hati.
Selang beberapa menit kemudian, Ervina kembali dengan sebuah nampan yang di atasnya terdapat dua piring dan dua gelas minuman. Diletakkannya nampan tersebut ke atas meja.
"Ini pesanan Koko." Gadis itu mengambil salah satu piring yang berisi dua donat dan lemon tea yang kemudian diserahkan kepada Asiong. Sedangkan dia sendiri mengambil piring yang tersisa dan gelas minuman yang sepertinya berisi soft drink.
"Terima kasih ya," Asiong meletakkan rokok yang dihisapnya ke asbak sebelum mengambil garpu dan pisau.
"Iya, Koko." Ervina tersenyum manis sebagai jawabannya. Tangannya menancapkan sedotan ke gelasnya dan gelas minuman Asiong. "Itu rasa stroberi, Ko. Satunya lagi keju. Koko suka gak ya?"
Asiong tersenyum mendengar komentar Ervina. "Terima kasih sudah membelikan donat ini. Tak masalah bagiku mau rasa apa."
"Oke, Koko." Ervina mengambil gelas minumannya dan berniat meminumnya. "Dimakan, Ko."
"Tunggu!" Asiong berkata dengan tiba-tiba. "Jangan diminum dulu!"
Dengan gerakan cepat, pemuda itu mengambil gelas plastik berisi soft drink itu dan menukarkannya dengan gelas berisi lemon tea yang menjadi pesanannya.
"Lho, Koko. Kenapa?" Ervina menatap perbuatan Asiong dengan pandangan bingung.
"Ini soft drink kan?" Tanya Asiong memperhatikan isi minuman itu.
Ervina mengangguk.
"Apa ini? Coca Cola ya?"
Ervina mengangguk lagi.
"Kamu tak boleh minum ini dulu untuk malam ini." Kata Asiong. Dengan santainya pemuda itu meminum Coca Cola dari sedotannya. "Minum lemon tea saja. Jangan Coca Cola!"
"Lho, kenapa?" Ervina semakin bingung melihat tingkah laku Asiong tersebut.
"Bukannya kamu baru sadar dari efek..." Asiong berhenti sesaat untuk memelankan nada suaranya. "...obat penenang?"
Tak ada suara yang keluar dari bibir Ervina mendengar alasan yang dikemukakan Asiong itu.
"Ini minuman bersoda. Soda bisa bereaksi dengan zat kimia yang terdapat pada obat." Asiong melanjutkan penjelasannya. "Aku lupa apa istilahnya. Tapi yang pasti kamu minum lemon tea ini saja. Lebih aman."
"Nih, minumlah." Asiong menyodorkan gelasnya yang berisi lemon tea kepada Ervina. "Aku belum menyentuhnya. Apalagi meminumnya."
Ervina menerima gelas berisi lemon tea dengan hati tak menentu. 'Koko, kamu perhatian sekali, sampai hal sedetil itu pun kamu perhatian?'
'Aku sendiri sudah lupa kalau akan terjadi reaksi kimia ini kalau saja kamu tidak mengingatkanku, Ko.' Ervina menatap wajah Asiong yang tengah asyik menikmati rokoknya. 'Entah apa jadinya kalau kamu tak memperingatkanku tadi.'
"Terima kasih ya, Koko." Ucapan itu meluncur begitu saja keluar dari mulut Ervina.
"Heh, terima kasih? Untuk apa ya?" Asiong mematikan rokoknya di asbak dan menghembuskan asapnya dari mulut.
"Terima kasih telah menolongku." Ervina menyunggingkan senyum manisnya. 'Dua kali.'
"Sudahlah, kita makan saja yuk." Seru Asiong sambil mengambil donat dengan tangannya dan langsung melahapnya tanpa memotongnya lagi. "Upppsss!!"
Pemuda itu terloncat dari duduknya ketika selai stroberi yang menjadi isi donat yang sedang digigitnya meleleh dan menetes di tangannya. Buru-buru pemuda itu meletakkan donat itu ke atas piring dan mengambil serbet tisu untuk membersihkan tangannya dari selai stroberi.
"Hihihi..." Di saat bersamaan Ervina tertawa lepas melihat tingkah Asiong tersebut. "Makannya sabar aja, Ko. Gak perlu buru-buru. Kita disini sampai pagi kok."
"Sampai pagi?" Ujar Asiong sambil membersihkan tangannya. "Mau ngapain disini lama-lama?"
"Hihihi... Koko..." Ervina menatap Asiong dengan tatapan menggoda. "Ada yang ingin kutanyakan padamu, Ko."
"Apa itu?"
"Tapi aku mau Koko jawabnya jujur ya." Nada suara gadis itu terdengar memikat di telinga Asiong, membuat pemuda itu tak sanggup menolaknya. "Boleh ya, Ko?"
'Gadis ini? Kenapa aku lagi-lagi terpikat padanya? Kenapa lagi-lagi aku tak sanggup menolaknya?' Gumam Asiong dalam hati. Jantungnya mendadak berdegup kencang saat itu, bulu-bulu halus di lengannya terasa meremang dengan mendadak.
'Perasaan ini...' Asiong tak berkedip menatap pesona gadis keturunan yang berada di hadapannya itu. Gadis yang sedang tersenyum manis dan membalas tatapannya dengan kerdipan matanya.
"Koko," Ervina lagi-lagi memanggil dengan suaranya yang memikat. "Bagaimana Koko bisa tau kalau semalam aku sedang berada di diskotik?"
Sebenarnya itu merupakan sebuah pertanyaan sederhana saja, namun cukup membuat Asiong tersentak untuk beberapa detik. Sementara Ervina yang mengajukan pertanyaan itu menatapnya dengan pandangan tak berkedip.
BERSAMBUNG
BAGIAN 20
Untuk mengusir rasa gugupnya, Asiong kembali menyalakan sebatang rokok. Dihisapnya dalam-dalam dan dihembuskannya melalui hidungnya.
'Mana mungkin aku cerita kalau aku jadi salah tingkah sejak pertama kali mengenalmu?' Gumam Asiong dalam hati. 'Padahal itulah yang membuatku pergi ke diskotik dan bertemu kembali denganmu.'
"Koko, kok diam? Jawab dong pertanyaan Vina..." Gadis di depan Asiong itu mengerdipkan matanya, membuat Asiong seperti terbangun dari mimpi.
"Eh... gimana ya?" Asiong menghembuskan asap rokoknya lagi. 'Mati deh aku. Di depannya aku malah tak berkutik.'
"Koko gak tanya temenku yang jaga stand kemarin kan?" Ervina mengibaskan rambut pirangnya ke belakang, menyisakan sebagian poni di keningnya.
'Ah, cantiknya.' Asiong tak bisa berhenti terkesima melihatnya. 'Tapi darimana dia bisa tahu aku ke PRJ mencarinya? Jangan-jangan temannya cerita lagi...'
"Kenapa kamu bisa tau kalau aku mencarimu kemarin?" Asiong berbalik tanya. "Jangan-jangan temanmu yang cerita ya?"
Ervina tersenyum. "Tentunya, Ko."
"Oh ya? Dia bilang apa?" Penasaran, Asiong kembali bertanya.
"Ada deh, Koko. Mau tau aja ya... Hihihi..." Sahut Ervina sambil tertawa. Diambilnya gelas minuman berisi lemon tea dan diminumnya beberapa teguk melalui sedotan.
"Sebenarnya aku cuma iseng pergi ke diskotik, Vin." Kata Asiong setelah berhasil mengatasi kegugupannya, dengan susah payah. "Itu juga karena diajak..."
"Siapa yang mengajak?"
"Saudaraku."
"Oh, yang waktu itu bersamamu ke PRJ ya?"
"Iya, benar." Asiong tersenyum. "Siapa sangka malah bertemu kamu disana."
"Kalian kompak ya? Aku jadi iri, Ko." Sela Ervina sambil menunduk.
"Lho memangnya keluargamu gak kompak ya sampai kamu bilang begitu?"
"Bukan gitu, Ko." Ervina mengangkat wajahnya kembali. "Ceritanya panjang."
"Oh, maaf kalau begitu. Aku tak bermaksud mengungkit masa lalumu."
"Gak apa-apa kok, Koko." Gadis itu tersenyum kembali. "Aku gak keberatan juga..."
"Begitu ya?" Asiong kembali menyemburkan asap rokoknya.
"Tapi, Ko. Jujur padaku." Ervina lagi-lagi berkata dengan suaranya yang menggoda.
'Apa lagi nih?' Bathin Asiong. 'Daya tarikmu membuatku tak berkutik, apa kamu tau itu?'
"Pada waktu Koko melihatku dan menolongku, Koko sempat terlibat perkelahian gak tadi?" Kembali pertanyaan sederhana yang diajukan Ervina membuat lidah Asiong kelu tak bisa menjawabnya.
"Tolong jujur padaku, Ko." Kedua mata bening gadis itu menatap lurus ke sepasang mata Asiong. "Please..."
'Mungkin aku bisa pakai kesempatan ini untuk mencari tau siapa Roni itu dan kenapa Ervina bisa kenal dengannya.' Bathin Asiong kembali. 'Cerita tukar cerita, kurasa bukan masalah yang besar.'
Memikir kesana, Asiong menjawab. "Baik, aku akan cerita. Tapi aku juga ingin kamu jujur."
"Tentang?" Ervina mengangkat alisnya.
Asiong mematikan rokok yang telah habis dihisapnya ke asbak. "Roni. Roni Susilo. Bagaimana kamu bisa mengenalnya?"
Alis mata Ervina tidak lagi terangkat, namun kedua matanya kini memandang Asiong dengan terbelalak. "Koko kenal dengan Roni?"
"Gimana ya?" Asiong menengok ke samping sesaat. Terlihat beberapa anak muda duduk bersama, mengobrol dan bercanda sambil tertawa-tawa.
"Yah, aku mau bilang, dalam usaha menolongmu, mau tidak mau kami terlibat pertarungan." Asiong mengungkapkan.
"Hah?! Koko..." Ervina semakin terbelalak mendengarnya. "Tapi Koko gak apa-apa kan? Soalnya Roni itu ganas."
"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak apa-apa, Vina." Asiong tersenyum. Pemuda itu tidak melanjutkan bahwa dia dan sepupunya merobohkan dua orang anak buah Roni dalam pertarungan itu.
"Syukurlah, aku sudah khawatir saja Koko kenapa-kenapa..." Ujar Ervina.
'Heh? Khawatir? Sudah seperti pacar saja...' Asiong membathin. Jantungnya semakin berdegup kencang setelah mendengar perkataan gadis itu.
"Kalau aku boleh tau, kejadiannya gimana, Ko?"
'Aduh, ini sih sama saja aku harus cerita kalau Buntara dan aku merobohkan dua orangnya Roni.' Bathin Asiong lagi.
"Cerita padaku ya." Suara Ervina terdengar memelas. "Please, Koko..."
Sepertinya tak ada pilihan lagi bagi Asiong untuk menghindar, apalagi menolak. Pemuda itu menarik nafas sebelum bersiap untuk menceritakan pertemuan mereka yang terjadi secara kebetulan di diskotik semalam.
BERSAMBUNG
BAGIAN 21
Sambil menyalakan sebatang rokok, Asiong mulai bercerita. Diawali dari kepergiannya ke PRJ kemarin dan bertemu dengan salah seorang SPG teman Ervina disana hingga diajak pergi ke diskotik oleh Buntara keesokan harinya.
Namun sesuatu yang tidak pernah disangkanya akan berjumpa adalah pertemuannya dengan Ervina. Bisa dibilang itu suatu kebetulan yang tidak disengaja. Bisa juga mungkin Tuhan yang menghendaki keduanya bertemu kembali. Dilanjutkan dengan pertarungan fisik dengan Roni dalam upaya menolong Ervina dan merebut gadis itu dari tangan jahat Roni.
"Jadi selama itu kamu memeluk aku ya?" Ervina menyela di tengah cerita Asiong. Pertanyaannya membuat wajah pemuda itu jengah.
"Aku tak ada pilihan lain. Maafkan bila aku sudah lancang memelukmu." Kata Asiong.
"Kenapa harus minta maaf?" Ervina bertanya balik. "Aku tidak merasakan itu suatu hal yang salah."
'Jadi apa yang kurasakan selama aku tak sadarkan itu adalah pelukanmu di pinggangku dan usahamu mempertahankan diriku agar tak direbut oleh Roni?' Ervina membathin. 'Sungguh suatu perjuangan yang tak mudah dan kamu tak mengeluh sedikitpun?'
Asiong masih melanjutkan ceritanya tentang pertempurannya dengan Roni dan dua anak buahnya, yang salah satunya dirobohkan oleh Buntara.
"Jadi kamu dan Buntara masing-masing merobohkan satu orang ya?" Ervina menatapnya dengan tak berkedip. "Hebat! Sekali lagi terima kasih ya sudah susah payah menolongku."
Asiong melambaikan tangannya. "Kamu sendiri, kalau boleh tahu, kenapa bisa sampai terjebak olehnya?"
"Roni mengajakku hangout." Jawab Ervina. "Aku tak tahu harus bagaimana."
"Apanya yang bagaimana? Kalau kamu tahu Roni orangnya seperti apa, kenapa tidak kamu tolak saja?"
Ervina terdiam.
"Roni itu pacarmu?" Tanya Asiong tiba-tiba.
Terhenyak Ervina mendengar pertanyaan Asiong itu. "Gak, bukan. Dia bukan siapa-siapa."
"Lantas kenapa kamu mau keluar dengannya kalau kamu sudah tau dia orangnya begitu?"
Ervina menghela nafas. Tampak ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Pandangannya dialihkan ke samping.
"Apa karena alasan tertentu?" Asiong tak berhenti bertanya. "Hutang barangkali?"
"Darimana kamu bisa tau?" Ervina menatap pemuda itu. Kedua mata gadis itu tampak berkaca-kaca.
Melihat kedua mata Ervina yang berkaca-kaca itu, mendadak Asiong menjadi tidak tega. "Maaf, aku tidak bermaksud memaksamu. Tapi itu hanya dugaanku saja."
Pemuda itu menawarkan gelas minuman yang berada di meja kepada Ervina.
"Minumlah. Tenangkan pikiranmu dulu." Kata pemuda itu sambil menyerahkan gelas plastik yang kemudian diambil oleh Ervina.
"Maafkan aku sebelumnya." Asiong mematikan rokok yang baru setengah dihisapnya ke dalam asbak. "Kalau memang benar begitu, kasusnya serupa dengan yang terjadi pada temanku."
"Dia menjual putrinya untuk melunasi hutang keluarganya." Asiong terdiam sesaat, membiarkan Ervina memperhatikannya lebih lanjut.
"Dan putrinya ini adalah temanku." Lanjut Asiong ketika Ervina menatapnya.
Ervina mengeluarkan tisu yang dibawanya di kantong celananya dan menyeka matanya yang mulai basah oleh air mata.
"Ceritanya panjang." Kata gadis itu pada akhirnya. "Mudah-mudahan kamu bisa kupercaya kalau aku menceritakan ini semua."
Asiong mengangguk dan menyedot minumannya. "Boleh kalau memang kamu bisa mempercayaiku."
"Awalnya keluargaku adalah keluarga yang sederhana." Ervina memulai ceritanya. "Perlahan-lahan karena giat, Papa mulai berhasil membuka usaha sendiri. Papa menyewa sebuah kios yang waktu itu baru diresmikan. Boleh dibilang kios Papa adalah kios pemula di tempat itu."
"Usaha apa?"
"Toko spare part motor." Jawab Ervina. "Usahanya semakin lama semakin berkembang. Sementara kios-kios lainnya juga semakin banyak yang dibuka. Salah satunya adalah kios yang menjadi saingan Papa, sama-sama menjual spare part motor juga."
"Awalnya kami bersaing secara sehat. Namun saingan tak selamanya baik. Suatu hari kios kami kemasukan maling. Papa mengalami kerugian sebesar ratusan juta rupiah. Anehnya, kios-kios lainnya tak tersentuh, hanya kios kami saja. Tapi kami masih belum mau menaruh curiga yang tak beralasan. Papa juga belum menyerah. Dia masih bertahan disana."
Asiong menyimak cerita Ervina sambil menikmati rokoknya.
"Ternyata kami kembali dijebak. Karena barang yang tercuri itu sebagian belum lunas, kami kesulitan mendapatkan order dari distributor langganan kami lagi. Barang kami pun banyak yang tak ada stok lagi. Lalu kami dikenalkan kepada seorang yang mengaku sebagai distributor spare part dimana kami bisa mengambil barang dan membayar dalam tempo 3 bulan di muka."
"Sebentar." Asiong memotong cerita Ervina. "Distributor yang lama itu berapa lama tempo waktu pembayarannya?"
"Sebulan, Ko. Kami tidak menyadarinya karena sudah terlanjur senang dengan kondisi boleh dilunasi 3 bulan di muka. Ternyata pada saat kami membayarnya, hutang kami menjadi semakin banyak, semakin berlipat ganda. Ternyata setelah diselidiki, orang ini bukan distributor, tapi..."
"Rentenir..." Asiong memotong perkataan Ervina sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Lho," Ervina menatap Asiong dengan pandangan tak percaya. "Darimana Koko bisa tau?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 22
"Tepatnya rentenir yang mengaku sebagai distributor kan?" Tanya Asiong lagi. "Menyamar sebagai distributor, padahal belang sebenarnya tukang jerat tak berperasaan alias rentenir kan?"
"Kamu bisa tau darimana?" Ervina menatap Asiong, masih dengan pandangan tak percaya.
"Berapa hutang papamu padanya?" Tanya Asiong lagi.
"Ratusan juta rupiah." Jawab Ervina.
"Seharga barang yang hilang dicuri itu ya?"
"Kurang lebih segitu, Ko." Kata Ervina.
"Jadi kios papamu tutup gara-gara tak sanggup membayar bunganya? Ditambah hilangnya kepercayaan dari distributor lain. Dan pesaingnya sekarang semakin maju, begitu?"
Ervina mengangguk.
"Licik!" Pemuda itu mengepalkan tangan kanannya, matanya membesar penuh amarah.
"Bukan cuma itu, Koko." Ujar Ervina. "Aku juga curiga kematian Papaku karena akibat hutang juga."
"Heh! Maksudmu?" Mata Asiong bertambah besar, kini terbelalak kaget.
"Papa meninggal mendadak suatu siang dan ketika diperiksa oleh dokter, katanya terkena serangan jantung. Seingatku Papa gak ada penyakit jantung deh."
"Bagaimana kondisinya waktu meninggal itu?"
"Tubuhnya membiru kehijauan. Seperti terkena racun." Bibir gadis itu seperti bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
"Bukan. Itu bukan racun." Jawab Asiong. "Itu kegagalan jantung. Papamu merasa tidak mendapat oksigen yang cukup waktu itu. Jantungnya gagal memompa oksigen, jadi tubuh kehabisan oksigen."
"Aku tidak ada di rumah waktu itu, aku masih di sekolah. Ketika aku diminta pulang, Papa sudah tiada." Ervina menunduk sedih dan air matanya kembali menetes saat itu. "Terbujur kaku di ruang tamu rumah kami."
"Kalau boleh tau, sebelumnya Papamu kemana atau apa dia makan sesuatu?"
"Apa yang Koko katakan persis seperti yang dikatakan dokter." Sahut Ervina sambil menyeka air matanya. "Aku curiga dari makanan yang dimakannya."
"Oh, di rumah ya makannya?"
"Bukan, Ko. Yang aku tau Papa diundang makan siang itu."
"Siapa yang mengundang?"
"Saingan bisnis Papa."
"Benar-benar licik!" Dengan geram, Asiong menggebrak meja dengan telapak tangannya. Piring dan tatakan yang berada di atasnya melayang beberapa centimeter ke udara sebelum jatuh lagi. Hal itu membuat orang-orang di sekitar mereka berdua menengok dan berpaling ke arah pemuda itu.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Asiong tak memperdulikan orang-orang yang memandangnya. "Usaha dimatikan. Pemiliknya juga ikut ditiadakan. Tapi kan Papamu bisa menolaknya, kenapa dia malah pergi?"
"Karena Papa diiming-iming hutangnya yang ratusan juta itu akan lunas bila datang ke undangan makan tersebut. Padahal sudah kami larang malam sebelumnya, tapi Papa lebih percaya mereka daripada kami."
"Tunggu. Darimana saingan bisnis Papamu ini bisa tahu Papamu terjerat hutang dengan rentenir?"
"Ahmad Susilo, rentenir yang menjerat Papa itu, berteman dengan Babah Chen Kuang." Ujar Ervina. "Dan dia datang ke undangan makan itu. Mungkin mereka bertiga makan siang bersama."
'Ahmad Susilo? Berarti yang dikatakan si satpam itu benar?' Gumam Asiong dalam hatinya. 'Kasus ini makin lama makin pelik.'
"Ohya, tadi kamu panggil dia Babah, berarti sudah tua ya?" Asiong menyalakan sebatang rokok baru untuk mengusir kepenatannya.
"Enam puluhan tahun, Ko." Jawab Ervina. "Nah, karena kami tak sanggup lagi membayar hutang, kami pun pindah sepeninggal Papa. Kami mengungsi ke perumahan yang lebih murah harga sewanya."
"Apa mereka tahu kamu pindah?"
"Semula mereka gak tau, Ko. Kami bisa tinggal dengan tenang selama hampir setahun lebih. Tapi entah gimana caranya, mereka bisa tau rumah kontrakan kami."
"Yah, yang namanya rentenir itu punya cara tersendiri untuk menjerat korbannya." Jawab Asiong.
"Akhirnya, di suatu pagi buta, saat semua tetangga sedang tidur, kami pun pindah lagi. Masih tetap menempati komplek perumahan, hanya saja harga kontraknya sudah jauh lebih murah."
Ervina memandang pemuda yang duduk di hadapannya itu. "Begitu Ko, ceritanya."
"Hmmm... Aku masih kurang jelas nih." Kata Asiong. Dimatikannya rokok yang masih tersisa sedikit itu. "Jam berapa ya sekarang?"
Ervina mengeluarkan hape dari saku celananya. "Hampir setengah empat."
"Oh ya, kamu minum kopi tidak?" Tanya pemuda itu sambil bersiap-siap berdiri. "Mataku sudah mulai mengantuk, tapi aku masih belum puas dengan ceritamu."
"Boleh, Ko." Gadis itu mengganguk.
"Kalau begitu, tunggu disini ya. Aku pergi beli kopi dulu." Berkata begitu, Asiong pun bergegas meninggalkan Ervina dan menuju ke meja pemesanan.
Sepeninggal Asiong memesan minuman, Ervina bergumam kepada dirinya sendiri, masih tersisa sejumlah pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban.
"Aneh, darimana Koko bisa tau tentang rentenir ya? Juga dia bisa tau tentang Roni?" Gadis itu memalingkan wajahnya melirik Asiong sedang berdiri memesan minumannya. "Siapa dirimu sebenarnya?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 23
"Nih kopimu." Asiong meletakkan secangkir kopi ke atas meja di depan Ervina dan dia sendiri duduk di hadapan gadis itu.
"Terima kasih." Sahut Ervina memperhatikan pemuda itu mengambil posisi duduknya. Rambut yang gondrong seleher, kalung yang dikenakan pemuda itu di lehernya, anting yang hanya sebelah dan lengannya yang memakai rantai gelang, semuanya tak luput dari perhatian gadis itu. 'Macho juga pemuda ini. Bila memang benar dia bertarung demi menyelamatkanku...'
Gadis itu menunggu Asiong duduk dan bibirnya mulai terbuka melontarkan pertanyaan. Asiong sendiri yang sudah duduk itu bersiap-siap mengajukan pertanyaan berikutnya kepada gadis di hadapannya itu.
"Kamu..." Terdengar suara keduanya secara bersamaan. Keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Ah..." Ervina menarik perkataannya, matanya melirik ke arah lain. "Koko dulu..."
"Tidak, kamu dulu..." Asiong membuang mukanya bertatapan langsung dengan Ervina. 'Terjadi lagi, padahal tadi sudah terjadi di taksi.'
'Vina, kamu kenapa? Terulang lagi ya? Ada apa sebenarnya padamu, Vina?' Ervina juga tak kalah terkejut dan membathin.
'Aku diam saja lah, biarkan dia yang bertanya dulu.' Asiong kembali membathin.
'Aku dulu atau gimana nih?' Gumam Ervina penuh kebimbangan dalam hatinya. 'Nanti nabrak kata lagi.'
Kedua insan itu terdiam untuk beberapa detik lamanya. Tak ada yang bersuara, baik Asiong maupun Ervina. Keduanya saling menunggu.
"Ladies first." Akhirnya Asiong memecah kebuntuan. Dipersilakannya Ervina bertanya terlebih dulu.
Ervina menatap Asiong yang dikaguminya itu. "Aku hanya ingin tau, darimana kamu bisa kenal Roni dan juga tau kalau dia itu rentenir?"
"Itu mudah saja." Asiong mengambil sebatang rokok dari bungkusannya dan menyalakannya. "Setelah perkelahian kami, kami sempat berbicara dengan petugas keamanan diskotik. Dari merekalah aku bisa tahu siapa orang yang kurang ajar kepadamu itu."
'Kurang ajar katanya?' Bathin Ervina, namun gadis itu masih sempat menjawab. "Oh, begitu ya."
"Nah, sekarang giliranku ya." Kata Asiong sambil menjentik abu rokok.
"Oke..." Ervina tersenyum.
"Sepeninggal Papamu, siapa yang menjadi penanggung beban keluarga? Mama ya?" Tanya Asiong blak-blakan.
Ervina mengangguk. "Ya, Mama dan aku."
"Kamu?" Asiong menatap gadis itu tak percaya.
"Iya. Tak lama setelah Papa meninggal, aku lulus. Saat itu aku sudah 18 tahun, jadi sudah bisa mencari kerja sebagai SPG."
"Sudah berapa lama Papamu meninggal?"
"Dua tahun lebih."
"Berarti kamu sekarang berusia dua puluh tahun ya?"
"Iya. Aku 20 tahun. Koko berapa?"
"24." Jawab Asiong singkat.
"Terus nama Koko Asiong kan?"
Asiong mengangguk.
"Cuma Asiong aja? Gak ada yang lain?"
"Kim Siong."
Ervina tertawa mendengar nama pemuda itu. "Namamu oriental banget ya."
"Ya, pemberian orang tua. Mau gimana lagi."
"Memangnya gak ada nama Indonesia gitu?"
Asiong menggeleng. "Namaku hanya Asiong, Kim Siong."
"Aku kasih nama untukmu ya? Tapi nama ini hanya boleh kita berdua yang tau dan hanya kita berdua yang boleh panggil nama ini." Kata Ervina tiba-tiba.
"Heh, maksudmu?" Asiong menatap wajah gadis itu.
Ervina memalingkan wajahnya sesaat ke sekeliling tempat di ruang makan restoran fastfood itu. Otaknya berputar mencari sebuah petunjuk yang sekiranya bisa dipergunakan sebagai nama untuk pemuda di hadapannya itu. Namun akhirnya gadis itu menyerah karena di tempat itu tak ada suatu petunjukpun yang bisa dipakai olehnya.
"Margamu apa, Ko?" Tanya gadis itu tiba-tiba.
"Liu."
"Jadi Liu Kim Siong ya?"
Asiong mengangguk.
"Nama yang bagus. Tapi kalau cuma Asiong terkesan lucu." Kata Ervina. "Aku kasih nama Alex ya. Jadinya kalau nama Baratnya menjadi Alex Lau. Wah, kereeeeen."
"Saudaranya Andy Lau ya?" Asiong tertawa mendengar nama pemberian Ervina itu. Gadis itu juga tertawa mendengar guyonan pemuda itu.
"Gimana, mau?" Ervina bertanya lagi.
"Alex Lau, Alex Lau." Ujar Asiong. "Keren juga sih."
"Tapi cuma aku yang boleh memanggil kamu begitu ya. Orang lain gak boleh." Tegas Ervina.
"Lho kenapa? Nama bukannya untuk dipanggil?" Asiong menatap bingung gadis di hadapannya.
"Pokoknya nama Alex cuma boleh aku yang panggil, lainnya gak boleh. " Kata Ervina lagi.
"Iya deh, iya..." Jawab Asiong mengalah. "Tapi kok, begitu banyak nama, kenapa dipilih Alex?"
"Karena namaku Patricia Ervina Wijaya."
"Wow, namamu bagus sekali." Terkagum Asiong mendengar nama panjang Ervina itu. "Tapi aku masih bingung, apa hubungannya Patricia Ervina Wijaya dengan Alex Lau?"
BERSAMBUNG
BAGIAN 24
"Alex Lau Ching Siang. Itu bahasa Mandarinnya." Ujar Ervina menatap Asiong.
"Kamu pintar bahasa Mandarin ya?" Tanya Asiong. "Aku saja tidak tahu nama Mandarinku seperti apa. Yang aku tahu hanya Liu Kim Siong saja."
"Hanya sedikit. Itu juga kalau benar terjemahan Kim Siong menjadi Ching Siang." Ervina tersenyum.
"Tapi tetap tak menjawab pertanyaanku, kenapa Alex?"
"Karena Patricia."
"Patricia?"
"Ya, Patricia." Senyum Ervina semakin merekah. "Alex dan Patricia. Alexander Patricia Ramsay."
"Hah?! Apa itu?" Asiong yang semakin kebingungan hanya bisa ternganga menatap Ervina.
"Pernah dengar sejarah Pangeran Arthur? Nah, Alexander Patricia Ramsay ini salah satu tokoh di dalam sejarah itu."
"Aku tidak mengerti yang seperti itu." Ujar Asiong. "Tapi nama Alex Lau bagus dan aku menerimanya."
"Baiklah. Kalau begitu, mulai detik ini aku akan memanggilmu Alex." Kata Ervina masih tersenyum.
"Tapi kenapa hanya kamu yang boleh memanggilku begitu?" Kembali Asiong yang masih bingung itu bertanya.
"Karena nama Alex hanya khusus untukku saja. Orang lain tetap memanggilmu dengan Asiong, atau Kim Siong."
"Tetap tidak menjawab pertanyaanku."
'Aduh. Alex itu panggilan sayangku untukmu. Kamu masih belum mengerti juga? Tidak mungkin dong aku ceritakan hal itu juga?' Gumam Ervina dalam hatinya. 'Aku mau kamu menyadarinya, bukan aku yang mengingatkannya.'
"Ya sudah, tak apa-apa. Kan ada pertanyaan yang tidak terjawab. Mungkin ini salah satunya." Kata Asiong tertawa.
'Sebenarnya bukan tidak terjawab. Kalau kamu teliti, kamu pasti akan mencari tau tentang Pangeran Arthur dan Alexander Patricia Ramsay.' Kata Ervina lagi dalam hatinya. 'Saat kamu mengetahuinya, kamu akan menyadarinya, mengapa aku memilih nama Alex untukmu.'
"Kalau kamu, nama Mandarinmu apa?" Tanya Asiong tiba-tiba.
"Hui Na." Jawab Ervina. "Dari kata Vina."
"Oh..." Asiong manggut-manggut mendengar perkataan Ervina. "Bagus namanya. Hui Na, Vina. Hui Na, Vina..."
Pembicaraan keduanya terus berlanjut untuk beberapa lama waktunya. Suatu momen yang membuat keduanya semakin akrab dan bisa saling mengenal lebih dekat. Sementara pengunjung di Dunkin Donuts yang tadinya ramai, kini sudah banyak berkurang karena sebagian yang sudah pulang dan hanya tersisa beberapa pengunjung saja disana.
Tak terasa keakraban keduanya membawa mereka mengarungi waktu hingga sekitar pukul lima pagi. Asiong sudah menguap beberapa kali, begitu pula dengan Ervina. Hidangan di depan meja mereka sudah tak bersisa dan keduanya juga sudah tak berniat menambah pesanan lagi. Sebungkus kosong rokok Marlboro tergeletak di atas meja, isinya yang telah menjadi puntung-puntung rokok itu memenuhi asbak yang terletak di samping bungkus kosong rokok tersebut.
"Pulang yuk, aku sudah mengantuk nih." Asiong menguap lagi sambil mengajak Ervina untuk pulang.
Seperti halnya penyakit, menguap selalu menyebar. Kali ini Ervina yang menguap setelah Asiong.
"Boleh, Lex. Aku juga udah ngantuk." Gadis itu berdiri. "Kamu mau mengantarku kan?"
"Ya, sampai di rumahmu kalau boleh." Jawab Asiong mengikuti gadis itu berdiri.
"Boleh dong, siapa yang melarang?" Ervina tersenyum dan berjalan bersama dengan Asiong meninggalkan Dunkin Donut.
Saat keduanya mendorong pintu keluar yang terbuat dari kaca, saat itu waktu menunjukkan pukul 05:23 pagi. Petualangan yang sebenarnya baru akan dimulai.
BERSAMBUNG
BAGIAN 25
Embun pagi bergulir menggantikan kegelapan malam dengan sinaran cerah mentari. Taksi yang ditumpangi Asiong dan Ervina berhenti di sebuah rumah sederhana berlantai dua di kawasan perumahan di Jakarta Barat.
"Ini rumahku, Lex." Kata Ervina ketika keduanya telah turun dari taksi dan taksi tersebut pergi. Gadis itu membuka pintu pagar yang ternyata tidak dikunci itu.
Asiong memandang ke rumah sederhana berlantai dua itu. Pekarangan yang luas diperuntukkan parkir mobil. Namun berhubung keluarga Ervina tidak memiliki mobil, maka pekarangan rumah terasa lebih luas dan lega. Sebuah motor jet-matic merk Yamaha Mio berwarna pink terparkir disana.
"Ayo, masuk. Rumahku sederhana lho." Kata Ervina lagi sambil membuka pintu rumahnya. Setelah membuka sepatu kets yang dipakainya, Asiong melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Kedatangannya disambut oleh gonggongan anjing yang melompat dari dalam menuju ruang tamu.
Binatang berkaki empat itu menggonggong ke arah Asiong yang berdiri terpaku saat itu. Gonggongannya semakin lama semakin kencang dan cepat, sambil sesekali mundur dan mendengus, kemudian menggonggong lagi.
"Justine, sini!" Ervina berjongkok dan menjulurkan tangannya. Anjing yang dipanggil dengan nama Justine itu berhenti menggonggong sesaat dan berlari ke pelukan Ervina yang segera berdiri dengan Justine di pelukannya. Sesaat anjing itu menjulurkan lidah menjilat majikannya.
"Udah, udah, Justine, diam ya." Ervina mencoba menghindari jilatan peliharaannya itu.
Ini namanya Asiong. Tapi aku panggil dia Alex." Lalu gadis itu memegang lengan depan anjing itu dan menggoyangkannya. "Ayo kenalan."
Anjing itu masih menggonggong sesaat sebelum akhirnya tangannya disambut salaman Asiong yang tersenyum. "Namanya Justine ya. Lucu ya?"
Anjing yang berada dalam pelukan Ervina itu berbulu lebat berwarna dominan putih dengan bulu hitam di bagian kedua telinga dan di bagian kelopak mata. Bagian pinggul dan ekornya berwarna abu-abu. Badannya masih tergolong anjing kecil, imut, lucu dan menggemaskan.
Ketika Asiong mengajaknya bersalaman, Justine menggeliat di pelukan Ervina. Lidahnya terjulur dengan nafas terengah-engah menatap sosok Asiong yang baru pertama kali dilihatnya itu.
"Ini anjing ras ya?" Tanya Asiong menerima sodoran Ervina yang memberikan Justine ke pelukan pemuda itu. Justine tak mau dipeluk Asiong. Dengan kaki belakangnya, anjing kecil itu berdiri dan menjilati wajah pemuda itu dengan lidahnya.
"Justine, gak boleh gitu, hayo..." Ujar Ervina saat melihat Asiong tersenyum saat wajahnya dijilati anjing piaraannya. "Ya, anjing ras Shih Tzu, umurnya baru 3 bulan."
Justine berhenti menjilati wajah Asiong dan sebagai gantinya anjing jantan itu menggonggong pelan dengan ekor bergoyang-goyang.
"Dia memintamu sebagai temannya tuh," Ervina berkata sambil tersenyum.
Asiong mengangkat Justine yang berada dalam pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah binatang tersebut. "Justine...hmmmm..."
"Gukk..." Gonggong Justine. Lidahnya menjulur dengan nafas terengah-engah.
"Justine, udah ya... Sini, sayang..." Ervina menjulurkan lengannya menampung anjing kecil itu yang segera berpindah pelukan. Gadis itu merangkul anjing piaraannya sambil mengelus-elus punggungnya yang berbulu lebat itu.
"Dia lucu, aku suka." Kata Asiong dengan mata masih memandang Justine.
"Ya, sepertina Justine juga suka padamu." Sahut Ervina sambil tertawa kecil.
Asiong memandang ke sekeliling ruang yang luput dari perhatiannya karena Justine. Tampak di pojok dinding yang terhubung ke koridor, sebuah altar sembahyang dengan sepasang lampu merah dan guci kecil di depannya. Beberapa batang hio yang telah habis terbakar masih menancap di tempat abu di depan guci. Sebuah foto bergambar wajah seorang laki-laki terletak di belakangnya.
"Lho, kamu Buddhis ya? Kupikir kamu Katholik." Asiong memandang Ervina saat melihat altar sembahyang itu.
"Aku memang Katholik, Lex. Itu abu Papaku." Jelas Ervina.
"Oh," Asiong terpana. Diperhatikannya foto itu dengan seksama.
"Lex, kamu duduk dulu ya. Aku mau ke dalam dulu." Gadis itu berkata sambil menurunkan Justine dari pelukannya.
"Tidak apa-apa. Aku langsung pulang saja ya." Asiong menjawab. Wajahnya sudah mengantuk saat itu. Bibirnya menguap lebar.
"Tuh, kamu udah ngantuk. Duduk dulu sana." Kata Ervina lagi. "Tunggu aku keluar ya."
Asiong mau tak mau menurut kepada gadis itu. Sambil duduk di sofa di ruang tamu, pemuda itu memandang ke sekeliling ruang tamu. Sebuah lemari berukuran besar seakan menempel di dinding yang menjadi pemisah dengan ruangan di belakangnya. Sofa berukuran sedang mengisi ruangan tamu sederhana itu.
Merasa cukup lelah setelah petualangannya semalam, Asiong menyandarkan dirinya di sofa yang sedang didudukinya. Tak lupa kepalanya juga disandarkan di kepala sofa.
'Lelah juga badanku.' Gumam pemuda itu dalam hati. 'Baru terasa kelelahan ini.'
Ditutupnya kedua matanya sesaat, menikmati saat tenang dan nyaman waktu itu. Namun karena lelah yang menggelayut di badannya, hanya beberapa menit kemudian, pemuda itupun terlelap dalam tidur.
Ketika Ervina keluar dari dalam menuju ruang tamu, Asiong sudah tertidur pulas dengan kepala menengadah. Nafasnya tenang dan teratur.
"Kasian, Alex. Susah payah menolongku, sekarang kamu kelelahan." Kata gadis itu. "Tidurlah. Aku tak mau mengganggu istirahatmu."
Akhirnya Ervina memutuskan untuk duduk di sofa menemani Asiong yang tertidur itu. Walau dia tak mengetahui kapan pemuda itu akan bangun, namun gadis itu tidak mengeluh. Dia sendiri menyandarkan badannya ke sofa dan menutup matanya. Kelelahan membuatnya juga terlelap dalam tidurnya. Masing-masing terbuai dalam mimpi di sofa yang bersebelahan letaknya.
BERSAMBUNG
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar